situsibadah Copy

 

[AkhirZaman.org] Pertanyaan 6: Jika hari Sabat adalah hari yang dikhususkan Allah, mengapa pemuka-pemuka agama dunia tidak memeliharanya?

Jawaban: Anda bisa saja merasa heran, tetapi pertanyaan seperti itu sudah ditanyakan sebelumnya (paling sedikit sebagiannya). Mari kita sama-sama selidiki. Dalam Yohanes 7:46-48 satu percakapan dicatat sebagai berikut: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu! Jawab penjaga-penjaga itu ‘Adakah kamu juga disesatkan?’ Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka.” “Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya atau seorang di antara orang Farisi?”

Ada bukti bahwa penjaga-penjaga kaabah terkesan dengan ajaran-ajaran Yesus. Dalam usaha untuk memadamkan minat mereka, orang Farisi berkata kepada mereka. “Jangan tertipu. Tunggulah pemimpin-pemimpin agama. Kalau Yesus memang adalah Mesias, mereka akan memberitahu kamu: Merekalah yang harus lebih dahulu mengetahuinya.” Tetapi justru pemimpin-pemimpin itu, yang adalah penyelidik-penyelidik isi Alkitab, telah menolak ajaran Yesus dan akhirnya memakukan Yesus ke kayu Salib.

Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa ada tiga golongan pemimpin-pemimpin agama pada masa Kristus di dunia ini.

Pertama, mereka yang buta karena tidak tahu. Pemimpin-pemimpin ini tidak menolak Yesus secara sengaja. Pada saat yang sama, mereka tidak betul-betul memahami siapa Kristus sebenarnya. (lihat khususnys Yak 4:17; Kis 17:30). 

Kedua, Mereka yang sengaja membutakan matanya. Golongan pemimpin ini menyadari siapa Yesus yang sebenarnya tetapi mereka tidak mau mengadakan perubahan ajaran yang penting untuk mengikuti Dia. Keadaan Yesus tidak memenuhi harapan-harapan mereka untuk seorang Mesias karena sifat mereka yang mementingkan diri. (Yah 9:41) Yohanes menulis, “Mereka lebih suka kehormatan dari manusia, daripada kehormatan dari Allah.” (Yoh 12:43). 

Ketiga, Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang berhati setia dan jujur, yang benar-benar mencari kebenaran, golongan ini bekerja di belakang layar untuk mempengaruhi pemimpin-pemimpin lain memihak kepada Yesus. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, kedua-duanya termasuk golongan ini yang berdiri di muka umum dengan berani memihak kepada Kristus. Sesudah kematian Yesus pada waktu kecurahan Roh Suci pada hari Pentakosta, Penulis Kisah Para Rasul mencatat: Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” (Kis 6:7). Sekarang ini juga, ada tiga golongan pemimpin-pemimpin agama, yang tidak tahu mereka buta, yang sengaja membutakan mata mereka dan yang sungguh-sungguh menyadari kebenaran. Banyak dari golongan yang ketiga ini belum mengambil keputusan. Tapi tidak lama lagi, di bawah pengaruh Roh Suci, mereka akan membuat sikap yang pasti untuk kebenaran. Tetapi yang penting diperhatikan adalah bahwa Allah tidak bertanya, “Apakah yang diperbuat pemimpin-pemimpinmu? Gantinya, Allah berkata, “masing-masing kita akan memberi pertanggung jawab atas dirinya sendiri kepada Allah” (Rm 14:12), dan bahwa, “kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus….” (2 Kor 5:10).

Sahabat, masing-masing kita mempunyai pertanggungjawab sendiri kepada Allah. Tidak menjadi soal, apa yang dilakukan pemimpin-pemimpin agama kita. Soalnya hanya, bagaimana anda dan saya menanggapi akan kebenaran Allah. Jika Allah secara pribadi telah meyakinkan anda dari hal kebenaran hari Sabat-Nya, maka resikonya adalah jiwa anda jika anda ragu-ragu dan menunda-nunda keputusan. Jika Allah sudah menyatakan kebenaran itu, apakah jawaban anda?

Pertanyaan 7: Paulus menulis dalam Roma pasal 14, bahwa orang Kristen yang benar tidak perlu menganggap satu hari lebih suci dari yang lain (Rm 14:5, 6). Apakah yang dia maksudkan hari Sabat atau hari lain?

Jawaban: Ayat ini sudah menjadi sumber kebingungan bagi banyak orang. Tapi tidak perlu demikian. Mari kita selidiki ayat itu dengan baik. Paulus menulis: “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada hari yang tertentu, ia melakukanya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah” (Rm 14:5, 6).

Mari kita perhatikan dulu apa yang tidak disebutkan ayat itu. Dua buah pertanyaan akan menolong kita membuat analisa. Apakah ayat itu menyebutkan sesuatu tentang hari Sabat? Apakah ayat itu juga menyebutkan sesuatu tentang perbaktian? Sudah tentu jawabannya adalah tidak. Penulis membicarakan dari hal memberi ucapan syukur kepada Allah, bukan membicarakan hari Sabat, atau tentang perbaktian kepada Allah. Jadi akan berbahaya jika menganggap ayat ini membahas hari Sabat. Kalau begitu tentang isi ayat tersebut: Hari apakah yang dimaksudkan? Nilai hari siapakah yang dimaksudkan ayat itu? Isi ayat itu cukup jelas, bunyinya: “Seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari hari yang lain; tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja.”

sejarah-pencatatan-penulisan-kitab CopyPaulus menuliskan dari hal bagaimana meninggalkan satu hari di atas yang lain. Ayat-ayat tersebut tidak dimaksudkan untuk hari Sabat, atau perbaktian atau perintah Allah tetapi hanya ditujuhkan kepada hari yang sudah dipeliharakan oleh manusia. Oleh sebab itu Paulus dengan jelas hanya membicarakan perkara yang ada pendapat manusia bukan pendapat Ilahi yang ditulis oleh jari Allah di atas loh batu. Ayat pertama dalam pasal itu menjadi kunci bagi kita. Paulus menulis kepada orang yang kuat imannya kepada Yesus tentang mereka yang lemah imannya. Dia menasihatkan agar mereka yang kuat imannya berhenti menghukum karena “hal itu bisa jadi perdebatan” atau hanya pendapat pribadi.

Salah satu dari pendapat itu adalah pantas tidaknya makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala (coba lihat 1 Kor 8). Banyak daging yang dijual di pasar sudah dipersembahkan lebih dahulu kepada berhala oleh si penjual. Ada orang-orang Kristen Yahudi yang sangat teliti dan hati-hati percaya bahwa memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala adalah sama juga seperti seorang penyembah berhala. Banyak orang Kristen pada masa itu, menjadi vegetaris, bukan karena alasan kesehatan, tetapi menghindarkan penajisan secara rohani. Persoalan ini menjadi pokok pertikaian dalam jemaat gereja Kristen Roma pada waktu itu. Tambahan kepada persoalan daging, banyak yang masih percaya ada unsur kebenaran dalam berpuasa (Luk 18:12). Golongan ini berpuasa pada hari-hari tertentu, yang lain, tidak berpuasa pada hari-hari tersebut, mendapat celaan. Paulus menulis, “Seorang menganggap satu hari lebih penting dari hari yang lain…”(Rm 14:5) dan juga: “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan. Sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan Siapa yang tidak makan, ia malakukannya untuk Tuhan dan ia juga mengucap syukur kepada Allah” (ayat 6).

Beberapa dari antara orang Kristen Yahudi tetap seksama mengikuti hari-hari berpuasa dulu. “Iman mereka lemah.” Mereka menghakimi orang lain dengan diri mereka dan hal itu menyebabkan perpecahan di dalam gereja. Perpecahan ini adalah karena kepentingan perasaan manusianya, bukan kepentingan secara dokrin. Rasul Paulus meluruskan persoalan tersebut: “Kalau kamu putuskan untuk berpuasa, itu baik, tetapi jangan menghukumkan orang lain karena puasamu.”

Perhatian utama Paulus adalah dari hal orang-orang yang mau mengadakan perpecahan di gereja karena perkara hasil pendapat manusia, buka perkara hukum Ilahi. Ingatlah bagaimana tegasnya dia mengatakan: “…Jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rm 7:12). Dia mengatakan dengan jelas “Melalui hukum itu kita menyadari adanya dosa” (Rm 3:20) dan “Aku tidak akan pernah tahu apa itu dosa kecuali melalui hukum” (Rm 7:7). Lalu ia tambahkan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya kami meneguhkannya” (Rm 3:31). Sikap Paulus terhadap hukum itu sangat jelas. Dan sudah tentu Roma pasal 14, Paulus tidak membuat pertentangan dengan segala yang sudah dikatakannya dalam pasal-pasal sebelumnya di dalam buku Roma. Jangan sekali-kali pendapat pribadi manusia memecah-belah gereja!

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here