akhir zaman

        [AkhirZaman.org] Gantinya tenggelam dalam pekerjaan rumah sehari-hari, hendaklah istri serta ibu rumah tangga mengambil waktu untuk membaca, membuat dirinya mengetahui masalah-masalah umum, untuk menjadi seorang sahabat bagi suaminya dan senantiasa berhubungan dengan perkembangan pikiran anak-anaknya. Hendaklah ia bijaksana menggunakan kesempatan-kesempatan yang kini menjadi kesempatannya untuk mempengaruhi anak-anak yang dikasihinya untuk kehidupan yang mulia. Hendaklah ia mengambil waktu untuk menjadikan Juruselamat yang kekasih itu seorang Sahabat sehari-hari dan Teman yang akrab. Hendaklah ia mengambil waktu untuk mempelajari sabda-Nya, mengambil waktu untuk pergi bersama anak-anak ke ladang-ladang dan mempelajari Tuhan melalui keindahan ciptaan-Nya.

      Hendaknya ia senantiasa riang dan gembira. Gantinya menghabiskan setiap waktu dengan menjahit yang tiada henti-hentinya, buatlah suasana petang itu suatu suasana pertemuan yang menyenangkan, suatu pertemuan kembali dari keluarga setelah melakukan kewajiban-kewajiban sepanjang hari. Banyak pria akan dipimpin untuk memilih perhimpunan rumah tangganya sebelum memikirkan tentang rumah bola atau tempat minuman keras. Banyak pemuda akan terhindar dari jalan atau toko-toko makanan dan minuman. Banyak pemudi akan diselamatkan dari pergaulan yang hanya membuang-buang waktu serta menyesatkan. Pengaruh di dalam rumah tangga sebagaimana seharusnya menurut rencana Tuhan bagi orang tua dan anak-anak, ialah menjadi berkat seumur hidup.

        Pertanyaan ini acapkali ditanyakan,”Apakah seorang istri tidak mempunyai kehendaknya sendiri? Dengan jelas Alkitab menerangkan bahwa suami adalah kepala keluarga. “Hai istri, tunduklah kepada suamimu.” Kalau amanat ini berakhir di sini, dapat kita katakan bahwa kedudukan istri bukanlah sesuatu yang dapat menimbulkan iri hati; tetapi akan kita baca kesimpulan dari amanat yang sama, yang mengatakan, “seperti kepada Tuhan.”

        Kita harus mempunyai Roh Tuhan, kalau tidak kita tidak akan pernah mempunyai persesuaian di dalam rumah tangga. Istri, kalau dia mempunyai roh Kristus, akan berhati-hati perkataannya; dia akan mengendalikan rohnya, dia suka mengalah, dan sekalipun begitu dia tidak akan merasa bahwa dia adalah seorang budak, melainkan seorang sahabat suaminya. Kalau suami adalah seorang hamba Tuhan, dia tidak akan bersikap sewenang-wenang dan menuntut yang bukan-bukan. Kita tidak dapat mendambakan kasih-sayang dalam rumah tangga dengan terlalu banyak urusan; karena rumah tangga, yang didiami Roh Tuhan, adalah contoh mengenai suasana surga. Kalau seseorang bersalah, orang lain akan memperlihatkan kesabaran seperti Kristus dan tidak menghindarkan diri dengan kaku.1

Orang Tua

        Setiap wanita yang akan menjadi seorang ibu, apa pun keadaan lingkungannya, harus selalu berusaha mempunyai sifat yang senang, riang dan puas, dengan mengetahui bahwa untuk segenap usaha ke arah ini ia akan mendapat upah sepuluh kali lipat dalam sifat fisik maupun moral dari turunannya. Ini belum semua. Ia dapat, oleh tabiatnya, membiasakan dirinya berpikir gembira dan dengan begitu menumbuhkan satu keadaan pikiran yang bahagia kepada keluarganya dan kepada orang sepergaulannya. Dan kesehatan fisiknya akan mengalami pertambahan yang menakjubkan. Satu tenaga akan dimasukkan ke dalam sumber hidup, darah tidak akan bergerak lamban, sebagaimana keadaannya jiwa dia membiarkan dirinya putus asa serta muram. Kesehatan mental dan moralnya dikuatkan oleh roh kegembiraannya. Kuasa kemauan itu dapat menahan kesan-kesan dari pikiran serta akan terbukti merupakan penenang luar biasa kepada urat-urat saraf. Anak-anak yang tidak memperoleh vitalitas yang seharusnya mereka warisi dari orang tuanya harus mendapat perhatian saksama. Dengan teliti memperhatikan undang-undang tentang perwujudannya suatu kondisi yang terlebih baik mengenai berbagai hal dapat diciptakan.

        Dia, yang berharap menjadi seorang ibu harus menaungi dirinya dalam kasih Tuhan. Pikirannya harus tenang; dia harus bersandar dalam kasih Yesus, mempraktikkan perkataan Kristus. Dia harus ingat bahwa seorang ibu adalah seorang pekerja bersama-sama dengan Tuhan.

        Suami dan istri harus bekerja sama. Dunia yang bagaimanakah yang akan kita punyai kalau semua ibu mau mempersembahkan dirinya di atas mezbah Tuhan dan mau mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan, baik sebelum maupun sesudah kelahirannya!

        Efek dari pengaruh-pengaruh sebelum lahir dianggap oleh orang tua sebagai masalah kecil; tetapi surga tidak menganggapnya demikian. Pekabaran yang dikirim oleh seorang malaikat Tuhan, dan dua kali diberikan dalam cara yang teramat khidmat, menunjukkan bahwa itu patut mendapat perhatian yang saksama.

        Dalam perkataan kepada ibu orang Ibrani (istri Manoah), Tuhan berbicara kepada semua ibu dalam segala zaman. “Hendaklah dipeliharakannya dirinya,” kata malaikat; “hendaklah diperhatikannya segala pesanku kepadanya,” Keadaan yang baik dari seorang anak akan dipengaruhi oleh sifat-sifat ibu. Selera makan serta nafsunya harus dikendalikan oleh prinsip. Ada sesuatu yang harus dijauhinya, sesuatu yang harus dilawannya, kalau dia menggenapi maksud Tuhan baginya dalam memberikan kepadanya seorang anak.

        Dunia penuh jerat buat kaki seorang anak. Banyak orang tertarik oleh suatu kehidupan yang mementingkan diri dan kesenangan hawa nafsu. Mereka tidak dapat melihat bahaya-bahaya yang tersembunyi atau akhir yang menakutkan dari jalan yang tampak bagi mereka jalan kesenangan. Perantaraan pemanjaan selera dan hawa nafsu tenaga mereka disia-siakan dan jutaan orang menjadi rusak bagi dunia ini serta bagi dunia yang akan datang. Orang tua harus ingat bahwa anak-anak mereka harus menghadapi pencobaan. Bahkan sebelum seorang anak dilahirkan, persiapan harus dimulai agar menyanggupkan dia untuk memenangkan peperangan melawan kejahatan.

        Kalau sebelum kelahiran anaknya ia sendiri suka memanjakan dirinya, kalau ia mementingkan diri, tidak sabar dan suka menuntut, sifat-sifat ini akan dipantulkan dalam tingkah laku anaknya. Begitulah banyak anak-anak telah menerima warisan kecenderungan-kecenderungan jahat yang hampir tidak dapat diatasi.

        Tapi bila ibu tanpa ragu-ragu mentaati prinsip-prinsip yang benar, bila ia bertarak dan suka menyangkal diri, kalau ia ramah, lemah lembut dan tidak mementingkan diri, ia akan memberikan kepada anaknya sifat-sifat yang baik dari tabiat yang sama.

        Anak-anak bayi adalah kaca bagi ibu di mana ia dapat melihat pantulan tabiat serta tingkah lakunya sendiri. Kalau begitu, betapa teliti seharusnya bahasa serta kelakuannya di depan anak-anak kecil yang baru belajar! Sifat-sifat apa pun yang dia ingin lihat tumbuh pada anaknya haruslah diperkembangkan di dalam dirinya sendiri.

Kapan Kewajiban Ibu Harus Diringankan

        Adalah suatu kesalahan yang umumnya diperbuat yakni dengan tidak membedakan kehidupan seorang wanita sebelum melahirkan anak. Pada saat yang penting ini pekerjaan seorang ibu harus diringankan. Perubahan-perubahan besar terjadi di dalam tubuhnya. Tubuh memerlukan lebih banyak jumlah darah, oleh sebab itu diperlukan tambahan makanan bergizi untuk diubah menjadi darah. Kecuali ia mempunyai makanan bergizi yang cukup, ia tidak dapat mempertahankan kekuatan fisiknya dan turunannya terampas dari vitalitas.

        Pakaiannya perlu juga diperhatikan dengan saksama untuk melindungi tubuh dari dingin. Dia tidak mempunyai daya tahan untuk memenuhi kekurangan dari pakaian yang tidak cukup. Kalau ibu tidak memperoleh makanan sehat dan bergizi cukup, ia akan kekurangan jumlah serta mutu darah yang baik. Peredaran tubuhnya kurang sehat dan anaknya akan kekurangan perkara-perkara yang sama. Akan ada ketidakmampuan pada turunnya untuk menggunakan makanan yang dapat diubahnya menjadi darah yang sehat untuk memberi makan kepada tubuh. Kesejahteraan ibu dan anak banyak tergantung atas pakaian yang layak dan hangat serta sejumlah makanan bergizi.

Sikap Ibu Yang Menyusui

        Makanan yang terbaik buat seorang bayi ialah makanan yang disediakan alam. Janganlah sampai anak itu tidak memperoleh makanan ini. Adalah pelanggaran bagi seorang ibu, karena kepentingan cari gampang atau untuk kesenangan sosial, berusaha membebaskan dirinya dari tugas kasih sayang menyusui anaknya.

        Masa di mana seorang bayi mendapat makanan dari ibunya adalah masa yang gawat. Banyak ibu, sementara menyusui bayinya, dibiarkan bekerja lebih dari kemampuannya dan memanaskan darahnya tatkala memasak; sehingga pemberian makan sangatlah terpengaruh, bukan saja dengan makanan yang panas dari susu ibu, melainkan darahnya telah diracuni oleh makanan yang tidak sehat dari ibu yang telah memanaskan seluruh tubuhnya, sehingga mempengaruhi makanan bayi. Bayi itu juga akan terpengaruh oleh kondisi pikiran ibu. Kalau ia tidak gembira, mudah marah, mudah tersinggung, memberikan celah kepada nafsu yang meledak, makanan yang diterima bayi dari ibunya akan menjadi panas, acapkali menyebabkan gangguan perut, kejang dan dalam beberapa peristiwa menyebabkan kejang-kejam dan sawan.

        Tabiat seorang anak sedikit banyak juga dipengaruhi oleh sifat makanan yang diterima dari ibu. Betapa pentingnya seorang ibu, sementara memberi makanan kepada anaknya, harus memelihara suatu keadaan pikiran yang menyenangkan, dengan kendali yang penuh atas dirinya. Dengan berbuat ini, makanan anak itu tidak terpengaruh, dan roh tenang serta menahan nafsu yang ditempuh ibu dalam memperlakukan anaknya banyak pengaruhnya dalam membentuk pikiran bayi. Kalau bayi itu bersifat gugup dan mudah berang, kelakuan ibu yang teliti, tidak tergesa-gesa akan mempunyai pengaruh yang menenangkan dan memperbaiki dan kesehatan bayi itu akan banyak diperbaiki.

Ketetapan Dalam Perawatan Kasih Sayang

        Anak-anak dipercayakan kepada orang tuanya sebagai simpanan yang berharga, yang akan dituntut Tuhan dari tangannya pada suatu hari kelak. Kita harus mencurahkan lebih banyak waktu untuk mendidik mereka, lebih banyak perhatian dan lebih banyak berdoa. Mereka memerlukan lebih banyak pengajaran yang benar.

        Dalam banyak hal penyakit anak-anak dapat diusut kepada kesalahan dalam mengelola. Makan tidak tetap pada waktunya, kurang pakaian di malam hari, kurang pergerakan badan untuk memelihara agar darah beredar sehat, atau kurang udara untuk pemurnian, bisa menjadi sebab dari suatu kesulitan. Hendaklah orang tua mempelajari sebab-sebab penyakit dan kemudian memperbaiki kondisi yang salah itu selekas mungkin.

        Anak-anak pada umumnya dibesarkan sejak mula pertama dengan memanjakan selera makan dan diajarkan bahwa mereka hidup untuk makan. Ibu berbuat banyak dalam pembentukan tabiat anaknya dalam masa kanak-kanak. Ia dapat mengajarkan kepada mereka untuk mengendalikan selera makan, atau ia dapat mengajarkan mereka untuk memanjakan seleranya dan menjadi pelahap. Ibu acapkali mengatur rencananya melakukan pekerjaan sepanjang hari itu; dan bila anak menyulitkan dia, gantinya mengambil waktu untuk mengatasi persoalan mereka dan mengalihkan perhatian mereka, sesuatu diberikan untuk makan agar mereka diam., yang mengatasi persoalan untuk sejenak, tetapi lama-kelamaan menjadikan keadaan lebih buruk. Perut anak-anak telah dipaksakan dengan makanan pada saat mereka tidak menginginkannya. Tetapi ia menganggap waktunya terlalu berharga untuk digunakan demi menyenangkan anak-anaknya. Barangkali pengaturan rumahnya yang sedap dipandang untuk dipuji oleh para tamu, dan makanannya yang dimasak lezat, dianggap lebih penting daripada kesenangan dan kesehatan anak-anaknya.

        Dalam mempersiapkan pakaian bayi, kesenangan, kenikmatan dan kesehatan harus dijadikan dasar model atau keinginan untuk menimbulkan kekaguman. Ibu hendaknya tidak menggunakan waktunya untuk menyulam dan membuat pakaian-pakaian kecil yang mencolok, sehingga memberatkan dia dengan pekerjaan yang tidak perlu dengan mempertaruhkan kesehatannya sendiri dan kesehatan anaknya. Ia tidak boleh membungkuk melakukan jahitan yang sangat memberatkan mata dan saraf, pada saat ia memerlukan banyak istirahat dan pergerakan badan yang menyenangkan. Ia harus menyadari kewajibannya untuk memeliharakan tenaganya, agar ia dapat menghadapi tuntutan-tuntutan yang akan datang kepadanya.2

Perlunya Penahanan Diri Dalam Disiplin Anak

        Dalam mendidik seorang anak ada waktu-waktu di mana kehendak ibu yang tegas, matang menghadapi kehendak anak yang tidak masuk di akal serta tidak disiplin. Pada saat yang demikian perlu kebijaksanaan besar dari pihak ibu. Oleh pengelolaan yang tidak bijaksana, oleh paksaan yang keras, kerusakan besar dibuat pada anak itu.

        Setiap kali, krisis ini harus dihindari; karena itu berarti satu pergumulan yang berat buat ibu maupun anak. Tetapi sekali krisis yang demikian ditangani, anak itu harus dipimpin untuk menyerahkan kemauannya kepada kemauan yang lebih bijaksana dari orang tua.

        Ibu harus menjaga dirinya di bawah pengendalian sempurna, tidak melakukan apa-apa yang akan membangkitkan pada anak itu satu roh melawan. Dia tidak boleh memberikan perintah dengan suara keras. Dia akan banyak berhasil dengan menjaga suaranya halus dan lemah lembut. Dia harus memperlakukan anaknya dengan satu cara yang akan menarik dia kepada Yesus. Dia harus menyadari bahwa Tuhan adalah Penolongnya; kasih, kuasanya.

        Kalau dia adalah seorang Kristen yang bijaksana dia tidak akan berusaha untuk memaksakan anak itu untuk menyerah. Dia akan berdoa sungguh-sungguh agar musuh tidak akan mendapatkan kemenangan dan, pada waktu dia berdoa, ia menyadari akan suatu pembaruan kehidupan rohani. Ia melihat bahwa kuasa yang sama yang bekerja di dalam dirinya juga bekerja dalam anak itu. Anak itu menjadi makin lemah lembut, lebih suka mengalah. Peperangan telah dimenangkannya. Kesabaran, keramahannya, kata-kata penahanannya yang bijaksana, telah melaksanakan pekerjaannya. Ada ketenangan setelah topan, seperti sinar matahari setelah hujan. Dan malaikat-malaikat, yang telah menyaksikan peristiwa itu gegap gempita dalam nyanyian kegembiraan.

        Krisis ini datang juga dalam kehidupan suami dan istri, yang kecuali dikendalikan oleh Roh Tuhan, pada saat-saat demikian menunjukkan dorongan hati, roh yang tidak masuk akal yang begitu sering ditunjukkan oleh anak-anak. Ibarat batu api yang tergosok batu api demikianlah pertarungan antara kehendak dan kehendak.

Oleh: Ellen White

_____________________________________

(1) AH 110-118; (2) AH 225-267; (3) 7T 47,48.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here