bkdnkcmt Copy

 

[AkhirZaman.org] Seorang redaktur yang sibuk mengalami masalah yang serius dengan matanya. Berjam-jam meneliti naskah-naskah tertentu sangat menyusahkan dia dengan keadaan mata yang demikian. Ia berpikir, “Jangan-jangan saya membutuhkan sejenis kaca mata yang cocok untuk itu.” Maka pergilah ia ke dokter mata. Akan tetapi dokter memberitahukan kepadanya bahwa yang dibutuhkannya bukanlah kacamata yang baru tetapi matanya itulah yang perlu untuk beristirahat.

Si redaktur menjelaskan kepada dokter bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan karena pekerjaannya menuntut dia untuk duduk sepanjang hari sambil membungkuk di kursi, membaca dan menulis. Dokter bertanya di mana ia tinggal. Redaktur itu menjawab bahwa ia tinggal di lingkungan pemandangan barisan bukit yang tinggi di Pegunungan Pernine yang indah di Perancis.

Ketika dokter mendengar hal ini maka nasihatnya adalah sebagai berikut, “Pulang dan kerjakanlah pekerjaanmu seperti biasa, dan setiap satu jam tinggalkan meja kerjamu, pergilah ke halaman rumahmu dan pandanglah ke arah pegunungan itu. Pandangan yang jauh seperti itu akan melegakan matamu sesudah ketegangan yang lama karena membaca naskah dan memeriksa lembaran-lembaran kertas.”

Demikianlah juga halnya dengan hari Sabat. Itu adalah suatu undangan yang melegakan mata kita dari perkara-perkara yang biasa memenuhi pikiran kita dan mengarahkan pandangan kita sejauh-jauhnya kepada perkara-perkara yang kekal. Sabat dirancang untuk menolong kita memusatkan kembali pandangan kita kepada perkara-perkara yang memang sangat penting.

Sepanjang zaman, abad demi abad, para pemelihara Sabat yang setia telah mengarahkan hati dan pikirannya kepada perkara-perkara yang memiliki nilai yang agung.

Sebelum kita melihat kesaksian yang bersejarah ini, marilah kita mengulangi secara ringkas apa yang telah kita bahas selama beberapa pelajaran nubuatan kita yang terakhir. Hari Sabat itu telah dipelihara dengan setia oleh orang-orang Israel sepanjang zaman Perjanjian Lama. Yesus dan para murid juga dengan setia memelihara hari Sabat sebagai pernyataan penurutan mereka yang penuh kasih kepada Bapa di sorga. Mereka selalu mengharapkan dengan penuh kesukaan datangnya hari Sabat setiap minggu.

Sepanjang abad pertama, baik orang Yahudi maupun para penyembah berhala yang sudah bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Kekristenan, juga memelihara hari Sabat.

Namun ada beberapa perkara terpadu yang telah mempengaruhi orang-orang Kristen untuk meninggalkan hari Sabat dan lebih menyukai hari Minggu pada abad-abad berikutnya. Sesudah kehencuran kota Yerusalem pada tahun 70 M, dan pecahnya pemberontakan orang Yahudi terhadap bangsa Romawi pada tahun 135 M, orang-orang Yahudi pun terpencar ke seluruh kekaisaran Romawi. Agama dan namanya ditentang habis-habisan. Di beberapa tempat, orang Yahudi diperlakukan sebagai orang yang tidak disenangi.

Salah satu ciri luar yang paling nyata tentang orang Yahudi adalah pemeliharaan Sabat. Karena pemeliharaan hari Sabat adalah juga bagian dari gereja Kristen, maka beberapa penguasa Romawi menganggap Kekristenan itu sebagai satu sekte Yahudi.

Karena dihubungkan dengan sekte Yahudi inilah sehingga banyak orang Kristen dianiaya pada zaman permulaan sejarah gereja. Dan pengaiayaan ini telah menuntun beberapa bishop gereka untuk mencari jalan keluar agar tidak menghubungkan Kekristenan mula-mula dengan agama Yahudi.

Seperti yang sudah kita pelajari, kebanyakan penyembah berhala di kekaisaran Romawi menyembah dewa matahari dan menganggap hari pertama dalam minggu (pekan) sebagai hari keramat. Kebangkitan Kristus pada hari pertama telah menjadi jembatan antara kekafiran dan Kekristenan. Dengan jalan kompromi, maka para pemimpin gereja yang mula-mula secara bertahap sudah meninggikan hari Minggu sebagai pengganti hari Sabat yang benar berdasarkan Alkitab.

Namun demikian pemeliharaan hari Sabat masih tetap dipraktikkan. Pembela-pembela kebenaran Allah yang setia tidak rela mendiamkan tuntutan Allah terhadap hati nurani mereka. Bagi mereka, hari Sabat bukan hanya sekadar hari. Hal itu adalah masalah penurutan kepada Allah.

aztec-sun CopyBukti-bukti Sejarah Tentang Pemeliharaan Hari Sabat Dari Abad demi Abad
Anda akan selalu mendapati bahwa Allah selalu memiliki umat yang rela menuruti Dia dengan penuh kasih. Walaupun jumlah mereka sedikit, namun selalu ada umat sisa yang setia memelihara perintah-perintah Allah. Sebuah mata rantai kebenaran yang tidak pernah putus terbentang sepanjang abad. Sementara kita memperhatikan halaman-halaman ini, biarlah Roh Kudus menerangi pikiran Anda agar bercita-cita untuk termasuk dalam kelompok umat Allah yang setia memelihara perintah-perintah-Nya.

Cerita tentang pahlawan kebenaran Allah makin bertambah dari zaman ke zaman, dengan penuh harapan dan doa agar dapat memberikan semangat kepada Anda untuk bergabung dengan umat Allah yang setia itu.

Ringkasan Sejarah Dari Abad Pertama Sampai Abad Kelima Mengenai Kesetiaan Umat Tuhan Di Tengah-tengah Kemurtadan Mula-Mula.

Dengan melihat data sejarah dari abad pertama sampai abad kelima diketahui bahwa peralihan pemeliharaan Sabat Alkitab kepada hari Minggu melalui suatu proses yang begitu panjang dan bertahap.

Dr.Kenneth Strand, Profesor di bidang Sejarah Gereja di Universitas Andrews, Berrien Springs, Michigan, menyatakan: “Sampai pada abad kedua tidak terdapat bukti tentang perayaan hari Minggu oleh orang Kristen. Keterangan pertama kali pada abad itu datang dari kota Alexandria dan Roma, yaitu tempat-tempat di mana terjadi penolakan yang mula-mula terhadap pemeliharaan sari Sabat hari ketujuh.” (The Sabbath in Scipture and History, hal. 330, Review and Herald Publishing Association, 1982).

Alexandria melepaskan kebenaran hari Sabat lebih dahulu karena pengaruh Mithraisme atau penyembahan dewa matahari. Kota orang Mesir ini juga merupakan pusat keagamaan penyembahan berhala di mana terdapat beribu-ribu penyembah dewa matahari. Akibatnya orang-orang Kristen pemelihara hari Sabat semakin tidak populer di tempat ini seperti juga di Roma. Di kedua kota ini kelompok penyembah dewa matahari berusaha mendesak orang Kristen yang minoritas ini untuk menyetujuinya.

Situasi di Alexandria dan Roma tidak sama dengan kota-kota lain di kekaisaran itu. Seorang ahli sejarah gereja abad kelima, Socrates Scholasticus, memberi penjelasan sebagai berikut: “Hampir semua gereja di dunia merayakan kekudusan yang rahasia (Perjamuan Tuhan) setiap minggu (pekan) pada hari Sabat. Namun orang-orang Kristen di Alexandria dan Roma, demi kepentingan beberapa tradisi kuno telah berhenti melakukan ini. Orang-orang Mesir yang menjadi tetangga dekat dengan Alexandria dan penduduk Thebais (tetap) melakukan perkumpulan agamanya pada hari Sabat.” Socrates Scholasticus, Ecclesiastical History, 5.22 [NPNF]/22:132.

“Orang-orang di Konstantinopel, pada beberapa tempat, berkumpul pada hari Sabat, sama seperti pada hari pertama dalam minggu (pekan) juga, di mana kebiasaan ini tidak pernah dilakukan di Roma atau pun di Alexandria.” Sozomen, Ecclesiastical History, 7.19 [NPNF] 2/2:390.

Seperti telah kita lihat sebelumnya, usaha untuk mengubah penyucian hari Sabat ke hari Minggu terjadi secara perlahan. Ketika pertama kali hari Minggu dimasukkan ke dalam lingkaran orang Kristen, hari itu masih tetap sebagai hari kerja namun dipadukan dengan hari perbaktian untuk menghormati hari kebangkitan Kristus.

Hari itu tidak dengan segera menggantikan hari Sabat seperti yang dinyatakan dalam kutipan di atas. Untuk 200 tahun lamanya (100-300 M) pemeliharaan hari Minggu terjadi bersama-sama dengan pemeliharaan hari Sabat yang benar. Akan tetapi arah yang sudah ditetapkan oleh Constantine dan yang lain, tiba-tiba saja telah menuntun perubahan hari Sabat menjadi hari Minggu.

Namun orang-orang yang setia kepada Allah menolak kecenderungan ini. Catatan sejarah menyatakan adanya perhatian terhadap peribadatan pada hari Sabat. Allah mempunyai orang-orang-Nya yang setia dan penurut yang menjadi pembela kebenaran-Nya. Walaupun terang kebenaran hari Sabat itu nyalanya berkelip-kelip, namun orang-orang yang membela kebenaran itu dengan taat memeliharanya agar tetap menyala.

Abad Pertama

Josephus. “Tidak ada kota di Yunani, atau pun di lingkungan orang Barbar, atau di negara mana pun, sebagaimana kebiasaan kami, yang tidak berhenti pada hari ketujuh!” (M’Clatchie, Notes and Queries on China and Japan, diedit oleh Dennys, jilid 4, no. 7, 8, hal. 100).

Orang-orang Kristen Abad Pertama. “Keturunan Abraham melarikan diri ke Pella, di seberang sungai Yordan, di mana mereka mendapatkan tempat yang aman untuk berlindung, serta dapat beribadah kepada Tuhannya dan memelihara hari Sabat.” (Eusebius’s Ecclesiastical History, buku 3, bab 5).

Philo. Ia menyatakan bahwa hari ketujuh itu merupakan hari raya, bukan untuk kota ini atau kota itu saja, melainkan untuk seluruh dunia (M’Clatchie, Notes and Queries, jilid 4, 99).

ibadahsbat CopyAbad Kedua

Orang-orang Kristen Yang Mula-Mula. “Orang-orang Kristen yang mula-mula mempunyai satu penghormatan yang besar terhadap hari Sabat, dan menggunakan waktu itu untuk beribadah dan berkhotbah. Tidak diragukan lagi bahwa mereka meneruskan kebiasaan ini dari para rasul itu sendiri, sebagaimana yang terdapat dalam beberapa ayat di Alkitab.” (Dialogue on The Lord’s Day, halaman 189. London: 1701, oleh Dr. T. H. Morer, seorang pendeta gereja di Inggris).

“…Hari Sabat menjadi satu ikatan yang menyatukan mereka dengan kehidupan seluruh umat, dan dengan memelihara hari Sabat sebagai hari kudus, maka mereka bukan hanya mengikuti teladan Yesus, melainkan juga perintah Allah.” (Geschichte des Sontags, halaman 13, 14).

“Orang-orang Kristen yang berasal (bertobat) dari penyembah berhala juga memelihara hari Sabat.” (Gieseler’s, Church History, jld. 1, bab 2, alinea 30, hal. 93).

“Orang-orang Kristen yang sederhana itu tetap memelihara Sabat orang Yahudi… Jadi orang-orang Kristen, untuk satu waktu yang cukup lama bersama-sama, mengadakan pertemuannya pada hari Sabat, di mana sebagian dari isi hukum Taurat dibacakan, dan hal ini berlangsung terus sampai diadakan konsili Laodikia.” (The Whole Works of Jeremy Taylor, jld. 9, hal. 416, Edisi R. Heber, jld. 12, hal. 416).

“Jelaslah bahwa hari Sabat yang mula-mula tetap dipelihara bersama-sama dengan perayaan Hari Tuhan oleh orang-orang Kristen di gereja bagian Timur, sekitar tiga ratus tahun setelah kematian Juruselamat kita.” (A Learned Treaties of the Sabbath, hal. 77). (Catatan: Istilah Hari Tuhan di atas dimaksudkan penulis itu adalah hari Minggu; dan bukan Hari Tuhan yang benar sebagaimana yang dinyatakan Alkitab bahwa itu sesungguhnya hari Sabatlah sebagai Hari Tuhan yang benar. Kutipan ini menunjukkan hari Minggu itu muncul di lingkungan orang Kristen abad mula-mula segera setelah kematian para Rasul. Ingatlah bahwa rasul Paulus telah menubuatkan bahwa “satu kemurtadan” besar dari kebenaran itu akan terjadi segera setelah kematiannya).

Untuk ringkasan sejarah kemurtadan mula-mula dari abad ketiga sampai abad kelima akan kita pelajari dalam artikel nubuatan yang selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here