090509-7805 Copy

[AkhirZaman.org] Pada malam Natal tahun 1968, ketiga astronaut yang berada  di pesawat ruang angkasa Apollo 8  memandang ke luar jendela kokpit kepada bola bumi berwarna biru kehijauan di kejauhan. Dan pada sambungan langsung yang di dengar di seluruh dunia mereka mengutip baris paling terkenal dalam Kitab Suci : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Tujuh kata dalam bahasa Yunani, sepuluh kata dalam bahasa Inggris, baris ini saja telah menjadi kata pendahuluan kepada semua wahyu Ilahi dan dasar pikiran bagi semua keyakinan manusia.

Richard Dawkins, ahli biologi ateis terkenal, memang benar. Langit dan bumi itu pada mulanya diciptakan oleh Allah atau tidak. Tidak ada pilihan ketiga, tidak ada opsi di tengah-tengah. Kalau begitu hanya ada dua pandangan dunia bila berbicara mengenai asal mula alam semesta.

Pada satu pandangan dunia, hukum alam tak beraturan yang berkuasa yang disebut naturalisme. Karya Charles Darwin, Origin of Species, merupakan penganjur yang paling tersebar luas, lalu menghasilkan filosofi ateisme. Sebaliknya, pada pandangan yang paling tua tentang  asal mula dunia ini bahwa Pencipta Ilahi yang menjadikan dan mengendalikan. Ini disebut supernaturalisme. Kitab Suci adalah penganjurnya yang paling tersebar luas, dan menghasilkan filosofi teisme.

Demikian pula majalah National Geographic pernah membuat sebuah rangkaian promosi untuk merebut perhatian pelanggan dengan menerbitkan sebuah brosur sangat menarik yang bertema “Sepuluh Gambar yang Tidak akan Pernah Anda Lupakan.” Sebagian dari gambar-gambar yang tercetak dalam pamflet tersebut antara lain foto astronot Buzz Aldrin di bulan, letusan gunung berapi St. Helens, seekor macan tutul Brazil yang duduk di sebuah cabang pohon, dan foto malaikat yang diperankan oleh seorang murid wanita Rusia yang masih kecil.

Ketika memandang brosur tersebut, maka kita akan diingatkan bahwa sepuluh gambar yang tak terlupakan ini terjadi hanya karena adanya tujuh kata yang tak terlupakan, yakni “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Dalam abad ilmu pengetahuan yang penuh dengan kepalsuan ini, kita dengan mudah terpengaruh untuk melupakan hal pokok di atas karena begitu banyaknya bacaan dan informasi sesat nan membingungkan yang memaparkan bahwa orang fasiklah sumber terciptanya dunia ini. Kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa Allah yang menjadikan baik bulan, gunung, macan tutul, anak gadis kecil, dan tentunya alam semesta termasuk dunia dan yang ada di dalamnya.

Causa Prima yang Dahsyat

Kitab Suci umat mengatakan berulang kali bahwa Allah adalah penyebab utama (causa prima) di balik semua ini: “Engkau telah menjadikan… bumi dengan segala yang ada di atasnya.” “Dahulu sudah Kau letakkan dasar bumi.” Dia adalah “Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Hanya tiga kata “Allah Penyebab Utama.”

Pada akhir tahun 1970-an, ahli biofisika Prof.Harold J.Morowitz dari Yale University mencapai suatu kesimpulan yang mencengangkan kita mengenai harga yang harus dibayar untuk membuat satu tubuh manusia. Termasuk di dalam perhitungannya antara lain protein, enzim, RNA, DNA, asam amino dan zat-zat biokimia lainnya yang turut ambil bagian dalam membuat suatu kehidupan.

Prof. Morowitz menyatakan bahwa perangkaian zat-zat kimia ini untuk menjadi sel-sel tubuh manusia mungkin membutuhkan lebih dari 13.500.000.000.000.000.000 rupiah. Untuk menyatukan ribuan sel menjadi jaringan, jaringan-jaringan menjadi organ tubuh, dan organ-organ tubuh menjadi satu tubuh yang lengkap, mungkin akan menghabiskan seluruh harta yang ada di dunia ini, dan tanpa adanya jaminan untuk berhasil. Jika kita merenungkan hal ini, kita akan takjub pada hikmat dan kuasa kreatif Tuhan yang telah menciptakan kita. Dalam Kitab Mazmur dicatat, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Lebih jauh kitab yang sama berkata, “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” Selanjutnya putra penulis mazmur itu membagikan pengalaman percintaannya berkaitan dengan penciptaan dahsyat atas dunia dan manusia. Kata-kata yang diucapkan oleh mempelai wanita Raja Salomo, “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku,” dengan indah melukiskan rasa aman yang dimiliki sepasang suami-istri yang tahu bahwa mereka saling memiliki. Dalam pernikahan yang harmonis, perasaan ini melingkupi seluruh keluarga. Orang tua berbicara tentang anak-anak mereka dengan penuh kasih dan bangga. Anak-anak berbicara dengan perasaan sayang tentang ibu mereka, ayah mereka, saudara laki-laki mereka ataupun saudara perempuan mereka.

Rasa memiliki ini tersedia bagi semua orang yang mengakui Allah sebagai Causa Prima mereka. Namun ada banyak orang yang tidak mengenal Allah sebagai Pencipta dan Pemilik mereka. Mereka melihat dirinya sebagai anak yatim piatu di dalam alam semesta yang acuh tak acuh, peristiwa-peristiwa alam yang tidak memiliki tujuan, arti, atau pengharapan. Tidak demikian dengan orang-orang percaya; mereka dapat bersukacita dengan pemazmur yang berkata bahwa kita milik Allah, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Saya masih menyukai kata-kata yang saya hafalkan ketika masih anak-anak. “Apakah satu-satunya penghiburan dalam hidup dan kematian?” Jawabannya adalah bahwa saya, tubuh dan jiwa saya dalam hidup dan juga kematian adalah milik Allah Juruselamat saya yang setia.

Dalam Lembah Kekelaman

Sebuah kisah nyata terurai dalam hikayat suci, dikisahkan suatu waktu di mana Raja Aram musuh besar bani Israel bagaikan seekor singa hutan yang buas mengirim sepasukan besar tentara untuk mengepung Dotan tempat di mana Elisa, seorang nabi Tuhan berdomisili, untuk selanjutnya menghancurkannya. “Celaka tuanku! Apakah yang kita perbuat?” pelayanan Nabi Elisa berkata dengan penuh ketakutan. Nabi Elisa menanggapinya dengan pernyataan yang luar biasa. “Jangan takut, lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.”

Dengan tergesa-gesa pelayan nabi itu melihat sekeliling, mungkin berusaha untuk mencari di mana bersembunyi ‘mereka yang menyertai kita itu.’ Lalu Elisa mulai berdoa, “Allah bukalah kiranya matanya supaya ia melihat. “ Maka Tuhan membuka  mata pelayannya itu sehingga ia melihat gunung itu penuh dengan tentara berkuda dan kereta berapi di sekeliling mereka. Sungguh cakar yang besar, auman yang buas, kekuatan yang dahsyat. Kemudian Nabi  Elisa meminta supaya orang-orang Aram dibutakan, dan dibutakanlah mereka. Dan ketika mereka berhenti untuk menanyakan jalan, justru Nabi Elisalah orang yang ditanyai mereka.

Selanjutnya nabi itu menghantar mereka kepada raja bangsa Israel yang selanjutnya bertanya kepada Elisa, “Haruskah kubunuh mereka, bapaku? Haruskah kubunuh mereka?” Jawab abdi Allah itu, “Akankah engkau bunuh orang yang telah kau tawan dengan pedang dan panahmu sendiri?” kata Elisa dengan cerdik seakan-akan pedang dan panah ada hubungannya dengan hal tersebut. Dia lanjutkan, “Hidangkan makanan dan minuman di hadapan mereka supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka.” Maka orang-orang Aram itupun berpesta dan pulang ke rumahnya dan tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri bangsa Israel, semua orang berakhir dengan selamat di rumah. Ingatlah, sesungguhnya Nabi Elisa memahami sesuatu yang tidak dimengerti oleh pelayannya. Mereka dikelilingi oleh perlindungan kasih, kedahsyatan sebuah kuasa yang tak terlihat. “Memang saat-saat yang paling menakutkan sesungguhnya adalah saat-saat paling aman.”

Ketidakadilan menyerang kita juga kegagalan atau penyakit kanker bahkan kebangkrutan atau kesendirian ataupun kematian itu sendiri melingkupi kita, ketika itu terjadi kita ingat cerita si beruang kecil tadi. Auman dan gertak kecil kita mungkin hampir-hampir tidak berarti, namun di belakan kita berdiri Seseorang yang tiada henti terus menjaga. Kita mungkin tidak dapat melihat atau mendengarnya, namun Sang Bapa Penolong selalu ada di sana sepanjang waktu. Dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Mungkin saja kita tidak dapat melihat atau mendengarnya, namuan kita tidak pernah berada di luar pandangannya. Kita tidak pernah berada di luar perhatiannya. Kita adalah kekasih Allah. Inilah yang ditemukan oleh pemazmur, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya, sebab  Engkau besertaku.” Lembah kekelaman pun menjadi tempat yang aman.

Allah tidak akan membiarkan kita remuk atau jatuh. Tak seorang pun, tidak juga Iblis atau musuh-musuh kita, yang dapat merebut kita dari tangan-Nya, sebab kita adalah milik-Nya. Ingatlah, pertolongan-Nya sangat dahsyat bagi kita, sekalipun dalam lembah kekelaman hidup. Dan itu pasti!

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
1 Korintus 2:9

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here