biara Copy

 

[AkhirZaman.org] Di puncak sebuah bukit yang tinggi di Portugis yang indah terdapat sebuah biara yang sangat tua. Para wisatawan yang datang ke tempat yang sunyi dan tersendiri ini memperoleh satu pemandangan lingkungan pedesaan yang mengasyikkan.

Akan tetapi ada satu masalah. Satu-satunya cara untuk tiba di biara ini adalah melalui sebuah keranjang rotan yang diikat dengan tali lalu ditarik ke puncak bukit itu oleh seorang biarawan yang sudah sangat tua.

Pada suatu hari seorang pemandu wisata dan seorang wisatawan meninggalkan biara ini melalui keranjang rotan itu. Biarawan yang beruban itu mengulurkan keranjang ke bawah dan keranjang itu berayun-ayun di antara bukit batu yang terjal. Wisatawan yang takut dan tegang itu lalu mengalihkan pandangannya kepada pemandunya dan dengan suara yang gemetar ia bertanya, “Pak, berapa seringkah mereka mengganti tali ini?” Dengan muka yang tegang pemandu wisata itu menjawab, “Setiap kali tali yang tua itu putus.”

Bayangkan ketegangan pikiran yang dirasakan wisatawan itu sementara menuruni bukit yang curam itu. Sesungguhnya ribuan umat manusia juga sedang mengalami keadaan serupa. Mereka terus bergerak, namun ketegangan semakin memuncak. Kecemasan semakin bertambah!

Pekerjaan makin lama makin bertambah dan waktu kelihatannya semakin berkurang. Ketika hari itu berakhir, mereka pulang ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah. Mereka menghempaskan diri ke atas sofa dan menghidupkan televisi mereka, kira-kira begitulah keadaannya.

Perputaran kehidupan sehari-hari begitu terus, dari satu hari ke hari lainnya dan seterusnya, hingga akhirnya kelelahan yang kronis pun terjadi. Tali itu kelihatannya sudah hampir putus.

Kemanakah akhir perjalanan ini? Apakah yang dapat mendorong kita untuk bergerak lebih lambat? Kapankah kita dapat ketenangan? Bagaimana caranya supaya kita menyadari bahwa kebahagiaan hidup yang terbesar bukanlah karena memiliki harta, melainkan karena hubungan yang akrab dengan keluarga kita, kerabat kita, dan Allah? Dimanakah kita akan dapati kedamaian pikiran dan kekuatan rohani yang kita butuhkan untuk mengatasi ketegangan-ketegangan pelik pada zaman ini?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Untuk mendapat jawabannya, mari kembali ke suasana asal mula hidup manusia. Mungkin dengan melihat kembali bagaimana kita dulu dipadukan, maka kita akan dapat mencegah untuk tidak terpisah.

Ketika Pencipta kita yang penuh kasih sayang itu menciptakan bumi ini, Ia melengkapi dengan segala unsur yang diperlukan untuk kehidupan dan kesehatan umat manusia demi kebahagiaan yang sempurna.

alam-yg-sehat CopyUdara bersih, air jernih, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian yang menyehatkan dikaruniakan dengan limpahnya. Sinar matahari yang cemerlang menyelimuti nenek moyang kita yang pertama itu dengan pakaian kemuliaan.

Pekerjaan yang menguatkan tubuh merupakan bagian dari kegiatan rutin setiap hari. Allah memerintahkan mereka “untuk mengusahakan dan memlihara taman itu (Eden).” Kejadian 2:15. Kesehatan mereka haruslah secara berkesinambungan disegarkan melalui kepuasan hasil pekerjaan yang bermanfaat. Melalui hubungan yang akrab, mereka membagikan kesenangan hidup bersama-sama.

Mereka sudah dirancang untuk hidup bahagia, kebahagiaan sebagai hasil persekutuan yang diliputi kasih, iman dan pengabdian dengan Sang Pencipta.

Namun demikian, apakah kondisi Adam dan Hawa mengalami kelelahan yang kronis? Apakah mereka bekerja tujuh hari dalam seminggu, 18 jam dalam sehari, sehingga mereka merasa lelah? Pernahkan mereka bekerja santai dan rileks? Bagaimanakah mereka menghindari ketegangan hidup?

Firman Allah dalam Kejadian 2:1-3 menjelaskan sebagian dari cerita itu: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”

Setelah enam hari membentuk bumi ini dengan sangat teliti, Allah berhenti pada hari ketujuh. Ia mengambil waktu untuk istirahat dari pekerjaan-Nya. Mengapa? Apakah Ia lelah? Tidak! Pada hari Sabat yang pertama kali itu, Allah berhenti karena Ia memiliki satu perasaan yang sempurna atas atas pencapaian yang diperoleh, Ia telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjamin kebahagiaan Adam dan Hawa. Tidak ada sesuatupun yang mereka butuhkan yang tidak dilakukan Allah. Ia beristirahat dan bergaul akrab dengan makhluk yang Ia sudah ciptakan.

Dengan berisirahat pada hari ketujuh atau hari Sabat, Allah memberikan teladan bagi Adam dan Hawa. Sudah menjadi niat-Nya agar mereka pun berhenti dari pekerjaan memelihara dan mengusahakan taman itu. (Kata “sabat” berarti berhenti atau beristirahat). Itulah sebabnya Ia merencanakan satu hari yang istimewa bagi mereka, di mana mereka berhenti dari pekerjaan rutin, lalu beristirahat dan beribadah kepada Allah. Hari Sabat adalah jawaban Allah bagi Adam dan Hawa.

Demikian juga hari Sabat adalah jawaban dari Allah terhadap ketegangan pikiran yang dialami umat manusia di abad ke duapuluh satu ini. Hal ini menjadi obat atas pekerjaan yang tidak ada henti-hentinya yang sudah mendorong semangat manusia modern. Hal ini juga mengajak kita untuk berhenti mencari uang lebih banyak, membeli pakaian yang lebih indah, dan tinggal di rumah yang lebih megah, serta mengendarai mobil yang mewah dan serba otomatis.

Ini adalah undangan Pencipta kita yang hidup, supaya kita beristirahat dari pikiran yang menegangkan dan tubuh kita yang lelah dengan cara bersekutu dengan Dia agar menjadi satu dengan Sang Pencipta kita.

khdpan modern CopyPada zaman modern yang dikuasai oleh teori evolusi ini, hari Sabat mengajak kita untuk beribadah kepada Allah yang adalah Pencipta kita. Hari Sabat menjadi satu tanda peringatan yang terus menerus terhadap Allah yang penuh kasih yang secara tetap berencana demi kebahagiaan kita. Sabat mengumandangkan satu lagu yang menjadi perhatiaan Allah secara pribadi: “Engkau tidak berevolusi! Engkau lebih dari sekadar tulang-tulang yang ditutupi kulit. Engkau lebih dari sekadar molekul yang dibesarkan yang berisi protein. Asal mulamu bukanlah dari lubang yang gelap dan lender-lendir di zaman purbakala. Engkau bukanlah sekadar sekumpulan unsur-unsur kimia yang dipadukan secara kebetulan. Akulah yang menciptakan engkau! Engkau diciptakan menurut gambar-Ku.”

Oleh karena hari Sabat adalah hari yang dikuduskan oleh Allah sebagai suatu hari yang istimewa, maka mereka yang menguduskan hari itu akan menerima berkat istimewa pula. Itulah hari yang dirancang untuk kesegaran pikiran dan jasmani. Dalam perintah Allah yang berbunyi: “Ingatlah kamu akan hari Sabat supaya kamu sucikan dia,” sangat menarik untuk diperhatikan bahwa kata “suci” berasal dari akar kata yang sama dengan kata “seutuhnya” dan “sehat.”

Hari Sabat Allah dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai berikut: “Ingatlah kamu akan hari Sabat supaya kamu tetap sehat.” Hari Sabat itu berkata: “Berhenti! Hidup ini bukannya melakukan pekerjaan terus menerus tanpa akhir! Inilah saatnya untuk beristirahat agar menjadi sehat seutuhnya.”

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here