c07_17397027_Copy

[AkhirZaman.org] Dengan Kurangnya Kesalehan di Dalam Rumah Tangga. Di dalam rumah tangga orang‑orang yang mengaku diri Kristen, dimana orang tua seharusnya menjadi pelajar Alkitab yang tekun, agar supaya mereka dapat mengetahui setiap perintah dan larangan di dalam Firman Tuhan, terdapat adanya kelalaian yang nyata untuk mengikuti petunjuk dari Firman itu dan untuk membesarkan anak‑anak mereka di dalam pendidikan dan nasihat Tuhan. Orang tua yang mengaku diri Kristen gagal menghidupkan kesalehan di dalam rumah tangga. Bagaimanakah para bapa dan ibu dapat menunjukkan tabiat Kristus di dalam rumah tangga bilamana mereka puas untuk mencapai ukuran yang murah dan rendah? Meterai Tuhan yang hidup akan dikenakan hanya kepada mereka yang tabiatnya menyerupai tabiat Kristus.1

Dengan Memanjakan atau dengan Tangan Besi. Anak‑anak sering di manjakan sejak masa bayi mereka, dan kebiasaan yang salah menjadi kokoh. Orang tua telah membengkokkan tanaman yang muda itu. Oleh cara pendidikan mereka tabiat itu berkembang menjadi rusak atau menjadi simetris dan indah. Tetapi sementara banyak orang bersalah dalam hal memanjakan, yang lain pergi kepada suatu sikap keterlaluan yang lain dan memerintah anak‑anak mereka dengan sebuah tongkat besi. Kedua cara ini tidak sesuai dengan petunjuk Alkitab, semuanya itu sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang menakutkan. Mereka sedang membentuk pikiran anak‑anak mereka dan harus memberikan pertanggungan jawab pada hari Tuhan atas cara di dalam mana mereka telah melakukan hal ini. Masa kekekalan itu akan menyatakan akibat‑akibat pekerjaan yang telah dilakukan dalam hidup yang sekarang ini.2

Karena Kegagalan dalam Mendidik bagi Tuhan. Dengan gagalnya mendidik anak‑anak mereka untuk memelihara jalan Tuhan, untuk melakukan perkara­perkara yang telah diperintahkan‑Nya, orang tua sedang melalaikan satu tugas yang khidmat.3

Beberapa orang anak telah dibiarkan berbuat sesuka hatinya; yang lain selalu dicari‑cari kesalahannya dan menjadi kecewa oleh karenanya. Tetapi sedikit saja kesenangan serta kesukaan, dan kata‑kata pujian diberikan kepada mereka.4

Oh, andaikata para ibu bekerja dengan kebijaksanaan, dengan ketenangan dan tekad, untuk mendidik dan mengalahkan sifat‑sifat yang duniawi yang ada di dalam diri anak‑anak mereka, betapa banyaknya dosa yang telah dimusnahkan pada waktu itu masih dalam taraf kuncupnya, dan betapa banyaknya ujian‑ujian dalam sidang yang bisa dihindarkan!: . . Banyak jiwa akan hilang untuk selama‑lamanya oleh karena kelalaian orang tua untuk mendisiplin anak‑anak mereka dengan sepatutnya, dan mengajar mereka supaya takluk kepada yang berwenang dalam masa muda  mereka. Membiarkan kesalahan dan mendiamkan sifat memberontak bukanlah meletakkan kapak pada akar kejahatan, tetapi terbukti menjadi kehancuran bagi ribuan jiwa. Oh, bagaimana orang tua akan memberi jawab kepada Tuhan atas kelalaian dalam melaksanakan tugas mereka.5

Dengan Kelalaian yang Meremehkan Dosa. Anak‑anak membutuhkan pengawasan dan bimbingan yang saksama seperti yang belum pernah diberikan sebelumnya, oleh karena setan sedang berusaha menguasai pikir dan hati mereka dan mengusir Roh Tuhan. Keadaan yang mengerikan dari anak‑anak muda dewasa ini adalah merupakan salah satu tanda yang paling nyata bahwa kita sedang hidup dalam zaman yang terakhir, tetapi kebinasaan banyak orang secara langsung disebabkan oleh karena kepemimpinan yang salah dari orang tua. Roh persungutan terhadap teguran telah berurat berakar dan menghasilkan buah‑buah pemberontakan. Sementara orang tua tidak merasa senang dengan tabiat itu anak‑anak mereka berkembang mereka gagal melihat kesalahan‑kesalahan yang telah menjadikan mereka sebagaimana adanya….Tuhan menghukum kelalaian yang meremehkan dosa dan kejahatan,  dan ketidakpekaan yang lambat untuk mengetahui kehadirannya yang merusak di dalam keluarga orang‑orang yang mengaku Kristen.6

Karena Kurangnya Pengekangan. Oleh karena mereka tidak mengekang dan membimbing anak‑anak mereka dengan sepatutnya, ribuan orang telah dibesarkan dengan tabiat yang rusak, dengan akhlak yang merosot, dan dengan sedikit pendidikan dalam tugas‑tugas yang praktis dalam hidup. Mereka dibiarkan berbuat menurut dorongan hati mereka, waktu mereka dan kuasa mental mereka. Kerugian bagi pekerjaan Tuhan dalam bakat‑bakat yang diabaikan ini ada di hadapan bapa‑bapa dan ibu‑ibu; dan dalih apakah yang akan mereka berikan kepada Dia yang untuknya mereka menjadi sebagai penatalayan, yang diberi tugas yang suci untuk melayakkan jiwa‑jiwa yang ada di bawah asuhan mereka untuk memperkembangkan segala kesanggupan mereka bagi kemuliaan Khalik mereka?7

Orang tua itu menyangka bahwa mereka mengasihi anak‑anak mereka, tetapi ternyata mereka adalah musuh yang paling jahat dari anak‑anak mereka itu. Mereka telah membiarkan dosa merajaleIa. Mereka telah membiarkan anak‑anak mereka memanjakan dosa, yang sama halnya dengan memanjakan dan memelihara seekor ular yang berbisa, yang bukan saja akan mematuk korban yang telah memanjakannya itu, tetapi juga semua orang temannya bergaul.8

Dengan Mengabaikan Kesalahan‑kesalahan yang Menyolok. Gantinya bersatu dengan mereka yang memikul beban, untuk mengangkat tinggi ukuran moral, dan bekerja dengan hati dan jiwa dalam takut akan Tuhan untuk memperbaiki kesalahan‑kesalahan yang ada di dalam diri anak‑anak mereka, banyak orang tua meredakan angan‑angan hati mereka dengan berkata, “Anak‑anakku tidaklah lebih jahat daripada anak‑anak lainnya.” Mereka berusaha menyembunyikan kesalahan yang menyolok yang dibenci Tuhan, agar anak mereka jangan merasa tersinggung dan mengambil jalan yang mengerikan. Jikalau roh pemberontakan ada di dalam hati mereka, lebih baik mengalahkannya sekarang daripada membiarkannya bertambah‑tambah dan dikuatkan dengan cara memanjakannya. Jikalau orang tua mau melaksanakan tugas mereka, rnaka kita akan menyaksikan suatu keadaan yang berbeda. Banyak dari antara orang tua ini yang telah undur dari Tuhan. Mereka tidak mempunyai kebijaksanaan dari Dia untuk melihat rencana‑rencana setan dan melawan segala jeratnya.9

Dengan Memanjakan Anak‑anak. Orang tua sering memanjakan anak‑anak mereka yang masih kecil oleh karena kelihatannya lebih mudah untuk mengatur mereka dengan cara seperti itu. Pekerjaan yang lebih ringanlah membiarkan mereka mengikuti jalan mereka sendiri daripada mengekang kecenderungan‑kecenderungan yang sukar dikendalikan yang berkobar‑kobar dalam dada mereka. Tetapi tindakan seperti ini adalah pengecut. Suatu perbuatan yang jahat untuk menghindari tanggung jawab dengan seperti itu; oleh karena waktunya akan datang bilamana anak‑anak ini yang kecenderungan‑kecenderungannya yang tidak dicegah itu telah berubah menjadi perbuatan‑perbuatan jahat, akan mendatangkan malu dan cela kepada diri mereka sendiri dan kepada keluarga mereka. Mereka terjun ke dalam kehidupan yang sibuk tanpa persiapan untuk menghadapi segala penggodaan, tidak cukup kuat untuk bertahan terhadap segala kesulitan dan persoalan; dengan penuh nafsu, congkak, dan tidak berdisiplin,  mereka berusaha memaksa orang lain untuk menuruti kemauannya, dan, bilamana gagal dalam hal ini, mereka menganggap diri mereka telah diperlakukan dengan tidak baik oleh dunia, dan berpaling untuk melawannya.10

Oleh Menabur Benih Kesia‑siaan. Ke mana saja kita pergi, kita menyaksikan anak‑anak dimanjakan dan dipuji‑puji dengan cara yang tidak bijaksana. Hal ini cenderung untuk menjadikan mereka berani, sia‑sia dan sombong. Benih kesia‑siaan dengan mudah bisa ditaburkan di dalam hati manusia oleh para orang tua dan wali yang tidak bijaksana, yang memuji‑muji serta memanjakan anak‑anak yang berada di bawah asuhannya, dengan tidak memikirkan masa depan. Kemauan diri sendiri dan kesombongan” adalah hal‑hal yang jahat yang telah mengubahkan malaikat‑malaikat menjadi iblis dan menutup gerbang sorga dari mereka. Namun demikian, dengan secara tidak sadar, orang tua secara sistimatis mendidik anak‑anak mereka untuk menjadi alat‑alat setan.11

Dengan Menjadi Budak kepada Anak‑anak Belasan Tahun. Betapa banyaknya orang tua yang memikul beban dan bekerja keras yang sudah menjadi budak‑budak kepada anak‑anak mereka, sementara, sesuai dengan pendidikan dan latihan mereka sendiri, anak‑anak itu hidup menyenangkan dan memuliakan diri mereka sendiri. Orang tua menaburkan benih di dalam hati anak‑anak mereka yang menghasilkan suatu panen yang mereka tidak mau menghiraukan penuaiannya. Di bawah pendidikan seperti ini, pada usia sepuluh, dua belas atau enam belas, anak itu merasa dirinya bijaksana, menyangka bahwa dirinya luar biasa, dan menganggap dirinya terlalu pandai untuk menyerah kepada orang tua mereka, dan terlalu agung untuk mengerjakan tugas sehari‑han. Kesenangan akan kepelesiran menguasai pikiran mereka; dan sifat mementingkan diri, kesombongan dan pemberontakan menghasilkan akibat‑akibat yang getir di dalam hidup mereka. Mereka menerima bujukan setan dan memperkembangkan keinginan besar yang tidak disucikan untuk mengadakan pertunjukan yang besar di dalam dunia ini.12

Oleh Kasih dan Simpati yang Salah. Orang tua dapat mengobral rasa kasihan mereka terhadap anak‑anak mereka dengan mengorbankan penurutan kepada hukum Tuhan. Dituntun oleh rasa kasihan seperti ini, mereka tidak menurut kepada Tuhan dengan membiarkan anak‑anak mereka mengikuti dorongan hati mereka sendiri yang salah itu, dan menahankan pengajaran dan disiplin yang telah diperintahkan Tuhan agar mereka berikan. Bilamana orang tua melanggar perintah Tuhan dengan cara demikian, mereka sedang membahayakan jiwa mereka sendiri dan jiwa anak‑anak mereka.l3

Kelemahan dalam menuntut penurutan, dan kasih serta simpati yang palsu—pendapat yang salah bahwa memanjakan dan tidak mengekang adalah kebijaksanaan—merupakan suatu sistim pendidikan yang mendukacitakan malaikat‑malaikat; tetapi itu menyukakan hati setan, oleh karena hal itu telah memimpin ratusan dan ribuan anak‑anak untuk berdiri di pihaknya.  Itulah sebabnya mengapa ia membutakan mata orang tua, merusak kepekaan mereka, dan membingungkan pikiran mereka. Mereka melihat bahwa anak­anak lelaki dan perempuan mereka tidak menyenangkan, manis budi, penurut dan bertanggung jawab; namun demikian anak‑anak hidup di dalam rumah mereka, meracuni hidup mereka, memenuhi hati mereka dengan kesedihan, dan menambah kepada golongan orang yang sedang digunakan setan untuk menyesatkan jiwa‑jiwa kepada kebinasaan.14

Dengan Kegagalan untuk Menuntut Penurutan. Jikalau anak‑anak yang tidak tahu berterima kasih itu diberi makan dan pakaian dan dibiarkan tanpa teguran, maka mereka akan menjadi lebih berani di dalam perbuatan jahat mereka. Dan oleh karena orang tua dan wali mereka menyukai mereka dan tidak menuntut penurutan, maka merekapun mengambil bagian dalam perbuatan jahat anak‑anak mereka itu. Anak‑anak seperti itu lebih baik tinggal bersama‑sama dengan orang jahat, yang perbuatan jahatnya telah mereka pilih, daripada tinggal di dalam rumah tangga Kristen, dan meracuni orang lain. Di dalam zaman yang penuh dengan kejahatan ini setiap orang Kristen harus berdiri teguh dalam menghukum kejahatan dan tindakan‑tindakan yang bersifat iblis dari anak‑anak yang tersesat itu. Orang muda yang jahat janganlah diperlakukan seperti orang‑orang yang manis budi dan penurut, tetapi sebagai pengganggu ketenangan dan perusak sahabat‑sahabat mereka.15

Dengan Membiarkan Anak‑anak Mengikuti Pikiran Mereka Sendiri. Pengaruh yang merajalela di dalam masyarakat adalah sikap untuk membiarkan anak‑anak muda mengikuti dorongan alamiah dari pikiran mereka sendiri.16

Mereka (orangtua) beranggapan bahwa dengan memuaskan keinginan anak‑anak mereka dan membiarkan mereka mengikuti kecenderungan mereka sendiri, maka mereka akan dapat memperoleh kasih anak‑anak itu. Betapa suatu kesalahan! Anak‑anak yang dimanjakan dengan cara demikian akan bertumbuh dengan tidak terkendalikan dalam keinginan mereka, tidak taat dalam pembawaan mereka, mementingkan diri, banyak tuntutannya, dan sombong, satu laknat kepada diri mereka sendiri dan kepada semua orang yang ada di sekelilingnya.17

Dengan Membiarkan Sikap‑sikap yang Salah. Pelajaran‑pelajaran pada masa kanak‑kanak, baik atau jahat, tidaklah dipelajari dengan sia‑sia. Tabiat diperkembangkan pada masa muda untuk yang baik atau yang jahat, Di dalam rumah tangga boleh jadi ada sanjungan dan pujian‑pujian palsu; di dalam dunia masing‑masing berdiri di atas jasanya sendiri. Anak‑anak yang dimanjakan ini, yang kepadanya segenap wewenang rumah tangga telah menyerah, di sana setiap hari menderita malu oleh karena harus tunduk kepada orang lain. Pada waktu itu banyak yang diajar oleh pelajaran‑pelajaran hidup yang praktis tentang tempat mereka yang sebenarnya. Melalui penderitaan, kekecewaan, dan kata‑kata yang pedas dari atasan mereka, sering mereka menemukan taraf mereka yang sebenarnya dan dipaksa untuk memahami serta menerima tempat mereka yang sepatutnya. Tetapi hal ini adalah suatu ujian yang kejam dan tidak perlu dihadapi oleh mereka dan dapat dihindarkan melalui pendidikan yang sepatutnya pada masa muda mereka.

Kebanyakan anak‑anak yang tidak berdisiplin ini menempuh hidup mereka disertai pertentangan‑pertentangan dengan dunia, sambil menderita satu kegagalan dimana sebenarnya mereka bisa berhasil. Mereka merasa bahwa dunia ini benci terhadap mereka oleh karena dunia tidak memuji‑muji dan mengelus‑elus mereka, dan merekapun mengadakan pembalasan dengan menunjukkan sikap benci terhadap dunia ini dan menentangnya. Keadaan kadang‑kadang memaksa mereka berpura‑pura rendah hati; tetapi hal ini tidak memberikan kepada mereka satu sifat yang sebenarnya, dan lambat atau cepat pasti tabiat mereka akan menjadi nyata…. Mengapa orang tua mendidik mereka dengan cara demikian sehingga rnereka akan berlawanan dengan orang‑orang yang dengannya mereka bergaul?18

Dengan Mendidik Mereka untuk Menjadi Abdi Masyarakat. Anak‑anak jangan dididik untuk menjadi abdi masyarakat. Mereka jangan dikorbankan kepada dewa Molokh, tetapi harus menjadi anggota keluarga Tuhan. Orang tua harus dipenuhi oleh belas kasihan Kristus, agar mereka dapat bekerja untuk keselamatan jiwa‑jiwa yang ditempatkan di bawah pengaruh mereka. Mereka tidak boleh membuat pikiran mereka asyik dengan mode‑mode dan kebiasaan‑kebiasaan dunia. Mereka tidak boleh mendidik anak‑anak mereka untuk menghadiri pesta‑pesta, konser dan dansa‑dansi, untuk mengadakan dan menghadiri pesta pora, oleh karena sesuai dengan cara inilah orang kafir hidup.l9

Dengan Membiarkan untuk Mencari Kebahagiaan yang Mementingkan Diri. Banyak orang muda yang sebenarnya dapat menjadi berkat bagi masyarakat dan suatu kehormatan kepada pekerjaan Tuhan jikalau saja mereka telah memulai hidup ini dengan ide‑ide yang benar tentang apa sebenarnya sukses itu. Tetapi gantinya dikendalikan oleh pertimbangan dan prinsip, mereka telah dididik supaya menyerah kepada kecenderungan yang menyeleweng, dan hanya berusaha untuk memuaskan diri mereka dengan memanjakan diri dalam kepelesiran yang mementingkan diri, sambil berpikir bahwa dengan cara demikian mereka akan memperoleh kebahagiaan. Tetapi mereka gagal mencapai tujuan mereka itu, oleh karena mencari kebahagiaan dengan menempuh jalan yang mementingkan diri hanya akan mendatangkan penderitaan. Mereka tidak berguna di dalam masyarakat, tidak berguna di dalam pekerjaan Tuhan. Pengharapan mereka baik untuk dunia ini dan juga dunia yang berikutnya amat tidak menentu, oleh karena dengan menyukai kepelesiran yang mementingkan diri sendiri mereka kehilangan dunia ini dan juga dunia yang akan datang.20

Jikalau Orang Tua Menurut Tuhan. Tuhan tidak akan membenarkan pemerintahan yang salah dari orang tua. Dewasa ini ratusan anak‑anak menggabungkan diri ke pihak musuh, sambil hidup dan bekerja terpisah dari maksud Tuhan. Mereka tidak menurut, tidak berterima kasih, tidak suci; tetapi dosa itu berada di hadapan orang tua mereka. Orang tua Kristen, ribuan anak sedang binasa di dalam dosa mereka oleh karena kegagalan orang tua mereka dalam memerintah rumah tangga mereka dengan bijaksana. Jikalau orang tua taat kepada Pemimpin bala tentara Israel yang tidak kelihatan itu, yang kemuliaan‑Nya terselubung di dalam tiang awan, keadaan yang tidak membahagiakan yang ada di dalam begitu banyak rumah tangga dewasa ini tidak akan terlihat.22

Anak-anak Ditangan Orang Tua. Para orang tua yang salah sedang mengajarkan kepada anak‑anak mereka pelajaran‑pelajaran yang terbukti akan merusak mereka, dan juga sedang menanam duri bagi kaki mereka sendiri…. Sampai sedemikian jauh, orang tua memegang di dalam tangan mereka kebahagiaan masa depan anak‑anak mereka. Di atas bahu mereka terletak pekerjaan yang penting untuk membentuk tabiat anak‑anak ini. Segala petunjuk yang diberikan pada masa kanak‑kanak akan mengikuti mereka seumur hidup mereka. Orang tua menaburkan benih yang akan bersemi dan menghasilkan buah yang baik atau yang jahat. Mereka dapat memperlengkapi anak‑anak lelaki dan anak‑anak perempuan mereka untuk kebahagiaan atau penderitaan.23

Oleh Ellen White

Rujukan:

1. Review and Herald, 21 Mei 1895.

2. Idem, Jilid 4, hal. 368, 369.

3. Naskah 12, 1898.

4. Naskah 34, 1893

5. Testimonies for the Church, Jilid 1, hal. 92. 93.

6. Idem, hal. 199, 200.

7. Idem, Jilid 5, hal. 326.

8. Fundamentals of Christian Education, hal. 52, 53.

9. Testimonies for the Church, Jilid 4, hal. 650, 651.

10. Idem, hal. 201.

11. Pacific Health Journal, Januari 1890.

12. Youth’s Instructor, 20 Juli 1893.

13. Review and Herald, 6 April 1897.

14. Testimonies for the Church, Jilid 5, hal. 324.

15. Naskah 119, 1901.

16. Messages to Young People, hal. 373.

17. Testimonies for the Church, Jilid 1, 393.

18. Idem, Jilid 4, hal. 201, 202.

19. Review and Herald, 13 Maret 1894.

20. Youth’s Instructor, 20 Juli‑ 1893.

22. Review and Herald, 6 Jum 1899.

23. Testimonies for the Church, Jilid 1, hal. 393.

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here