718411 46260758 Copy

 

[AkhirZaman.org] Kemampuan dan kebebasan manusia dalam memilih untuk bertindak melawan Tuhan, menjelaskan tentang Pertentangan Besar, kejatuhan Israel, kemungkinan manusia mengecewakan “kasih karunia Tuhan.” “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Galatia 2:21). Kendati kedengaran begitu saleh kalau kita menolak ajaran tentang penundaan kedatangan Kristus, berdasarkan gagasan yang menempatkan manusia begitu penting, kita juga dapat menolak arti pentingnya pekabaran Injil atas dasar yang sama.

Apakah kita benar-benar merasakan bahwa sangat penting untuk mengabarkan tentang Injil kepada semua orang? Betapa kita bisa bangga memikirkan bahwa manusia dapat selamat atau hilang atas dasar apakah kita setia berbagi tentang Yesus dengan mereka atau tidak? Betapa egoisnya kita mengira bahwa tindakan kita tidak akan berakibat pada nasib kekal seseorang! Tentu saja mereka bisa dan ini adalah kesaksian dari kasih Tuhan kita yang indah dan kasih karunia Tuhan, sehingga Ia bukan saja memanggil manusia untuk melaksanakan tanggung jawab misi tersebut, melainkan juga melalui kuasaNya memungkinkan manusia menjadi sesuai untuk pekerjaan tersebut. Sesungguhnya, itu adalah kerjasama yang sama untuk menyampaikan Injil di dalam kuasa istimewa dari hujan akhir dan seruan nyaring, yaitu untuk membawa dunia kepada keputusan akhir dan membuka kepada penutupan pintu kasihan. Bahwa kita secara pribadi dapat mempengaruhi nasib kekal jiwa-jiwa adalah bukti nyata bahwa kegagalan umum dalam umat Tuhan untuk secara lembaga menggunakan berkat-berkat dari hujan akhir dapat dan benar-benar memberi akibat pada keputusan akhir manusia, di pihak Kristus atau melawan Kristus.

Apakah mungkin bahwa alasan yang sesungguhnya mengapa kebenaran ini ditolak terletak pada keinginan manusia untuk mencari-cari alasan untuk melawan Roh Kudus? Menolak akibat dari tindakan kita sendiri yang telah menghalangi penyelesaian hal-hal tersebut yang dikehendaki Tuhan agar terjadi di masa hidup kita adalah sama artinya dengan menolak tanggung jawab kita sebagai manusia. Peristiwa penyaliban menyatakan bahwa semua orang harus bertanggung jawab atas kematian Anak Allah di Kalvari. Pengumuman tentang kenyataan ini kepada orang Yahudi dan pimpinan mereka adalah yang menjadikan pekabaran setelah Pentakosta dipandang sebagai serangan.

Peristiwa penyaliban adalah berlaku sekarang ini, namun peristiwa sejarahnya di mana kita menyatakan roh yang sama sebagaimana orang Yahudi adalah berbeda. Akan tetapi, ini tampak nyata dalam sejarah 1888. Sebagai akibatnya, saya akan memprotes bahwa penyampaian tanggung jawab kita dalam menunda kedatangan Tuhan melalui ketidakpercayaan kita yang berdosa, yang dianggap akan merendahkan hati kita, karena dosa-dosa besar kita, khususnya ketika kita menyadari masing-masing saat-saat ketika kita telah menghirup roh penolakan terhadap terang dari para pendahulu kita, berdiri dalam ketidakpercayaan kepada pekabaran kebenaran dari Tuhan dan gagal untuk menghidupkan terang dengan tetap tinggal di dalam Kristus melalui iman.

menunggu CopyKita tidak ditentukan sebelumnya untuk menjadi selamat atau sesat. Kebenaran dari sejarah kita membuktikan bahwa ajaran tentang keselamatan Arminianisme, yang meletakkan tanggung jawab di pundak manusia (karena ia memiliki kesempatan, melalui kasih karunia untuk memilih untuk bekerja sama dengan kehendak Tuhan atau tidak) tidak masuk akal. Menolak akan kuasa memilih secara lembaga untuk bekerja sama atau memberontak melawan rencana Tuhan bagi kita, adalah sama artinya dengan menolak dasar-dasar ajaran kita. Jikalau kita tergoda untuk menjadi bangga, karena kita telah menggunakan kebebasan kita secara sangat buruk, itu pasti karena kita tidak mengerti betapa besarnya dosa kita. Adalah menggelikan jika kita berbangga akan sesuatu yang begitu memalukan.

Menyimpang dari kesadaran secara lembaga akan tempat kita yang jelas di dalam sejarah nubuatan adalah sama dengan menolak kedatangan Kristus. Pekabaran Laodikea menggambarkan keadaan kita, bukan saja sebagai pribadi-pribadi sebagaimana banyak orang ingin menyatakannya demikian sekarang ini, melainkan khususnya dan terutama sebagai suatu umat.

Menarik namun mengejutkan ketika kita mengetahui bahwa orang-orang Advent telah begitu menjauh dari keyakinan yang pernah mereka pegang. Di tahun 1973 dan 1974, suatu kesadaran yang baru dimasukkan dari penekanan terhadap hal-hal ini oleh Elder Robert H. Pierson. Dalam sautu pertemuan tahunan diputuskan dua seruan pertobatan yang kuat, kebangunan rohani dan reformasi.

Dalam seruan-seruan tersebut, juga diumumkan secara jelas bahwa perlawanan kita telah menyebabkan penundaan akan kedatangan Tuhan kita. Akan tetapi, sekarang ini, pernyataan akan kebenaran-kebenaran ini semakin lama semakin berkurang. Kendati demikian, Tuhan masih memiliki saksi-saksi yang setia, yang membawa kesaksian langsung dari kebenaran ini.

Tabiat kita, secara umum telah merosot, sebagai suatu umat: kesalehan kita, lemah dan kerdil. Tidakkah tampak jelas bahwa ajaran-ajaran dan pengalaman kita tentang pembenaran oleh iman membiarkan orang-orang dalam belenggu dosa dan pemberontakan? Kita mengira bahwa dengan kurang memberi tekanan pada hukum telah memberi kita lebih banyak kebebasan dari belenggu penderitaan, namun pada kenyataannya kita harus menyadari bahwa kegagalan kita untuk percaya pada pekabaran yang seimbang tentang pembenaran oleh iman telah menjadi sumber dari kesengsaraan dan penderitaan yang tak terkira, bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi anak-anak kita, dan bagi semua orang yang seharusnya telah tertolong jikalau saja kita telah menaati suara Tuhan.

Penolakan akan jurukabar-jurukabar dan pekabaran seperti yang terjadi pada tahun 1888 itu akan menggiring kepada suatu keadaan di dalam gereja, yang tidak akan dapat kita bayangkan. Tidak heran jika nubuatan ini telah digenapi. Kita benar-benar telah “menempuh perjalanan yang panjang,” dan semasih kita berkeinginan untuk menolak bukti dari ketidakpercayaan kita akan kebenaran, kita bahkan akan memperoleh lebih banyak buah dari perbuatan kita.

“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Amsal 28:13).

Sebagaimana dikhotbahkan di dalam Kisah Para Rasul, demikianlah juga berlaku bagi kita saat ini, kita telah melakukan hal-hal ini dalam ketidakpedulian kita, tanpa mengetahui sepenuhnya apa yang telah kita perbuat, namun “sekarang Tuhan memanggil semua orang, di mana saja, untuk bertobat.” Tuhan mungkin memaafkan ketidaktahuan kita di masa lalu, akan keadaan kita dan akan dosa-dosa para pendahulu kita yang kita ulang-ulangi, namun Tuhan tidak akan menerima alasan bagi kita untuk tetap tinggal di dalam kegelapan. Kabar baiknya adalah bahwa jikalau kita mengakui pekerjaan Roh Kudus yang mempertobatkan kita, maka masih ada kesempatan untuk bertobat. Pasti, inilah saatnya yang tepat bahwa orang-orang Advent mengizinkan kemuliaannya terhampar dalam debu, menerima kebenaran dari sejarah kita, dan bertobat dari kekejaman kita melawan Tuhan Yesus Kristus.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here