9667palu keadilan Copy

 

[AkhirZaman.org] Tidak ada tema yang lebih menonjol di dalam Alkitab daripada pernyataan bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi akan menghakimi dengan adil, baik yang benar maupun yang jahat, baik yang hidup maupun yang telah mati (lihat Bilangan 24: 17-19; Mazmur 96: 10-13; Pengkhotbah 3: 17; Yeremia 25: 30-38; Maleakhi 4; Matius 16: 27).

Rasul Paulus mendorong kebenaran ini kepada pendengarnya orang-orang Yunani sebagai satu bagian yang mendasar dalam Injil Kristen. “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka Allah sekarang memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menerapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (KIsah 17: 30, 31).Di sini, sebagai bagian yang vital dalam pernyataan Injil, Paulus mengutip kenyataan tentang penghakiman terakhir sebagai insentif penting bagi pertobatan dan rujuk kembali dengan Tuhan melalui iman di dalam Kristus (lihat 2 Korintus 5: 18-21).

Apakah Orang-orang Kristen Perkecualian?

Banyak orang Kristen Protestan percaya bahwa pengakuan iman mereka di dalam Kristus sebagai Anak Domba Allah yang disembelih sebagai korban pendamaian bagi dosa-dosa dunia telah mengecualikan mereka dari penghakiman terakhir. Kepercayaan ini yang secara popular dikenal sebagai doktrin “sekali selamat, tetap selamat,” berasal dari ajaran-ajaran Bapa Gereja Agustinus dan Pembaharu Protestan Kalvin.

Kalvin mengajarkan bahwa Tuhan melalui suatu pernyataan rahasia telah menentukan nasib seseorang kepada kehidupan kekal yang lain kepada kematian kekal.

Akan tetapi Rasul Paulus menyertakan semua orang yang beriman Kristen dalam hari penghakiman terakhir. “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5: 10). Dan kepada anggota jemaat yang benar diri dan penuh penghakiman di Roma Paulus berkata, “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, … Sebab Allah tidak memandang bulu… Karena bukanlah orang yang mendengar hokum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan” (Roma 2: 6-13; Mazmur 62: 12). Tidak seorangpun dapat menyangkal bahwa Rasul Paulus mengajarkan tentang kepastian penghakiman mendatang yang melibatkan orang Kristen.

Aspek eskatologis (yaitu yang menyangkut akhir zaman) dalam penghakiman Tuhan kepada semua orang, termasuk orang percaya Kristen, telah diabaikan dan direndahkan oleh banyak ahli teologia dan pengkhotbah Kristen. Padahal ini adalah bagian mendasar dari Injil. Pekabaran Paulus tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus menjaga ketegangan dinamis antara jaminan yang pasti tentang penebusan saat ini (Roma 8: 1) dan pengharapan yang dijanjikan tentang penebusan di masa mendatang (ayat 23) setelah penghakiman, antara pembenaran masa kini melalui iman (Roma 3: 28; 4: 4-80 dan pembenaran di masa mendatang dalam pengharapan (Galatia 5: 5). Gagasan Paulus tentang pembenaran di masa mendatang sebagai keputusan Tuhan yang terakhir adalah selaras dengan perkataan Kristus, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan sorga” (Matius 7: 21; lihat juga Yohanes 5: 28, 29; Matius 25: 34-40).

Dasar bagi Upah

timbangan keadilan CopyPembenaran bagi Paulus bukan berarti gagasan sekali dibenarkan selalu dibenarkan. Pembenaran saat ini haruslah dinyatakan pada penghakiman terakhir. Ini mau tidak mau berarti suatu pengujian. Pada hari penghakiman, kekudusan Kristen akan dinilai, bukan sebagai kebajikan manusia yang memberi hidup kekal, melainkan sebagai bukti yang harus ada dari iman yang menyelamatkan (lihat Roma 2: 5-11). Yesus menyatakan bahwa pada waktu ia kembali di dalam kemuliaan, Ia akan “membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Matius 16: 27; Wahyu 22: 12). Oleh karenanya, pembenaran saat ini tidak mengecualikan orang Kristen dari penghakiman di masa mendatang, ketika Kristus menyatakan keputusan terakhir-Nya. Pekabaran tentang penghakiman di masa mendatang baik bagi umat percaya maupun orang tidak percaya adalah axioma (pernyataan) mendasar dalam Injil pada zaman para rasul.

Sayangnya, beberapa cendekiawan Injil berpendapat bahwa penghakiman di masa mendatang sama sekali tidak akan berkenaan dengan nasib kekal orang-orang beriman. Itu hanya akan menjadi “suatu podium penghargaan” di mana orang-orang beriman paling-paling akan menderita, yang terburuk sekalipun, “semacam penyucian dari kehidupan yang sembrono dan malas.”

Namun cendekiawan Alkitab Metodis Steven H. Travis mencapai suatu kesimpulan yang lebih memadai: “Pada penghakiman terakhir mereka (perbuatan-perbuatan orang beriman) akan menjadi bukti bahwa … imannya dan pembenarannya adalah nyata, dan demikian juga nasib keselamatannya akan ditetapkan… Fungsi utamanya adalah untuk menyatakan apakah ia adalah milik Kristus atau bukan, dan untuk menentukan nasibnya kemudian.”

Menurut Paulus, orang beriman Kristen, termasuk dirinya, bisa jatuh, sama seperti orang-orang Israel di zaman dahulu (1 Korintus 10: 1-13; 9: 27). Peringatannya ini kepada sebagian orang Kristen adalah penuh makna: “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia” (Galatia 5: 4).

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here