[AkhirZaman.org] Bolehkah kita memukul anak? Demikian pertanyaan yang umum ditanyakan oleh orang tua. Umumnya orang tua memukul anak karena marah. Seringkali kemarahan orangtua sedemikian hebat sehingga mereka cenderung memukul tanpa berpikir panjang dan berlebihan atau impulsif. Setelah memukul kebanyakan orangtua menjadi sangat menyesal; tetapi tidak berdaya. Kebanyakan orangtua sebenarnya tidak tega memukul anak mereka. Tapi orangtua menganggap kalau dibiarkan bisa membuat anak lebih nakal. Akhirnya, mau tidak mau, orang tua berpikir pukulanlah yang dapat memperbaiki tingkah laku anak-anak mereka.
Pukulan-pukulan berakibat negatif pada anak-anak. Pada tataran terendah,mereka akan malu. Apalagi kalau ada orang lain (pembantu, adik-kakak, keluarga lain, teman) yang melihat mereka dipukul. Anak yang dipukul cenderung menyalahkan diri sendiri. Mereka menjadi susah dan sedih. Dalam hati kecil, mereka umumnya mengasihi orangtua, tetapi mereka merasa telah membuat orangtua susah. Padahal pada dasarnya seorang anak belum tahu bagaimana caranya menyenangkan papa-mamanya. Akhirnya, si anak menjadi kesal terhadap dirinya sendiri.
Perasaan-perasaan ini menumbuhkan kebingungan dan kemarahan dalam diri anak, baik terhadap dirinya sendiri maupun orangtuanya. Jika pemukulan, kemarahan, caci-maki, penghinaan, dsb terus dilakukan, anak akan tumbuh dengan harga diri yang rendah (inferior).
Sepanjang hidupnya dia memendam kemarahan pada orangtuanya tetapi tidak tahu cara menyalurkannya. Dia ingin membalas, tapi jelas tidak mungkin. Maka satu-satunya cara yang dia lakukan (di bawah alam sadar tentunya) adalah membuat orangtuanya susah, lantas marah dan kembali memukulnya. Demikian terus-menerus, sehingga pukulan menjadi hal yang dinanti-nantikannya. Dia senang kalau orangtuanya marah. Inilah bentuk pembalasan dendamnya atas kekasaran orangtuanya.
Anak yang seringkali diancam, dipukul, atau diintimidasi, cenderung melakukan hal yang sama kepada anak-anak yang lebih kecil. Beberapa remaja tumbuh dengan keinginan yang kuat untuk memberontak, khususnya terhadap otoritas: orangtua, guru, penegak hukum. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada dan kehadiran mereka tidak boleh diabaikan. Kalau dirunut ke belakang, anak-anak remaja yang suka tawuran di jalanan ada kemungkinan miskin kasih dan terbiasa dengan kekerasan ketika masih kecil.
Orang dewasa yang diabaikan ketika kecil atau mengalami kekerasan psikis dan orang-orang yang berarti dalam hidupnya, cenderung mengalami masa-masa sulit bersama pasangan dan anak-anaknya sendiri. Dia akan sulit memberikan kasih sayang karena dia sendiri tidak memiliki “stok kasih” dalam dirinya. Bahkan mungkin saja ia akan melakukan kekerasan yang sama pada orang di sekelilingnya.
Pada dasarnya banyak cara mendisiplin anak selain memukul, misalnya: tidak mengizinkan anak nonton TV untuk beberapa saat, mengurangi atau bahkan mencabut jam bermain game, tidak mengizinkan anak main ke rumah teman sementara waktu, mengurangi uang jajan, dll.
Mendisiplin anak sebaiknya dilakukan sejak mereka masih sangat kecil, sedini mungkin. Mulailah dengan mengajarkan disiplin dalam bentuk cerita. Atau bisa juga dengan mengajarkan hal-hal baik pada anak melalui obrolan, pergaulan, simulasi, dsb.
Perlu disadari bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku disiplin orangtua yang baik. Orangtua yang cerdas secara emosi akan menemukan cara mendisiplin anak dengan benar.
(Sumber: Julianto Simanjuntak, MDiv, MSi – LK3)
Now appreciating that the post did not require me to agree with the writer to find it valuable, and a look at moderncomfort maintained the same useful regardless of agreement quality, content that informs even when it does not convince is content with broader utility and this site reads as useful even when I disagree.
Glad I clicked through from where I did because this turned out to be worth the time spent, and after urbanwellness I had a fuller picture, the kind of content that earns its visitors through delivering value rather than chasing them through aggressive advertising or constant pop ups appearing everywhere on the screen lately.
Glad to have another data point on a question I am still thinking through, and a look at strategylaunchpad added two more, content that acknowledges its place in a wider conversation rather than pretending to settle the question alone is intellectually honest in a way that I wish was more common across the open web.
Bookmark added with a small mental note that this is a site to keep, and a look at directioncreatesadvantage reinforced the keep status, the verb keep rather than visit captures something about how I think about this kind of site and it is a higher tier of relationship than I have with most places online today.
Reading this slowly to give it the attention it deserved, and a stop at visiontoexecution earned the same slow read, choosing to read slowly is a small act of respect for content quality and very few sites earn that respect from me but this one did so without any explicit ask which is the cleanest way.
Now noticing the post fit a particular gap in my reading without my having articulated the gap before, and a look at focuspowersmovement extended that gap filling effect, content that meets needs I had not consciously formulated is content with reader insight and this site has clearly developed that anticipatory editorial sense across many pieces.
Came back to this an hour later to reread a specific section, and a quick visit to BrahmansHome also drew a second look, content that pulls you back rather than letting you move on permanently is the kind I want to fill my browser bookmarks with in 2026 and beyond as the open internet evolves.
Top notch writing, every paragraph carries weight and nothing feels like filler, and a stop at eleanakonstantellos reflected that same care, a rare thing on the open web these days where most pages exist for clicks rather than actual reader value or anything close to that which is honestly a real shame.