church- Copy

(Dalam 2 artikel nubuatan yang lalu kita telah melihat bagaimana setelah kompromi dengan memasukkan patung ke dalam gereja, maka itu menuntun kompromi dengan kebenaran yang lain, yaitu perubahan hari Sabat hari ketujuh kepada pemeliharaan hari Minggu sebagai sabat palsu. Dan tidak lama setelah itulah penganiayaan datang kepada umat Tuhan yang setia dalam pemeliharaan Sabat karena mereka tahu bahwa penurutan perintah keempat itu adalah pengakuan kepada Tuhan sebagai Pencipta dunia ini. Dan keadaan menjadi lebih buruk setelah masa itu. Bagaimanakah situasi yang terjadi? Kita akan pelajari dalam artikel kali ini).

[AkhirZaman.org] Naiknya kekuasaan Gereja Roma menandai permulaan Zaman Kegelapan. Sementara kekuasaannya bertambah, kegelapan semakin bertambah. Iman telah dialihkan dari Kristus, fondasi yang benar itu, kepada paus Roma. Sebagai gantinya percaya kepada Anak Allah untuk pengampunan dosa-dosa dan keselamatan kekal, orang-orang memandang kepada paus dan kepada imam-imam dan ulama-ulama yang telah di beri kuasa. Mereka telah diajar bahwa paus adalah pengantara duniawi mereka, dan bahwa tak seorangpun dapat mendekati Allah kecuali melalui dia. Dan lebih jauh, ia berdiri sebagai ganti Allah bagi mereka, dan oleh sebab itu secara mutlak harus dituruti. Setiap penyimpangan dari tuntutan ini telah cukup alasan menjalankan hukuman paling berat bagi tubuh dan jiwa para pelanggar. Dengan demikian pikiran orang-orang telah dialihkan dari Allah kepada orang-orang yang bersalah, berdosa dan kejam, dan juga kepada raja kegelapan sendiri, yang menjalankan kuasanya melalui mereka. Dosa ditutupi di dalam jubah kesucian. Pada waktu Alkitab ditindas dan ditekan, dan manusia menganggap dirinya tertinggi, kita hanya melihat penipuan, tipu muslihat dan penghinaan. Dengan ditinggikannya hukum-hukum dan tradisi manusia, maka nyatalah kebobrokan yang diakibatkan oleh mengesampingkan hukum Allah.

Masa itu adalah malapetaka bagi gereja Kristus. Tinggal sedikit saja yang setia mempertahankan standar. Walaupun kebenaran itu tidak ditinggalkan tanpa saksi-saksi, namun kadang-kadang kelihatannya kesalahan dan takhyul lebih merajalela dan menonjol; dan agama yang benar seakan-akan lenyap dari muka bumi ini. Injil tidak lagi tampak, tetapi bentuk-bentuk agama berlipat ganda , dan orang-orang dibebani dengan tuntutan yang keras.

Mereka diajar bukan saja memandang paus sebagai pengantara mereka, tetapi mempercayai tugas paus untuk menghapus dosa mereka. Perjalanan yang lama berziarah, tindakan-tindakan pengampunan dosa, pemujaan atau penyembahan kepada benda-benda keramat dan benda-benda peninggalan, mendirikan gereja-gereja, kuil-kuil, tempat-tempat dan makam-makam suci serta mezbah-mezbah, pembayaran sejumlah besar uang kepada gereja — semua ini serta tindakan-tindakan serupa, dipadukan untuk meredakan murka Allah atau mengambil hati-Nya, seolah-olah Allah itu seperti manusia, yang marah oleh karena perkara kecil atau dapat ditenangkan dengan pemberian- pemberian atau tindkan-tindakan pengampunan!

Meskipun kejahatan merajalela, bahkan di antara pemimpin Gereja Roma, pengaruhnya tampaknya tetap semakin bertambah. Kira-kira pada penghujung abad kedelapan, para paus telah menyatakan bahwa pada masa-masa permulaan gereja, imam (bishop) Romawi telah mempunyai kuasa spiritual seperti yang mereka punyai sekarang ini. Untuk menguatkan pernyataan ini, berbagai sarana harus di buat untuk menunjukkan kekuasaan. Dan hal ini telah diusulkan atau dikemukakan oleh bapak segala dusta itu. Tulisan-tulisan kuno telah dipalsukan oleh biarawan. Dekrit majelis (konsili) telah ditemukan sebelum diumumkan, untuk mendirikan supremasi universal kepausan sejak dari zaman permulaan. Dan sesuatu gereja yang telah menolak kebenaran, dengan tamaknya menerima penipuan itu.

[Catatan: TULISAN-TULISAN YANG DIPALSUKAN (FORGED WRITINGS) — Di antara dokumen-dokumen yang sekarang ini secara umum diakui sebagai yang dipalsukan, The Donation of Cponstantine and the Pseudo-Isidorian Decretals adalah yang terutama penting. Dalam mengutip fakta-fakta mengenai pertanyaan, “Kapan dan oleh siapa Constantine’s Donation itu dipalsukan?” M. Gosselin, Direktur Seminari St. Sulpice (Paris) berkata, “Meskipun dokumen ini tidak diragukan kepalsuannya, adalah sulit untuk menentukan dengan tepat tanggal pembuatannya. M. de Marca, Muratori, dan para pakar kritik lain, sependapat bahwa dokumen itu disusun pada abad kedelapan, sebelum pemerintahan Charlemagne. Lebih jauh, Muratori memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa raja dan Pepin telah dibujuk supaya bermurah hati kepada Holy See.” — Gosselin, “The Power of the Pope during the Middle Ages,” Vol. I, p. 321 (diterjemahkan oleh The Rev. Mathew Kelly, St. Patrick College, Maynooth; Baltimore, J. Murphy & Co., 1853).

Pada tanggal Pseudo-Isidorian Decretals, lihat Mosheim, “Ecclesiastical History,” bk. 3, cent. 9, ch. 2, sec. 8. Sebagaimana Dr. Murdock, penerjemah, menunjukkan di catatan bawah halaman (catatan kaki), ahli sejarah Katolik terpelajar, M. L’Abbe Fleury, dalam bukunya “Ecclesiastical History” (diss. 4, sec. 1) berkata mengenai dekrit ini, bahwa “dekrit itu menjadi nyata menjelang penutupan abad kedelapan.” Fleury, menulis menjelang akhir abad ketujuh belas, lebih jauh berkata bahwa “dekrit-dekrit palsu ini dipandang sebagai otentik selama 800 tahun; dan adalah dengan sangat sulit untuk menghilangkannya pada abad terakhir. Benar bahwa pada dewasa ini tak seorangpun yang tidak mengakui bahwa dekrit-dekrit ini adalah palsu, walaupun sedikit pengetahuannya mengenai masalah ini.” — Fleury, “Ecclesiastical History,” bk. 44, par. 54 (terjemahan G. Adam, London, 1732, Vol. V, p. 196). Lihat juga Gibbon, “Decline and the Fall of Roman Empire,” ch. 49, par. 16].

Beberapa orang pembangun yang setia yang membangun di atas dasar yang benar (1 Kor. 3:10,11) telah dibingungkan dan dihambat oleh omong- kosong ajaran-ajaran palsu yang menghadang pembangunan itu. Sama seperti para pembangun di atas tembok kota Yerusalem pada zaman Nehemia, beberapa orang telah siap untuk mengatakan, “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini” (Nehemia 4:10). Beberapa orang yang dulunya pembangun yang setia (1 Kor. 3:10,11) menjadi tawar hati karena sudah letih, karena sudah terus berjuang melawan penganiayaan, penipuan, kejahatan, dan setiap hambatan lain yang dapat di buat oleh Setan untuk merintangi kemajuan pembangunan itu. Dan demi ketenangan dan keamanan bagi harta milik dan nayawa mereka, mereka meninggalkan dasar yang benar. Yang lain, tidak gentar oleh perlawanan musuh-musuh mereka, tanpa takut menyatakan, “Jangan kamu takut kepada mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat” (Nehemia 4:10,14). Dan mereka terus bekerja, masing-masing dengan pedang di pinggang (Epesus 6:17).

Roh kebencian yang sama dan perlawanan kepada kebenaran telah mengilhami musuh-musuh Allah pada segala zaman, dan kewaspadaan serta kesetiaan yang sama dibutuhkan dari hamba-hamba-Nya. Kata-kata Kristus yang ditujukan kepada murid-murid yang pertama itu dapat berlaku kepada para pengikut-Nya pada akhir zaman, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah” (Mark. 13:37).

Kegelapan tampaknya semakin kelam. Penyembahan berhala telah menjadi semakin umum. Lilin-lilin dinyalakan di depan patung-patung, dan doa-doa diucapkan kepada mereka. Hal-hal yang paling tidak masuk akal dan kebiasaan takhyul merajalela. Pikiran manusia sama sekali telah dikuasai oleh takhyul, sehingga pertimbangan sehat tampaknya sudah hilang. Sementara imam-imam dan bishop-bishop sendiri adalah orang-orang pecinta kepelesiran, penuh hawa nafsu dan bejat, maka orang-orang yang meminta tuntunan dari mereka akan tenggelam di dalam kebodohan dan kejahatan.

Kesombongan kepausan telah maju selangkah lagi, pada waktu di abad kesebelas Paus Gregory VII memproklamasikan kesempurnaan Gereja Roma. Di antara hal-hal atau dalil-dalil yang ia kemukakan ialah antara lain menyatakan bahwa gereja tidak pernah salah, atau tidak akan pernah salah, sesuai dengan Alkitab. Tetapi bukti-bukti dari Alkitab tidak disertakan dalam pernyataan itu. Paus yang angkuh itu juga menyatakan bahwa ia mempunyai kuasa untuk memberhentikan para kaisar dan menyatakan bahwa tak seorangpun boleh mengubah keputusan yang ia buat. Tetapi ia mempunyai hak istimewa untuk mengubah keputusan-keputusan orang lain.

[Catatan: DICTATE OF HILDEBRAND (GREGORY VII.). — Lihat Baronius, “Ecclesiastical Annals,” An. 1076 (Antwerp ed., 1608, Vol. XI, p. 479). Satu copy “Dictates,” dalam bentuk aslinya dapat juga ditemukan dalam Gieseler, “Ecclesiastical History,” period 3, sec. 47, note 4 (ed. 1836, tr. by F. Cunningham). Terjemahan dalam bahasa Inggeris diberikan dalam Mosheim, “Ecclesiastical History,” bk. 3, cent. 11, part 2, sec. 9, note 8 (Soames’ ed., tr, by Murdock].

Suatu gambaran yang menyolok mengenai sifat kekejaman paus yang tidak bisa salah ini ialah perlakuannya terhadap kaisar Jerman, Henry IV. Karena diduga mengabaikan kekerasan paus, raja ini diturunkan dari tahtanya dan diasingkan. Takut oleh karena pembangkangan dan ancaman putranya sendiri yang telah mendapat mandat kepausan untuk memberontak melawan dia, Henry IV merasa perlu untuk mengadakan perdamaian dengan Roma. Bersama isteri dan hamba-hambanya, ia melintasi pegunungan Alpen pada waktu pertengahan musim dingin, supaya ia boleh merendahkan dirinya dihadapan paus. Setelah tiba di istana Paus Gregory VII, ia telah dituntun keluar istana tanpa pengawal-pengawalnya. Dan di sana, di tempat yang begitu dinginnya musim saju, tanpa penutup kepala dan alas kaki dengan pakaian yang menyedihkan, ia menunggu izin paus untuk datang menghadap. Setelah tiga hari terus menerus berpuasa dan membuat pengakuan dosa, barulah paus mau memberikan pengampunan kepadanya. Itupun hanya dengan syarat yang, kaisar harus menunggu sanksi dari paus sebelum ia boleh memakai lambang kerajaan atau melakukan wewenang kerajaan kembali. Dan Paus Gregory VII merasa berbahagia atas kemenangannya dan menyombongkan diri bahwa adalah tugasnya untuk mencabut kesombongan raja-raja.

pengakuan-dosa-cara-gereja-roma-katolik-tidak-alkitabiah CopyBetapa besar perbedaan antara kesombongan yang sok mau berkuasa dari paus yang angkuh ini dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan Kristus yang menggambarkan diri-Nya sendiri memohon di pintu hati untuk masuk, agar Ia boleh masuk membawa pengampunan dan damai. Dan yang telah mengajar murid-murid-Nya, “Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:27).

Pada abad-abad berikutnya semakin banyak kesalahan yang ditemukan di dalam ajaran (doktrin) yang dikeluarkan oleh Roma. Bahkan sebelum terbentuknya kepausan, pengajaran para filsuf kafir telah mendapat perhatian dan telah menanamkan pengaruhnya di dalam gereja. Banyak orang yang mengaku bertobat masih tetap bergantung kepada faham falsafah kekafiran mereka. Dan bukan saja mereka terus mempelajarinya, tetapi menganjurkannya kepada orang lain sebagai sarana untuk memperluas pengaruh mereka di antara orang kafir. Dengan demikian kesalahan yang serius telah dimasukkan ke dalam kepercayaan Kristen.

Salah satu yang menonjol ialah kepercayaan mengenai kekekalan alamiah manusia dan kesadarannya di dalam kematian. Doktrin inilah yang menjadi dasar Roma memanggil di dalam doa orang-orang kudus yang telah meninggal dunia dan pemujaan kepada Perawan Maria. Dari kepercayaan ini muncul pula kepercayaan yang menyimpang mengenai penyiksaan yang kekal bagi orang-orang yang tidak mengakui dosa-dosanya, suatu kepercayaan yang pada mulanya telah digabungkan kepada kepercayaan kepausan.

Kemudian, jalan telah dipersiapkan bagi masuknya ciptaan kekafiran yang lain, yang Roma sebut purgatori (api penyucian), dan digunakan untuk menakut-nakuti orang-orang yang mudah percaya dan berpegang kepada takhyul. Dengan ajaran kepercayaan yang menyimpang ini memperkuat adanya tempat penyiksaan, di tempat mana jiwa-jiwa yang belum tergolong ke dalam kutukan kekal harus menderita hukuman atas dosa-dosanya, dan dari tempat ini juga, setelah dibersihkan dari kekotoran, mereka diterima masuk ke surga.

[Catatan: API PENYUCIAN (PURGATORY). — Beginilah definisi purgatory menurut Dr. Joseph Faa Di Bruno: “Purgatory adalah keadaan penderitaan setelah kehidupan ini, di mana untuk sementara jiwa-jiwa ditahan, yang meninggalkan hidup ini sesudah dosa-dosa mereka yang mematikan telah diampuni atau dihapuskan sebagai noda dan kesalahan dan sebagai kesakitan kekal yang ditanggungkan kepada mereka; tetapi sebagai akibat dari dosa-dosa tersebut masih ada hutang hukuman duniawi yang harus dibayar; sebagaimana juga jiwa-jiwa yang meninggalkan kejahatan duniawi hanya yang bisa diampuni.” — “Catholic Belief,” p. 196 (ed. 1884; imprimateur Archbishop of New York).

Lihat juga K. R. Hagenbach, “Compendium of History of Doctrins,” Vol. I, pp. 324-327, 405, 408; Vol II., pp. 135-150, 308,309 (T&T Clark, ed.); Chass. Elliott, Delineation of Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 12; Catholic Encyclopedia, art. Purgatory].

Masih diperlukan suatu buat-buatan lain untuk menyanggupkan Roma memperoleh keuntungan dari ketakutan dan sifat buruk pengikut-pengikutnya. Hal ini ialah doktrin (ajaran) pengampunan dosa. Pengampunan penuh dosa-dosa masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, dan pembebasan dari semua kesakitan dan hukuman dijanjikan bagi semua mereka yang mau mendaftarkan diri berperang bersama paus untuk melebarkan kekuasaannya, untuk menghukum musuh-musuhnya, atau untuk membasmi mereka yang berani menyangkal supremasi spiritual kepausan. Orang-orang juga diajar bahwa dengan membayar sejumlah uang kepada gereja mereka boleh membebaskan diri dari dosa, dan juga membebaskan jiwa teman-teman mereka yang sudah meninggal yang telah dimasukkan ke dalam api penyiksaan. Dengan cara ini Roma mengisi peti perbendaharaannya, dan mempertahankan kebesaran dan kemewahannya, dan sifat buruk yang seolah-olah wakil Dia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

[Catatan: SURAT PENGAMPUNAN DOSA (INDULGENCES) — Untuk sejarah rinci dari doktrin pengampunan dosa, lihat The Catholic Encyclopedia, art. Indulgences (contributed by W. H. Kent, O.S.C., dari Bayswater, London); Carl Ullmann, “Reformers before the Reformations,” Vol. I., bk. 2, part 1, ch. 2; M. Creighton, “History of the Papacy,” Vol. V., pp. 56-64, 71; L. von Rauke, “History of the Reformation in Germany,” bk. 2, ch. 1, par. 131, 132, 139-142, 343-346); Chas. Elliott, “Delineation of the Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 13; H. C. Lea, “A History of Auricular Confession and Indulgences;” G. P. Fisher, “The Reformation,” ch. 4, p.7.

Untuk pelaksanaan praktis doktrin surat pengampunan dosa itu selama masa Pembaharuan (Reformasi), lihat sebuah paper oleh Dr. H. C.Lea yang berjudul “Indulgences in Spain,” yang diterbitkan dalam “Papers of American Society of Church History,” Vol.I., pp. 129-171. Mengenai nilai sejarahnya Dr. Lea berkata, dalam pembukaannya, “Dengan tidak terganggu oleh pertikaian yang terjadi antara Luther dan Dr. Eck dan Silvester Prierias, Spanyol dengan tenang meneruskan mengikuti jalan dan cara lama, dan memperlengkapi kami dengan dokumen resmi yang tak bisa dipertentangkan, yang menyanggupkan kami memeriksa masalah dalam terang sejarah yang murni.”]

Peraturan upacara perjamuan kudus Tuhan yang berdasarkan Alkitab telah digantikan dengan upacara misa yang bersifat penyembahan berhala. Imam-iman kepausan berpura-pura, oleh penyamaran tak berperasaan, untuk mengubah roti dan anggur sederhana itu menjadi “tubuh dan darah Kristus.” — Cardinal Wiseman’s Lectures on “The Real Presence,” Lecture 8, sec. 3, par. 26. Dengan hujatan lancang mereka mengatakan bahwa mereka mempunyai kuasa penciptaan Allah, Pencipta segala sesuatu. Orang-orang Kristen dipaksa, disiksa sampai mati, untuk mengakui terus-terang iman mereka dalam kemurtadan yang mengerikan dan menghinakan surga. Mereka yang menolak telah dilemparkan ke dalam nyala api.

[Catatan: MISA — Mengenai doktrin Misa, lihat karya Cardinal Wiseman, “The Real Presence of the Body and Blood of Our Lord Jesus Christ in the Blessed Eucharist;” juga Catholic Encyclopedia, art. Eucharist (Contributed by J. Pohle, S.T.D., Breslau); “Canons and Decrees of the Council of Trent,” sess. 13, ch. 1-8 (London ed., 1851, tr. by T. A. Buckly, pp. 70-79); K.R. Hagenbach, “Compendium of the History of Doctrines,” Vol. I, pp 214-223, 393 -398, dan Vol. II, pp. 88-114; J. Calvin, “Institute,” bk. 4, ch. 17, 18; R. Hooke, “Ecclesiastical Polity,” bk. 5, ch.67; Chas. Elliott, “Delineation of Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 4,5.]

Pada abad ketigabelas, telah ditetapkan suatu alat kepausan yang paling mengerikan dari semua, yang disebut “Inkuisisi” (Pemeriksaan). Raja kegelapan bekerja-sama dengan para pemimpin kepausan. Dalam rapat-rapat (konsili) rahasia mereka, Setan dengan malaikat-malaikatnya mengendalikan pikiran orang-orang jahat, sementara di tengah-tengah berdiri tidak kelihatan malaikat-malaikat Allah, mencatat dengan teliti keputusan-keputusan jahat dan kejam mereka, dan menuliskan sejarah perbuatan mereka yang sangat mengerikan bagi mata manusia. “Babilon yang besar” telah “mabuk karena meminum darah orang-orang kudus.” Berjuta-juta orang yang mati syahid (martir) yang telah diremukkan, berseru-seru kepada Allah memohon pembalasan atas kuasa yang murtad itu.

Kepausan telah menjadi raja dunia yang lalim dan sewenang-wenang. Raja-raja dan kaisar-kaisar tunduk kepada dekrit kepausan Roma. Nasib manusia, baik sekarang maupun selama-lamanya, tampaknya ada dalam pengendalian dan kekuasaannya. Selama beratus-ratus tahun ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin Roma telah diterima secara luas dan mutlak. Upacara-upacaranya dilakukan dengan khidmat, hari-hari rayanya dirayakan secara umum. Pastor-pastornya dihormati dan didukung dengan limpahnya. Tidak pernah seperti itu sebelumnya. Gereja Roma memperoleh kewibawaan, keagungan atau kuasa yang lebih besar.

bible 1open CopyAkan tetapi, “tengah (siang) hari kepausan adalah tengah malam bagi dunia ini.” — Wylie, “History of Protestantism,” book 1, chap.4. Alkitab yang Suci hampir tidak di kenal lagi, bukan saja oleh orang-orang biasa, tetapi juga oleh imam-imam. Seperti orang-orang Farisi zaman dahulu kala, para pemimpin kepausan membenci terang itu yang akan menyatakan dosa-dosa mereka. Hukum Allah, ukuran kebenaran itu, telah ditolak. Mereka menjalankan kekuasaan tanpa batas, dan melakukan kejahatan tanpa rintangan. Penipuan, keserakahan dan ketidakbermoralan merajalela di mana-mana. Orang-orang dengan leluasa melakukan kejahatan, dengan mana ia bisa memburu harta atau mendapat kedudukan.

Istana-istana paus dan para pejabat tinggi gereja telah menjadi tempat pesta-pora dan kebejatan moral yang paling memalukan dan menjijikkan. Beberapa pejabat kepausan yang sedang berkuasa telah melakukan kejahatan sehingga pemerintah-pemerintah sekular memberontak berusaha menyingkirkan pejabat-pejabat gereja yang bertindak bagaikan binatang buas, yang terlalu menjijikkan untuk ditoleransi. Selama berabad-abad Eropa tidak mengalami kemajuan dalam pendidikan, seni dan kebudayaan. Kelumpuhan moral dan intelektual telah menimpa Kekristenan.

Keadaan dunia di bawah kekuasaan Romawi menyatakan kegenapan nubuatan nabi Hosea yang menakutkan, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu, maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” “. . . sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri itu. Hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah” (Hosea 4: 6, 1, 2). Semuanya itu adalah akibat dari meniadakan Firman Allah.

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here