[AkhirZaman.org] Waktu dan tempat, walaupun tidak terlalu utama dalam doa, merupakan kondisi yang penting bagi pelaksanaan doa yang benar dan berhasil. Doa memiliki berbagai bentuk ekspresi, tetapi harus ada waktu dan tempat bagi doa yang tidak terganggu atau semua bentuk ekspresi doa itu akan berhenti atau akan menjadi dingin, lesu, atau tidak menghasilkan buah. Doa merupakan waktu pertemuan yang diberikan Tuhan kepada manusia, dan jika kita tidak memiliki tempat yang dikhususkan bagi pertemuan tersebut dan tidak menyediakan waktu kudus bagi persekutuan ilahi ini, maka kita memperlakukan pertemuan tersebut dan semua hal penting di dalamnya dengan pandangan rendah dan melakukan penghinaan kepada Tuhan yang telah merendahkan diri bagi kita, yang merupakan hak istimewa tinggi bagi kita. Waktu bagi persekutuan yang penuh berkat bukan merupakan waktu yang sempit dan terburu-buru, yang diambil dari kegiatan-kegiatan lain. Segala sesuatu yang harus dikerjakan harus dilakukan dengan baik. Tidak menyediakan waktu untuk berdoa sama dengan tidak berdoa sama sekali. Tidak memiliki tempat untuk berdoa menjadikan doa perkara ringan dan tidak terasa.

Doa merupakan tanggung jawab pekerjaan orang Kristen. Kedudukan resmi yang dijabat orang Kristen adalah pendoa syafaat. Orang Kristen adalah imam Tuhan, dan jika kita tidak memberikan waktu maupun tempat bagi pekerjaan kudus dalam kedudukan ini, maka kita mengorbankan pekerjaan itu. Doa merupakan “bisnis besar” orang Kristen. Tidak memberikan waktu maupun tempat bagi pekerjaan doa tersebut merupakan “kebangkrutan yang memalukan”. Satu-satunya cara untuk membuat pekerjaan doa menjadi berhasil adalah masuk ke dalamnya dengan rajin dan penuh hasrat, memenuhi semua syarat yang cenderung membuatnya berhasil. Alasan mengapa begitu sedikit doa yang dilakukan dan mengapa sedikit doa yang dilakukan tersebut membawa hasil yang sedikit dan lemah adalah bahwa kondisi waktu dan tempat tidak terpenuhi. Mereka yang dengan hati-hati menyusun waktu dan ruang bagi doa adalah mereka yang memperoleh hasil terbesar. Bagi mereka, doa menjadi lebih berkuasa serta menarik. Sejarah agama tidak pernah menunjukkan seseorang yang memiliki faktor kuasa rohani di dalam gereja, tidak menonjol dalam doa — menyediakan waktu khusus untuk berdoa dan memiliki suatu tempat yang dikhususkan bagi saat kudus. Bagi mereka yang mengenal Alkitab akan menemukan catatan mengenai tempat-tempat yang dipakai untuk berdoa yang teratur atau tempat yang dicari untuk berdoa.

Daniel memiliki tempat untuk berdoa secara teratur dan dikhususkan bagi hak istimewa doa yang mulia. Karena murid-murid mengenal baik tempat-tempat yang sering didatangi Yesus, mereka dapat dengan mudah menemukan-Nya ketika Ia keluar untuk berdoa sebelum hari yang ditentukan untuk penyaliban-Nya. Pada malam itu, Yudas menemukan Yesus karena Yesus sering datang ke tempat tersebut untuk berdoa dan mengajar murid-murid-Nya. Kesunyian padang belantara dan privasi, kesendirian, dan naik ke atas gunung merupakan tempat di mana rencana penebusan mendapatkan inspirasi, kekuatan, dan keberhasilannya. Petrus memilih loteng rumah untuk berdoa, sehingga ia bisa menyendiri bersama Tuhan. Kristus memerintahkan kita untuk masuk ke kamar kita — tempat yang sangat pribadi dan jauh dari kebisingan — dan menutup pintu. Kita harus menyendiri dengan Tuhan, terpisah dari teman duniawi kita dan dari semua daya tarik dunia dan berada dalam pekerjaan kita dengan Tuhan. Kita seharusnya memiliki tempat di mana kita datang secara teratur, dan dikhususkan bagi Tuhan dan doa. Dengan menggunakan tempat yang sama, kita akan terbantu untuk memiliki minat doa.

Tempat di mana biasa kita datang dengan teratur akan membantu mengobarkan jiwa, memiliki iman yang lebih hidup, hasrat yang lebih kuat, mengangkat perasaan dengan cepat, dan kuat dalam mengonsentrasikan pikiran tentang berkat-berkat yang telah diberikan. Tempat di mana kita biasa bertemu dengan Tuhan menjadi suatu tempat surgawi, suasana surgawi melingkupinya, dan para utusan surgawi ada di sana. William Bramwell, dengan iman dan doa, memiliki sebuah hutan favorit untuk menemui Tuhan dan menyendiri bersama-Nya. John Fletcher memiliki sebuah ruangan kecil tempat di mana ia bergumul dalam doa. Samuel Rutherford memiliki tempat khusus yang terbuat dari kayu di mana ia berdoa — “Di sanalah aku bergumul dengan malaikat dan menang.” Manusia-manusia Tuhan perlu memiliki tempat doa. Tanpa sebuah tempat doa, mereka akan merasa kehilangan lebih dari tubuh kehilangan makanan pentingnya. Mereka merasa kehilangan lebih dari rasa kehilangan orang malang ketika emas miliknya dirampas. Tentara yang paling kuat dan paling berani tidak dapat terus berada di garis depan berperang melawan musuh. Kericuhan kumpulan orang dan tekanan pekerjaan melelahkan jiwa, jadi manusia iman harus mundur untuk pemulihan dan penyegaran. Kita harus mundur berdoa bagi objek khusus. Kita harus menjadikan doa sebagai objek tunggal. Doa tidak boleh dicampur dengan hal-hal lain.

Bagaimana bisa seseorang berkhotbah tanpa mendapat pesan segar dari Tuhan di kamar doanya? Bagaimana mungkin ia berkhotbah tetapi imannya tidak dibangkitkan, pandangannnya tidak diterangi, dan hatinya tidak dihangatkan dalam kesendiriannya dengan Tuhan? Khotbah dari seseorang yang tidak disentuh oleh api doa akan menjadi kering dan tidak membangkitkan semangat dan kebenaran ilahi tidak akan pernah disampaikan dengan kuasa. Mimbar tanpa doa akan gersang. Tidak menentukan tempat khusus untuk berdoa berarti melakukan pertunjukan sia-sia baik bagi doa itu sendiri maupun bagi kehidupan kudus. Bersekutu dengan Tuhan memerlukan waktu, jadi waktu harus disediakan untuk berdoa — waktu yang baik dan tenang. Pekerjaan ini bersifat sangat berat. Jiwa harus dipersiapkan dan ini memerlukan waktu. Kadang-kadang kita jauh dari siap untuk bersekutu dengan Tuhan, dan waktu diperlukan untuk membangkitkan semangat yang lesu. Kita harus mengizinkan waktu untuk mengatasi dan menanggulangi halangan-halangan doa yang ada di luar kita — yang tidak terlihat, kuat, dan berbahaya.

Doa merupakan tugas utama, pekerjaan tertinggi, devosi yang paling menghanyutkan. “Banyak waktu dalam doa telah menjadi moto dan ciri para pemenang kudus Tuhan.” Brainerd berkata, “Saya suka menyendiri di pondok saya di mana saya dapat menghabiskan banyak waktu berdoa.” Luther menghabiskan waktu 3 jam sehari untuk berdoa. Rutherford bangun jam tiga pagi untuk bertemu dengan Tuhan dalam doa. John Welch menghabiskan 7 atau 8 jam sehari dalam doa. Mc Cheyne memberikan waktu berjam-jam sehari untuk berdoa, demikian juga Wesley. Doa tidak dapat diukur dengan waktu, tetapi menyediakan sedikit waktu untuk berdoa sama dengan sama sekali tidak berdoa. Yesus Kristus memberikan contoh ilustratif penuh kuasa, bangun pagi-pagi sekali untuk menyediakan waktu berdoa. Acap kali Dia berdoa semalaman. Dia memerintahkan kita untuk tidak jemu-jemu berdoa dan hal ini membutuhkan waktu, kesabaran, serta komitmen. Daniel berdoa tiga kali sehari. Dia menyisihkan banyak waktu dari urusan kenegaraan untuk berdoa, tetapi waktu yang dia habiskan dalam doa menjaga politiknya tetap murni, negaranya makmur, dan imannya kuat. Waktu dan tempat merupakan syarat penting bagi doa yang benar. Doa tanpa tempat akan berubah menjadi sentimen yang dangkal. Doa tanpa waktu, dan waktu yang banyak akan menjadi sebuah tindakan yang kering, terburu-buru dan tanpa arti.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku              :    Doa dan Api
Judul asli buku      :    Prayer and Revival
Judul asli artikel    :    Berjaga-jaga dan Berdoa, Keinginan dalam Doa, dan Waktu dan Tempat untuk Berdoa
Penulis                    :    E.M. Bounds
Penerjemah           :    Josep Tatang dan Susan
Penerbit                   :    Tunas Pustaka

Sumber: http://doa.sabda.org

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here