patung-liberty Copy

[AkhirZaman.org] Seorang petani yang benar dan berhati jujur, yang telah pernah meragukan otoritas ilahi Alkitab, namun yang dengan sungguh sungguh ingin mengetahui kebenaran, adalah orang yang secara khusus dipilih oleh Allah untuk memimpin pemberitaan kedatangan Kristus yang kedua kali. Seperti kebanyakan pembaharu pembaharu lain, William Miller, pada permulaan hidupnya berjuang melawan kemiskinan, dan dengan demikian memperoleh pelajaran besar mengenai energi dan penyangkalan diri. Anggota anggota keluarga darimana ia datang dikenal dengan roh mandiri, mencintai kebebasan, ketahanan dan kesanggupan, dan patriotisme yang bersemangat sifat sifat yang juga menonjol dalam tabiatnya. Ayahnya seorang kapten tentera Revolusi, dan pembaharuan yang dilakukannya dalam perjuangan dan penderitaan selama masa gawat, dapat ditelusuri dalam permulaan hidup Miller yang terbatas.

Ia mempunyai fisik yang sehat dan kuat, dan bahkan pada masa kanak kanaknya telah ditunjukkan bahwa ia mempunyai kecerdasan yang lebih dari biasa. Pada waktu ia beranjak dewasa, hal ini semakin nyata. Pikirannya giat dan berkembang dengan baik. Ia haus akan pengetahuan. Meskipun ia tidak memperoleh pendidikan tinggi, kecintaannya kepada pendidikan dan kebiasaannya berpikir berhati hati dan berpikir kritis, membuatnya menjadi seorang yang mempunyai pertimbangan yang sehat dan pandangan yang komprehensif. Ia memiliki tabiat moral yang tanpa cacad cela, dan reputasi yang patut ditiru orang lain dan umumnya ia dihormati oleh karena integritasnya, berhemat dan kedermawanannya. Berkat tenaga dan penggunannya ia segera memperoleh keahlian, walaupun tabiat suka belajarnya masih terus dipertahankan. Ia menduduki berbagai jabatan sipil dan militer dengan reputasi baik. Jalan kepada kekayaan, kemakmuran dan kehormatan tampaknya terbuka lebar baginya.

Ibunya adalah seorang wanita sejati yang saleh, dengan demikian pada masa kanak kanaknya ia telah mendapat kesan agama. Namun pada permulaan masa dewasa ia terjun ke dalam kelompok masyarakat penganut apa yang dinamakan deisme suatu aliran kepercayaan yang mengakui adanya Allah yang menciptakan dunia ini, akan tetapi sesudah itu tidak memperdulikannya lagi, bahkan tidak memperhatikan manusia. Suatu kepercayaan yang menyatakan bahwa akal pikiran sudah cukup untuk pengetahuan kebenaran, dengan demikian menolak wahyu. Webster’s New World Dictionary. Pengaruh deisme ini lebih kuat karena mereka adalah warga negara yang baik, orang orang yang mempunyai sifat manusiawi dan dermawan. Karena mereka tinggal di tengah tengah lembaga Kristen, tabiat mereka sebagian besar dipengaruhi atau dibentuk oleh keadaan sekeliling. Mereka berhutang budi kepada Alkitab atas keunggulan keunggulan yang memberikan kehormatan dan kepercayaan kepada mereka. Namun karunia karunia ini disalahgunakan untuk menimbulkan suatu pengaruh menentang firman Allah. Oleh karena bergaul dengan orang orang ini, Miller telah dituntun untuk mengikuti pendapat dan perasaan mereka. Tafsiran Alkitab menimbulkan kesulitan yang tampaknya tak teratasi. Namun, kepercayaannya yang baru pada waktu mengesampingkan Alkitab, tidak memberikan yang lebih baik sehingga membuatnya tidak puas. Namun, ia terus berpegang kepada pandangan ini selama kira kira dua belas tahun. Tetapi pada umur tiga puluh empat tahun, Roh Suci mempengaruhi hatinya dengan keadaannya sebagai seorang berdosa. Ia tidak menemukan pada kepercayaannya yang sebelumnya, suatu jaminan kebahagiaan di balik kematian. Hari depan gelap dan suram. Merujuk kepada perasaannya pada waktu itu, ia berkata, “Pemusnahan adalah suatu pemikiran yang dingin dan menakutkan, dan pertanggungjawaban adalah kebinasaan yang pasti bagi semua orang. Langit tampak seperti kuningan di atas kepala saya, dan dunia ini bagaikan besi di bawah kaki saya. Kekekalan apa itu? Dan kematian mengapa? Semakin saya pikirkan, semakin tidak menentu kesimpulan saya. Saya mencoba berhenti berpikir, tetapi pikiran saya tidak terkendalikan. Saya benar benar sengsara, tetapi saya tidak mengerti apa sebabnya. Saya bersungut dan mengeluh, tetapi tidak tahu mengenai siapa. Saya tahu bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi saya tidak tahu bagaimana dan dimana harus didapatkan yang benar. Saya berduka, tetapi tanpa harapan.”

Ia berada dalam keadaan ini selama beberapa bulan. “Tiba tiba,” katanya, “tabiat Juru Selamat dengan jelas terkesan di dalam pikiran saya. Tampaknya ada satu oknum yangbegitu baik dan bersimpati yang menghapuskan pelanggaran pelanggaran kita, dan dengan demikian menyelamatkan kita dari menderita hukuman dosa. Dengan segera saya rasakan betapa menyenangkan dan baik oknum yang seperti itu, dan membayangkan bahwa saya dapat meletakkan diriku ke pangkuannya dan mengharap kepada kemurahan orang seperti itu. Tetapi timbul pertanyaan, ‘Bagaimana membuktikan bahwa oknum seperti itu ada?’ Selain dari Alkitab, saya tidak menemukan bukti adanya Juru Selamat seperti itu, atau bahkan di masa mendatang . . . .

“Saya melihat bahwa Alkitab menunjukkan seorang Juru Selamat yang saya perlukan. Dan saya merasa susah dan heran mengetahui bahwa buku yang telah diilhamkan dapat mengembangkan prinsi prinsip yang sempurna yang disesuaikan kepada kebutuhan dunia yang jatuh. Saya telah didorong untuk mengakui bahwa Alkitab itu adalah wahyu penyataan Allah. Buku ini menjadi kesukaan saya, dan di dalam Yesus saya menemukan seorang sahabat. Juru Selamat bagiku menjadi yang terutama dari selaksa. Dan Alkitab, yang sebelumnya gelap dan bertentangan, sekarang menjadi lampu pada kakiku dan terang bagi jalanku. Pikiran saya menjadi tenang dan merasa puas. Saya menemukan Allah menjadi Batu Karang di tengah tengah lautan kehidupan. Alkitab sekarang menjadi pelajaranku yang utama, dan benar benar saya bisa mengatakan bahwa saya menyelidikinya dengan sukacita. Saya menemukan bahwa setengahnya belum pernah saya dengar. Saya kagum mengapa saya belum pernah melihat keindahan dan kemuliaannya sebelumnya, dan heran bahwa saya pernah menolaknya. Saya menemukan segala sesuatu yang dinyatakan adalah yang diinginkan hatiku dan yang menjadi obat bagi setiap penyakit jiwa. Saya kehilangan minat untuk membaca buku buku lain, dan mencurahkan hati saya untuk memperoleh hikmat dari Allah.” Bliss, S., “Memoirs of Wm. Miller,” pp.65 67.

Miller mengakui di depan umum imannya dalam agama yang pernah dibencinya. Tetapi rekan rekannya yang tidak percaya kepada Allah tidak berlambatan mengajukan semua argumentasi yang ia sendiri sudah sering lancarkan melawan otoritas ilahi Alkitab. Ia belum bersedia menjawab mereka. Tetapi ia berpikir, bahwa jika Alkitab adalah wahyu dari Allah, maka ia harus sesuai dengan dirinya sendiri, dan oleh karena Alkitab itu diberikan untuk mengajar manusia, maka ia harus sesuai dengan pengertiannya. Ia memutuskan untuk mempelajari Alkitab untuk dirinya sendiri, dan memastikan kalau kalau setiap kotradiksi atau pertentangan tidak bisa diselaraskan.

Dengan mengesampingkan semua pendapat dan komentar komentar, ia membandingkan buku dengan buku dengan bantuan referensi referensi pada tepi halaman halaman buku dan konkordans. Ia belajar dengan cara teratur dan sistematis. Ia mulai dengan buku Kejadian, membaca ayat demi ayat. Ia tidak perlu terburu buru mempelajarinya sampai arti beberapa paragraf terungkap sehingga dengan demikian ia tidak malu. Bilamana ia menemukan sesuatu yang tidak jelas, kebiasaannya ialah membandiungkan ayat dengan ayat lain yang tampaknya ada hubungan dengan masalah yang dipertimbangkan. Setiap kata dibiarkan mempunyai kedudukannya yang sebenarnya pada pokok masalah dalam ayat itu, dan jika pandangannya sesuai dengan paragraf tambahan, maka tidak ada lagi kesulitan. Dengan demikian, bilamana ia menemukan paragraf yang sulit dimengerti, maka ia menemukan keterangan di bagian bagian lain Alkitab. Sementara ia belajar dengan doa yang sungguh sungguh untuk penerangan ilahi, maka yang dulunya gelap kepada pengertiannya dibuat menjadi terang dan jelas. Ia mengalami kebenaran kata kata pemazmur, “Bila tersingkap firman firman Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang orang bodoh.” (Maz. 119:130).

Dengan kemauan yang sungguh sungguh ia mempelajari buku buku Daniel dan Wahyu, dengan menggunakan prinsip penafsiran yang sama seperti pada buku buku lainnya, dan ia dapati bahwa lambang lambang dapat dimengerti. Ia melihat bahwa nubuatan nubuatan yang sebegitu jauh telah digenapi, telah digenapi secara harafiah atau secara sesungguhnya. Bahwa semua angka, kiasan kiasan, perumpamaan perumpamaan, ibarat dan sebagainya, dijelaskan baik dalam hubungannya yang langsung maupun istilah dimana ia dinyatakan, diartikan dalam buku buku lain, dan dengan demikian bilamana diterangkan, akan dimengerti secara literal atau harafiah. “Dengan demikian saya merasa puas, ” katanya, ” bahwa Alkitab itu adalah sebuah sistem kebenaran yang sudah dinyatakan, yang diberikan dengan jelas dan sederhana, sehingga para musafirpun tidak akan salah mengertinya walaupun ia bodoh.” Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” p. 70. Mata rantai demi mata rantai kebenaran berhasil dihubungkannya, sementara langkah demi langkah ia telusuri garis garis nubuatan. Malaikat malaikat Surga memimpin pikirannya, dan membukakan pengertian kepada Alkitab.

Dengan mengetahui cara nubuatan-nubuatan digenapi di masa lampau, sebagai kriteria untuk menilai penggenapan nubuatan di masa yang akan datang, ia menjadi merasa puas bahwa dengan pandangan umum pemerintahan rohani Kristus masa seribu tahun sebelum akhir dunia tidak didukung oleh firman Allah. Ajaran ini yang menunjukkan adanya masa seribu tahun yang penuh kebenaran dan kedamaian sebelum kedatangan Tuhan secara pribadi, telah menjauhkan teror hari Allah. Meskipun ajaran itu menyenangkan, tetapi itu bertentangan dengan ajaran Kristus dan rasul rasul Nya, yang menyatakan bahwa gandum dan lalang tumbuh bersama sampai waktu menuai, yaitu akhir dunia ini (Ma. 13:30), bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, bahwa “pada hari hari terakhir akan datang masa yang sukar” (2Tim. 3:13,1) dan bahwa kerajaan kegelapan akan terus berlangsung sampai kedatangan Tuhan, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut Nya, dan akan memusnahkannya, pada waktu Ia datang kembali. (2 Tes. 2:8).

Ajaran atau doktrin tentang pertobatan dunia dan pemerintahan Kristus secara rohani tidak dianut oleh gereja pada zaman rasul rasul. Pada umumnya ajaran tidak diterima oleh orang orang Kristen sampai pada permulaan abad ke delapan belas. Seperti setiap kesalahan yang lain, ajaran itu mengakibatkan kejahatan. Doktrin itu mengajarkan kepada manusia untuk memandang jauh ke depan kepada kedatangan Tuhan. Hal ini menyebabkan mereka tidak memperhatikan tanda tanda yang memberitakan kedatangan Nya yang mendekat. Ini menimbulkan rasa yakin dan aman yang tidak berdasar, hal ini menuntun banyak orang melalaikan persiapan yang diperlukan untuk bertemu dengan Tuhan.

william miller1304977167667 CopyMiller menemukan bahwa kedatangan Kristus secara pribadi dan secara harafiah diajarkan di dalam Alkitab dengan jelas dan sederhana. Rasul Paulus berkata, “Sebab pada waktu tanda diberikan, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga.” (1 Tes. 4:16,17). Dan Juru Selamat menyatakan, “Mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan Nya.” “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah Timur dan memancarkan cahayanya sampai ke Barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia.” (Mat. 24:30,27). Ia akan disertai oleh seluruh malaikat Surga. “Anak Manusia datang dalam kemuliaan Nya dan semua malaikat bersama dengan Dia.” (Mat. 25:31). “Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat malaikat Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang orang pilihan Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.” (Mat. 24:31).

Pada kedatangan Nya orang benar yang sudah meninggal akan dibangkitkan, dan orang benar yang masih hidup akan diubahkan. “Kita tidak akan mati semuanya, ” kata Rasul Paulus, “tetapi kita semuanya akan diubahkan dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak bisa binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati harus mengenakan yang tidak dapat mati.” ( 1 Kor. 15:51 53). Dan dalam suratnya kepada orang Tesalonika, setelah menerangkan kedatangan Tuhan, ia berkata, “Mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama lamanya bersama=sama dengan Tuhan.” (1 Tes. 4:16,17).

Umat Tuhan akan menerima kerajaan pada waktu kedatangan Kristus secara pribadi. Juru Selamat berkata, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan Nya dan semua malaikat bersama sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba domba di sebelah kanan Nya dan kambing kambing di sebelah kiri Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa Ku, terimalah kerajaan yang disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Mat. 25:31 34). Kita melihat dari ayat yang baru saja diberikan bahwa apabila Anak Manusia datang, yang mati dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan yang masih hidup diubahkan. Dengan perobahan besar ini mereka dipersiapkan untuk menerima kerajaan, karena Rasul Paulus berkata, “Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.” ( 1 Kor. 15:50). Manusia dalam keadaannya yang sekarang adalah mati dan dapat binasa. Tetapi kerajaan Allah tidak dapat binasa dan akan bertahan selama lamanya. Oleh sebab itu, manusia dalam keadaannya yang sekarang tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Akan tetapi bilamana Yesus datang, Ia akan menganugerahkan peri yang tidak binasa kepada umat Nya. Dan sesudah itu Ia menyuruh mereka mewarisi kerajaan yang baru. Sejak itulah mereka menjadi ahli waris.

Ayat ini dan ayat ayat lain dengan jelas membuktikan kepada pikiran Miller bahwa peritiwa peristiwa yang diharapkan terjadi sebelum kedatangan Kristus, seperti pemerintahan damai secara universal dan berdirinya kerajaan Allah di dunia ini, adalah terjadi sesudah kedatangan Kristus yang kedua kali. Lebih jauh, semua tanda tanda zaman dan keadaan dunia akan sesuai dengan keterangan nubuatan tentang akhir zaman. Dengan mempelajari Alkitab saja, ia dipaksa untuk mengambil kesimpulan bahwa waktu yang diberikan untuk kelangsungan dunia dalam keadaannya yang sekarang ini sudah hampir berakhir.

“Bukti lain yang sangat mempengaruhi pikiran saya,” katanya, “adalah urutan waktu dalam Alkitab . . . . Saya menemukan bahwa peristiwa peristiwa yang diramalkan terjadi, yang telah digenapi pada waktu yang lalu, sering terjadi pada waktu yang sudah ditetapkan. Masa seratus dua puluh tahun dalam air bah (Kej. 6:3), tujuh hari sebelumnya, dengan empat puluh hari lamanya, hujan yang diramalkan (Kej. 7:4), empat ratus tahun pengembaraan benih Abraham (Kej. 15:13), tiga hari mimpi juru minuman dan juru makanan (Kej. 40:12 20), tujuh tahun Firaun (Kej. 41:28 54); empat puluh tahun di padang belantara (Bil. 14:34), tiga setengah tahun bala kelaparan (1 Raja 17:1): Lihat Lukas 4:25); . . . tujuh puluh tahun perhambaan (Yer. 25:11), tujuh tahun Nebukadnezar (Dan. 4:13 16), dan tujuh minggu, enam puluh dan dua minggu, dan satu minggu, menjadikan tujuh puluh minggu, ditentukan bagi bangsa Yahudi (Dan. 9:24 27) peristiwa peristiwa yang dibatasi oleh waktu waktu ini yang pada suat waktu hanyalah merupakan perkara nubuatan, kemudian telah digenapi sesuai dengan ramalannya.” Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” pp. 74,75.

Oleh sebab itu, bilamana ia menemukan dari pelajaran Alkitab berbagai urutan waktu yang, menurut pengertiannya, berlanjut terus kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, ia tidak bisa berbuat apa apa kecuali menganggapnya sebagai “masa sebelum ditetapkan,” yang telah dinyatakan Allah kepada hamba hamba Nya. “Hal hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan anak anak kita sampai selama-lamanya,” kata Musa. (Ul. 29:29). Dan Tuhan menyatakan melalui nabi Amos, bahwa “Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan Nya kepada hamba hamba Nya para nabi,” (Amos 3:7). Oleh sebab itu para pelajar firman Allah dapat dengan pasti berharap akan menemukan peristiwa yang paling menakjubkan terjadi dalam sejarah manusia yang dengan jelas ditunjukkan di dalam Alkitab.

“Setelah sepenuhnya saya diyakinkan,” kata Miller, “bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat”(2 Tim. 3:16), dan tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang orang berbicara atas nama Allah (2 Pet. 1:21), dan ‘segala sesuatu yang ditulis dahulu , telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci’ (Roma 15:4), maka saya menganggap bahwa bagian bagian urutan urutan waktu di dalam Alkitab adalah bagian dari firman Allah, dan sepatutnya mendapat perhatian kita yang sungguh sungguh seperti bagian bagian Alkitab yang lain. Oleh sebab itu saya merasa bahwa usaha untuk memahami apa yang dilihat Allah di dalam kemurahan Nya sesuai untuk dinyatakan kepada kita, saya tidak berhak untuk melewatkan atau mengabaikan periode periode nubuatan itu.” Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” p. 75.

Nubuatan yang tampaknya paling jelas menyatakan “waktu” kedatangan kedua kali itu ialah Daniel 8:14, “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan disucikan dalam keadaan yang wajar.” (disucikan). Dengan mengikuti aturan yang dibuatnya yang membuat Alkitab itu penafsir sendiri, Miller mengetahui bahwa satu hari dalam nubuatan simbolis melambangkan satu tahun (Bil. 14:34; Yehez. 4:6). Ia melihat bahwa dua ribu tiga ratus hari nubuatan, atau tahun secara harafiah, akan berlanjut jauh melampaui penutupan dispensasi yang diberikan kepada orang Yahudi, dengan demikian itu tidak menunjuk kepada kaabah pada masa dispensasi. Miller menerima pandangan yang umum diterima, bahwa di zaman Kristen dunia ini adalah kaabah, dan oleh sebab itu dapat dimengerti bahwa pemulihan dalam keadaan yang wajar (penyucian) kaabah yang disebutkan sebelumnya dalam Daniel 8:14 menunjukkan pemulihan (penyucian) dunia ini oleh api pada waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Jikalau, kemudian, permulaan 2300 hari yang tepat dapat ditemukan, ia menyimpulkan, bahwa kedatangan yang kedua kali itu akan dapat ditentukan. Dengan demikian akan dinyatakan waktu kebinasaan besar, waktu bilamana keadaan sekarang dengan “segala kesombongan dan kuasanya, pemborosan dan penyia nyiaan, kejahatan dan penindasan akan berakhir,” waktu bilamana kutuk akan dihapuskan dari dunia ini, kematian dibinasakan, upah diberikan kepada hamba hamba Allah, para nabi dan orang orang saleh, dan mereka yang takut akan nama Nya, dan mereka yang membinasakan dunia akan dibinasakan.” Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” p. 76.

Dengan kesimpulan kesimpulan baru dan lebih mendalam, Miller meneruskan memeriksai nubuatan nubuatan, baik siang maupun malam, terus mempelajari apa yang sekarang tampaknya sangat penting dan menarik perhatian. Dalam buku Daniel fatsal 18 ia menemukan petunjuk permulaan masa 2300 hari itu. Dan malaikat Gabriel, walaupun diperintahkan untuk memberikan pengertian kepada Daniel mengenai penglihatan itu, hanya memberikan sebagian keterangan kepadanya. Pada waktu penganiayaan ngeri yang akan menimpa gereja diungkapkan kepada penglihatan nabi, kekuatan fisiknya melemah. Ia tidak dapat lagi menahannya, dan malaikat meninggalkannya untuk sementara waktu lamanya. Daniel “pingsan dan sakit beberapa hari lamanya.” Dan saya sangat heran mengenai penglihatan itu,” katanya, “tetapi tak seorangpun memahaminya.”

Tetapi Allah menyuruh utusan Nya, malaikat Gabriel. “Buatlah orang ini memahami penglihatan itu.” Perintah ini harus digenapi. Dalam penurutannya, malaikat itu kembali kepada Daniel beberapa saat kemudian, dan berkata, “Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.” “Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu.” (Dan. 9:22,23). Ada satu perkara penting dalam penglihatan fatsal delapan yang belum diungkapkan, yang berhubungan dengan waktu, waktu 2300 hari. Oleh sebab itu malaikat itu dalam meneruskan penjelasannya, terutama berkisar pada pokok waktu itu:

“Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus . . . . Maka ketahuilah dan fahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang Yang Diurapi, seorang Raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi ditengah tengah kesulitan. Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang Yang telah Diurapi, padahal tak ada salahnya apa apa . . . . Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan.”

Malaikat telah dikirimkan kepada Daniel untuk menjelaskan kepadanya perkara yang belum dipahaminya dalam penglihatan yang terdapat dalam fatsal delapan, yaitu yang menyangkut waktu, “sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.” Setelah menyuruh Daniel dengan berkata, “Camkanlah firmAn itu dan perhatikanlah penglihatan itu,” kata kata pertama malaikat itu ialah, “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus.” Perkataan yang diterjemahkan “ditetapkan” secara harafiah menyatakan “dipotong.” Tujuh puluh kali tujuh masa yang menyatakan 490 tahun, dinyatakan oleh malaikat itu akan “dipotong”, terutama mengenai orang orang Yahudi. Tetapi dari apakah waktu “dipotong”? Oleh karena hanya masa 2300 hari saja waktu yang disebutkan dalam fatsal delapan, dengan demikian dari masa itulah waktu tujuh puluh kali tujuh masa itu “dipotong.” Oleh sebab itu yang tujuh puluh kali yujuh itu adalah bagian dari 2300 hari, dan kedua masa ini haruslah bermula dari waktu yang sama. Yang tujuh puluh kali tujuh masa itu dinyatakan oleh malaikat bermula dari keluarnya perintah untuk memulihkan dan membangun kembali kota Yerusalem. Jika tanggal keluarnya perintah ini dapat ditentukan, maka permulaan masa 2300 haripun akan dapat ditentukan.

Perintah (dekrit) itu ditemukan dalam buku Ezra fatsal yang ketujuh (Ezra 7:12 26). Perintah itu dikeluarkan oleh raja Artahsasta, raja Persia, pada tahun 457 SM (Sebelum Masehi), dalam bentuknya yang paling lengkap. Tetapi di dalam Ezra 6:14 rumah Allah itu dikatakan telah dibangun “menurut perintah Allah Israel dan menurut perintah(dekrit) Koresy, Darius dan Artahsasta raja Persia.” Ketiga raja ini, dalam membuat, memastikan dan menyelesaikan dekrit itu, menyempurnaan sesuai dengan yang dituntut oleh nubuatan untuk menandai permulaan masa 2300 tahun itu. Dengan mengambil tahun 457 SM tahun dekrit itu diselesaikan sebagai tahun perintah dikeluarkan, maka setiap rincian nubuatan mengenai tujuh puluh kali tujuh masa itu kelihatannya sudah digenapi.

“Dari saat perintah dikeluarkan untuk memulihkan dan membangun kota Yerusalem sampai kepada kedatangan seorang Yang Diurapi, seorang Raja, adalah tujuh kali tujuh masa, dan enam puluh dua kali tujuh masa” yaitu 62 x 7 masa, atau 483 tahun. Dekrit Artahsasta mulai berlaku pada musim gugur tahun 457 SM. Dari saat ini dihitung 483 tahun kemudian akan mencapai musim gugur tahun 27 TM (Tarikh Masehi). (Lihat Lampiran). Pada waktu itu nubuatan ini digenapi. Perkataan “Mesias” menyatakan “Yang Diurapi.” Pada musim gugur tahun 27 TM, Kristus telah dibaptiskan oleh Yohanes, dan menerima pengurapan Roh. Rasul Petrus menyaksikan bahwa “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa.” (Kisah 10:38). Dan Juru Selamat sendiri menatakan, “Roh Tuhan ada pada Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik (Injil) kepada orang orang miskin.” (Lukas 4:18).

“Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa.” “Tujuh masa” (satu minggu) di sini ialah tujuh masa yang terakhir dari yang tujuh puluh kali satu masa itu. Itu adalah tujuh tahun yang terakhir yang diberikan terutama kepada orang Yahudi. Selama waktu ini, yaitu mulai dari tahun 27 TM sampai tahun 34 TM, Kristus sendiri dan kemudian murid murid Nya, menyampaikan undangan Injil (kabar baik) itu terutama kepada orang orang Yahudi. Pada waktu murid murid pergi memberitakan kabar baik kerajaan itu, petunjuk Juru Selamat adalah, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba domba yang hilang dari umat Israel.” (Mat. 10:5,6).

Pada pertengahan tujuh masa (minggu) itu Ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan.” Pada tahun 31 TM, tiga setengah tahun setelah Ia dibaptiskan, Tuhan kita Yesus Kristus disalibkan. Dengan pengorbanan yang dipersembahkan di bukit Golgota, maka berakhirlah sistem atau upacara perembahan yang selama empat ribu tahun telah menunjuk kepada Anak Domba Allah. Lambang telah bertemu dengan yang dilambangkan, dan semua korban sembelihan dan korban santapan dalam sistem upacara dengan demikian sudah dihentikan. Yang tujuh puluh kali tujuh masa atau 490 tahun, yang khusus disediakan bagi orang Yahudi, berakhir, sebagaimana kita lihat, pada tahun 34 TM. Pada waktu itu, melalui tindakan Sanhedrin orang Yahudi, bangsa itu memeteraikan penolakannya kepada kabar baik (Injil) dengan mati syahidnya Stefanus dan penganiayaan atas pengikut pengikut Kristus. Sesudah itu kabar keselamatan tidak lagi terbatas hanya kepada umat pilihan, telah diberikan kepada seluruh dunia. Murid murid yang terpaksa melarikan diri dari kota Yerusalem oleh karena penganiayaan, “menjelajahi seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang orang di situ.” (Kis. 8:4,5). Petrus dengan pimpinan ilahi membukakan Injil kepada perwira pasukan Italia di Kaesarea, Kornelius, yang takut akan Tuhan. Demikian juga Paulus yang penuh semangat, yang sudah percaya kepada Yesus, diutus untuk membawa kabar kesukaan “jauh dari sini kepada bangsa bangsa lain.” (Kis. 22:21).

Sejauh ini setiap perincian nubuatan digenapi dengan cara yang mengagumkan, dan permulaan tujuh puluh kali tujuh masa itu tidak diragukan lagi, yaitu tahun 457 SM, dan berakhir pada tahun 34 TM. Dari data ini tidak sulit untuk mengetahui akhir dari masa 2300 hari. Tujuh puluh kali tujuh masa 70 minggu, 490 hari dikurang dari 2300 hari, tinggallah 1810 hari. Setelah 490 hari berakhir, yang 1810 hari lagi masih harus digenapi. Dari tahun 34 TM., 1810 tahun itu berlanjut dan berakhir pada tahun 1844. Sebagai hasilnya ialah bahwa masa 2300 hari yang disebutkan dalam buku Daniel 8:14 itu berakhir pada tahun 1844. Pada akhir dari masa nubuatan yang panjang ini, atas kesaksian malaikat Allah, “lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaannya yang wajar.” Jadi masa pemulihan tempat kudus itu yang hampir secara universal dipercayai terjadi pada kedatangan Kristus yang kedua kali telah dinyatakan dengan pasti.

Mula mula Miller dan rekan rekannya percaya bahwa masa 2300 hari itu akan berakhir pada musim semi tahun 1844, sedangkan nubuatan menunjuk kepada musim gugur pada tahun itu (Lihat Lampiran). Kesalahan dalam memahami hal ini membawa kekecewaan dan kebingungan kepada mereka yang telah menetapkan tanggal sebelumnya sebagai waktu kedatangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak mempengaruhi kuatnya argumentasi yang menunjukkan bahwa masa 2300 hari itu berakhir pada tahun 1844, dan peristiwa besar yang menyatakan pemulihan tempat kudus harus terjadi. Ia mempelajari Alkitab, sebagaimana kebiasaannya, untuk membuktikan bahwa masa masa itu adalah nubuatan dari Allah. Miller pada mulanya sedikitpun tidak mengharapkan akan tiba kepada kesimpulan seperti yang sekarang. Ia sendiri sulit mempercayai hasil penelitiannya. Akan tetapi bukti Alkitab terlalu jelas dan tidak dapat diabaikan.

Ia menghabiskan waktunya dua tahun untuk mempelajari Alkitab, bilamana pada tahun 1818 ia mencapai suatu keyakinan yang kuat bahwa dalam waktu kira kira 25 tahun Kristus akan datang untuk menebus umat umat Nya. “Saya tidak perlu bicara,” kata Miller, “mengenai sukacita yang memenuhi hatiku sehubungan dengan masa depan yang menggembirakan, atau kerinduan jiwa saya yang besar untuk turut ambil bagian dalam kesukaan orang orang yang ditebus. Alkitab sekarang bagiku adalah buku baru. Buku itu berisi pemikiran. Semua yang gelap, yang tersembunyi atau terselubung kepadaku dalam pengajaran pengajarannya, telah lenyap dari pikiran saya dihadapan sinar terang yang sekarang terbit dari lembaran lembarannya yang kudus. Dan ah, betapa terang dan mulia kebenaran itu tampak! Semua kontradiksi dan yang tidak tentu yang saya temukan sebelumnya di dalam Firman itu sekarang telah lenyap. Dan walaupun ada banyak bagian yang saya belum merasa puas saya mengerti sepenuhnya, namun begitu banyak terang yang memancar dari dalamnya untuk menerangi pikiran saya yang gelap sebelumnya, sehingga saya merasakan kesukaan dalam mempelajari Alkitab yang sebelumnya saya tidak sangka akan mendapat apa apa dari pengajaran pengajarannya.’ Bliss, “Memoirs of Wm. Miller,” pp. 76,77.

-KA

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here