tuhan-atas-sabat Copy

Tantangan Setan Terhadap Kekuasaan Allah 
[AkhirZaman.org]
 Allah mengutuk Babel ‘Karena telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.’ . . . 

Allah menciptakan bumi dalam enam hari dan berhenti pada hari yang ketujuh, menguduskan hari itu, dan mengasingkannya dari yang lainnya sebagai suatu hari yang suci bagi-Nya, supaya dipelihara oleh umat-Nya dari generasi kepada generasi. Tetapi manusia yang berdosa, yang meninggikan dirinya di atas Allah, duduk di dalam kaabah Allah dan menunjukkan dirinya sebagai Allah, berpikir untuk mengubah waktu dan hukum. Kuasa ini, yang berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan saja setara dengan Allah, bahkan melampaui Allah, mengubah hari perhentian, menempatkan hari yang pertama dalam pekan di tempat yang seharusnya adalah hari yang ketujuh. Dan dunia Protestan telah menerima anak Kepausan ini kudus. lstilah dalam Firman Allah menyebutnya percabulan (Wahyu 14:8).-7BC 979 (1900).

Selama pembebasan Kristen musuh besar dari kebahagiaan manusia itu telah menjadi Sabat hukum yang keempat itu sebagai sasaran dari serangan khusus. Setan berkata, ‘Aku akan berusaha menghalangi Allah. Aku akan memberi kuasa kepada para pengikutku untuk menyingkirkan hari peringatan Allah, yaitu Sabat hari yang ketujuh. Dengan demikian aku akan menunjukkan kepada dunia ini bahwa hari yang disucikan dan diberkati Allah ltu sudah diubah. Hari itu tidak boleh timbul dalam pikiran manusia. Aku akan menghapus ingatan tentang hari itu. Aku akan menempatkan sebagai gantinya satu hari yang tidak mengandung mandat Allah, satu hari yang tidak bisa menjadi tanda antara Allah dengan umat-Nya. Aku akan menuntun mereka yang menerima hari ini untuk menaruh kesucian yang Allah berikan pada hari yang ketujuh.-PK 183, 184 (c. 1914).

Sabat Sebagai Pokok Persoalan Utama
Dalam peperangan yang berlangsung pada zaman akhir, demi menentang umat Allah, seluruh kuasa-kuasa jahat yang telah murtad dari persekutuan dengan Hukum Tuhan akan bersatu. Dalam peperangan ini, Sabat Hukum keempat itu. akan menjadi pokok persoalan utama, Karena dalam hukum Sabat ini Pemberi Hukum yang agung itu menunjukkan diri-Nya sebagai Pencipta langit dan bumi. -3SM 2592 (1891).

Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara Kata Tuhan, ‘sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun temurun, sehingga kamu mengetahui bahwa Akulah Tuhan yang menguduskan kamu’ (Keluaran 31:13). Sebagian orang akan berusaha membuat rintangan-rintangan dalam pemeliharaan hari Sabat, dengan berkata, Kamu tidak tahu hari apa Sabat itu,’ tetapi nampaknya mereka mengerti bilamana hari Minggu tiba, dan telah menunjukkan usaha yang besar untuk menjadikan undang-undang yang memaksakan pemeliharaan-Nya.-KC 148 (1900),

Gerakan Undang-Undang, flari Minggu di Tahun 1880-an [1]
Selama bertahun-tahun kita sudah menantikan suatu Undang-Undang Hari Minggu diberlakukan di negeri kita, dan sekarang dengan menghadapi gerakan itu kita bertanya, Apa yang akan dilakukan oleh anggota—anggota kita terhadap hal
ini? . . . Kita harus secara khusus berharap agar rahmat dan kuasa Allah agar diberikan kepada umat-Nya sekarang. Allah itu hidup, dan kita tidak percaya bahwa waktunya sepenuhnya sudah tiba bilamana la akan membiarkan kebebasan-kebebasan kita dibatasi.

Nabi itu melihat ’empat malaikat berdirl pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.’ Seorang malaikat lain, yang muncul dari tempat matahari terbit berseru kepada mereka, katanya, ‘Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!’ (Wahyu 7:1, 2). lni menunjukkan pekerjaan yang sekarang harus kita lakukan, yaitu berseru kepada Allah agar keempat malaikat itu menahan keempat mata angin sampai misionaris-misionaris diutus ke segenap penjuru dunia, dan mengumandangkan amaran terhadap pembangkangan akan Hukum Tuhan.–RH Extra, 11 Desember 1888.

Para Pendukung Undang-Undang Hari Minggu Tidak Menyadari Apa yang Mereka Lakukan
Pergerakan hari Minggu sekarang sedang merintis jalannya di dalam kegelapan. Para pemimpin menutupi pokok persoalan yang sebenarnya, dan banyak barang yang bergabung dengan pergerakan ini tidak melihat sendiri secara lebih jelas arah dari arus bawah ini. . . . Mereka bekerja dalam kebutaan. Mereka tidak menyadari bahwa jika pemerintah Protestan mengorbankan prinsip-prinsip yang telah menjadikan mereka suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat, dan melalui perundang-undangan memasukkan ke dalam Konstitusi prinsip-prinsip yang akan mempropagandakan kepalsuan dan penipuan Kepausan, maka mereka terjerumus ke dalam kengerian Zaman Kegelapan Roma. -RH Extra, 11 Desember 1888.

Banyak orang, bahkan mereka yang terlibat dalam pergerakan pemaksaan Hari Minggu tersebut, yang buta terhadap akibat-akibat yang akan menyusul tindakan ini. Mereka tidak menyadari bahwa mereka secara langsung sedang melanggar kebebasan beragama. Banyak orang yang belum pernah memahami akan tuntutan Sabat Alkitab dan dasar yang palsu di atas mana lembaga hari Minggu itu didasarkan. . . .

Mereka yang sedang berusaha untuk mengubah Konstitusi dan mengadakan suatu undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu hanya sedikit menyadari apa akibatnya. Suatu krisis berada di hadapan kita.–5T 711, 753 (1889).

Bukan Duduk Tenang-Tenang Tanpa Berbuat Sesuatu
Adalah tugas kita untuk melakukan segala sesuatu dalam batas kemampuan kita untuk mencegah bahaya yang mengancam. . . . Suatu tanggung jawab besar berpindah kepada pria dan wanita yang tekun berdoa di seluruh negeri untuk memohon kepada Allah agar menghapus awan kejahatan ini, dan beberapa tahun lagi memberikan rahmat untuk bekerja bagi Tuhan.–RH Extra, 11 Desember 1888.

Mereka yang sekarang sedang memelihara hukum Allah perlu menggiatkan diri agar mereka bisa memperoleh pertolongan khusus yang hanya Allah saja dapat memberikannya kepada mereka. Mereka harus bekerja lebih sungguh-sungguh untuk selama mungkin memperlambat bencana yang mengancam itu. RH. 18 Desember 1888.

Janganlah umat Allah yang memelihara hukum itu berdiam diri pada waktu ini seakan-akan kita dengan santai menerima keadaan ini.—7BC 975 (1889).

Kita tidak melakukan kehendak Allah jika kita hanya duduk dengan tenang, tanpa berbuat apa-apa untuk menjaga kebebasan hati nurani. Doa yang sungguh-sungguh dan tekun harus dilayangkan ke surga agar bencana ini dapat ditunda sampai kita menyelesaikan pekerjaan yang sudah demikian lama terabaikan. Hendaklah doa yang paling tekun dilayangkan dan biarlah kita bekerja sesuai dengan doa kita.-5T 714 (1889).

Ada banyak orang yang sedang santai dan yang tertidur seperti sebelumnya. Mereka mengatakan, Kalau nubuatan sudah meramalkan pemaksaan pemeliharaan hari Minggu, pasti undang-undang itu akan dijalankan,’ dan karena berkesimpulan demikian lalu mereka duduk tenang sambil menantikan peristiwa itu, menghibur diri sendiri dengan pemikiran bahwa Allah akan melindungi umat-Nya pada masa kesusahan. Tetapi Allah tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak berusaha apa-apa untuk melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan kepada kita. . . .

Sebagai penjaga-penjaga yang setia kamu harus melihat pedang itu terhunus dan memberikan amaran agar pria dan wanita tidak mengejar suatu hal dalam kebodohan yang akan mereka hindari kalau mereka sudah mengenal kebenaran. RH Extra, 24 Desember 1889.

Lawanlah Undang-Undang Hari Minggu Dengan Pena dan Suara
Kita tidak dapat bekérja untuk menyenangkan hati orang-orang yang akan menggunakan pengaruh mereka untuk menekan kebebasan beragama dan memberlakukan aturan-aturan yang menekan untuk membawa atau memaksakan sesama manusia memelihara hari Minggu sebagai hari Sabat. Hari pertama dalam pekan bukanlah hari yang harus dihormati. ltu adalah sabat yang palsu, dan anggota-anggota keluarga Tuhan tidak boleh ikut bersama dengan orang-orang yang meninggikan hari ini dan melanggar Hukum Allah dengan menginjak-injak Hari Sabat-Nya. Umat Allah tidak boleh memberikan suaranya untuk mendudukkan orang-orang seperti itu sebagai pejabat, sebab apabila mereka melakukannya maka mereka ikut ambil bagian bersama mereka atas dosa-dosa yang mereka lakukan dalam masa jabatannya.–FE 475 (1899).

Saya berharap agar terompet dibunyikan dengan nada tertentu sehubungan dengan pergerakan undang-undang hari Minggu ini. Saya piklr adalah paling balk kalau di dalam majalah-majalah kita soal kekekalan Hukum Allah dltegaskan secara khusus. . . . Kita sekarang harus melakukan yang terbaik untuk mengalahkan undang-undang hari Mmggu itu. CW 97, 98 (1906).

Amerika Serikat Akan Memberlakukan Undang-Undang Hari Minggu
whitehouse AS CopyBilamana bangsa kita akan menanggalkan prinsip-prinsip pemerintahannya guna menjalankan undang-undang Hari Minggu maka paham Protestan dalam hal ini akan bersalaman dengan Kepausan.-5T 712 (1889).

Umat Protestan akan menyerahkan seluruh pengaruh dan kekuatan mereka ke pihak Kepausan. Melalui suatu undang-undang nasional yang memaksakan Sabat yang palsu mereka akan memberikan kehidupan dan kekuatan kepada iman Roma yang menyeleweng, menghidupkan kembali kelaliman dan menekan hati nurani. –Mar 179 (1893).

Lambat atau cepat undang-undang Hari Minggu akan berlaku.—RH, 16 Februari 1905.

Tidak lama lagi undang-undang hari Minggu akan dipaksakan, dan orang-orang yang menduduki jabatan terpercaya akan merasa benci terhadap segenggam umat Allah yang memelihara Hukum-Nya. -4MR 278 (1909).

Nubuatan Wahyu 13 menyatakan bahwa kuasa yang dilambangkan dengan binatang bertanduk seperti domba akan menyebabkan ‘seluruh bumi dan semua penghuninya’ menyembah Kepausan — yang di situ dilambangkan dengan binatang ‘serupa dengan macan tutul.’ . . . Nubuatan ini akan digenapi bilamana Amerika Serikat akan memaksakan pemeliharaan hari Minggu, yang dituntut oleh Roma sebagai pengakuan khusus akan kekuasaannya. . . . Penyelewengan politik sedang merusak rasa cinta akan keadilan dan penghormatan terhadap kebenaran, dan meskipun di negara Amerika yang bebas para penguasa dan anggota-anggota dewan pembuat undang-undang akan menyerah kepada tuntutan populer akan sebuah undang-undang pemaksaan pemeliharaan Hari Minggu demi menyenangkan hati khalayak umum.-GC 578, 579, 592 (1911).

Argumentasi yang Digunakan Para Pendukung Undang-Undang Hari Minggu
Setan menaruh tafsiran-tafsirannya atas peristiwa-peristiwa, dan mereka beranggapan sama seperti Setan, bahwa bencana-bencana yang melanda negeri ini adalah akibat dari pelanggaran terhadap hari Minggu. Mengira akan meredakan murka Allah, orang-orang yang berpengaruh ini membuat undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu.– 10 MR 239 ( 1899).

Golongan inilah yang mengemukakan tuntutan bahwa penyelewengan yang merajalela pada umumnya disebabkan oleh penajisan terhadap apa yang disebut ‘Sabat Kristen‘ dan bahwa pemaksaan pemeliharaan hari Minggu akan sangat memperbaiki akhlak masyarakat. Tuntutan ini khususnya didesak di Amerika di mana Doktrin Sabat yang benar telah dikhotbahkan dengan sangat meluas.-GC 587 (1911).

Kaum Protestan dan Katolik Bertindak Seirama
Kaum Protestan akan bersekutu dengan kuasa Roma. Kemudian akan ada satu undang-undang yang menentang hari Sabat dari penciptaan Allah, barulah Allah akan melaksanakan ‘pekerjaan-Nya yang ajaib’ di bumi.—7BC 910 (1886).

Bagaimana Gereja Roma membersihkan diri dari tuduhan penyembahan berhala tidak dapat kita melihatnya. . . . Dan inilah agama yang kaum Protestan akan mulai memandang dengan kesukaan yang begitu besar, dan yang pada akhirnya akan bersatu dengan paham Protestan. Akan tetapi penyatuan ini tidak akan dipengaruhi oleh suatu perubahan dalam paham Katolik, Karena Roma tidak akan pernah berubah. Dia mengakui dirinya tidak bisa salah. Paham Protestanlah yang akan berubah. Diterimanya gagasan-gagasan kebebasan di pihaknya akan mendorongnya untuk menyambut tangan paham Katolik.-RH. 1 Juni 1886.

Dunia yang mengaku Protestan akan membentuk suatu persekongkolan dengan manusia yang durhaka, lalu gereja dan dunia akan sama-sama menyeleweng.–7BC 975 (1891).

Paham Roma di Benua Lama, dan paham Protestan yang murtad di Benua Baru, akan mengejar satu tujuan yang sama memerangi mereka yang menghormati semua prinsip-prinsip llahi.—GC 616 (1911).

Undang-Undang Hari Minggu Menghormati Roma
Bilamana gereja-gereja terkemuka di Amerika Serikat, yang menyatukan bagian-bagian doktrin tertentu yang sama-sama dipelihara oleh mereka, akan mempengaruhi pemerintah agar memaksakan ketetapan-ketetapan mereka dan mempertahankan lembaga-lembaga mereka, maka Amerika yang beraliran Protestan akan membentuk suatu citra hirarki Roma, dan pelaksanaan hukuman-hukuman Sipil terhadap para pembangkang secara tak terhindarkan akan terjadi. . . .

Pemaksaan pemeliharaan hari Minggu di pihak Gereja-Gereja Protestan merupakan suatu pemaksaan penyembahan terhadap kepausan. . . . 

Dalam tindakan memaksakan suatu kewajiban agama oleh kuasa duniawi tersebut, gereja-gereja dengan sendirinya akan membentuk sebuah patung untuk binatang itu; sebab itu pemaksaan pemeliharaan hari Minggu di Amerika Serikat akan menjadi suatu pemaksaan penyembahan terhadap binatang dan patungnya.-GC 445, 448, 449 (1911).

Apabila kaum Protestan akan mengulurkan tangannya melintasi jurang pemisah untuk menjabat tangan kuasa Roma, bilamana dia akan mengulurkan tangannya melewati jurang yang dalam untuk berjabatan tangan dengan ilmu gaib, tatkala di bawah pengaruh persekutuan tiga pihak ini negeri kita akan menanggalkan setiap prinsip Konstitusinya sebagai sebuah pemerintahan republik yang berasaskan Protestantisme, dan akan menyediakan diri untuk menyebarkan kepalsuan dan penipuan Kepausan, maka kita pun akan mengetahui bahwa waktunya sudah tiba bagi pekerjaan Setan yang luar biasa itu dan bahwa kiamat sudah dekat. -5T 451 ( 1885).

Roma Akan Mendapatkan Kembali Kekuasaannya yang Hilang
Sementara kita mendekati krisis terakhir adalah saat yang penting agar keserasian dan persatuan terdapat di antara semua alat-alat Tuhan. Dunia penuh dengan badai dan peperangan serta perselisihan. Namun di bawah satu kepala yaitu kuasa Kepausan — manusia akan bersatu melawan Allah dalam diri saksi-saksi-Nya. Penyatuan ini dipererat oleh kemurtadan besar.–7T 182 (1902).

Undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu sebagai hari Sabat akan mengakibatkan kemurtadan nasional dari prinsip-prinsip paham republik di atas mana pemerintahan ini telah dimulaikan. Agama Kepausan akan diterima oleh para penguasa, dan Hukum Allah akan dibatalkan. -7MR 192 (1906).

Satu hari kegelapan intelektual yang besar telah terbukti menguntungkan bagi keberhasilan kepausan. Namun akan ditunjukkan juga bahwa satu hari terang intelektual yang besar sama menguntungkan pula bagi keberhasilannya.—4-SP 390 (1884).

Di dalam pgrgerakan-pergerakan yang sekarang sedang berlangsung di dunia Amerika Serikat untuk menjamin lembaga-lembaga dan pemanfaatan gereja sebagai pendukung pemerintah, umat Protestan sedang mengikuti langkah-langkah Kepausan. Tidak, lebih dari itu, mereka sedang membukakan pintu bagi Kepausan untuk mendapatkan kembali di Amerika yang beraliran Protestan ini kekuasaan yang telah hilang darinya di Benua Lama. -GC 573 (1911).

 

 

-PPAZ

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here