gfndbsvz Copy

 

SISI POSITIF PENGHAKIMAN
[AkhirZaman.org] Seorang cendekiawan Alkitab modern berusaha melawan ketakutan populer tentang penghakiman terakhir dengan menekankan makna Alkitabiahnya yang positif: “Ketika penghakiman Tuhan dijatuhkan,” katanya, “pada waktunya atau di luar waktunya, itu adalah kasih kemurahan bagi orang-orang yang salah, dan itu adalah malapetaka bagi orang yang telah berbuat salah atau terus menerus berbuat salah dan menarik keuntungan dari kesalahan orang lain. Maka, penghakiman adalah kenyataan bermata dua—dengan kasih kemurahan dan pembersihan, malapetaka dan penghukuman, keduanya terdapat di dalamnya.”

Konsep bermata dua ini—yaitu ajaran Alkitab bahwa penghakiman Tuhan yang terakhir akan membawa pembenaran dan penghukuman—telah menjadi bagian dari inti iman dan pekabaran dari sejak semula. Ini terikat di dalam teologi Bait Suci dengan konsep tentang hari pendamaian kegenapan, yang dilambangkan di dalam hari upacara penghakiman Israel (Imamat 16). Kenyataan tentang penghakiman terakhir ini adalah penekanan sentral dari pekabaran Injil terakhir bagi segala bangsa di akhir zaman. Seruannya adalah “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air” (Wahyu 14: 7).

Sehubungan dengan Yohanes, pekabaran malaikat pertama dalam Wahyu 14: 6, pada intinya berisikan “Injil Kekal.” Penghakiman yang khas ini mengarahkan perhatian kepada sifat Kabar Baik yang tidak pernah dan tidak akan berubah yang diajarkan dalam tipe dan bayangan sebelum salib (Kejadian 3: 15; Galatia 3: 8), dan di dalam kejelasan yang penuh melalui Yesus Kristus (Ibrani 1: 1, 2; 1 Petrus 1: 10-12).

PEMULIHAN SEBAGIAN

Ungkapan “Injil yang kekal” berisikan acuan eksplisit tentang ancaman penyelewengan dan pemalsuan Injil para rasul yang asli, yang muncul di antara zaman para rasul dan zaman akhir. Dan sesungguhnya, kemurtadan yang serius telah dinubuatkan dengan jelas oleh nabi Daniel (Daniel 7 dan 8), dan juga oleh Paulus (2 Tesalonika 2: 3-10).

Reformasi Protestan muncul sebagai protes terhadap Roma yang besar di Abad Pertengahan yang memaksakan ke atas semua orang Injil palsu yang disusupi dengan ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah seperti transubtansiasi ajaran tentang perubahan (karena kata-kata konsekrasi) substansi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, meskipun rupanya tetap roti dan anggur (Collins, SJ Farrugia, SJ, Kamus Teologi, 1996: 338), perayaan misa, penyembahan Maria, amal perbuatan-perbuatan baik di hadapan Tuhan, dan purgatory (api penyucian). Sementara para Reformator memulihkan kebenaran Injil yang sentral tentang pembenaran hanya oleh iman sajaaspek-aspek penghakiman terakhir dan persiapan orang beriman bagi kedatangan Kristus kedua kali tidak mendapatkan focus yang selayaknya.

baptisan-anak CopySelanjutnya, sebagian besar kredo Protestan mempertahankan kesalahan-kesalahan mendasar kepausan—misalnya, kebakaan jiwa alami, penyiksaan kekal bagi orang jahat, predestinasi ganda, dan baptisan bayi. Protestanisme juga gagal memulihkan kekudusan Sabat Alkitab, yang diurapi oleh Tuhan bagi umat perjanjian-Nya.

Reformasi di abad ke-16 telah berhenti mati di jalurnya baik secara rohani maupun geografis, dan segera menjadi mangsa bagi skolastisisme kering yang memusatkan pada formulasi-formulasi doktrin yang berlebihan. Maka, Reformasi tidak meliputi seluruh kegenapan peristiwa akhir zaman dari pekabaran malaikat pertama (Wahyu 14: 6, 7), yang ditujukan kepada seluruh dunia. Selanjutnya, seperti yang dinyatakan oleh William Cunningham di masa kebangkitan Advent di abad ke-19, pengaruh regional yang terbatas dari para Reformator Protestan tidak mengenapi nubuatan akhir zaman dalam wahyu.

PEMULIHAN SEPENUHNYA

Baik Luther, Calvin, Knox maupun Wesley tidak pernah mengaku telah menggenapi pekabaran nubuatan malaikat-malaikat dalam Wahyu 14: 6-12. Mereka tidak pernah mengumumkan bahwa waktu penghakiman Tuhan telah tiba, sebagaimana dinyatakan oleh nubuatan-nubuatan waktu dalam Daniel 7 dan 8. Hanya suatu pengumuman universal Injil yang penuh di seluruh banga-bangsa di dunia dapat dipandang sebagai kegenapan sepenuhnya dari pekabaran tiga malaikat dalam Wahyu 14.

Malaikat dalam Wahyu 14: 6, 7 mengumumkan pemulihan Injil para rasul di zaman akhir. Tujuan khusus malaikat ini adalah untuk mempersiapkan suatu umat untuk berdiri sebagai umat Tuhan yang sisa yang setia di hari penghakiman dan menyambut kedatangan Kristus yang penuh kemuliaan. Umat-umat Tuhan harus yakin bahwa mereka telah dibangkitkan oleh Tuhan dengan misi dan perintah (mandat) untuk menyempurnakan Reformasi Protestan yang terperangkap dan sepenuhnya dan pada akhirnya memulihkan penyembahan kepada Tuhan yang sejati, dalam konteks Injil yang kekal.

Perintah untuk menyiarkan Injil kekal ke segala bangsa di akhir zaman mengisyaratkan bahwa pengumuman yang diperbaharui tentang Kristus yang Alkitabiah—yaitu, tentang Allah-manusia yang memasukkan di dalam Diri-Nya baik hukum Allah maupun kasih karunia Allah. Perintah ini menyerukan sebuah kebangunan Injil para rasul yang tidak dipalsukan dalam kepenuhannya.

Intisari Injil kekal di akhir zaman menuntut juga sebuah seruan kontekstual kepada seluruh agama non-Kristen, dan kepada segala bentuk Kekristenan semu, sama seperti para rasul menghadapi Yudaisme dan Gnostisisme Kristen pada abad pertama (lihat 2 Korintus 11: 4-15; 1 Yohanes 2: 18-23; 4: 13). Kapanpun kebenaran Injil dihidupkan kembali, agama palsu dan filosofi manusia dibukakan sebagai pekerjaan-pekerjaan kegelapan (2 Korintus 4: 2-5).

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here