464754 21736497 iPhone

[AkhirZaman.org] Setiap orang membawa perbedaan, baik latar belakang atau juga tingkat ekspektasi yang berbeda dalam satu perkawinan. Berikut adalah cara bagaimana membangun satu keadaan baru yang “normal.”

Sementara anda berbaring di dalam kamar yang hangat, dan hendak melayang kedalam mimpi, tiba- tiba istri anda datang dengan rasa ketakutan sambil bertanya, “Sayang, sudahkah engkau padamkan semua lampu dan mengunci semua pintu?”

Itu adalah kisah yang kami alami di tahun pertama pernikahan kami. Kami tinggal di Boulder, Colorado, dimana bila musim dingin tiba, kami biasanya suka menggunakan selimut hangat dari listrik. Saya ingat betul pada malam hari ketika saya tertidur pulas di tempat tidur, karena sangat kelelahan, kemudian Barbara membangunkan saya dari ujung mimpi dengan menyalakan lampu. “ Apakah kamu akan memadamkan lampu ini?”

Itu terjadi pada saya, dan saya bergumul selama dua bulan terakhir serta mengalami masa radang dingin, tetapi sepertinya sekarang adalah giliran istri saya saya.” Mengapa engkau tidak mematikan lampu malam ini?” Saya membalasnya. Barabara menjawab,”Saya pikir kamu yang akan melakukannya karena ayah saya biasanya yang mematikan lampu saat malam tiba.”

Whoa!! Sebuah tembakan adrenalin keluar dari kepala saya seperti sinar matahari menembusi kabut gelap. Dan saya tidak seharusnya mengatakan ini, tetapi saya tetap katakan, ”Tetapi saya bukan ayahmu!”

Kemarahan tidak dapat dihindari lagi, pada akhirnya malam itu kami mengalami apa yang kitab suci amarkan untuk “ janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” (Efesus 4: 26). Anda lihat, dua kekuatan berbenturan dimalam yang dingin itu—Perasaan normal dari Barbara dan perasaan normal dari saya. Barbara merasa itu adalah kewajiban normal dari suami untuk memadamkan lampu karena itulah yang ayahnya selalu lakukan. Itu biasa baginya. Tetapi didalam keluarga saya, pekerjaan itu tidak secara mutlak dilakukan oleh pria.

Di saat “Normal” Berbenturan

Setiap orang membawa perbedaan, baik latar belakang atau juga tingkat ekspektasi yang berbeda ke dalam satu perkawinan. Keluarga Anda melakukan sesuatu dengan cara tersendiri, dan keluarga pasangan anda melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Bahkan sering Anda tidak menyadari apa yang “ normal” bagi Anda itu bertabrakan dengan apa yang “normal” bagi pasangan anda. Didalam kasus seperti ini, Anda perlu menyadari bahwa pasangan Anda bukanlah tidak normal—tetapi hanya berbeda.

Seperti contoh, mari perhatikan beberapa hal ”normal” disekitar acara jamuan makan malam: Apakah normal bagi Anda, makan malam bersama sebagai satu keluarga di setiap malam?

• Apakah jenis makanan yang biasanya yang anda makan?
• Apakah yang anda minum?
• Siapakah yang memasak?
• Siapakah yang membersihkan?
• Bagaimanakah biasanya anda berpakaian?
• Apakah anda berdoa sebelum makan?
• Apakah TV dinyalakan?
• Jika seseorang menghubungi Anda, apakah acara makan malam tertunda demi menjawab pangilan itu?
• Apakah normal mengundang teman untuk datang diacara makan malam Anda?

Anda dapat menambahkan hal lain dalam daftar di atas, tetapi itu pada saat makan malam saja. Bagaimana dengan waktu sarapan pagi dan makan siang? Hal-hal normal apakah yang Anda lakukan sehubungan dengan rekreasi keluarga? Liburan keluargakah? Perayaan ulang tahunkah? Binatang peliharaankah? Menangani masalah keuangankah?

Tanggapan Pembaca

Sesudah saya menulis topik ini, sejumlah pembaca mengirim surat dan mengatakan tentang pengumuman mereka. Seorang pembaca menulis:

“Saya paling sering memiliki masalah dengan istri saya bila datang pada hal memadamkan lampu dan merayakan pesta ulang tahun. Saya cenderung memilih untuk memadamkan lampu saat tidur malam, tetapi dia memlilih yang sebaliknya. Juga, istri saya percaya bahwa setiap ulang tahun harus dirayakan dengan banyak hadiah- hadiah.”

Penulis lain menggabarkan sebuah konflik yang muncul pada saat ia dan suaminya merayakan hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke-7.

Mereka memilik seorang bayi yang baru lahir, dan ini adalah kali pertama mereka membawa bayi disaat mereka pergi kencan. Bayi itu biasanya rewel pada malam hari, jadi ia merasa perlu pergi disiang hari, tetapi suaminya memaksa pergi di malam hari.

“Kami akhirnya duduk dan berbicara tentang apa yang kami rasakan. Saya begitu kecewa karena saya merasa ia tidak memahami betapa gugupnya saya, dan saya tidak mengerti mengapa kami harus pergi keluar untuk makan malam gantinya makan bersama di siang hari. Keluargnya sangat jarang keluar untuk makan, dan mereka tidak pernah melakukannya disiang hari. Baginya tidak terlihat romantis atau istimewa untuk pergi keluar disiang hari. Disisi yang lain, keluarga saya selalu pergi keluar untuk makan siang, dan makan malam. Sekarang saya mengerti mengapa itu terjadi.”

Menciptakan Suatu Kondisi “Normal”

Tidak peduli berapa lama Anda telah menikah, atau dari prioritas Anda adalah menciptakan sebuah kondisi “normal” didalam hubungan pernikahan Anda. Didalam buku mereka, “ The Most Important Year in a Women’s life ( Tahun terpenting dalam hidup seorang wanita), Susan DeVries dan Bobbie Worgemuth menulis, “Selama bertahun- tahun kami telah melihat pasangan berada dalam konflik karena uang, atau seks, atau mertua, tetapi hal yang sesungguhnya mereka permasalahkan adalah keadaan “normal.””

Langkah pertama adalah komitmen untuk memahami keadaan “ normal” dari pasangan Anda. Buatlah itu menjadi bagian dari hidupmu. Jika Anda menemukan diri Anda tidak sependapat mengenai sesuatu hal, tanyakanlah dirimu: ”Apakah ini mengenai perbedaan”normal?” Anda dapat menciptakan semangat untuk mencari tahu , bagaimana membicarkan hal tentang “normal” dengan cara yang tidak menekan pasangan. Ingatlah bahwa, dalam sebagian besar kasus, perbedaan adalah baik—itu hanya berbeda saja.

Langkah kedua adalah membuat pilihan bersama yang menggambarkan prioritas dan nilai. Katakanlah bahwa Anda tumbuh didalam keluarga yang memberikan hadiah ulang tahun yang tidak terlalu mahal, sementara keluarga pasangan Anda melakukan yang sebaliknya. Disaat mempertimbangkan bagaimana merayakan hari ulang tahun Anda, ini adalah kesempatan untuk membuat pilihan untuk menentukan hal penting yang harus di buat dalam perayaan itu, dan biaya yang harus di keluarkan harus juga mencukupi.

Saat Anda membuat keputusan ini, ikuti petujuk, ”Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Di setiap keputusanmu, perasaan “normal” Anda tidak akan melebihi perasaan “normal” pasangan Anda. Jika Anda berdua menentukan untuk tidak terlalu tegas kepada perasaan “ normal” Anda berdua, Anda akan menemukan jalan untuk saling memahami dan menghormati satu dengan yang lain dan menciptakan keadaan” normal” yang baru didalam ruma tangga Anda.
Jadi,…siapa yang akan memadamkan lampu di Keluarga Anda?

Sumber: Majalah Rumah Tangga dan Kesehatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here