rudal korut jarak dekat Copy

[AkhirZaman.org] Sebagai bentuk protes atas latihan militer bersama Amerika dan Korea Selatan, Korea Utara menembakkan dua rudal jarak dekat ke Laut Timur. Kantor berita Korea Selatan Yonhap mengutip para pejabat mengatakan rudal-rudal itu jatuh ke Laut Timur, 490 kilometer dari kota pelabuhan Korea Utara, Nampo.

Pihak Korea Selatan menganggap insiden ini sebagai “provokasi yang disengaja dan dipandang sebagai protes bersenjata” ketika Korea Utara menembakkan rudal tanpa memberlakukan zona larangan dilintasi kapal.

“Militer kami dan pasukan Amerika telah meningkatkan kegiatan pengintaian dan kami memelihara sikap yang tanggap dengan cepat. Kalau Korea Utara mengambil tindakan yang provokatif, militer kami akan bereaksi dengan tegas dan dengan kuat supaya Korea Utara sangat menyesalkannya.”

Pihak Korea Utara menganggap latihan militer yang digelar Amerika dengan “saudaranya” itu sebagai persiapan serangan (perang), namun Seoul dan Washington bersikukuh pada pendapat mereka bahwa latihan bersama ini hanya bersifat pencegahan.

Sumber: voaindonesia.com

Ada “kabar baik” dari berita di atas. Hhmm..mungkin Anda berpikir bagaimana mungkin kabar tentang perang seperti itu sebagai “kabar baik”? Mungkin Anda benar ketika berpikir bahwa saya salah besar saat menuliskan bahwa berita penembakan rudal itu sebagai “kabar baik.”

Di saat masih remaja, saya pernah melihat seorang penjual koran mendatangi seorang pria berusia di kisaran 50-an tahun. Sebagai upaya promosi supaya koran yang ditawarkannya terjual, dia berkata kepada pria tua itu: “Berita bagus pak. Ada kabar peperangan dalam berita hari ini.” Sambil tersenyum dan bercanda, pria tua itu berkata kepada penjual Koran itu, “Masa kabar perang kok dianggap sebagai kabar baik. Itu kan pusat penderitaan.”

Saudara, mungkin memang benar mengenai apa yang dikatakan pria tua itu dan salah untuk apa yang saya katakan bahwa perang sebagai suatu “kabar baik.” Peperangan selalu menjadi pusat penderitaan. Kita bisa melihat itu dalam peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Bahkan jika itu hanya sekadar kabar akan adanya perang sudah begitu menggelisahkan pihak-pihak yang terkait.

Tetapi sebagai orang Kristen yang mempelajari nubuatan menjadi sebab mengapa perang dan kabar-kabar seputar peristiwa ini sebagai “kabar baik.” Mari coba lihat apa yang Yesus katakan, “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.” (Matius 24:6).

Mari kita simak apa yang Yesus katakan bahwa “semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.” Kesudahan akan apakah yang dimaksudkan oleh ucapan Yesus itu? Alkitab memberikan jawabannya. Suatu kali para murid berkata, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ayat 3).

Para murid menghubungkan kedatangan Kristus kedua kali dengan kesudahan dunia ini (kiamat). Artinya dunia ini akan berakhir sejarah keberadaannya saat Yesus datang kedua kali. Bukankah kabar baik bila kita membahas dan membayangkan peristiwa kedatangan-Nya kedua kali?

Baiklah, saya akan membantu Anda untuk membayangkan betapa indahnya kedatangan Tuhan. Silahkan berimajinasi secara Alkitabiah ketika saya akan mengutip apa yang dikatakan Paulus mengenai saat indah yang akan terjadi saat Kristus datang kedua kali. “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” (1 Tes. 4:16, 17).

Ow Saudara, bagi saya peristiwa itu begitu indah. Entah betapa banyaknya pergumulan saya sekarang, entah saya masih hidup atau sudah berada di dalam kubur ketika Yesus datang, namun yang pasti ketika Dia datang saya “akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” Dan Rasul Yohanes memberikan gambaran yang jauh lebih indah lagi ketika ia mengatakan, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4). Saya begitu rindu untuk segera terjadi peristiwa kedatangan Kristus kedua kali itu. Bagaimana dengan Anda?

Mari kembali kepada pembicaraan Yesus dengan para murid-Nya mengenai kedatangan-Nya kedua kali. Sekali lagi kita baca ketika para murid bertanya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Untuk menjawab pertanyaan Yesus mengenai kapankah digenapinya nubuatan indah itu, Yesus menguraikan satu per satu apa yang akan terjadi sebagai tanda kedatangan-Nya dan tanda kesudahan dunia ini mulai dari ayat 4 sampai keseluruhan ayat dalam Matius pasal 24.

Namun satu tanda yang harus terjadi namun sekarang ini begitu dihindari orang banyak, yaitu “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. (Matius 24:6, 7).

Saudara, inilah sebabnya saya katakan bahwa peperangan atau kabar-kabar tentang perang adalah sebagai “kabar baik” karena itu yang menjadi salah satu tanda bahwa “Anak Manusia itu (Yesus) datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (ayat 30).

Di masa lalu telah terjadi begitu banyak perang. Tentunya kita tidak bisa menghapuskan dari sejarah betapa mengerikannya Perang Dunia I dan II. Anda pasti tidak bisa melupakan betapa kejamnya Adolf Hitler memerangi bangsa di sekitarnya dan membantai begitu banyak orang Yahudi dalam upayanya untuk menyatukan Eropa. Atau apa yang dilakukan Prancis ketika berkuasa di Eropa di bawah komando Napoleon. Mereka begitu giat berperang. Bahkan negara kita juga terlibat dalam peperangan melawan Belanda dan Jepang sebelum memperoleh kemerdekaannya.

Ada banyak sebab yang menjadi latar belakang terjadinya perang-perang itu. Kita tidak bisa mengesampingkan apa yang terjadi antara Israel dan Palestina. Atau yang sepanjang tahun kemarin terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kita juga tidak tahu apakah sungguh-sungguh akan ada perang antara Korea Utara dengan Korea Selatan dan Amerika.

Entah dalam skala kecil atau besar seperti yang terjadi dalam Perang Dunia I dan II di masa lalu, nubuatan Yesus mengenai apa yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya pasti terjadi. Kita tidak berharap bahwa Korea Utara akan bertempur dengan “saudaranya” dan Amerika. Itu hanya akan menambah daftar buruk peperangan modern sekarang ini. Namun jika itu terjadi anggaplah sebagai “kabar baik” karena kesudahan dunia ini dan kedatangan Tuhan kedua kali segera akan tergenapi.

Saudara, peperangan dan tergenapinya semua tanda dalam Matius 24 hanyalah cara Tuhan mengingatkan kita betapa dekatnya kedatangan-Nya kedua kali. Semuanya diijinkan terjadi oleh Pencipta alam semesta ini sebagai pengingat kepada pria dan wanita yang hidup di hari-hari terakhir sebelum kesudahan dunia supaya berbalik kepada-Nya.

“Dalam babak terakhir sejarah dunia peperangan akan berkecamuk.” “Prahara akan datang dan kita harus bersedia menghadapi keganasannya dengan pertobatan kepada Allah dan iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus.” (Peristiwa-peristiwa Akhir Zaman, hal. 23).

Rasul Paulus menasihatkan kepada kita, “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tes. 4:1).

Melalui web ini kami hanya rindu menolong setiap pembaca untuk hidup “berkenan kepada Allah.” Namun dengan semakin banyaknya peristiwa yang menggenapi tanda-tanda yang harus terjadi sebelum kedatangan Yesus di angkasa, dengan pertolongan Tuhan kami rindu untuk bersama-sama dengan Anda untuk “melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.”

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here