tenCommandments Copy

 

[AkhirZaman.org] Dalam artikel nubuatan sebelumnya telah kita pelajari bahwa tanduk kecil yang melambangkan kuasa kemurtadan telah mengubah hukum Allah yang berhubungan dengan waktu, yaitu hari Sabat hari ketujuh (Sabtu), menjadi hari Minggu.

Dan satu gereja, yaitu gereja Katolik yang bertanggung jawab akan perubahan itu. Mereka memahami bahwa perubahan hari Sabat itu merupakan suatu tanda kekuasaan gereja. Pernyataan-pernyataan itu telah dibuat oleh para penguasa gereja Katolik yang menunjukkan dengan jelas sebagai berikut:

1. Sebagai jawab terhadap pertanyaan, “Apakah engkau mempunyai cara lain untuk membuktikan bahwa gereja mempunyai kuasa untuk menetapkan hari raya atau peraturan?”

Stephen Keenan dalam A Doctrinal Catechism menulis, “Sekiranya ia tidak mempunyai kuasa demikian, ia tidak dapat melakukan itu di mana semua pemimpin agama modern setuju kepadanya—ia tidak dapat menggantikan pemeliharaan hari Minggu, hari pertama dalam minggu (pekan), untuk pemeliharaan hari Sabtu hari ketujuh, suatu perubahan yang tidak ada wewenang dari Alkitab.”

2. Sebuah komentar lain, “Anda boleh membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan Anda tidak akan pernah mendapati suatu pernyataan pun yang memberikan kekuasaan untuk menguduskan hari Minggu. Alkitab menegaskan penyucian hari Sabtu, yaitu hari yang kita sendiri tidak menyucikannya.” Kardinal Gibbons, Faith of Our Fathers, hal. 111, 112.

3. Selanjutnya Monsignor Segur meenulis, “Gereja Katoliklah dengan wewenang Yesus Kristus, yang telah mengalihkan hari perhentian itu kepada hari Minggu sebagai peringatan kebangkitan Tuhan kita (sesuatu wewenang yang Alkitab tidak pernah catat). Dengan demikian pemeliharaan hari Minggu oleh orang-orang Protestan adalah satu penghormatan terhadap kekuasaan Gereja (Katolik).” Monsignor Segur, Plain Talk About the Protestantism of Today, hal. 225.

Enright, seorang imam Gereja Roma Katolik, menulis dalam American Sentinel, New York, bahwa, “Alkitab berkata, ‘Ingatlah akan hari Sabat supaya kamu sucikan.’ Namun Gereja Katolik berkata, “Tidak! Dengan kekuasaan Ilahi saya sudah menghapus hari Sabat dan memerintahkan kamu untuk menguduskan hari pertama (Minggu) dalam minggu atau pekan (suatu pernyataan yang tidak bersumber dari Alkitab karena Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Allah memberikan wewenang kepada siapa pun untuk mengganti hari Sabat kepada hari Minggu sebagai hari yang disucikan). Dan sekarang seluruh dunia yang berkebudayaan tunduk dan memberikan penghormatan serta menuruti perintah Gereja Roma Katolik yang kudus.”

Pendirian Gereja Roma Katolik terlihat jelas. Daniel menubuatkan perubahan itu dan gereja Katolik mengakuinya. Malahan mereka bangga menunjukkan perubahan ini sebagai bukti kekuasaannya di bidang agama meskipun itu bertentang dengan Allah dan firman-Nya.

Para reformis pada zaman reformasi Protestan menyatakan perhatian mereka juga. Martin Luther yang banyak menyusun data Pengakuan Augsburg berkata, “Mereka (para paus) menyatakan perubahan hari Sabat menjadi hari Tuhan, tampaknya bertentangan dengan Sepuluh Hukum; dan mereka tidak memiliki contoh lain kecuali perubahan hari Sabat itu. Mereka tentu memerlukan kekuasaan gereja yang sangat besar karena mencabut salah satu perintah dalam Sepuluh Hukum.”—Philip Schaff, The Creeds Christendom, jilid 3, hal. 64.

Walaupun semua bukti telah jelas, masih ada saja yang mengatakan, “Apa bedanya? Hari apa pun itu, namanya tetaplah hari! Waktu , ya, tetaplah waktu! Apakah kita memang harus tepat!” Jika seandainya seorang Presiden menginginkan untuk bertemu dengan kita lalu menentukan suatu hari tertentu sebagai waktu pertemuan, pastilah kita meluangkan waktu di hari itu untuk memenuhi permintaannya. Lalu apakah kita akan menolak permohonan Tuhan untuk menyucikan hari Sabat sebagai hari yang ditentukan-Nya menjadi “hari pertemuan kudus” (Imamat 23:3) antara kita dengan Dia sebagai Pencipta dan Penebus kita?

Masalah utama ialah bukan sekadar soal hari saja. Tetapi siapa yang membuat perintah. Mari kita menganalisis dua pertanyaan yang sederhana: Bila kita berhenti pada hari ketujuh dalam minggu (pekan) itu dan beribadah dengan hikmat kepada Allah, siapakah yang kita turuti? Jawabnya sangat mudah: Tuhan.

Bila bekerja pada hari ketujuh atau menggunakannya untuk kesenangan diri atau urusan dagang dan berhenti serta berbakti pada hari pertama (Minggu) dalam pekan, siapakah yang sesungguhnya kita turuti? Sudah pasti bukan Allah yang kita turuti karena Dia tidak pernah memberikan perintah untuk melakukan seperti itu.

Tuan manakah yang Anda rindu untuk turuti dalam Alkitab: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk metaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” (Roma 6:16).

prayinthefield.CopyMereka yang berani menuruti hukum Allah telah mendapati bahwa dari waktu ke waktu perintah-perintah manusia dan perintah-perintah Allah sering bertentangan. Petrus mengalami hal yang sama dan akhirnya mengambil suatu keputusan, “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Kisah 5:29.

Petrus dan rasul-rasul tidak ragu. Bila hukum Allah dipertaruhkan, keputusan mereka jelas. Dan tentunya keputusan mereka patutlah menjadi teladan kita. Walaupun hukum Allah dipertanyakan dan diubah oleh manusia, namun prinsipnya tetap sama selamanya, yaitu: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Tantangan di hadapan kita. Di satu pihak kita memiliki Yesus Kristus yang menyatakan diri-Nya sebagai “Tuhan atas Hari Sabat.” Ia telah menyatakan dengan jelas kepada orang banyak bahwa Ia bukan datang untuk meniadakan hukum Allah atau mengurangi wewenang kekuasaannya. Sebaliknya Ia datang untuk menunjukkan kepada kita bagaimana mentaatinya. Ia berkata: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” Matius 15:9.

Bukan suara Allah yang memanggil kita untuk menyucikan dan beribadah pada hari selain Sabat hari ketujuh. Itu hanya suara manusia. Tak ada satu perintah pun dari Allah yang menyatakan kekudusan hari Minggu.

Sementara kedatangan Yesus kedua kali yang tak lama lagi dan pekabaran Allah tentang kebenaran-Nya tersebar ke seluruh dunia, tantangan Elia yang dulu pernah memanggil umat-Nya yang sesat dari penyembahan matahari, sekarang juga berada di hadapan kita: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” 1 Raja 18:21.

Tidak ada kompromi dengan dosa. Masalah penting dalam pertentangan akhir ini adalah kesetiaan kita. Pilihan itu adalah antara perintah-perintah Allah dan tradisi manusia. Yesus menyatakan hal itu dengan jelas: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Markus 7:7, 8.

Inilah pekabaran kasih Kristus bagi kita. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hari Sabat, hari ketujuh, adalah tanda kekuasaan Sang Pencipta. Yesus Kristus tidak pernah merencanakan untuk mengubahnya. Menyadari akan hal ini, maka kami memberikan tantangan kepada Anda, sebagaimana Yosua memberi tantangan kepada orang Israel: “…pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yosua 24:15). Apakah Anda mau berkata, “Saya memilih Yesus dan perintah-perintah Allah. Saya mau, dengan pertolongan kasih karunia Allah sejak hari ini, untuk mengingat hari Sabat dan menguduskannya?”

Ribuan orang di sepanjang zaman telah mengasihi Yesus dengan sebaik-baiknya dan menuruti Dia dengan segenap hati. Pada pelajaran selanjutnya kita akan mempelajari beberapa kisah yang mengharukan yang pernah dicatat tentang orang-orang yang setia terhadap hari Sabat Allah.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here