reforma-protestante Copy

Dalam artikel Nubuatan PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA (2), Luther bersama-sama dengan orang banyak yang pergi ke gereja, memakukan di pintu gereja selembar kertas yang berisi 95 dalil atau tesis yang menentang ajaran surat pengampunan dosa. Allah mempunyai pekerjaan yang akan dikerjakannya, dan malaikat-malaikat Allah telah dikirimkan untuk melindunginya.

[AkhirZaman.org] Pengajaran Luther menarik perhatian orang-orang cerdik pandai diseluruh Jerman. Dari khotbah-khotbahnya keluarlah sinar-sinar terang yang membangunkan dan menerangi beribu-ribu orang. Iman yang hidup menggantikan formalisme mati yang telah lama dianut gereja. Setiap hari orang-orang mulai tidak percaya lagi kepada ketakhyulan Roma. Hambatan prasangka mulai hilang. Firman Allah, oleh mana setiap doktrin dan tuntutan diuji oleh Luther, bagaikan pedang bermata dua, menembusi masuk kedalam hati orang-orang. Dimana-mana ada kebangunan kerinduan kepada suatu kemajuan kerohanian. Dimana-mana ada kelaparan dan kehausan kepada kebenaran yang belum pernah terjadi sebelumnya selama berabad-abad. Mata orang-orang yang begitu lama ditujukan kepada upacara-upacara manusia dan pengantara duniawi, sekarang dialihkan kepada pertobatan dan iman kepada Kristus yang disalibkan itu.

Perhatian orang-orang yang semakin meluas ini menimbulkan rasa takut lebih jauh pada penguasa kepausan. Luther dipanggil menghadap ke Roma, untuk menjawab tuduhan bida’ah. Perintah itu membuat teman-temannya sangat merasa takut. Mereka mengerti benar bahaya yang mengancamnya di kota yang bejat itu, yang telah mabuk dengan darah para syuhada Yesus. Mereka memprotes kepergiannya ke Roma, dan memohon agar pemeriksaannya dilakukan di Jerman saja.

Permohonan itu akhirnya disetujui, dan utusan paus dipilih untuk mendengar kasus itu. Dalam instruksi yang disampaikan paus kepada utusannya dikatakan bahwa Luther telah dinyatakan sebagai bida’ah. Oleh sebab itu utusan itu ditugaskan untuk “menuntut dan menahan Luther dengan segera.” Jikalau ia tetap bertahan dan utusan itu gagal untuk menguasainya, maka utusan itu diberi kuasa untuk “mengucilkan dan mengharamkan dia di seluruh bagian Jerman, dan menghapuskan, mengutuk dan mengucilkan semua orang yang berhubungan dengan dia.” Idem, b. 4, ch. 2. Lebih jauh paus memberi petunjuk kepada utusannya agar membasmi sampai ke akar-akarnya bala sampar bida’ah, dan mengucilkan semua pejabat gereja maupun pejabat negara kecuali kaisar, yang melalaikan penangkapan Luther dan pengikut-pengikutnya, dan menyerahkannya kepada pembalasan Roma.

Disinilah diperagakan roh kepausan yang sebenarnya. Sedikitpun tak terdapat prinsip Kekristenan, atau bahkan rasa keadilan di dalam seluruh instruksi itu. Luther berada jauh dari Roma. Dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan atau mempertahankan posisinya. Namun sebelum kasusya diperiksa ia telah dinyatakan seorang bida’ah, dan pada hari yang sama didorong, dituduh, dihakimi dan dihukum. Semua ini dilakukan oleh bapa kudus, satu-satunya penguasa tertinggi dan mutlak di dalam gereja maupun negara.

Pada waktu ini, pada saat Luther begitu membutuhkan simpati dan nasihat dari sahabat-sahabat sejatinya, pemeliharaan Allah mengirim Melanchthon ke Wittenberg. Meskipun masih muda, rendah hati dan bersahaja, dan masih kurang percaya pada diri sendiri, tetapi pertimbangannya yang baik dan pengetahuannya dan kemahirannya berbicara digabung dengan kesucian dan ketulusan tabiatnya, Melanchthon dikagumi dan dihargai kalangan luas. Kecemerlangan bakatnya sama menonjolnya dengan kelemah lembutan watak dan tabiatnya. Tidak lama kemudian ia menjadi murid Injil yang sungguh-sungguh dan sahabat Luther yang paling terpercaya. Kelemah lembutannya, keberhati-hatiannya dan ketepatannya menjadi pelengkap kepada keberanian dan kekuatan Luther. Perpaduan mereka dalam bekerja menambah kekuatan kepada Pembaharuan, dan menjadi sumber dorongan kuat bagi Luther.

Telah ditetapkan kota Augsburg menjadi tempat pemeriksaan pengadilan, dan sang Pembaharu berjalan kaki ke kota itu. Ketakutan yang serius memenuhi orang-orang oleh karenanya. Ancaman telah dilancarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman-temannya merintanginya agar jangan mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi dimana Allah telah menempatkannya. Ia harus terus mempertahankan kebenaran itu dengan setia, meskipun badai memukulnya. Inilah ucapannya, “Aku seperti nabi Yeremia, seorang yang penuh dengan pertikaian dan pertentangan. Tetapi semakin bertambah ancaman mereka, semakin bertambah pulalah sukacitaku. . . . Mereka telah menghancurkan kehormatanku dan reputasiku. Hanya satu perkara saja yang masih tinggal, ialah tubuhku yang hina ini. Biarlah mereka juga mengambilnya, dengan demikian mereka akan memperpendek hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat.” Idem, b. 4, ch. 4.

Berita mengenai tibanya Luther di Augsburg memberikan rasa puas kepada utusan paus. Orang bida’ah yang menyusahkan ini, yang telah membangkitkan perhatian seluruh dunia, tampaknya sekarang sudah berada dalam kekuasaan Roma, dan utusan paus itu telah menetapkan agar ia tidak boleh lolos. Sang Pembaharu itu tidak mempunyai surat jalan jaminan keselamatan. Sahabat-sahabatnya mendesak dia agar jangan menemui utusan paus itu tanpa surat jalan jaminan keselamatan. Dan mereka sendiri berusaha mendapatkannya dari kaisar. Utusan paus bermaksud untuk memaksa Luther, jika mungkin mundur dari keyakinannya, atau jika gagal dalam hal ini, meneruskannya ke Roma untuk mendapat nasib yang sama seperti Huss dan Jerome. Itulah sebabnya melalui agen-agennya ia berusaha mengajak Luther menghadap tanpa surat jalan jaminan keselamatan, dengan mempercayai belas kasihan utusan paus. Ajakan ini sama sekali ditolak oleh sang Pembaharu itu. Ia tidak akan menghadap utusan paus sebelum ia menerima dokumen yang menjanjikan kepadanya perlindungan kaisar.

Menurut kebijakan yang diambil, para penguasa Roma telah memutuskan untuk berusaha menundukkan Luther dengan tampak seolah-olah lembut. Utusan paus dalam wawancara dengannya menunjukkan seolah-olah sangat bersahabat. Tetapi ia mendesak agar secara implisit tunduk kepada kekuasaan gereja, dan mengalah tanpa argumentasi atau pertanyaan. Utusan paus itu belum memperhitungkan dengan benar tabiat orang yang dihadapinya. Sebagai jawaban, Luther menyatakan rasa hormatnya kepada gereja, kerinduannya kepada kebenaran, kesediaannya menjawab semua keberatan keberatan terhadap apa yang telah diajarkannya, dan menyerahkan ajarannya itu untuk dinilai oleh universitas- universitas terkemuka tertentu. Tetapi pada waktu yang sama ia memprotes sikap kardinal, utusan paus, yang meminta ia mundur tanpa membuktikan dia bersalah.

Respons satu-satunya ialah, “Mundur, mundur!” Pembaharu itu menunjukkan bahwa posisinya didukung oleh Alkitab, dan dengan tegas ia katakan bahwa tidak dapat menyangkal kebenaran itu. Utusan paus, yang tidak sanggup menjawab argumen-argumen Luther, menghujaninya dengan celaan, cemoohan, dan rayuan, yang diselingi dengan kutipan kutipan dari tradisi dan sebutan sebutan para pater tanpa memberi kesempatan kepada Pembaharu itu untuk berbicara. Setelah melihat bahwa konferensi itu akan berakhir dengan kegagalan jika diteruskan, akhirnya Luther mendapat izin yang terpaksa untuk memberikan jawabannya secara tertulis.

“Dengan berbuat demikian,” katanya dalam suratnya kepada seorang sahabatnya, “yang tertindas mendapat keuntungan ganda. Pertama, apa yang ditulis itu dapat diserahkan untuk dipertimbangkan oleh orang lain, dan yang kedua, seseorang mempunyai kesempatan untuk mengatasi rasa takut terhadap seseorang yang angkuh, pengocehan dan lalim, yang kalau tidak bisa dikalahkan dengan bahasa yang sombong dan meninggi.” Martyn, “The Life and Times of Luther,” pp. 271, 272.

Martin Luther  dhdpn ps CopyPada wawancara berikutnya, Luther menyatakan pandangannya dengan jelas, singkat dan berbobot, yang didukung sepenuhnya dengan kutipan-kutipan dari Alkitab. Setelah membacakan tulisannya dengan nyaring, Luther menyerahkannya kepada kardinal, utusan paus itu. Namun utusan paus menganggap rendah tulisan itu dan mengesampingkannya, dan mengatakan bahwa tulisan itu adalah kumpulan dari kata-kata yang tidak berguna dan kutipan-kutipan yang tidak relevan. Luther tersinggung, benar-benar bangkit dan menghadapi pejabat tinggi gereja, utusan paus yang nakal itu dengan dasarnya sendiri, tradisi dan ajaran-ajaran gereja dan berhasil mengalahkan asumsinya.

Bilamana kardinal, utusan paus, melihat bahwa pendapat Luther itu tidak bisa dijawab, ia sama sekali tidak dapat lagi mengendalikan dirinya, dan dengan geramnya ia berteriak, “Mundur! atau saya akan kirim engkau ke Roma, meghadap para hakim yang ditugaskan menangani masalahmu. Saya akan mengucilkan engkau dengan semua partisanmu, dan semua yang pada suatu waktu akan membantumu, dan akan mengusir mereka keluar dari gereja.” Dan akhirnya ia mengatakan dengan nada sombong dan marah, “Mundur, atau engkau tidak akan kembali lagi.” D’Aubigne, b. 4, ch. 8 (London ed.).

Sang Pembaharu dengan segera meninggalkan tempat itu bersama sahabat-sahabatnya. Dengan demikian menyatakan dengan jelas bahwa tidak akan mundur dari ajaran-ajarannya. Bukanlah ini yang dimaksudkan oleh kardinal. Ia telah menyombongkan diri bahwa dengan kekuasaan ia membuat Luther menyerah. Sekarang ia ditinggalkan bersama para pendukungnya, saling melihat satu sama lain dengan sangat kecewa melihat kegagalan yang tidak diharapkan sebelumnya.

Usaha-usaha Luther pada waktu ini bukannya tidak berhasil baik. Para hadirin di mahkamah itu berkesempatan membandingkan kedua orang itu, dan menilai roh yang dinyatakan kedua mereka, serta kekuatan dan kebenaran posisi mereka masing-masing. Sangat bertolak belakang! Pembaharu itu sederhana, rendah hati, teguh, berdiri dengan kekuatan Allah, kebenaran berada dipihaknya. Kardinal, utusan paus, merasa diri penting, bersifat menguasai, sombong, tidak bisa bermusyawarah, tanpa satu argumentasi dari Alkitab, namun dengan keras berteriak, “Mundur! atau dikirim ke Roma untuk dihukum.”

Meskipun Luther telah memperoleh surat jalan jaminan keselamatan, para penguasa Roma telah berkomplot untuk menangkapnya dan memenjarakannya. Sahabat-sahabatnya mengatakan kepada Luther bahwa tidak ada gunanya ia tinggal lebih lama di kota itu, ia harus segera kembali ke Wittenberg, dan ia harus sangat berhati-hati menyembunyikan maksudnya. Ia meninggalkan Augsburg sebelum fajar menyingsing dengan menunggang kuda, ditemani oleh seorang penunjuk jalan yang disediakan oleh pejabat kota. Dengan harap harap cemas, dengan diam diam ia menyusuri jalan jalan kota yang gelap dan sepi. Musuh-musuhnya, dengan berjaga jaga dan dengan kejam telah berkomplot untuk membinasakannya. Apakah ia bisa meloloskan diri dari perangkap yang dipasang baginya? Saat itu adalah saat yang menegangkan dan saat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka tiba di suatu gerbang di tembok kota. Gerbang itu terbuka baginya, dan bersama penunjuk jalannya melewatinya tanpa halangan. Setelah selamat tiba di luar kota, pelarian itu segera melanjutkan perjalanannya, dan sebelum utusan paus mengetahui kepergian Luther ia sudah jauh berada di luar jangkauan para penuduhnya. Setan bersama kaki tangannya telah dikalahkan. Orang yang mereka sangka sudah berada dalam kekuasaannya telah tiada, seperti burung lepas dari jerat pemburu.

Bagaimana kelanjutannya? ikuti dalam artikel selanjutnya PEMISAHAN DIRI LUTHER DARI ROMA (4)

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here