kekeringan

[AkhirZaman.org] Dari Yaman hingga India, dan sebagian Amerika Tengah hingga Sahel Afrika, sekitar seperempat penduduk dunia menghadapi kekurangan air yang ekstrim. Kondisi ini diprediksi dapat memicu konflik, kerusuhan sosial, dan migrasi. Hal itu diungkap oleh World Resources Institute (WRI), sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Amerika Serikat (AS). WRI menuturkan, dengan meningkatnya populasi dunia dan perubahan iklim yang membawa curah hujan yang tidak menentu, termasuk kekeringan parah, persaingan untuk mendapatkan air yang lebih langka meningkat.

Ini dinilai akan memiliki konsekuensi yang serius. Menurut WRI, 17 negara menghadapi tingkat tekanan air yang sangat tinggi, sementara lebih dari dua miliar orang tinggal di negara-negara yang mengalami tekanan air tinggi. Satu dari empat anak di seluruh dunia, jelas WRI, akan tinggal di daerah dengan tekanan air yang sangat tinggi pada tahun 2040.

Peter Gleick, salah satu pendiri Institut Pasifik yang berbasis di California, yang bersama-sama membuat laporan dengan WRI dan Water, Peace and Security Partnership, menuturkan perselisihan atas air selama ribuan tahun telah menjadi titik nyala, mendorong ketidakstabilan politik dan konflik. “Dan, risiko perselisihan terkait air meningkat, sebagian karena meningkatnya kelangkaan air. Namun, seiring dengan meningkatnya kelangkaan air, sistem air juga kian menjadi sasaran dalam jenis konflik lain,” ucapnya, seperti dilansir Japan Today.

“Di Yaman, pertempuran bertahun-tahun telah menghancurkan infrastruktur air, menyebabkan jutaan orang kehilangan air bersih untuk minum atau bercocok tanam. Sumur dan fasilitas air lainnya juga telah menjadi sasaran di Somalia, Irak, Suriah dan negara lain,” katanya. Kekeringan yang berulang di beberapa bagian Amerika Tengah dan Sahel Afrika dalam beberapa tahun terakhir telah memicu migrasi sebagian petani subsisten, yang panennya telah dihancurkan oleh curah hujan rendah, mencari perlindungan dan pekerjaan di negara lain. Para ahli mengatakan, salah satu kunci untuk mengatasi kelangkaan air adalah meningkatkan investasi dalam penggunaan air yang lebih hemat di pertanian, sebuah industri yang menyerap lebih dari dua pertiga air yang digunakan oleh orang setiap tahun.

Para petani di beberapa daerah yang dilanda kekeringan, jelas para ahli, beralih ke sprinkler atau irigasi tetes yang lebih efisien, dan menggunakan alat pemantauan jarak jauh untuk memastikan mereka menerapkan jumlah kelembaban yang tepat pada waktu dan tempat yang tepat. Melestarikan hutan, lahan basah, dan daerah aliran sungai, termasuk yang ada di sekitar kota, dapat membantu menyerap curah hujan, membantu menghentikan hilangnya tanaman akibat banjir dan kekeringan.

“Jika memungkinkan, infrastruktur hijau seperti itu harus digunakan dengan atau sebagai pengganti infrastruktur fisik tradisional seperti bendungan, retribusi (atau) waduk. Itu karena biayanya bisa lebih murah dan karena mendorong pelestarian ekosistem,” kata Charles Islandia, kepala inisiatif air global dan nasional di WRI.

https://bit.ly/37g9zVV

“Jangan cemas.” Manusia hidup saat ini menyadari akan kodrat manusiawinya, ketakutan terhadap kemiskinan. Sehingga ketakutan dalam menghadapi masa depan mengenai hal apa yang akan dimakan, atau apa yang akan diminum serta apa yang akan dipakai, dan upah yang sedikit, menunjukkan bahwa ini akan terbiasa
dihadapi oleh setiap orang pada masa depan. Memang akan ada perbedaan pandangan besar, antara mereka yang memiliki pengharapan kepada Tuhan dan sebaliknya. Jangan cemas tentang persediaan kebutuhan Anda, baik tubuh, pikiran, atau hati. Tuhan tahu apa yang Anda butuhkan. Jika Dia telah memberikan hidup, apakah Dia tidak akan memeliharanya? Apakah Dia tidak peduli pada burung dan bunga? Apakah Dia tidak memberikan Putra-Nya, dan akankah Dia menahan kebaikan? Percayai Dia dan damai sejahtera, serta terus melakukan kebaikan.

“Janganlah khawatir dan berkata, ‘Apa yang akan kita makan’, atau ‘apa yang akan kita minum’, atau ‘apa yang akan kita pakai’? Hal-hal itu selalu dikejar oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Padahal Bapamu yang di surga tahu bahwa kalian memerlukan semuanya itu. Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan Allah juga kepadamu. Oleh sebab itu, janganlah khawatir tentang hari besok. Sebab besok ada lagi khawatirnya sendiri. Hari ini sudah cukup kesusahannya, tidak usah ditambah lagi.” (Matius 6:31-34)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here