debus

[AkhirZaman.org] Di depan tatapan ngeri puluhan penonton yang menyaksikan aksinya, Mulyadi menusukkan paku ke hidungnya. Terdengar jerit kengerian pelan yang diucapkan penonton wanita.

Tapi Mulyadi tak lantas menghentikan aksinya. Di tengah suara tetabuhan gendang dan suling, ia memakan paku yang ada berserakan di dalam baskom.

Semakin banyak penonton yang menahan jeritannya, namun seperti sedang makan kacang Mulyadi terlihat santai mengunyah paku-paku itu.

Tak lupa ia menjulurkan lidahnya ke hadapan penonton, seakan ingin membuktikan kalau ia benar melumat besi tajam itu.

Aksi ngeri tersebut dinamakan debus, kesenian tradisonal yang berbalut bela diri. Debus merupakan kesenian tradisional yang sarat akan legenda gaib. Yang miliki pemikiran konservatif pasti 100 persen tak percaya. Namun kesenian ini bukan setahun atau dua tahun diciptakan.

Mulyadi, yang kini sudah berusia 50 tahun, mengatakan kalau butuh ritual panjang sebelum melakukan aksi debus.

“Semua yang dilakukan dalam debus itu asli. Benda tajamnya sampai darahnya. Tidak ada tipu-tipu,” kata Mulyadi.

Mulyadi mengelak saat diminta menjabarkan kondisi tubuhnya saat mengkonsumsi benda tajam selama aksi debus.

“Itu rahasia,” ujar Mulyadi.

“Benda-benda bisa keluar dari tubuh saya dalam beberapa hari, bisa juga tidak. Tergantung kemauan saya,” lanjutnya sambil tertawa.

Debus lahir pada abad ke-16 saat Kerajaan Banten berdiri. Aksi tersebut dipopulerkan sebagai bentuk perlawanan penduduk kerajaan terhadap penjajah Belanda.

Walau banyak penduduk kerajaan yang memeluk agama Islam, tapi ritual debus tak berhubungan dengan ritual ibadah yang dianut mereka.

Hingga hari ini semakin banyak acara yang memamerkan aksi debus, mulai dari sebagai tontonan turis sampai pesta pernikahan.

Diwawancarai secara terpisah, pakar debus dari Bandung, Aris Afandi, mengatakan kalau dirinya melakukan sejumlah ritual sebelum menyiksa dirinya dengan benda tajam.

“Ritual yang dilakukan sebelum aksi membuat tubuh kami lebih kuat. Selama melakukan aksi kami juga mengucap mantra,” kata Aris.

Pemerintah Kota Banten berusaha mempertahankan kesenian tradisional itu. Tahun lalu mereka menggelar Festival Debus yang dihadiri oleh 5.000 orang peserta.

Meski demikian tak ada yang bisa menjamin masa depan debus. “Tak banyak yang melestarikannya, karena merasa aksi debus tak bisa jadi sumber penghasilan tetap,” ujar Aris.

Sejumlah anggapan haram dari pemuka agama Islam juga membuat kepopuleran aksi debus ciut.
Ditambah lagi dengan beragam cerita mengenai semakin banyak pelaku debus muda yang terluka akibat kurangnya pelatihan.

“Sekuat apapun pelatihan yang dilakukan, tetap saja ada Tuhan YME yang lebih kuat,” kata Aris menanggapi fenomena tersebut.

“Jika ada yang meragukan keberadaan Tuhan YME, tubuh tak punya kekuatan untuk tahan banting selama menjalani aksi debus,” pungkasnya.

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180624165057-269-308625/menggorok-tubuh-demi-melestarikan-seni-debus

Aksi seni seperti ini, hanyalah suatu aksi penipuan seperti sihir zaman modern yang sudah dikemas dalam bentuk modern pula.

Setan sangat lihai mengikat pemujaan dari hati manusia dari Tuhan YME kepada roh roh iblis, dan memakai manusia sebagai agen-agennya untuk menunjukkan kuasa setan yang memikat. Semua aksi ini hanyalah suatu kesia-siaan, bahkan tidak akan memperpanjang usia seseorang.

**
“Penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu, bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Galatia 5:20,21

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here