yerusalemcity Copy


(pada artikel nubuatan “Keruntuhan Kota Yerusalem 1” yang lalu kita telah mempelajari bahwa karena keras hatinya bangsa Israel sehingga mereka ditolak sebagai bangsa pilihan Tuhan.
Oleh karena kedegilan mereka itu jugalah yang membuat Yesus mengucapkan nubuatan kehancuran kota Yerusalem di dalam Lukas 19:42-44. Dan ini memiliki aplikasi hingga ke zaman kita karena Kristus melihat bahwa kekerasan hati orang Israel dan penduduk kota Yerusalem adalah suatu lambang dari dunia zaman sekarang yang juga mengeraskan hati di dalam ketidakpercayaan dan pemberontakan, dan tentu saja juga akan bergerak maju menuju penghakiman Allah jika tidak berbalik kepada pertobatan. Tetapi mari kita lanjutkan pembelajaran dari artikel yang lalu)

[AkhirZaman.org] Dua hari sebelum pesta Paskah, pada waktu terakhir kalinya meninggalkan kaabah, setelah mencela kemunafikan pemimpin-pemimpin Yahudi, sekali lagi Ia bersama murid-murid-Nya pergi ke Bukit Zaitun dan duduk bersama mereka di kaki bukit berumput yang menghadap ke kota Yerusalem. Sekali lagi Ia memandangi tembok-temboknya, menara-menaranya, dan istana-istananya. Sekali lagi Ia menatap kaabah dalam pantulan keindahan dan kemuliaannya, tanda kebesaran dan keindahan yang memahkotai bukit yang suci itu.

Seribu tahun sebelumnya, pemazmur telah memperbesar pilihan Allah atas Israel dengan mendirikan bangunan kudus itu menjadi tempat tinggal-Nya, “Di Salem sudah ada pondok-Nya, dan kediaman-Nya di Sion!” (Mazmur 76:3). Tetapi Ia “memilih suku Yehuda, gunung Sion yang dikasihi-Nya. Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi langit.” (Mazmur 76: 68,69).

Kaabah yang pertama telah didirikan pada zaman yang paling makmur dalam sejarah bangsa Israel. Raja Daud telah mengumpulkan harta yang sangat banyak untuk keperluan, dan rencana pembangunannya telah di buat atas ilham ilahi (1 Tawarikh 28:12,19). Salomo (putra Daud), raja Israel yang paling arif bijaksana telah merampungkan pembangunan kaabah itu. Bangunan kaabah ini adalah bagunan terindah yang pernah di lihat oleh dunia ini.

Namun, Tuhan telah menyatakan melalui nabi Hagai mengenai kaabah yang kedua, “Adapun rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula.” “Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi rumah ini dengan kemegahan, firman Tuhan semesta alam.” ( Hagai 2:9.7).

Setelah dibinasakan oleh raja Nebukadnezar, kaabah itu telah dibangun kembali kira-kira lima ratus tahun sebelum Kristus lahir. Kaabah dibangun oleh orang-orang yang kembali dari penawanan seumur hidup ke negeri yang telah diterlantarkan dan sampai menjadi gurun. Di antara mereka ada orang-orang tua, yang telah melihat kemegahan dan kemuliaan kaabah Salomo, yang menangis di fondasi bangunan baru itu karena bangunan itu lebih rendah mutunya dari yang sebelumnya.

Perasaan yang melanda mereka dengan gamblang diungkapkan oleh nabi, “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya yang semula? Dan bagaimanakah kamu melihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?” (Hagai 2:3; Ezra 3:12). Kemudian diberikanlah janji bahwa kemuliaan bangunan kaabah yang sekarang ini (yang kedua) akan lebih besar dari yang sebelumnya.

Akan tetapi keindahan dan kemegahan (secara fisik bangunan) kaabah yang kedua ini tidak sama dengan yang pertama. Tidak juga dikuduskan oleh tanda yang dapat terlihat kehadiran ilahi seperti pada kaabah yang pertama. Tidak ada pernyataan kuasa supranatural yang menandai penahbisannya. Tidak tampak adanya awan kemuliaan yang memenuhi kaabah yang baru didirikan itu. Tidak ada api yang turun dari surga untuk membakar korban di atas mezbahnya. Shekinah tidak lagi berada di antara kerubium di bilik yang maha suci. Tabut perjanjian, tahta kemurahan dan meja-meja kesaksian tidak ditemukan lagi di sana. Tidak ada suara untuk menjawab pertanyaan para imam mengenai kehendak Allah.

Selama berabad-abad orang Yahudi tidak dapat melihat kegenapan janji Allah kepada nabi Hagai. Tetapi, kesombongan dan ketidakpercayaan telah membutakan pikiran mereka mengenai arti yang sebenarnya perkataan nabi itu. Kaabah yang kedua ini tidak dihormati dengan awan kemuliaan Allah, tetapi dengan kehadiran yang hidup dari Dia (Yesus) yang di dalam-Nya tinggal kepenuhan badan keallahan — yang adalah Allah sendiri yang dinyatakan di dalam daging (Yesus menjadi manusia—Yohanes 1:1, 14).

“Kerinduan segala bangsa” sebenarnya telah datang ke kaabah itu pada waktu Orang (Yesus) dari Nasaret itu mengajar dan menyembuhkan orang sakit di serambi kaabah yang kedua ini melebihi kemuliaan kaabah yang pertama. Tetapi bangsa Israel telah menolak tawaran karunia surga. Setelah Guru yang rendah hati, pada hari itu meninggalkan pintu gerbang keemasan kaabah, maka kemuliaan Allah telah meninggalkan kaabah itu untuk selama-lamanya. Pada hari itu perkataan Juruselamat ini digenapi, “Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” (Matius 23:38).

Murid-murid-Nya kagum dan heran mendengar ramalan Kristus mengenai keruntuhan kaabah, dan mereka rindu untuk mengerti lebih jauh arti perkataan-Nya itu. Kekayaan, usaha, dan keahlian arsitektur telah dikerahkan selama empat puluh tahun untuk meningkatkan keindahan dan kemegahan kaabah itu. Herodes yang Agung telah menghabiskan kekayaan Romawi dan harta kekayaan Yahudi untuk bangunan itu. Bahkan kaisar dunia telah membantu dengan sumbangan-sumbangan. Balok-balok, batu pualam putih dengan ukuran yang luar biasa telah didatangkan dari Roma untuk keperluan ini, yang membentuk sebagian strukturnya. Dan mengenai hal ini murid-murid itu telah menarik perhatian Guru mereka dengan berkata, “Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini?” (Mark. 13:1).

Yesus memberi jawaban yang sungguh-sungguh dan mengejutkan kepada pertanyaan ini, “Sesungguhnya tidak ada satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Matius 24:2,3).

Dengan runtuhnya kota Yerusalem, murid-murid itu menghubung-hubungkan kejadian kedatangan Kristus secara pribadi dalam kemuliaan duniawi untuk mengambil alih tahta kerajaan dunia, menghukum orang Yahudi yang degil dan membebaskan bangsa itu dari kuk penjajahan bangsa Romawi. Tuhan telah menyatakan kepada mereka bahwa Ia akan datang kedua kali. Oleh karena itu sejak diberitahukan penghakiman atas kota Yerusalem, pikiran mereka harus ditujukan kepada kedatangan itu. Dan sementara mereka berkumpul mengelilingi Juruselamat di atas Bukit Zaitun, mereka bertanya, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan kesudahan dunia?” (Matius 24:2,3).

Masa depan telah diselubungkan dari murid-murid itu. Seandainya mereka pada waktu itu mengerti sepenuhnya kedua fakta yang mengerikan itu — penderitaan dan kematian Penebus, serta kebinasaan kota dan kaabah mereka — maka mereka akan diliputi oleh kengerian yang amat sangat. Kristus memaparkan di hadapan mereka ringkasan kejadian-kejadian yang menonjol yang akan terjadi sebelum akhir zaman. Perkataan-Nya tidak sepenuhnya dimengerti, tetapi artinya akan dibukakan bilamana umat-Nya memerlukan petunjuk mengenai hal-hal yang telah diberikan.

Nubuatan yang dikatakan-Nya mempunyai makna rangkap dua: bayangan pendahuluan mengenai kebinasaan kota Yerusalem, dan juga gambaran pendahuluan kesusahan besar akhir zaman.

Yesus memberitahukan kepada murid-murid yang mendengarkan-Nya itu pehukuman yang akan berlaku atas bangsa Israel yang murtad, dan terutama hukuman pembalasan yang akan terjadi atas mereka sebagai akibat dari penolakan dan penyaliban Mesias. Tanda-tanda yang tidak boleh salah akan mendahului klimaks yang mengerikan itu. Saat yang menakutkan itu akan datang tiba-tiba dan segera. Dan Juru Selamat mengamarkan pengikut-pengikut-Nya, “Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel — para pembaca hendaklah memperhatikannya — maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.” (Matius 24:15,16; Lukas 21:20).

Bilamana tiang-tiang berhala orang Roma didirikan di atas tanah suci, beberapa ratus meter di luar tembok kota, maka pengikut-pengikut Kristus menyelamatkan diri dengan melarikan diri. Bilamana tanda amaran kelihatan, mereka yang akan meluputkan diri tidak boleh bertangguh. Tanda untuk melarikan diri harus segera dipatuhi oleh mereka yang diam di seluruh Yudea, demikian juga yang diam di Yerusalem. Ia yang kebetulan berada di atas sotoh rumah tidak boleh turun dan masuk ke dalam rumah biarpun untuk menyelamatkan hartanya yang paling berharga. Mereka yang bekerja di ladang atau di kebun anggur jangan lagi membuang waktu untuk menukar pakaiannya yang dipakainya bekerja di bawah terik matahari pada hari itu. Mereka tidak boleh membuang-buang waktu sesaatpun kalau mereka tidak mau terlibat dalam kebinasaan menyeluruh itu.

yrslm CopySelama pemerintahan raja Herodes, kota Yerusalem bukan saja telah banyak diperindah, tetapi dengan pendirian menara-menara, tembok-tembok, dan kubu-kubu, menambah kepada ketahanan letak kota, sehingga memberikan kesan bahwa tak mungkin kota itu bisa ditaklukkan. Ia yang pada waktu ini meramalkan secara terbuka mengenai kebinasaan kota Yerusalem, akan di sebut pengamar gila, seperti Nuh pada zamannya. Tetapi Kristus telah mengatakan, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35). Oleh karena dosa-dosanya, kemurkaan telah dikenakan atas Yerusalem, dan kedegilan ketidak-percayaannya telah memastikan kebinasaanya.

Tuhan telah menyatakan melalui nabi Mika, “Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan membengkokkan segala yang lurus, hai kamu yang mendirikan Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman! Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada Tuhan dengan berkata: Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita! Kita tidak datang malapetaka menimpa kita!” (Mika 3:9-11).

Kata-kata ini menggambarkan dengan jelas penduduk kota Yerusalem yang korup dan yang menganggap dirinya benar. Sementara mereka mengatakan bahwa mereka melakukan perintah hukum Allah dengan ketat, mereka sedang melanggar semua prinsip hukum itu. Mereka membenci Kristus, oleh karena kesucian-Nya dan kekudusan-Nya menyatakan kejahatan mereka. Dan mereka menuduh-Nya sebagai penyebab semua kesusahan yang menimpa mereka, sebagai akibat dosa-dosa mereka. Meskipun mereka mengenal Dia sebagai seorang yang tidak berdosa, mereka telah menyatakan bahwa kematian-Nya perlu demi keselamatan mereka sebagai bangsa. “Apabila kita membiarkan Dia,” kata para pemimpin Yahudi, “maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” ( Yoh. 11:48).

Jikalau Kristus dikorbankan, (dalam pikiran atau pendapat mereka) mereka akan bisa kembali menjadi bangsa yang kuat dan bersatu. Demikian mereka memberi alasan dan mereka menyetujui keputusan imam besar mereka, bahwa adalah lebih baik seorang mati daripada seluruh bangsa itu binasa.

Jadi pemimpin-pemimpin Yahudi telah “membangun Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman.” (Mikha 3:10). Dan sementara mereka membunuh Juruselamat mereka oleh sebab Dia menegur dosa-dosa mereka, demikianlah mereka membenarkan diri sendiri, bahwa mereka menganggap diri mereka sebagai umat Allah, dan mengharapkan Tuhan untuk melepaskan mereka dari musuh-musuh mereka. “Sebab itu,” nabi itu melanjutkan, “oleh karena kamu maka Sion akan di bajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan.” (Mika 3:12).

(nubuatan pehukuman Yerusalem diucapkan Yesus pada tahun 31 M, namun mengapa itu baru tergenapai pada tahun 70 M (hampir 40 tahun)? Kita akan pelajari dalam artikel yang akan datang)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here