aln Copy

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39).

[AkhirZaman.org] Hukum Allah itu sederhana, dan mudah dimengerti. Ada orang-orang yang dengan bangga menyombong bahwa mereka hanya mempercayai apa yang mereka dapat mengerti, sambil melupakan bahwa ada rahasia-rahasia dalam kehidupan manusia dan dalam penyataan kuasa Allah di dalam pekerjaan alam- rahasia-rahasia yang filsafat terdalam, riset yang terbesar, tidak berdaya untuk menerangkannya.

Tetapi tidak ada rahasia dalam hukum Allah. Semua orang dapat mengerti kebenaran-kebenaran besar yang terangkum di dalamnya. Pikiran yang terlemah dapat menangkap peraturan-peraturan ini; yang paling bodoh dapat mengatur hidup, dan membentuk tabiat menurut standar llahi. Sekiranya anak-anak manusia, dengan kesanggupan mereka yang terbaik, mau mematuhi hukum ini, maka mereka akan beroleh kekuatan pikiran dan kuasa pengertian untuk memahami lebih banyak lagi maksud dan rencana Allah. Dan kemajuan ini akan berkelanjutan, bukan hanya selama kehidupan yang sekarang, tetapi selama zaman yang kekal; karena berapa jauh pun kita mungkin maju dalam pengetahuan tentang hikmat dan kuasa Allah, selalu ada yang kekal di seberang sana.

Hukum llahi menuntut kita mengasihi Allah setinggi-tingginya dan sesama kita manusia seperti diri kita sendiri. Tanpa penggunaan kasih ini, pengakuan iman tertinggi hanyalah kemunafikan. “… Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah,” kata Kristus, “tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mallus 22:37-40).

Hukum menuntut penurutan sempurna. Barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, la bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2:10). Tidak satu pun dari sepuluh hukum itu dapat dilanggar tanpa ketidaksetiaan kepada Allah yang di surga. Penyimpangan sedikit saja dari tuntutan-tuntutannya, dengan lalai atau pelanggaran yang disengaja, adalah dosa, dan setiap dosa membuat orang berdosa dapat ditimpa murka Allah. Penurutan adalah satu-satunya syarat atas mana Israel purba dapat menerima kegenapan janji yang menjadikan mereka umat Allah yang amat disayangi; dan penurutan terhadap hukum itu akan mendatangkan berkat-berkat yang sebesar-besarnya kepada orang-orang secara pribadi dan bangsa sekarang sebagaimana hal itu pernah berlaku pada orang-orang Ibrani.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here