couplesadbreak Copy

Disesuaikan Satu dengan yang Lain
[AkhirZaman.org] Di dalam banyak keluarga tidak terdapat kesopansantunan Kristen, rasa hormat yang benar, penurutan, dan hormat terhadap satu dengan yang lain yang akan menjadikan anggota-anggotanya mengadakan perkawinan dan membuat rumah-tangga menjadi bahagia kepunyaan mereka sendiri. Kesabaran orang Kristen seharusnya ada di tempat itu, kemurahan hati, sopan santun yang manis, dan belas kasihan, pada hal di sana terdapat perkataan-perkataan yang tajam, pikiran-pikiran yang bertentangan, serta roh yang suka mencela dan bersifat diktator.

Sering terjadi sebelum perkawinan diadakan orang-orang yang bersangkutan hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk berkenalan, satu dengan yang lain tidak mengenal waktu dan tabiat masing-masing; sampai sebegitu jauh dalam kehidupan sehari-hari tidak mengenal satu sama lain, sehingga pada waktu dipersatukan mereka merasa asing dalam perhatian atau mezbah. Ditemukan banyak orang bahwa mereka berkenalan terlalu terlambat, tidak cocok satu dengan yang lain, maka kesengsaraan seumur hidup yang menjadi hasil perkawinan mereka itu. Sering sang istri dan anak-anak menderita karena kemalasan dan ketidakcakapan atau kebiasaan si suami dan bapa. 

Pada waktu ini dunia dipenuhi dosa dan kemelaratan sebagai akibat perkawinan-perkawinan yang tidak cocok satu dengan yang lain. Dalam beberapa hal hanya diperlukan beberapa bulan saja bagi suami dan istri menyadari bahwa tingkah laku mereka tidak dapat dipadukan; maka sebagai akibatnya ialah perselisiahan merajalela dalam rumah tangga itu, di mana seharusnya cinta kasih surga harus ada.

Oleh pertentangan dalam perkara-perkara kecil, suatu roh yang pahit dipertumbuhkan. Pertentangan terbuka serta perbantahan mendatangkan kesengsaraan yang tak terkatakan masuk ke dalam rumah tangga itu, dan mencerai-beraikan orang-orang yang seharusnya bersatu dalam ikatan cinta kasih. Dengan demikian beribu-ribu orang telah mengorbankan dirinya sendiri jiwa dan tubuhnya oleh pernikahan yang tidak bijaksana dan telah terjerumus dalam jalan kebinasaan. 

Perselisihan Kekal dalam Rumah Tangga yang Terpecah Belah
Kebahagiaan dan kesejahteraan orang yang berumah tangga tergantung atas persatuan kedua belah pihak. Bagaimanakah mungkin pikiran jasmani dapat rukun dengan pikiran yang terpisah kepada pikiran Kristus? Yang seorang sedang menabur kepada daging, berpikir dan bertindak setuju dengan gerakan dan dorongan hatinya sendiri; yang satu lagi sedang menabur kepada Roh, berusaha hendak membuangkan sifat mementingkan diri sendiri, mengalahkan kecongkakan hati, serta hidup dalam penurutan kepada Tuhan, karena ia mengaku menjadi hamba-Nya. Dengan demikian selalu ada perselisihan pendapat, kecederungan hati, dan maksud. Kecuali orang yang beriman itu mau mempertahankan prinsip, memenangkan kedegilan hati, dia akan menjadi tawar hati sebagaimana biasanya serta mengabaikan prinsip-prinsip agamanya, oleh karena berteman yang merugikan dan dia menjadi seorang yang putus hubungan dengan surga. 

Perkawinan Dihancurkan dengan Tidak adanya Persetujuan
Banyak perkawinan yang hanya menghasilkan kesengsaraan; namun demikian pikiran orang muda tertuju kepada keperluan ini karena Setan yang memimpinnya meyakinkan mereka bahwa mereka harus kawin supaya beroleh kebahagiaan, pada hal mereka tidak menpunyai kesanggupan pengendalikan diri sendiri atau tidak sanggup memelihara keluarga. Mereka yang tidak mau menyesuaikan diri terhadap satu dengan yang lain, hanya sekedar menghindarkan diri dari perselisihan dan perbantahan, janganlah mengambil langkah ini. Tetapi inilah salah satu jerat yang paling ampuh pada akhir zaman, sehingga beribu-ribu orang akan binasa dalam kehidupan sekarang ini maupun kehidupan yang akan datang.

Akibat Buruk dari Cinta
Segala kemampuan orang yang telah ditulari oleh penyakit menular ini cinta buta terbawa ke dalam perhambaan. Tampaknya mereka tidak mempunyai pikiran yang sehat lagi dan bagi mereka yang menyaksikan keadaan ini merasa muak….Banyak orang mengalami krisis yang memuncak sebagai akibat perkawinan yang belum matang ini, setelah kesenangan baru itu berlalu dan cinta birahi yang mempesonakan itu berakhir, maka salah satu atau kedua-duanya sadar tentang keadaan diri mereka yang sebenarnya. Lalu menemukan dirinya tidak cocok satu dengan yang lain, tetapi sudah terikat untuk seumur hidup. Terikat terhadap satu dengan yang lain oleh sumpah yang khidmat dan tekun, dengan hati yang remuk mereka memandang kepada hidup kemelaratan yang harus mereka pikul. Yang seharusnya mereka akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, setapi banyak yang rela berbuat demikian. Ternyata mereka tidak memperbaiki sumpah palsu yang mereka ucapkan pada perkawinan itu melainkan meletakkan kuk di atas leher mereka dan mengalami pahit getir yang memilukan sehingga tidak sedikit orang yang mengakhiri nyawa mereka dengan cara-cara pengecut. 

Sejak sekarang ini seharusnyalah hal itu menjadi pelajaran untuk seumur hidup bagi suami istri, bagaimana caranya menghindarkan segala sesuatu yang menimbulkan perselisihan serta memelihara senantiasa sumpah perkawinan itu. 

Pengalaman Orang Lain menjadi Suatu Amaran
Tuan Anu mempunyai tabiat yang tidak baik karena dipermainkan oleh Setan dengan cara yang licik. Peristiwa ini haruslah mengajar orang-orang muda satu pelajaran tentang perkawinan. Istrinya depengaruhi perasaan dan dorongan hati, bukan dengan pikiran sehat dan pertimbangan dalam memilih seorang kawan. Apakah perkawinan mereka itu sebagai hasil cinta yang benar? Tidak, tidak; itu adalah akibat dorongan hati hawa nafsu buta dan najis. Tiada seorang di antaranya yang dipantaskan untuk segala kewajiban kehidupan rumah tangga. Bilamana kesenangan baru dan segala perkara yang baru telah berlalu, telah mengenal satu dengan yang lain, adakah cinta mereka bertambah kuat, cinta kasih mereka semakin mendalam, dan apakah kehidupan dipadukan dalam kerukunan yang indah? Yang terjadi sebaliknya. Sifat-sifat tabiat mereka bertambah buruk dalam prakteknya, gantinya perkawinan mereka suatu kebahagiaan, kesusahan yang bertambah-tambah. 

Untuk bertahun-tahun lamanya saya telah menerima surat dari orang-orang yang berbeda-beda yang membentuk rumah tangga yang tidak bahagia, dan cerita-cerita itu terbuka dihadapan saya cukup memuakkan dan menyakitkan hati. Bukanlah suatu perkara yang mudah untuk mengambil keputusan dalam memberi nasihat bagi orang-orang yang malang ini, dan dengan cara bagaimana nasib mereka yang buruk itu dapat diringankan; tetapi hendaknya pengalaman mereka yang buruk itu menjadi amaran kepada orang orang lain.

 

-RTA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here