angrymom Copy

 

Gugup Bukanlah Alasan untuk Bersikap Tidak Sabar.
[AkhirZaman.org] Kadang-kadang orang tua mencari maaf atas tindakan mereka yang salah dengan mengatakan mereka merasa tidak nyaman. Mereka gugup dan berpikir bahwa tidak bisa bersikap sabar dan tenang dan berkata-kata dengan menyenangkan. Dalam hal ini mereka menipu diri mereka sendiri dan menyenangkan setan, yang bersuka-suka bahwa anugerah Allah tidak dianggap oleh mereka sebagai sesuatu yang mampu untuk mengalahkan segala kekurangan pada diri mereka. Mereka dapat dan harus senantiasa mengendalikan diri mereka sendiri. Allah menuntutnya dari mereka.

Kadang-kadang bilamana merasa letih oleh karena bekerja atau merasa tertekan oleh urusan hidup, orang tua tidak mempertahankan satu roh yang tenang, tetapi menunjukkan sikap yang kurang sabar yang tidak menyenangkan Allah dan mendatangkan awan gelap ke atas keluarga. Orangtua, bilamana engkau merasa jengkel, engkau tidak boleh melakukan satu dosa sehingga akan meracuni seluruh keluarga dengan kemarahan yang berbahaya ini. Pada waktu seperti itu engkau harus melipatgandakan kewaspadaanmu terhadap dirimu sendiri dan mengambil keputusan bahwa tidak sepatah katapun kecuali kata-kata yang menyenangkan dan menggembirakan akan terlontar dari bibirmu. Dengan mengendalikan dirimu seperti itu maka engkau akan menjadi lebih kuat. Susunan syarafmu tidak akan menjadi terlalu peka…. Yesus mengetahui segala kekurangan kita dan Ia sendiri telah ambil bagian dalam pengalaman kita di dalam segala perkara kecuali dalam dosa; oleh sebab itu Ia telah menyediakan bagi kita satu jalan yang cocok dengan kekuatan dan kesanggupan kita.

Kadang-kadang segala sesuatu di dalam lingkungan keluarga kelihatannya berjalan dengan tidak beres. Di mana-mana terjadi persungutan, dan semua orang kelihatannya sangat menderita dan tidak merasa bahagia. Orang tua mempersalahkan anak-anak mereka yang malang itu dan berpikir bahwa anak-anak ini tidak menurut dan tidak bisa diatur, anak-anak yang paling nakal di dunia ini, padahal yang menjadi sebab daripada segala gangguan itu adalah di dalam diri mereka sendiri (orang tua). Allah menuntut mereka untuk mengendalikan diri. Mereka harus menyadari bahwa bilamana mereka menyerah kepada ketidaksabaran dan kemarahan, mereka akan menyebabkan orang lain menderita. Orang-orang yang ada di sekeliling mereka dipengaruhi oleh roh yang mereka tunjukkan, dan jikalau selanjutnya orang-orang ini menunjukkan roh yang sama pula, maka persoalannya menjadi bertambah.

Kadang-kadang ada Kuasa dalam Berdiam Diri.
mengajari-anak-225x300 CopyMereka yang ingin mengendalikan orang lain harus lebih dulu mengendalikan diri mereka sendiri…. Bilamana orang tua atau guru menjadi tidak sabar dan berada dalam bahaya untuk berkata-kata dengan tidak bijaksana, maka biarlah ia berdiam diri. Ada satu kuasa yang ajaib dalam berdiam diri.

Berikan Sedikit Perintah, Kemudian Tuntut Penurutan.
Biarlah para ibu berhati-hati untuk tidak mengadakan tuntutan-tuntutan yang tidak perlu untuk menunjukkan wewenang mereka sendiri di hadapan orang lain. Berikan sedikit perintah, tetapi pastikan bahwa semuanya itu ditaati.

Jangan . . . di dalam mendisiplin anak anakmu membebaskan mereka dari apa yang engkau telah tuntut agar mereka lakukan. Jangan biarkan pikiranmu menjadi terlalu asyik dalam perkara-perkara lain sehingga menyebabkan engkau tidak waspada. Dan jangan menjadi jemu dalam kewaspadaanmu oleh karena anak-anakmu lupa dan melakukan apa yang engkau telah larang agar mereka jangan lakukan.

Di dalam segala perintahmu adakan tujuan untuk memperoleh kebajikan yang tertingi bagi anak-anakmu, dan kemudian pastikan bahwa segala perintah itu ditaati. Usaha dan keputusanmu tidak boleh menjadi goyah, namun demikian harus selalu tunduk kepada Roh Kristus.

Menghadapi Seorang Anak yang Lalai.
Apabila engkau meminta anakmu melakukan satu perkara tertentu, dan ia menjawab, “Ya, saya akan melakukannya,” dan kemudian lalai untuk memenuhi kata-katanya itu, maka engkau tidak boleh membiarkannya begitu saja. Engkau harus memanggil anakmu itu untuk mempertanggungjawabkan kelalaiannya ini. Jikalau engkau membiarkannya, maka engkau mendidik dia untuk menjadi biasa dalam kelalaian dan tidak setia. Allah telah memberikan kepada setiap anak satu tugas sebagai penatalayanan. Anak-anak harus menurut kepada orang tua mereka. Mereka harus menolong memikul beban dan tanggung jawab rumah tangga; dan bilamana mereka lalai melaksanakan tugas yang telah ditetapkan bagi mereka, maka mereka harus dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya dan menuntutnya untuk melakukan hal itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here