Hari Sabat adalah hari ketujuh dalam satu minggu yang telah dikuduskan oleh Allah sejak penciptaan dunia sebagai hari istirahat dan ibadah yang kudus. Hari ini bukan sekadar tradisi manusia, melainkan tanda atau meterai kekuasaan Sang Pencipta yang harus dipelihara dengan penuh kasih dan ketaatan.

Berikut ada 4 poin mengenai pentingnya memelihara hari Sabat:
1. Asal Usul dan Ketetapan Hari Sabat.
- Ditetapkan saat Penciptaan:
Hari Sabat diletakkan pada dasarnya ketika dunia diciptakan, di mana Allah beristirahat pada hari ketujuh setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya selama enam hari.
Kejadian 2:2-3: “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”
- Bagian dari Hukum Moral:
Perintah untuk mengingat hari Sabat adalah perintah keempat dalam Sepuluh Hukum yang ditulis langsung oleh jari Allah di atas dua loh batu.
Keluaran 20:8-11: “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.”
Keluaran 31:18 : ”Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.”
- Hukum yang Kekal:
Hukum Allah, termasuk hari Sabat, bersifat tetap, abadi, dan tidak akan pernah berubah atau dibatalkan.
Matius 5:17,18 : “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”
2. Hari Sabat dalam Perjanjian Baru.
- Teladan Yesus:
Yesus sendiri memelihara hari Sabat selama hidup-Nya di bumi dan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat.
Matius 12:8 : “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
- Teladan Para Rasul:
Para rasul, termasuk Paulus, memiliki kebiasaan untuk beribadah dan memberitakan firman Tuhan pada hari Sabat.
Kisah Para Rasul 17:2 : “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.”
- Bukan Bagian dari Hukum Upacara:
Berbeda dengan sabat-sabat tahunan Yahudi yang merupakan bayangan atau tipe, Sabat hari ketujuh adalah peringatan akan penciptaan yang tetap berlaku bagi semua manusia.
Kolose 2:16,17 : “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”
3. Apa Makna Rohani Hari Sabat?
- Tanda Pengudusan:
Hari Sabat adalah tanda antara Allah dan umat-Nya agar mereka mengetahui bahwa Dialah Tuhan yang menguduskan mereka.
Keluaran 31:13 : “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.”
Yehezkiel 20:12 : “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.”
- Istirahat dari Pekerjaan:
Memelihara hari Sabat berarti berhenti dari pekerjaan duniawi untuk mencari nafkah dan masuk ke dalam peristirahatan rohani di dalam Kristus.
Ibrani 4:9-10 : “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.”
- Ujian Ketaatan Akhir Zaman:
Di akhir sejarah dunia, isu mengenai hari Sabat yang benar yang tertulis dalam hukum keempat dari sepuluh hukum Allah akan menjadi tanda pemisah antara mereka yang setia kepada Allah dan mereka yang mengikuti tradisi manusia.
Wahyu 12 : 17 : “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.”
4. Bagaimana Cara Memelihara Hari Sabat
- Persiapan yang Matang:
Hari keenam (Jumat) adalah hari persiapan agar pada hari Sabat tidak ada pekerjaan rumah tangga yang mengganggu kekudusan hari tersebut.
Keluaran 16:22-23 : “Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. Lalu berkatalah Musa kepada mereka: “Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi.”
- Menghindari Kegiatan Duniawi / Sekuler:
Kita dilarang melakukan kesenangan sendiri, mengucapkan kata-kata kosong, atau mencari keuntungan materi pada hari kudus-Nya.
Yesaya 58:13 : “Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong.”
- Melakukan Kebaikan:
Sabat adalah hari untuk melakukan perbuatan baik, menyembuhkan, dan menolong sesama, sebagaimana yang dicontohkan oleh Yesus.
Matius 12:12b : “… Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.”