sngai nil Copy

 

[AkhirZaman.org] Dalam artikel nubuatan lalu kita telah melihat bukti sejarah dari abad pertama sampai abad kedua tentang peralihan pemeliharaan Sabat Alkitab kepada hari Minggu melalui suatu proses yang begitu panjang dan bertahap. Sekarang kita akan melihat dari abad ketiga sampai abad kelima.

Abad Ketiga
Mesir. (Oxyrhynchus Papyrus, 200-259 M). “Kecuali kamu membuat hari Sabat itu sungguh-sungguh hari Sabat (dalam bahasa Yunaninya, mensabatkan hari Sabat), maka kamu tidak akan melihat Bapa.” (The Oxyrhychus Papyrus, bagian 1, hal. 3, Logion 2, ayat 4-11, London: Offices of The Egypt Exploration Fund, 1898).

Orang Kristen yang mula-mula. “Hari Sabat hari ketujuh telah dikuduskan oleh Kristus, para rasul dan orang Kristen mula-mula, sampai Konsili Laodikia mengeluarkan perintah menghapuskan pemeliharaannya.” (Dissertation on the Lord’s Day, hal. 33, 34, 44).

Dari Palestina sampai ke India (Gereja di Bagian Timur). Pada permulaan tahun 225 M terdapat satu persekutuan bishop atau persekutuan Gereja Bagian Timur (pemelihara hari Sabat) dari Palestina sampai India. (Mingana, Early Spread of Christianity, jilid 10, hal. 460).

India (Perjuangan orang Budha, 220). Dinasti Kishan di India Utara mengadakan satu majelis di kalangan imam orang Budha di Vaisalia untuk kesepakatan pendapat di lingkungan mereka sehubungan dengan pemeliharaan hari Sabat pada setiap minggu (pekan). Beberapa dari antara mereka sangat terkesan dengan tulisan di Perjanjian Lama sehingga mereka mulai pengudusan hari Sabat. (Lloyd, The Creed of Hlaf Japan, hal. 23).

Abad Keempat
Italia dan Timur. “Kebiasaan umum di Gereja-gereja bagian Timur; dan juga beberapa gereja di bagian barat…. Karena Gereja Millaine (Milan); …kelihatannya hari Sabtu itu telah dipelihara dengan sebaik-baiknya… Hal itu bukanlah karena Gereja-gereja di timur, atau yang lain yang memelihara hari itu, cenderung untuk mengikuti paham Yahudi (Yudaisme); tetapi mereka berkumpul bersama-sama pada hari Sabtu untuk menyembah Yesus Kristus yang adalah Tuhan atas hari Sabat.” (History of the Sabbath, bagian 2, alinea 5, hal. 73, 74, London: 1636, Dr. Heylyn).

Konsili Laodikia (tahun 365). “Kanon 16 – Pada hari Sabtu kitab Injil dan beberapa bagian yang lain dari Alkitab akan dibaca dengan nyaring.” “Kanon 29 – Orang-orang Kristen tidak boleh meng-Yahudikan dirinya dan bermalas-malas di hari Sabtu, tetapi harus melakukan pekerjaan di hari itu; dan pada hari Tuhan (hari Minggu) mereka harus secara istimewa menghormatinya; dan sebagai orang Kristen, sedapat-dapatnya, tidak melakukan pekerjaan pada hari itu.” (Hefele’s Councils, jilid 2, bab 6).

Oang Timur. “Orang Kristen yang mula-mula sangatlah teliti dalam pemeliharaan Sabat atau hari ketujuh. Gereja-gereja orang Timur dan sebagian besar dari dunia ini, harus memelihara hari Sabat sebagai hari raya…. Athanasius memberitahukan kepada kita bahwa mereka mengadakan pertemuan rohani pada hari Sabat, bukan karena mereka dipengaruhi oleh paham orang Yahudi, tetapi untuk beribadah kepada Yesus, yang menjadi Tuhan atas hari Sabat itu, dan Epiphanius juga menyatakan hal yang sama.” (Antiquities of the Christian Church, jilid 2, buku 20, bab 3, bagian 1, 66, hal. 1137, 1138).

Abbisinia. “Pada setengah abad yang terakhir pada abad tersebut St. Ambrose dari Milan menyatakan secara resmi bahwa bishop orang Abbisinia, Museus, telah ‘mengadakan perjalanan hampir di seluruh negeri Seres’ (China). Lebih dari tujuh belas abad Gereja orang Abbisinia terus menguduskan hari Sabat sebagai hari kudus yang berkaitan dengan hukum keempat.” (Ambrose, De Moribus, Brachmanorium Opera Omnia , 1132, yang didapatkan di Migne, Patroligia Latina, jilid 17, hal. 1131-1132).

Spanyol (Konsili Elvira tahun 305). Kanon 26 dari Konsili Elvira mengatakan bahwa gereja bangsa Spanyol pada saat itu memelihara hari Sabat, hari ketujuh. “Sehubungan dengan berpuasa pada setiap Sabtu (Sabat): Diputuskan, bahwa kesalahan tentang berpuasa pada hari Sabat itu patut diperbaiki.” Resolusi konsili ini merupakan perlawanan secara langsung terhadap kebijakan yang diresmikan oleh gereka Roma, yang memerintahkan agar hari Sabat merupakan hari puasa dengan tujuan merendahkannya dan memaksakan hal itu kepada seluruh rakyat.

Persia (tahun 335-375, 40 tahun penganiayaan di bawah kekuasaan Shapur II). Persungutan terhadap orang Kristen —“Mereka menghina dewa matahari kita, mereka mengadakan upacara perbaktian pada hari Sabtu, mereka menajiskan bumi yang suci ini dengan menguburkan orang mati di dalamnya.” (Truth Triumphant, hal. 170).

Abad Kelima
grjyrslm CopyOrang Kristen abad kelima. Sampai pada abad kelima ini pun pemeliharaan hari Sabat orang Yahudi tetap berlangsung di gereja orang Kristen. (Ancient Christianity Exemplified, Lyman Coleman, bab 26, bagian 2, hal. 527).

Pada zaman Jerome (420 M). Orang-orang Kristen yang paling tekun beragama melakukan pekerjaannya sehari-hari pada hari Minggu. (Treaties of the Sabbat Day, oleh Dr. White, Lord Bishop of Ely, hal. 219).

Perancis. “Itulah sebabnya, kecuali kebaktian malam dan musik malam hari, tidak terdapat kebaktian umum di malam hari di kalangan mereka pada hari itu kecuali pada hari Sabtu (Sabat) dan hari Minggu.” (John Cassian, seorang biarawan orang Perancis, Institutes, Buku 3, bab 2).

Afrika. “Agustine mengungkapkan bahwa ada dua gereja yang berdekatan di Afrika, yang satu memelihara hari Sabat hari ketujuh, sedangkan satunya lagi berpuasa pada hari itu.” (Dr. Peter Heylyn, The History of the Sabbath, hal. 416).

Spanyol. “Ambrose menguduskan hari ketujuh sebagai hari Sabat (sebagaimana dikatakannya sendiri). Ambrose mempunyai pengaruh besar di Spanyol, yang juga adalah pemelihara hari Sabtu sebagai hari Sabat.” (Truth Triumphant, hal. 68).

Sidonius (berbicara tentang Raja Theodoric dari bangsa Goth, tahun 454-526 M). “Memang telah menjadi kebiasaan sejak semula di bagian timur untuk memelihara hari Sabat dengan cara yang sama seperti hari Tuhan dan mengadakan pertemuan kudus. Sedangkan orang-orang di bagian barat, yang mempertahankan hari Tuhan, telah melalaikan perayaan hari Sabat.” (Apollinaris Sidoni Epistole, lib. 1, 2; Migne, 57).

Italia-Milan. “Ambrose, bishop Milan yang terkenal, mengatakan bahwa ketika ia berada di Milan ia memelihara Sabat, namun bila ia berada di Roma ia memelihara hari Minggu. Ini seperti kata peribahasa, ‘Bila kamu berada di Roma, lakukanlah apa yang Roma praktikkan.’” (Heylyn, The History of the Sabbath, 1612).

Konstantinopel. “Penduduk Kontantinopel, hampir di setiap tempat, berkumpul bersama-sama pada hari Sabat, sama seperti pada hari pertama, kebiasaan mana tidak terdapat di Roma atau Alexandria.” (Socrates, Ecclesiastical History, Buku 7, bab 19).

Mesir. “Ada beberapa kota dan desa di Mesir di mana, bertentangan dengan kebiasaan di tempat yang lain, orang-orang berkumpul bersama pada hari Sabat petang, dan walaupun mereka sudah makan sebelumnya, akan mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan.” (Sozomen, Ecclesiastical History, Buku 7, bab 19).

Paus Innocent (402-417). Paus Sylvester (314-335) merupakan orang pertama yang memerintahkan gereja-gereja untuk berpuasa pada hari Sabtu, dan Paus Innocent (401-417) membuat hal itu satu peraturan di semua gereja yang mengikuti dia. (Hal ini dibuat atau diatur agar hari Sabat menjadi beban supaya tidak disukai). “Innocenttius menjadikan hari Sabtu atau hari Sabat untuk berpuasa.” (Dr. Peter Heylyn, History of the Sabbath, Bagian 2, bab 2, hal. 44).

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here