mountain-alpine Copy

Rantai Kebenaran dari Gema Pegunungan Alpine (Kebenaran Hari Sabat Dipelihara pada Abad 12-15)

[AkhirZaman.org] Meskipun dalam masa hebatnya penganiayaan oleh kuasa kepausan selama abad pertengahan, hari Sabat sebagai hari perhentian tidak sepenuhnya dilupakan. Meskipun tidak ada bukti catatan dalam sejarah bahwa bangsa Waldensia memelihara hari Sabat sesuai dengan ajaran Alkitab, namun jelas bahwa banyak yang memeliharanya.

Orang Waldensia adalah segolongan orang Kristen yang percaya Alkitab dan menerima kebenaran hanya kalau dari Alkitab. Mereka memandang Yesus sebagai satu-satunya kepala gereja. Oleh karena kepercayaan ini, mereka seringkali dianiaya secara kejam. Dari tempat persembunyiaannya di pegunungan yang tersembunyi di selatan Perancis dan di bagian utara Italia, mereka turun ke kota-kota di Perancis, Swiss, Italia sambil menyamar sebagai pedagang-pedagang. Mereka selalu peka kepada orang-orang yang mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, lalu mereka membagikan kebenaran yang mereka miliki walaupun resikonya adalah kehilangan nyawa mereka sendiri.

Mereka sering membagikan bagian Alkitab yang mereka tulis dengan tangan mereka sendiri, dan membawanya dengan cara menjahitkannya di dalam jubah-jubah mereka yang panjang. Hasil penelitian menarik tentang orang Waldensia, dibuat Dr. Daniel Augsberger dari Andrews University: “…Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa contoh-contoh pemeliharaan hari Sabat terjadi di tempat-tempat di mana orang-orang Waldensia pernah memberitakannya dengan sukses” (The Sabbath in Scripture and History, Review and Herald Publishing Association, 1982, hal. 208).

Tidak diragukan, orang-orang Waldensia menekankan isi Alkitab yang menuntun orang-orang untuk mengerti lebih dalam tentang pentingnya memelihara hari Sabat. Pada suatu kesempatan di Perancis Utara, perkumpulan-perkumpulan rahasia pemelihara Sabat diberitahu kepada penguasa-penguasa pada tahun 1940. Enambelas hingga delapanbelas orang dipenjarakan. Bersama dengan pendetanya, mereka diadili oleh gereja yang disebut “Inquisition.”

Dokumen-dokumen resmi pada waktu itu mencatat bahwa golongan mereka dihukum sebagai bidat. Tuduhan itu termasuk “memelihara hari ketujuh sebagai hari Sabat.” Pendeta perkumpulan yang bernama Bertoul Thurin dihukum mati karena mengajarkan cara-cara memelihara hari Sabat (Daniel Augsberger, The Sabbath in Scripture and History, hal. 209).

Dalam bukunya, Truth or Propaganda, seorang pendeta bernama George Vandeman dari “It is Written”, sebuah program televise, menceritakan kisah menarik berikut ini: “Beberapa tahun yang lalu seorang pendeta pemimpin kumpulan anak-anak muda pada satu perjalanan yang diatur untuk menjelajahi lemba-lembah Waldensia di gunung Piedmont. Satu petang mereka bernyanyi sambil mengelilingi api unggun dan menceritakan cerita-cerita misi. Beberapa orang Waldensia mendekat lalu berdiri di tempat-tempat yang agak gelap mendengar cerita-cerita itu, hati mereka terjamah sementara mereka mendengar kesaksian anak-anak muda itu dan mendengar mereka menyanyikan tentang kedatangan Yesus kedua kali.

Api Unggun CopyKetika nyanyian-nyanyian dan cerita-cerita selesai, seorang Waldensia yang sudah tua melangkah ke tempat yang terang di api unggun itu lalu berkata, ‘Kamu harus lanjutkan berita itu! Kami orang Waldensia memiliki warisan yang patut dibanggakan. Kami bangga dengan sejarah bangsa kami karena mereka mempertahankan dan memelihara cahaya kebenaran di atas gunung ini dan juga di lembah-lembahnya… Inilah warisan kami yang besar dari masa lalu. Tetapi kami tidak memiliki masa depan. Kami telah meninggalkan ajaran yang pernah kami percayai. Yang menyedihkan adalah kami tidak maju terus dengan berani untuk menghadapi masa depan. Itulah sebabnya harus kamu teruskan pekabaran itu!’

Seruan-seruan zaman ini mendengung di setiap jalan sepanjang masa, menggema di telinga kita saat ini. Seseorang harus terus memberitakannya, seseorang harus membawa obor kebenaran itu. Seseorang harus dengan setia memelihara kebenaran itu demi kebenaran agung bahwa Yesus sudah mati. Seseorang harus menjaga kebenaran itu hingga Yesus datang.”

Abad Keduabelas
Lombardy. “Gejala mereka yang memelihara hari Sabat ditemukan pada masa kekuasaan Gregory I, Gregory VII, dan pada abad ke-12 di Lombardy (Stron’s Encyclopedia jilid 1, hal. 660).

Waldensia. “Di antara dokumen-dokumen yang kami miliki oleh orang-orang yang sama, sebuah keterangan tentang 10 hukuman oleh Boyer tahun 1120. Memelihara Sabat dengan berhenti dari pekerjaan duniawi adalah dilarang.” (Blair, History of The Waldensis, vol. 1, hal. 220).

Wales. “Ada banyak bukti bahwa hari Sabat tetap dipelihara di Wales (Inggris) secara universal sampai 1115 M, ketika bishop Roma yang pertama berkuasa di Santa Davis. Gereja-gereja Welsh yang lama, yang memelihara Sabat tidak semuanya tunduk kepada kuasa Roma, tetapi lari ke tempat-tempat persembunyian” (Lewis, Seventh Day Baptist in Europe and America, jilid 1, hal. 29).

Pasagini. (Penulis dari kepuasn, Bonacuisus, menulis hal berikut yang menentang “Pasagini”). “Bukan sedikit tapi banyak yang mengetahui apa kesalahan mereka yang disebut Pasagini. Pertama, mereka mengajar bahwa kita harus memelihara Sabat. Lebih lanjut, memperbesar kesalahan mereka, mereka menyalahkan dan menolak semua bapa-bapa gereja dan ajaran gereja Roma.” (D’Achery, spicilegium I, f. 211-214, Muratory. Antiq. med. aevi 5, f. 152, Hahn, 3, 209).

Hongaria, Perancis, Inggris, Italia, Jerman (mengenai orang-orang Pasagini yang memelihara Sabat). “Meluasnya bidat sangat luar biasa. Dari Bulgaria sampai Ebro, dari Perancis utara sampai Tiber, di mana-mana kita berjumpa dengan mereka. Seluruh negeri sudah mereka masuki seperti Hongaria dan selatan Perancis; mereka menyebar juga di banyak negeri; di Jerman, Italia, Belanda dan malah sampai ke Inggris mereka terus berusaha.” (Dr. Hahn, Gesh, derKetzer, 1, 3, 14).

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here