spider Copy

 

[AkhirZaman.org] Cerita-cerita dongeng dengan mudah diterima sebagai kebenaran bila hal itu telah lama berada di antara kita. Misalkan saja laba-laba. Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, filsuf Yunani, mengelompokkan laba-laba sebagai serangga berkaki enam. Sejak itu, selama 20 abad, orang mempercayai bahwa laba-laba berkaki enam. Tak seorang pun yang peduli untuk menghitungnya. Lebih daripada itu, siapa yang mau menantang Aristoteles yang hebat itu?

Datanglah Lamarck, seorang ahli ilmu hayat dan pecinta alam. Ia menghitung dengan teliti kaki laba-laba. Cobalah terka, berapa jumlah kaki laba-laba? Tepatnya adalah delapan! Cerita dongeng yang selama ini sudah diajarkan sebagai kebenaran untuk berabad-abad lamanya diruntuhkan karena Lamarck mau menghitungnya.

Copernicus juga memiliki pemikiran bebas, seorang Polandia, pernah juga menantang satu “kebenaran” yang dipercayai oleh orang-orang yang menamakan dirinya “ilmuwan” pada zamannya. “Mataharilah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat tata surya,” katanya. Orang-orang di gereja menyatakan, “Hal itu tidak bisa demikian! Engkau tidak dapat mengubah keadaan langit milik Allah.” Akan tetapi Copernicus bukanlah mengubah langit milik Allah. Ia hanya menyatakan kebenaran dan menjelaskan satu kepalsuan.

Masih banyak lagi contoh kepalsuan, baik dari segi ilmu pengetahuan dan lain sebagaianya. Banyak orang yang sudah mempercayainya selama ini. Walaupun tidak semua berakibat kritis karena menerima kepalsuan-kepalsuan di bidang ilmu pengetahuan, namun kepalsuan di bidang agama akan mengakibatkan hidup atau matinya seseorang. Dengan kata lain, sehubungan dengan perkara-perkara yang kekal maka kesanggupan untuk membedakan fakta atau fiksi, kepalsuan dan kebenaran adalah sangat penting.

Akan tetapi bagaimanakah kita mengetahui yang manakah kepercayaan agama yang palsu dan mana yang benar? Bagaimanakah kita dapat membedakan antara fakta-fakta keagamaan yang nyata dengan yang fiksi? Apakah yang menjadi sumber otoritas kita?

Tanpa diragukan, Allah saja sumber otoritas kita yang terakhir. Dan Alkitab sebagai catatan fiman-Nya. Di dalamnya berisi kebenaran kekal yang tidak dapat berubah. Dengan mempelajari firman Allah, kepalsuan di bidang agama yang sudah dipercayai berabad-abad seklipun akan mudah untuk dikenali.

Kitab Wahyu menyatakan dengan tepat adanya kepalsuan itu. Pekabaran besar yang menyediakan anak-anak Allah bagi kedatangan Tuhan terdapat dalam Wahyu 14:6-12. Kita membaca kata-kata ini dalam ayat 7: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Pada pembacaan pertama, ayat ini kelihatannya tidak menyatakan sejenis kepalsuan di bidang agama. Akan tetapi marilah kita jelaskan lebih lanjut. Pekabaran tentang dekatnya penghakiman Allah tersebut sangatlah penting sehingga Allah menggambarkannya sebagai pekabaran yang dibawakan oleh tiga malaikat yang terbang dengan cepat dari takhta-Nya di tengah-tengah langit ke seluruh dunia.

Pekabaran itu patut dibawakan dengan cepat seperti api yang menjalar menjilat belukar yang kering, kepada semua bangsa, suku, bahasa, dan kaum (ayat 6). Pekabaran ini harus menjangkau semua batas wilayah bumi ini. Hal itu akan menjembatani segala kelompok budaya dan bahasa. Ketika penghakiman sorga yang terakhir semakin dekat, Wahyu 14:7 dengan tegas mendesak semua umat manusia agar kembali menyembah Sang Pencipta.

Akan tetapi agar dapat kembali kepada penyembahan Sang Pencipta itu, kita harus memahaminya terlebih dahulu. Dasar peribadatan adalah menyadari bahwa kita adalah makhluk ciptaan, bukan Pencipta.

wtrfll CopySebab utama mengapa Allah layak menjadi sasaran peribadatan kita yang tertinggi adalah karena Ia yang menciptakan kita. Wahyu 4:11 menyatakan: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Pada zaman di mana hipotesis yang bersifat evolusi telah menguasai dunia ilmu pengetahuan dengan begitu hebatnya, Alkitab pun telah mengirimkan satu pekabaran untuk memanggil semua orang untuk menyembah Kristus sebagai Pencipta.

Efesus 3:9, 11 memberikan pengertian yang penting itu sebagai berikut: “….dan akan menerangkan kepada orang sekalian bagaimana halnya menjalankan rahasia yang telah beberapa zaman lamanya tersembunyi di dalam Allah, yang menjadikan semesta sekalian,… menurut seperti maksud-Nya yang kekal, yang ditetapkan-Nya di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Terjemahan Lama, lihat juga Kolose 1:13-17).

Bagaimanakah segala sesuatu diciptakan? “Oleh Yesus Kristus!” Pekabaran yang berkumandang terus di zaman akhir ini, yang mengajak semua orang di mana pun ia berada, untuk “menyembah Dia yang menjadikan langit dan bumi”, adalah satu pekabaran yang memanggil semua orang untuk menyembah Yesus Kristus sebagai Pencipta.

Bagaimanakah caranya seseorang dapat menyembah Yesus sebagai Pencipta? Apakah Ia meninggalkan suatu tanda peringatan akan karya ciptaan-Nya? Apakah tanda peringatan penciptaan-Nya itu?

Apabila kita membuka kitab Keluaran, di sana kita dapati pada pusat Perintah Allah itu, yaitu Sepuluh Firman, satu tanda peringatan sehubungan dengan kuasa ciptaan-Nya. Itu adalah tanda peringatan yang bilaman diingat, akan tetap terpelihara dengan segar dalam ingatan kita bahwa Dialah Pencipta dan kita adalah makhluk ciptaan-Nya.

Tanda peringatan ini dijelaskan dalam Keluaran 20:8-11 sebagai berikut: “Ingatlah kamu akan hari sabat, supaya kamu sucikan dia. Bahwa enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja dan mengerjakan pekerjaanmu; tetapi hari yang ketujuh itulah sabat Tuhan, Allahmu, pada hari itu jangan kamu bekerja, baik kamu, atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau binatangmu, atau orang dagang yang ada di dalam pintu gerbangmu. Karena dalam enam hari lamanya telah dijadikan Tuhan akan langit dan bumi dan laut, dengan segala isinya, maka berhentilah Tuhan pada hari yang ketujuh, sebab itulah diberkati Tuhan akan hari sabat itu dan disucikannya dia.”

Allah berfirman, “Ingatlah untuk menyucikan hari Sabat, karena itu adalah satu peringatan akan karya ciptaan-Ku.”

Perhatikanlah persamaan cara penuturan kata-kata itu dalam Wahyu 14:7 dan juga Keluaran 20:11. Pekabaran penting untuk generasi terakhir adalah: “Sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi serta laut dan segala mata air.” Keluaran 20:11 berkata: “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,…”

Kekudusan Hukum Hari Sabat terkandung dengan jelas pada pusat Hukum Allah itu sebagai satu tanda peringatan yang kekal akan wewenang-Nya yang tertinggi dan kuasa penciptaan-Nya. Tepatlah hal itu sebagai tanda Penciptaan.

sbt pray CopyMari kita kembali kepada buku pertama Alkitab, yaitu kitab Kejadian, melihat kembali suasana penciptaan. Seluruh pasal satu dalam kitab Kejadian memberikan penjelasan tentang proses penciptaan dan keindahan serta cemerlangnya Eden.

Setelah itu Kejadian 2 memulainya sebagai berikut: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”

Setelah menciptakan dunia ini dalam enam hari lamanya, Allah menetapkan hari ketujuh sebagai satu tanda peringatan terhadap karya ciptaan-Nya.

Tiga perkara yang berhubungan erat dengan penetapan tanda peringatan ini:
Pertama, Allah berhenti (ayat 2). Bukan karena Ia merasa lelah, tetapi karena ingin memberikan teladan kepada umat manusia. Sudah menjadi rencana-Nya agar pada setiap hari ketujuh umat manusia sepatutnya berhenti dari pekerjaannya sebagaimana Tuhan juga melakukannya. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada kita bahwa Dialah pencipta dunia ini.
Kedua, Allah memberkati hari ketujuh itu (ayat 3). Allah mengambil 24 jam dalam sehari itu dan membubuhi satu berkat istimewa di dalamnya. Melalui pertemuan istimewa dengan Allah pada hari itu Ia menyediakan suatu berkat istimewa pula, yaitu kekuatan yang diperbarui, hati yang penuh damai dan satu kehidupan yang lebih akrab dengan Allah.

Ketiga, Allah menguduskan atau membuat hari ketujuh itu kudus. Istilah menguduskan berarti memuliakan atau mengasingkan dengan satu maksud khusus atau suci—dipersembahkan; itu berkaitan dengan sesuatu yang suci dan bukan yang biasa. Allah sajalah satu-satunya yang dapat membuat perkara-perkara itu suci dan mulia. Peribadatan umat manusia yang sejati berarti mengikutsertakan penghormatan terhadap apa saja yang sudah Allah kuduska, karena Ia sebagai Allah sudah membuat hal itu kudus. Dan sesuai dengan pernyataan kitab Kejadian, Allah telah membuat hari ketujuh itu kudus.

Dengan demikian Sabat hari ketujuh telah diciptakan Allah oleh Allah sebagai suatu tanda peringatan akan kuasa penciptaan-Nya. Hari itu adalah kudus.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here