Penjara-dibuka Copy

[AkhirZaman.org] Bilamana perlindungan hukum manusia ditarik dari mereka yang menghormati hukum Allah, akan ada suatu gerakan yang serentak untuk kebinasaan mereka di berbagai negeri. Sementara waktu yang ditetapkan di dalam surat keputusan semakin dekat, orang-orang akan berkomplot untuk menghancurkan sekte yang dibenci itu. Akan ditentukan untuk melancarkan serangan yang mematikan pada suatu malam, yang akan membungkam sama sekali suara pendapat yang berbeda dan teguran itu.

Umat Allah — yang sebagian di dalam penjara, sebagian bersembunyi di daerah-daerah terpencil di hutan-hutan dan gunung-gunung — masih memohon perlindungan ilahi, sementara di markas pasukan-pasukan bersenjata, yang didorong oleh malaikat-malaikat jahat, sedang dipersiapkan pelaksanaan pembunuhan. Sekaranglah, pada saat yang sangat penting ini, Allah Israel akan campur tangan untuk melepaskan umat-Nya. Tuhan bersabda, “Kamu akan menyanyikan suatu naynyian seperti pada waktu malam ketika orang menguduskan diri untuk perayaan, dan kamu akan bersuka hati seperti pada waktu orang berjalan diringi suling hendak naik ke gunung Tuhan, ke Gunung Batu Israel. Dan Tuhan akan memperdengarkan suara-Nya yang mulia, akan memperlihatkan tangan-Nya yang turun menimpa dengan murka yang hebat dan nyala api yang membakar habis, dengan hujan lebat, angin ribut dan hujan batu.” (Yes. 30:29,30).

Dengan pekik kemenangan, ejekan dan kutukan, rombongan orang-orang jahat hampir menyerang menerkam mangsa mereka, pada waktu tiba-tiba kegelapan, yang lebih gelap dari kegelapan malam, turun ke atas bumi. Pelangi yang bersinar dengan kemuliaan dari takhta Allah, meliputi segala langit dan seolah-olah mengelilingi setiap kelompok orang yang sedang berdoa. Orang banyak yang marah itu tiba-tiba terdiam. Teriak ejekan mereka terhenti. Tujuan kegeraman mereka hendak membunuh telah dilupakan. Dengan penuh rasa takut mereka memandang lambang perjanjian Allah, dan ingin agar terlindung dari cahayanya yang luar biasa itu.

Suatu suara yang jelas dan merdu di dengar oleh umat Alla, yang berkata, “Lihat ke atas,” dan mengangkat mata mereka melihat ke langit, mereka melihat pelangi perjanjian. Awan hitam yang murka yang menutupi cakrawala terbelah, dan seperti Stefanus, mereka menatap ke dalam Surga dan melihat kemuliaan Allah dan Anak Manusia yang duduk di atas takhta-Nya. Dalam rupa ilahinya mereka melihat dengan jelas tanda-tanda kehinaan-Nya, dan dari bibir-Nya mereka mendengar permohonan yang disampaikan kepada Bapa dan malaikat-malaikat suci, “ya Bapa, Aku mau supaya dimanapun Aku berada, mereka juga bersama-sama dengan Aku.” (Yoh. 17:24). Sekali lagi suatu suara musik yang merdu dengan nada kemenangan, terdengar mengatakan, “Mereka datang! mereka datang! kudus, tidak bercela dan tidak bernoda. Mereka telah memelihara firman-Ku, mereka akan berjalan di antara malaikat-malaikat.” dan bibir yang pucat dan gemetar dari mereka yang berpegang teguh dalam imannya meneriakkan suatu sorak kemenangan.

Pada tengah malamlah Allah menyatakan kuasa-Nya untuk kelepasan umat-Nya. Matahari tampak, bercahaya dalam keperkasaannya. Tanda-tanda dan mujizat-mujizat menyusul silih berganti dengan cepat. Orang-orang fasik melihat pemandangan itu dengan ketakutan dan keheranan, sementara orang-orang benar memandang kesukaan besar itu sebagai tanda kelepasan mereka. Segala sesuatu di alam ini kelihatannya berubah. Sungai-sungai berhenti mengalir. Awan-awan hitam tebal muncul dan saling berbenturan satu sama lain. Di tengah-tengah langit yang sedang marah itu ada suatu ruang terbuka dengan kemuliaan yang tak tergambarkan, dari sana datang suara Allah bagaikan suara gemuruh air, yang berkata, “Sudah terlaksana!” (Wah. 16:17). Suara itu mengguncangkan langit dan bumi. Terjadilah gempa bumi yang dahsyat, “seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu.” (Wah. 16:17,18). Cakrawala tampak terbuka dan tertutup. Kemuliaan dari takhta Allah tampak memancar bagaikan kilat. Gunung-gunung bergoncang bagaikan alang-alang yang ditiup angin, dan batu-batu berserakan ke segala sudut. Ada suatu gemuruh bagaikan datangnya angin topan. Lautanpun bergelora dengan ganasnya. Terdengar jeritan angin ribut bagaikan suara iblis-iblis dalam misi penghancuran. Seluruh dunia bergelora bagaikan gelombang laut. Permukaannya terbelah-belah. Dasarnya tempaknya hancur. Barisan gunung-gunung tenggelam. Pulau-pulau yang berpenduduk lenyap. Pelabuhan-pelabuhan laut yang telah menjadi seperti Sodom dalam kejahatan, ditelan oleh laut yang mengamuk. Babilon yang besar itu telah menjadi peringatan di hadirat Allah, “untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya.” Hujan es batu yang besar, masing-masing beratnya “kira-kira seberat satu talenta” atau “seratus pon” melakukan penghancuran. (Wah. 16:19,21). Kota-kota megah kebanggan dunia diruntuhkan. Istana-istana para bangsawan, di mana orang-orang besar dunia telah memboroskan harta kekayaan mereka untuk memuliakan diri sendiri, hancur dan musnah di depan mata mereka. Tembok-tembok penjara rubuh berkeping-keping, dan umat Allah yang dipenjarakan oleh karena iman mereka dibebaskan .

Kuburan-kuburan terbuka, dan “banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.” (Dan. 12:2). Semua yang telah mati di dalam iman kepada pekabaran malaikat yang ketiga, yang akan keluar dari kuburan dengan dimuliakan, akan mendengar perjanjian damai Allah dengan mereka yang telah memelihara hukum-Nya. “Juga yang telah menikam Dia,” (Wah. 1:7), mereka yang mengejek dan mencemoohkan derita kematian Kristus, dan penentang paling keras kebenaran-Nya dan umat-Nya, dibangkitkan untuk memandang Dia dalam kemuliaan-Nya, dan memandang penghormatan yang diberikan kepada mereka yang setia dan menurut.

awanhong CopyAwan tebal masih menutupi langit, namun matahari kadang-kadang menembusinya, tampak bagaikan mata Yehovah yang penuh dendam. Kilat yang dahsyat memancar dari langit membungkus dunia ini dengan nyala api. Di atas gemuruhnya guntur dan suara-suara yang misterius dan mengerikan, diumumkanlah kebinasaan orang-orang fasik itu. Kata-kata yang diucapkan tidak dimengerti oleh semua orang, tetapi dimengerti dengan jelas oleh guru-guru palsu. Mereka yang sesaat sebelumnya begitu semberono, begitu sombong dan membangkang, begitu bersuka dalam melakukan kekejaman kepada umat Allah yang memelihara hukum-Nya, sekarang dipenuhi dengan ketakutan dan gemetar dalam kengerian. Ratapan mereka terdengar mengatasi suara unsur-unsur bumi. Iblis mengakui keilahian Kristus, dan gemetar di hadapan hadirat-Nya, sementara manusia memohon belas kasihan dan menyembah dalam ketakutan yang menyedihkan.

Nabi-nabi zaman dahulu berkata, sementara mereka memandang penglihatan kudus dari Allah, “Merataplah, sebab hari Tuhan sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa.” (Yes. 13:6). “Masuklah di sela gunung batu dan bersembunyilah di dalam liang tanah terhadap kedahsyatan Tuhan dan terhadap semarak kemegahan-Nya! Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan, dan hanya Tuhan sajalah yang maha tinggi pada hari itu. Sebab Tuhan semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri supaya direndahkan.” “Pada hari itu berhala-berhala perak dan berhala-berhala emas yang dibuat manusia untuk sujud menyembah kepadanya akan dilemparkannya kepada tikus dan kelelawar, dan ia akan masuk ke dalam lekuk-lekuk di gunung batu dan ke dalam celah-celah di bukit batu terhadap kedahsyatan Tuhan dan terhadap semarak kemegahan-Nya pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi.”(Yes. 2:10-12, 20,21).

Melalui celah-celah di awan-awan bersinarlah sebuah bintang yang kecermelangannya bertambah empat kali lipat dibandingkan dengan kegelapan. Ia membawa harapan dan sukacita kepada orang-orang yang setia, tetapi kekerasan dan murka kepada pelanggar-pelanggar hukum Allah. Mereka yang telah mengorbankan segalanya bagi Kristus sekarang merasa aman, terlindung bagaikan berada di tempat tersembunyi di rumah Tuhan. Mereka telah diuji dan di hadapan dunia ini dan di hadapan mereka yang membenci kebenaran mereka telah memperlihatkan kesetiaan mereka kepada Dia yang telah mati bagi mereka. Suatu perobahan yang menakjubkan telah terjadi pada mereka yang telah memegang teguh integritas mereka di hadapan maut sekalipun. Dengan tiba-tiba mereka telah dilepaskan dari kelaliman manusia yang gelap dan mengerikan yang telah berubah menjadi Iblis. Wajah-wajah mereka yang tadinya pucat, cemas dan lesu, sekarang bercahaya dengan ajaib, iman dan kasih. Suara mereka berkumandang dalam naynyian kemenangan, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung guncang di dalam laut, sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh gelarannya. Sela.” (Maz. 46:2-4).

Sementara kata-kata dorongan kudus ini naik kepada Allah, maka awan-awanpun menyisih dan langit yang berbintangpun kelihatan, tak terkatakan kemuliaannya, yang sangat berbeda dengan langit hitam ganas di sebelah menyebelahnya. Kemuliaan kota surgawi itu terpancar dari pintu-pintu gerbang yang terbuka sedikit. kemudian tampak di langit suatu tangan yang memegang dua loh batu yang digabung bersama. Nabi itu berkata, “Langit memberitahukan keadilan-Nya sebab Allah Sendirilah hakim.” (Maz. 50:6). Hukum yang kudus itu, kebenaran Allah, yang diumumkan dari gunung Sinai, di tengah-tengah guntur dan nyala api, sebagai penuntun hidup, sekarang dinyatakan kepada manusia sebagai ukuran untuk penghakiman. Tangan itu membuka loh-loh batu itu, dan di sana tampaklah perintah-perintah sepuluh hukum itu, yang dituliskan, seolah-olah dengan pena api. Kata-katanya begitu jelas sehingga semua orang bisa membacanya. Ingatanpun dibangkitkan, kegelapan ketakhyulan dan bidat dihapuskan dari setiap pikiran, dan sabda Allah yang sepuluh, yang singkat, mendalam dan berkuasa itu, ditunjukkan kepada segenap penduduk dunia ini. Tidak mungkin menggambarkan ketakutan dan keputusasaan mereka yang telah menginjak-injak tuntutan hukum Allah yang kudus. Tuhan memberikan kepada mereka hukum-Nya, agar mereka dapat membandingkan tabiat mereka dengan hukum itu, dan mengetahui kekurangan-kekurangan mereka sementara masih ada kesempatan untuk bertobat dan mengadakan pembaharuan. Tetapi agar mereka memperoleh perkenan dunia ini, mereka mengesampingkan ajaran-ajaran hukum itu dan mengajar oarng-orang lain untuk melanggarnya. Mereka memaksa umat Allah untuk menajiskan Sabat-Nya. Sekarang mereka dipersalahkan oleh hukum yang mereka hinakan. Jelas sekali mereka lihat bahwa mereka tidak punya dalih. Mereka memilih siapa yang akan mereka layani dan sembah. “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” (Mal. 3:18).

Musuh-musuh hukum Allah, mulai dari pendeta-pendeta sampai kepada yang terkecil di antara mereka, mempunyai suatu konsep kebenaran dan kewajiban baru. Terlambat mereka melihat bahwa Sabat hukum keempat adalah meterai Allah yang hidup. Terlambat mereka melihat sifat yang sebenarnya dari sabat mereka yang palsu, dan dasar yang rapuh di mana mereka membangun. Mereka mendapati bahwa mereka telah berjuang melawan Allah. Guru-guru agama telah menuntun jiwa-jiwa kepada kebinasaan sementara mereka mengaku menuntun jiwa-jiwa itu ke pintu gerbang Firdaus. Pada perhitungan terakhirlah nanti akan diketahui betapa besar tanggungjawab orang-orang yang memegang jabatan suci, dan betapa mengerikan akibat-akibat dari ketidaksetiaan mereka. Hanya dalam kehidupan kekallah dapat kita mengerti dengan sebenarnya arti hilangnya satu jiwa. Mengerikanlah hukuman orang-orang yang kepadanya Allah berkata, “Enyahlah dari pada-Ku, hai hamba yang jahat.”

Suara Allah terdengar dari Surga, menyatakan hari dan jam kedatangan Yesus, dan menyampaikan perjanjian yang kekal kepada umat-Nya. Bagaikan bunyi guntur yang paling keras, firman-Nya menggemuruh ke seluruh dunia. Umat Israel Allah berdiri mendengarkan dengan matanya memandang ke atas. Wajah mereka diterangi kemuliaan-Nya, dan bercahaya seperti wajah Musa pada waktu ia turun dari gunung Sinar. Orang-orang fasik tidak dapat memandang mereka. Dan bilamana berkat-berkat diumumkan bagi mereka yang menghormati Allah oleh pemeliharaan Sabat-Nya yang kudus, akan terdengar sorak kemenangan yang luar biasa.

Tidak lama kemudian tampaklah di sebelah timur suatu awan hitam yang kecil kira-kira setengah kepalan tangan besarnya. Itulah awan yang mengelilingi Juru Selamat, yang tampak dari jauh seperti diselubungi oleh kegelapan. Umat Allah mengenal ini sebagai tanda Anak Manusia. Dalam keheningan yang khidmat mereka memandanginya sementara semakin mendekat ke bumi, menjadi semakin terang dan mulia, hingga menjadi awan putih besar, yang dasarnya adalah kemuliaan bagaikan api yang menyala-nyala, dan diatasnya ada pelangi perjanjian.Yesus mengendarainya bagaikan seorang penakluk. “Orang yang penuh kesengsaraan itu” sekarang tidak untuk meminum cawan yang pahit penderitaan dan yang memalukan; Ia datang, yang menang di Surga maupun di bumi, untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. “Yang Setia dan Yang Benar,” “Ia menghakimi dan berperang dengan adil.” “Dan semua pasukan yang di Surga mengikuti Dia.” (Wah. 19:11, 14). Dengan nynyian-nyanyian Surga, malaikat-malaikat kudus suatu kelompok besar yang tak terhitung banyaknya menyertai Dia dalam perjalanan-Nya. Langit seolah-olah dipenuhi oleh bentuk-bentuk yang bercahaya — “berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa banyaknya.” Tak ada pena manusia yang dapat melukiskan pemandangan itu, tidak ada pikiran fana yang sanggup mengerti keindahan dan keagungan kemuliaannya. “Keagungan-Nya menutupi segala langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya. Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya.” (Hab. 3:3,4). Sementara awan yang hidup itu datang semakin dekat, setiap mata memandang Raja kehidupan itu. Tak ada lagi mahkota duri yang merusakkan kepala yang kudus itu, tetapi suatu perhiasan kemuliaan terletak di atas keningnya yang suci. Wajah-Nya memancarkan sinar terang yang menyilauklan melebihi sinar matahari di tengah hari. “Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.” (Wah. 19:16).

Ketakutan yang Teramat Sangat CopyDi hadapan hadirat-Nya “muka sekalian orang menjadi pucat pasi;” ketakutan keputusasaan kekal menimpa para penolak belas kasihan Allah.” “Hati menjadi tawar dan lutut goyah!” “Mengapakah setiap muka berubah menjadi pucat?” (Nahum 2:10; Yer. 30:6). Orang benar berseru dengan gemetar, “Siapakah yang dapat bertahan?” Nyanyian malaikat berhenti, dan terjadilah saat hening yang luar biasa. Lalu terdengar suara Yesus berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Wajah orang-orang benar bercahaya dan sukacita memenuhi hati mereka. Dan malaikat-malaikat membunyikan lagu lebih keras dan kembali menyanyi, sementara mereka semakin dekat ke bumi ini.

Raja segala raja turun di atas awan, dibungkus di dalam api yang bernyala-nyala. Segala langit digulung bagaikan gulungan kertas, bumi bergetar di hadirat-Nya, dan setiap gunung dan pulau berpindah dari tempatnya. “Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat-jilat, di sekelilingnya bertiup badai yang dahsyat. Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya.” (Maz. 50:3,4).

“Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu. Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” (Wah. 6:15-17).
Sendagurau olok-olokan sudah berakhir. Bibir yang penuh kebohongan ditutup rapat-rapat. Peperangan dan hiruk-pikuk serta derunya pertempuran “yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah” (Yes. 9:4 — Alkitab, LAI Jakarta 1993) tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanyalah suara doa dan suara ratapan serta tangisan. Tangisan terdengar dari bibir orang-orang yang baru saja mengejek, “Sebab sudah tiba hari besar murkan-Nya, siapakah yang dapat bertahan?” Orang-orang fasik berdoa supaya terkubur di bawah batu-batu gunung daripada memandang muka Dia yang telah mereka benci dan tolak.

Suara yang menerusi telinga orang-orang mati, mereka kenal. Betapa sering mereka telah mendengar nada lembut suara itu memanggil mereka untuk bertobat. Betapa sering suara itu mereka dengar bagaikan bujukan seorang sahabat, seorang saudara, seorang Penebus. Kepada mereka yang menolak kasih karunia-Nya, tiada suara lain yang penuh dengan hukuman, yang penuh dengan celaan, dan pada suara yang sejak lama mengajak, “Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati?” (Yehez. 33:11). Oh, suara itu kepada mereka dianggap seperti suara orang asing! Yesus berkata, “Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil dan tidak ada yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku.” (Amsal 1:24,25). Suara itu membangunkan ingatan-ingatan yang mereka ingin hapuskan — amaran-amaran dibenci, undangan-undangan ditolak, kesempatan-kesempatan diremehkan.

Ada di antara mereka yang mengejek Kristus dalam kehinaan-Nya. Dengan kuasa yang menggetarkan datang kepada pikiran mereka, kata-kata Penderita, bilamana imam besar mendesak, Ia menyatakan dengan khidmat, “Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat. 26:64). Sekarang mereka memandang Dia dalam kemuliaan-Nya, dan mereka masih akan melihat Dia duduk di sebelah kanan kekuasaan.

Mereka yang mencemoohkan pengakuan-Nya sebagai Anak Allah sekarang bungkam tidak bisa berkata-kata. Di situ ada Herodes yang angkuh, yang mengejek-Nya mengenai gelar kerajaan-Nya, dan yang memerintahkan serdadu-serdadu yang mengejek itu untuk memahkotai-Nya menjadi raja. Di sana ada orang-orang yang dengan tangannya yang cemar memakaikan jubah ungu kepada-Nya, dan mahkota duri ke atas kepala-Nya yang suci, dan pada tangan-Nya yang tak berdaya itu tongkat pura-pura, dan tunduk di hadapan-Nya dengan ejekan-ejekan hujat. Orang-orang yang memukul dan meludahi Raja kehidupan itu, sekarang berpaling dari pandangan-Nya yang tajam dan berusaha melarikan diri dari kemuliaan hadirat-Nya yang dahsyat itu. Mereka yang memaku tangan dan kaki-Nya, serdadu yang menusuk lambung-Nya, melihat bekasnya dengan ketakutan dan penyesalan yang dalam.

 

-KA

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here