jiwa

Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: “Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu. Wahyu 6:15,16. 

[AkhirZaman.org] Lelucon-lelucon ejekan telah berhenti. Mulut-mulut yang berdusta dibuat diam. Bentrokan senjata, huru-hara pertempuran, “dengan sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah” (Yesaya 9:5), terhenti. Sia-sia kini kedengaran kecuali suara doa dan bunyi tangisan dan ratapan. Jeritan meledak dari bibir yang tadinya mengejek itu: “Sebab sudah tiba hari besar murkaNya; dan siapakah yang dapat bertahan?” Orang-orang jahat itu berdoa meminta dikuburkan di bawah batu-batu gunung daripada melihat wajahNya yang telah mereka hina dan tolak itu.

Suara yang menembus telinga orang mati itu mereka kenal. Betapa sering nadanya yang sedih dan tulus itu telah memanggil mereka kepada pertobatan. Betapa sering ia itu terdengar dalam sentuhan seorang sahabat, seorang saudara, seorang Penebus. Kepada para penolak kasih karuniaNya tidak ada lagi yang bisa sedemikian penuh akan penghakiman, sedemikian terbebani dengan pengaduan, seperti suara yang telah begitu lama memohon itu: “Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? – Yehezkiel 33:11. Oh, suara itu bagi mereka adalah suara orang asing! Yesus berkata: “Oleh karena kamu menolak ketika Aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku.” – Amsal 1:24,25. Suara itu membangkitkan kenangan yang mereka telah rela hapuskan—peringatan-peringatan dibenci, undangan-undangan ditolak, hak-hak mereka telah mereka abaikan………

Dalam kehidupan semua orang yang menolak kebenaran ada saat-saat ketika hati nurani terjaga, ketika ingatan menyajikan kenangan yang menyiksa dari sebuah hidup kemunafikan dan jiwa diusik dengan penyesalan-penyesalan yang sia-sia. Tetapi apalah artinya semua ini dibandingkan dengan penyesalan dari hari itu….. ketika “celaka melanda seperti angin puyuh!” – Amsal 1:27. Mereka yang telah menghancurkan Kristus dan umat beriman milikNya sekarang menyaksikan kemuliaan yang terbentang atas mereka.

 

-Maranatha

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here