mimbar-ilustrasi-public-speaking Copy

 

[AkhirZaman.org] Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri? Pkh. 7:16.

Ada banyak cara dalam pelaksanaan amanat agung dari Yesus Kristus sebelum Dia ke Surga hampir 2000 tahun yang lalu. Apa pun medium yang dipilih, besar kecilnya tanggung jawab yang diemban dalam keselarasan misi global, masing-masing umat-Nya mempunyai visi yang menyatu untuk membawa dengan pertolongan Roh Kudus, jiwa-jiwa yang sedang terancam binasa.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena dengan beredarnya media pelayanan ini telah memperkaya pustaka bagi umat. Kita pun berterima kasih untuk amaran dan teguran konstruktif yang bermanfaat bagi para pembawa berita sehingga tidak terlena dan terkondisi dalam sukacita yang berlebihan.

Karena di setiap bidang pelayanan terdapat banyak bahaya yang dapat menjadi batu sandungan tidak terkecuali dalam pelayanan melalui media ini, maka amaran dan peringatan berkala dan berkesinambungan sangat diperlukan sebagai barometer bagi pengelola dan narasumber.

Dari begitu banyak ganjalan yang dapat muncul setiap saat dalam beragam bentuk dan medium, salah satu yang perlu dikaji secara seksama sebelum melaksanakan suatu keputusan pelayanan adalah apakah dengan tindakan dan perilaku tersebut, saya sedang memuliakan Tuhan ataukah yang lebih dominan sedang meninggikan diri sendiri. Hati-hatilah, bedanya tipis sekali.

Orang bijak akan menghargai sesuatu yang indah dari peningkatan performance yang dicapai dan terus berusaha untuk dapat melayani dengan lebih baik lagi. Namun karena begitu tipisnya perbedaan yang kasat mata bagi manusia yang tidak sempurna ini, maka dengan berbagai dalih dan alasan, hampir tidak ada orang yang jujur dan berani menyatakan (jika ada) motivasi lainnya yang memanfaatkan kedok pelayanan.

Kita tidak dapat membaca pikiran orang lain karena memang Tuhan tidak menyerahkan tugas menghakimi pikiran (motif) sesama manusia kepada kita, namun kita dapat dengan jelas memahami motivasi diri sendiri. Di kota kelahiran penulis tahun 50-an jika ada pengumuman yang akan disampaikan pihak pemerintah kepada masyarakat maka berkelilinglah mobil departemen penerangan yang berjalan dengan kecepatan rendah mengitari berbagai jalan utama kota sambil mengumandangkan melalui pengeras suara maklumat atau pengumuman penting yang perlu diketahui oleh masyarakat. Diperlukan banyak waktu sebelum pesan diterima.

Pada zaman dahulu pemberitaan yang demikian disampaikan oleh pembawa berita di alun-alun kota atau di tempat umum lainnya, ada yang harus berlari menempuh jarak yang cukup jauh, sehingga fisik dan peran pembawa berita menjadi hal yang penting.

Walaupun dengan berbagai usaha dan perjuangan yang menguras tenaga dan waktu, para pembawa berita umumnya disambut dengan sukacita oleh masyarakat. Yesaya 52:7 mengatakan “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!””

Dalam era komunikasi canggih di zaman serba instan ini, walaupun waktu penyampaian berita hanya memerlukan hitungan detik untuk sampai ke mail-box penerima, tetapi ada banyak pengorbanan yang harus direlakan, sesuatu yang diberikan bukan dalam kelimpahan tetapi yang dibutuhkan diri sendiri juga. Namun semua pengorbanan itu terasa tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan sukacita karena berita dan pesan yang disampaikan itu membawa berkat damai sejahtera kepada penerimanya, apa lagi isinya bermanfaat sebagai pencerah, penjernih dan penyejuk.

Dengan banyaknya prestasi yang diraih serta sambutan dan respek yang diperoleh, kadang bahkan sering hal itu telah membiuskan narasumber dan pembawa berita kepada dosa kesombongan dan pemujaan diri.

Bulan Juli 2004 lalu dalam tugas pengawasan salah satu kapal yang sedang melakukan perbaikan rutin berkala (docking), penulis diminta oleh pimpinan di tempat kerjanya untuk membuat foto dari kapal tersebut setelah perbaikan dilaksanakan.

Pada hari H, dicarilah posisi membidik yang tepat agar hasil pemotretan tersebut dapat maksimal ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dengan sejumlah pertimbangan dan usaha namun dengan keterbatasan kondisi lapangan dan kemampuan kamera yang dimiliki, maka jadilah hasil bidikan terbaik yang dapat dilihat di halaman lain edisi ini. Foto ukuran 10R pun dilengkapi dengan bingkai yang serasi sebagai usaha terbaik, siap untuk dipersembahkan kepada pimpinan.

Penilaian kurang memuaskan terhadap foto kapal yang dicat warna cemerlang tersebut disebabkan adanya obyek halangan di depannya, sehingga telah mengurangi keindahan penampilan kapal tersebut. Namun jika dikehendaki, dengan teknik manipulasi di program Photoshop maka halangan tersebut dapat dihilangkan dengan mudah.

Narasumber dan pembawa berita sering terjebak pada pola pikir yang sama dengan menginginkan karya yang disuguhkan kepada umat akan menjadikan diri mereka sebagai yang diperhitungkan, di mana seyogianya kepujian dan kemuliaan itu adalah milik Tuhan saja, yang adalah sumber hikmat dan berkat.

Kita sering ingin tampil bagaikan kapal yang baru dibedakin itu dan tidak menghendaki ada halangan apa pun. Pelajaran dari kapal yang buruk fisiknya, seharusnya dapat menuntun mereka yang berprestasi lebih peka terhadap kebutuhan sesamanya yang kehidupannya tidak mulus; yang kadang tidak mempunyai kesempatan untuk dapat mengecap dunia pendidikan di sekolah-sekolah biasa sekalipun; mereka yang lugu dan bersahaja; mereka yang bergumul hari lepas hari untuk mengurangi perihnya perut dan sakitnya organ-organ tubuh lainnya karena tidak secara rutin disentuh butiran penambah gizi; dan masih banyak mereka yang lain yang mendambakan uluran tangan saudaranya.

Ironisnya kita sering dihinggapi penyakit “buta sesaat” karena merasa pencapaian prestasi kita adalah yang terbaik sehingga kita agak lupa diri, bak kapal konvensional yang bangga dengan warna cerahnya tanpa menyadari bahwa tidak jauh darinya terdapat terminal kapal kontainer cukup canggih yang sedang memandangnya dengan cukup prihatin.

Kita harus terus melatih diri agar tetap bertumbuh dengan kerendahan hati agar perilaku masing-masing kita semakin disesuaikan dengan citra penduduk di Yerusalem baru nanti. Bagaimanakah mungkin kita dapat hidup di suatu dunia di mana singa dan domba hidup rukun dan damai sementara kita yang mengaku sebagai makhluk yang lebih beradab ini sedang melakukan perburuan sesama spesis dengan lontaran kata-kata dan tulisan yang asing dan tidak terdapat dalam kamus komunikasi masyarakat di dunia yang baru nanti?

Bersyukurlah kepada Tuhan jika masing-masing kita masih dapat berpikir dengan jernih bahwa apa pun pencapaian kita, kita adalah manusia berdosa, miskin, buta, kerdil dan telanjang. Korbankanlah yang terbaik dalam setiap tugas dan tanggung jawab, dan biarlah kepujian diberikan kepada Tuhan saja.

Apa pun prestasi yang sudah, sedang dan yang mungkin dapat diraih, biarlah teguran keras kepada legalisme yang mengandalkan perbuatan untuk memperoleh keselamatan (Pengkhotbah 7:16) dapat menolong masing-masing kita, baik pengelola maupun para kontributor dan semua pembaca, untuk dapat menghidupkan suatu kehidupan pribadi yang rendah hati di hadapan Allah yang kudus dan yang layak dipuji dan dimuliakan. Ingat, bedanya tipis sekali.

 

[WAO] 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here