pencemaran

[AkhirZaman.org] Rumah tangga adalah institusi ciptaan Allah, bukan pikiran manusia, melainkan karya besar Allah demi kebahagiaan manusia. Keluarga adalah perpaduan  suami-istri yang dipersatukan, dari dua menjadi satu daging, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24). Sementara tujuan berpacaran dan bertunangan, adalah untuk mendapatkan seorang istri atau seorang suami untuk hidup bersama selama berumah tangga. Istri hanya bisa satu dan suami hanya satu pula. Jadi, mereka yang mencoba mengambil pasangan lebih dari satu, ia kehilangan suami dan istri, ia hanya memperoleh laki-laki atau perempuan.

I Raja-raja 11:3 “Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.” Menerangkan bahwa Raja Salomo, seorang Raja yang tersohor di dunia ini pada zamannya, memiliki 700 istri dan 300 gundik. Dunia boleh saja menilai dia terpuji, terhormat dan bahagia. Tetapi Alkitab mencatat, “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.” (I Raja-raja 11:4,6). Siapakah sebenarnya istri Salomo? Tidak ada! Ia hanya memiliki 1000 wanita, sebab istri hanya boleh satu yang menjadi sepikir dengan dia. Malang bagi Salomo, para wanita itu menjerumuskan dia ke titik yang paling memprihatinkan, ia harus menyembah berhala di mana hal itu bertentangan dengan perasaannya.

  Zinah dalam Pernikahan

Allah amat menaruh perhatian dan sangat menentang perzinahan atau percabulan, sehingga dalam 10 hukum-Nya Ia menegaskan secara nyata 2 hukum tentang hal ini; Jangan Berzinah (Hukum ketujuh) dan Jangan Mengingini Istri Sesamamu (Hukum Kesepuluh).

Apabila perceraian adalah pembunuhan rumah tangga, maka percabulan, persundalan, perzinahan, dan bentuk lainya adalah pencemaran rumah tangga. Dan jikalau rumah tangga sebagai karunia Allah telah di cemari, maka Allah tidak perna berkenan atas perlakuan demikian. Alkitab menegaskan kepada suami-istri demikian: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” (I Korintus 6:18). “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4). Janganlah mencemari tempat tidur sendiri atau tempat tidur orang lain.

Tempat tidur adalah tempat yang suci dan tempat dimana kita memohon berkat. Di sana kita dilahirkan, tempat dimana kita membaringkan diri dengan tentram dan aman, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9). Ditempat yang sama juga kita diajari Tuhan melalui hati nurani kita, “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.” (Mazmur 16:7). Tempat iru pada pagi dan sore hari kita memanjatkan doa, tempat kita bergumul dengan Tuhan, tempat menderita dan sakit, tempat kenikmatan asmara suci antara suami-istri. Jangan sekali-kali mencemarinya oleh diri sendiri maupun orang lain yang tidak ada hak.

Oleh sebab itu: “Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain. Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu.” (Amsal 5:15-18). Air hidup suami istri yang rukun adalah dalam dan membual segar, karna ia mengalir dari batu yang hidup, yaitu Kristus. Sedangkan sumur yang kulah yang hancur karna zinah, air itu keruh hingga hilang keluar bahkan berhenti mengalir.

Hukuman Tidak Tertundah!

Janganlah perna berbuat jenis mesum apapun, pencemaran rumah tangga itu, walaupun anda merasa aman melakukan hal bodoh itu, “Oleh karna Tuhan telah menjadikan saksi antara engkau dan istri masa mudamu, yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu.”. Apabila Tuhan menjadi saksi, bagaimanapun tersembunyinya manusia melakukan kejahatan, tidak ada yang tersembunyi bagiNya, semua bagaikan buku yang terbuka yang terpampang dihadapanNya! Jikalau Allah adalah saksi, maka tidak akan ada yang salah dan seorangpun tidak akan dapat berdalih…..Sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4).  

Orang yang berbuat demikian akan terhina, dicemooh, tidak berakal budi, terperangkap, malu, harus membayar mahal hingga 7 kali lipat, merusak diri dan hukum tidak akan luput.” Janganlah menginginkan kecantikannya dalam hatimu, janganlah terpikat oleh bulu matanya. Karena bagi seorang sundal sepotong rotilah yang penting, tetapi isteri orang lain memburu nyawa yang berharga. Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya? Atau dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya? Demikian juga orang yang menghampiri isteri sesamanya; tiada seorang pun, yang menjamahnya, luput dari hukuman. Apakah seorang pencuri tidak akan dihina, apabila ia mencuri untuk memuaskan nafsunya karena lapar? Dan kalau ia tertangkap, haruslah ia membayar kembali tujuh kali lipat, segenap harta isi rumahnya harus diserahkan. Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan. Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam;” (Amsal 6:25-34). Dosa itu bagaikan, “Sampai anak panah menembus hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya terancam.”(Amsal 7:23).

Suami-istri adalah bagaikan dua lembar kertas yang di lem rapat menjadi satu. Tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan, dan jika dicoba akan robek. Setiap zinah dan bentuk percabulan akan menjadikan rumah tangga itu sebagai sobekan, dan kemanapun ia pergi, ia akan selalu membawa lembaran yang torso, kekotoran dan tekanan batin!

Setiap perbuatan demikian ia berdosa bagi dirinya, karna tubuhnya adalah kaabah Allah, “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (I korintus 6:18,19). Dan itu berkaitan langsung dengan balasan dan penghakiman Allah, “ Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (I Tesalonika 4:3-7). Karna orang yang sudah berani merusak, mencemarkan, membinasakan Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia, sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah adalah kamu, “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (I Korintus 3:17).

Biarlah setiap pasangan, suami-istri menghidupi firman ini; “Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.” (Kidung Agung 7:10). Dan “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” (Kidung Agung 2:16). Janganlah sekali-kali suami-istri menoleh dan meniru gaya hidup orang dunia ini, yang walaupun kelihatan halus, tetapi Allah menantangnya dan akan meminta pertanggung jawaban atas segala tindakan kita, seperti kata Paulus: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here