hindari-minuman-keras Copy

 

[AkhirZaman.org] “Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungan berdasarkan kelaliman. . . yang berkata: ‘Aku mau mendirikan istana besar lebar dan anjungan yang lapang luas!’, lalu menetas dinding istana membuat jendela, memapani istana itu dengan kayu aras. . . Tetapi matamu dan hatimu hanya tertuju kepada untung, kepada penumpahan darah orang yang tak bersalah, kepada pemerasan dan kepada penumpahan darah orang yang tak bersalah, kepada pemerasan dan kepada penganiayaan.” (Yeremia 22:13, 14, 17).

Pekerjaan Penjualan Minuman Keras

Kitab Suci menggambarkan pekerjaan mereka yang memproduksi dan menjual minuman keras. Bisnis mereka itu berarti perampokan. Karena uang yang mereka terima tidak seimbang dengan akibatnya. Setiap rupiah yang ditambahkan kepada keuntungan mereka telah membawa kutuk kepada si pemakai.

Dengan tangan yang penuh kemurahan Allah telah mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada manusia. Sekiranya pemberian-Nya itu sudah digunakan dengan bijaksana, betapa kecilnya kemiskinan dan kesulitan yang ada di dunia ini! Adalah kejahatan manusia yang mengubah berkat-berkat-Nya menjadi suatu kutuk. Adalah karena ketamakan akan keuntungan dan nafsu selera sehingga biji-bijian dan buah-buahan yang diberikan untuk menunjang hidup kita berubah menjadi racun yang mendatangkan kesengsaraan dan kehancuran.

Setiap tahun, jutaan galon minuman yang memabukkan dihabiskan. Milyaran dolar, trilliunan rupiah dibelanjakan untuk membeli kesengsaraan, kemiskinan, penyakit, kemerosotan, nafsu, kejahatan dan kematian. Demi keuntungan, penjual minuman keras membagikan kepada para korbannya sesuatu yang menggerogoti dan merusak pikiran dan tubuh. Dia membawakan kemiskinan dan kesengsaraan kepada keluarga si pemabuk.

Setelah korbannya mati, pemerasan oleh menjual minuman keras itu tidak berhenti. Dia merampoki janda itu dan menggiring anak-anaknya menjadi pengemis. Tidak segan mengambil kebutuhan hidup dari keluarga yang malang itu, untuk membayar hutang suami dan ayah mereka. Tangisan anak-anak yang menderita, air mata sang ibu yang menderita, semua itu hanya menjengkelkan dia. Apakah artinya bagi dia kalaupun orang-orang yang menderita kelaparan? Apa pula artinya jika mereka juga dipaksa ke dalam kemerosotan dan kehancuran? Dia bertambah kaya atas kemiskinan orang-orang yang sedang dituntunnya ke dalam kutuk (ini adalah salah satu contoh nyata yang paling parah di masa lampau yang diakibatkan oleh kejahatan minuman keras).

Contoh lainnya adalah bagaimana kompleks pelacuran, rumah bordil, pengadilan kriminal, penjara, panti asuhan, rumah sakit jiwa, rumah sakit umum, kebanyakan dipenuhi oleh korban akibat penjualan minuman keras. Seperti Babel mistik dalam kitab Wahyu, dia mengurusi “hamba dan jiwa manusia.” Di balik penjualan minuman keras terdapatlah perusak jiwa yang perkasa, dan segala hal yang dapat digunakan oleh dunia atau neraka dimanfaatkan untuk menarik manusia ke dalam kekuasaannya. Di kota dan desa, di gerbong kereta api, di kapal-kapal yang besar, di tempat bisnis, tempat-tempat hiburan, apotek, bahkan di gereja, di meja Perjamuan Kudus, jeratnya terpasang. Tidak ada yang dibiarkan terlewat untuk menciptakan dan menumbuhkan minat akan minuman beracun ini. Hampir di setiap sudut ada tempat hiburan umum, dengan cahaya lampunya yang terang benderang serta sambutan dan keceriaannya, mengundang kaum pekerja, orang kaya yang malas, dan orang muda yang masih polos.

paris-bar-hotel CopyDi ruang makan pribadi dan tempat hiburan modern, kaum wanita disuguhkan minuman populer, dengan kedok nama lain, yang sebenarnya adalah minuman keras. Bagi orang sakit dan yang lelah, selalu ada iklan besar dari sejenis minuman (minuman berenergi) yang sebenarnya banyak mengandung alkohol.

Untuk menimbulkan selera minuman keras di antara anak-anak kecil, alkohol diperkenalkan dalam minuman sofdrink yang dikemas untuk menarik minat anak-anak kecil. Minuman seperti itu dijual di warung-warung. Dengan memberikan ini penjual minuman keras menjerat anak-anak ke dalam tempatnya.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, usaha itu maju terus. Para ayah dan suami dan saudara laki-laki, tumpuan harapan dan kebanggaan bangsa, terus memasuki tempat-tempat penjualan minuman keras itu, untuk kembali ke rumah dalam keadaan sengsara dan hancur.

Lebih mengerikan lagi, kutuk itu memukul jantung rumah tangga. Semakin banyak kaum wanita membentuk kebiasaan minum minuman keras. Di banyak keluarga, anak-anak kecil bahkan bayi-bayi yang tidak berdaya, setiap hari menghadapi bahaya karena diabaikan oleh ibu-ibu pemabuk yang jahat. Anak-anak lelaki dan perempuan bertumbuh di bawah bayangan kejahatan yang mengerikan ini. Pandangan masa depan mereka yang bagaimana selain bahwa mereka akan tenggelam lebih dalam daripada orang tua mereka?

Dari negeri-negeri yang mengaku dirinya Kristen, kutuk itu dibawa ke wilayah-wilayah penyembah berhala. Orang-orang terbelakang yang malang dan bodoh itu diajar untuk menggunakan minuman keras. Bahkan di kalangan orang kafir itu pun, kaum terpelajar mengetahui dan menentangnya sebagai racun yang mematikan; tetapi sia-sia saja mereka berusaha melindungi negeri mereka dari kekacauannya. Tembakau, minuman keras dan opium dipaksakan oleh orang-orang beradab kepada bangsa-bangsa kafir. Nafsu yang tak terkendali dari orang-orang terkebelakang ini, yang dirangsang oleh minuman keras, akan menyeretnya ke dalam kemerosotan sebelum dia sadar, dan hampir tidak berguna untuk mengutus misionaris ke tempat seperti ini.

Melalui hubungan dengan orang-orang yang seharusnya memperkenalkan Allah kepada mereka, bangsa kafir akhirnya terbawa ke dalam kejahatan yang ternyata merusak segenap suku dan bangsa. Dan di tempat-tempat yang masih gelap di dunia ini, bangsa-bangsa yang beradab dibenci karena hal ini.

Tanggungjawab Gereja

Kepentingan akan minuman keras ini adalah satu kekuatan di dunia. Di pihaknya terdapat perpaduan antara kekuatan dengan uang, kebiasaan, dan selera. Bahkan kekuasaannya itu terasa dalam gereja. Orang-orang yang uangnya diinvestasikan secara langsung atau tidak di dalam perdagangan minuman keras terdapat anggota-anggota gereja “yang baik dan setia.” Banyak di antara mereka yang dengan limpah memberi bantuan-bantuan yang populer. Sumbangan mereka menunjang kegiatan gereja dan menyokong para pendetanya. Mereka mengalihkan perhatian kepada kuasa uang. Gereja yang menerima anggota seperti itu sebenarnya mendukung perdagangan minuman keras. Seringkali pendeta tidak cukup berani untuk membela kebenaran. Dia tidak menyatakan kepada jemaatnya apa yang dikatakan Allah tentang pekerjaan penjualan minuman keras. Berbicara tegas bisa berarti menyinggung jemaatnya, mengorbankan popularitasnya, dan kehilangan gajinya.

Tapi di atas majelis gereja ada pengadilan Allah. Ia yang telah menyatakan kepada si pembunuh pertama itu, “Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah” (Kejadian 4:10) tidak akan menerima untuk mezbah-Nya persembahan dari penjual minuman keras. Amarah-Nya meluap terhadap mereka yang berusaha menyembunyikan kesalahan dalam jubah kedermawanan. Uang mereka ternoda dengan darah. Ada kutuk di atasnya.

alkoholik Copy“Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang-orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. Kalau engkau berkata: ‘Sungguh, kami tidak tahu hal itu!’ Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?” (Amsal 24:11, 12).

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? firman Tuhan: ‘…. Apabila kamu datang untuk menghadap hadirat-Ku, … Bahwa kamu menginjak-injak pelataran bait suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku … Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.’” (Yeremia 1:11-13, 15).

Seorang pemabuk sanggup melakukan hal-hal yang lebih baik. Dia telah dipercaya dengan talenta-talenta untuk memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi dunia ini; tapi sesama temannya telah memasang jerat bagi jiwanya dan membangun diri mereka sendiri dengan kemerosotannya. Mereka sudah hidup dalam kemewahan sementara korban-korban miskin yang telah mereka rampok itu hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan. Tetapi Tuhan akan menuntut ini dari tangan orang yang mendorong pemabuk ke dalam kehancuran. Ia yang memerintah di langit tidak kehilangan penglihatan akan penyebab pertama dan akibat terakhir dari kemabukan. Ia yang memelihara burung pipit dan mendandani rumput di padang itu tidak akan melewatkan orang-orang yang telah dibentuk dalam citra-Nya sendiri, dan dibeli dengan darah-Nya sendiri, tentu memperhatikan tangisan mereka. Allah menandai semua kejahatan yang menunjang kejahatan dan kemelaratan.

Mungkin saja dunia dan gereja mengakui orang yang telah mendapat kekayaan dengan memerosotkan jiwa manusia. Mereka mungkin tersenyum kepada orang yang menuntun manusia selangkah demi selangkah ke jalan kemerosotan yang memalukan. Tetapi Allah mencatat semua ini dan menjatuhkan hukuman yang adil atasnya. Pembuat dan penjual minuman keras mungkin disebut oleh dunia sebagai pengusaha yang sukses; tapi Tuhan berkata, “Celakalah dia.”

Dia akan dipersalahkan karena keputusasaan, kemelaratan, dan penderitaan yang menimpa dunia ini akibat penjualan minuman keras. Dia harus bertanggungjawab atas kekurangan dan kesengsaraan para ibu dan anak-anak yang telah menderita karena kekurangan pangan, sandang dan papan, dan yang telah mengubur semua pengharapan dan kegembiraan. Dia harus bertanggungjawab bagi jiwa-jiwa yang sudah mati tanpa persiapan untuk keselamatan. Dan mereka yang mempertahankan penjual minuman keras dalam pekerjaannya itu juga ikut bersalah bersamanya. Kepada mereka Allah berfirman, “Tanganmu berlumuran darah.”

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here