Happy-couple Copy

 

[AkhirZaman.org] Pernikahan adalah awal dari sebuah kehidupan yang baru, bukan akhir dari segalanya. Pernikahan adalah awal dari suatu bentuk kehidupan rumah tangga baru yang saling terikat, dimana ada hak dan kewajiban yang harus di penuhi oleh keduanya, bukan akhir dari seluruh perjalanan cinta anda. Setujukah anda dengan pemahaman ini? Tak jarang banyak pria dan wanita yang terjebak dalam pengertian ini, mereka tidak mengerti makna pernikahan tersebut, sehingga telah melakukan “satu kesalahan fatal” oleh karena telah menikah dengan seorang pasangan hidup yang tidak percaya kepada Tuhan.

Alasan yang paling sering dipakai oleh banyak orang untuk mengakhiri rumah tangga mereka adalah “Ketidakcocokan.” Mereka telah berjalan menurut jalannya masing-masing, menjadi egois, tidak bersedia untuk menerima kelemahan dan saling mengampuni satu sama lain, ada banyak alasan yang bermunculan, sehingga perceraian adalah jalan pintas yang mereka ambil untuk menyelesaikan masalah. Tetapi ternyata pada kenyataannya perceraian itu tidak benar-benar menyelesaikan masalah, justru membuat anda bermasalah. Benarkah perceraian adalah jalan yang terbaik bagi rumah tangga anda?

Perceraian seperti bayang-bayang gelap yang menghantui setiap rumah tangga pada jaman ini, sehingga menjadi suatu “beban” yang harus dipikul seumur hidup oleh masing-masing mereka yang bercerai. Bukan hanya orang lain yang diluar sana, tetapi bahkan sampai kepada umat-umat Tuhan sekalipun, perceraian bisa saja terjadi.

Jika benar anda pada saat ini merasa bahwa anda telah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan pasangan hidup anda, apakah itu berarti anda harus benar-benar yakin bahwa bercerai adalah solusi tepat masalah anda? Perceraian membawa dampak yang sangat buruk bagi anda, pasangan anda, anak-anak, bahkan kedua orang tua dan seluruh keluarga besar merasa tersakiti, oleh sebab itu jika saja mungkin untuk bisa diperbaiki mengapa tidak?

Berikut ini ada bebarapa nasehat khusus bagi para istri, (tidak bermaksud untuk menghakimi anda tetapi mungkin dapat memotivasi anda sebagai seorang istri) mari kita dengan lebih bijaksana untuk mendengar nasehat Firman Tuhan dan dengan rendah hati untuk menerima setiap ajaran dan didikan Tuhan. Lebih baik lagi jika anda menyimaknya bersama-sama dengan suami anda, siapa tahu dapat memperbaiki kualitas hubungan pernikahan anda.

1.    Jangan Ada Pikiran Untuk Bercerai.

Ditinjau dari sudut  pandang hukum-hukum Tuhan, jika sang istri adalah seorang yang tidak seiman dengan suami dan bersifat menentang, suaminya yang beriman tidak boleh menceraikannya hanya berdasarkan hal tersebut sebagai alasan. Supaya sesuai dengan hukum Tuhan, suami yang beriman harus tetap hidup bersama istrinya yang tidak seiman itu kecuali sang istri memilih untuk meninggalkan suaminya.–Letter 8, 1888.

2.    Kewajiban Seorang Istri Kristen.

Anda harus memahami ada sebuah tugas yang sangat suci untuk dipercayakan kepada anda, sesuatu yang datangnya dari Allah;

“Tuhan mempunyai suatu pekerjaan untuk engkau lakukan; itu bukan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum tetapi sesuatu yang sangat penting, suatu pekerjaan di dalam rumah tanggamu sendiri yaitu supaya engkau ‘setia memelihara kedudukanmu sebagai istri dan sebagai ibu.’ Tidak ada orang lain yang dapat melaksanakannya bagimu. Itu adalah tugasmu sendiri.”

Roh Kudus dan firman Allah mengatakan demikian. Mengingat hal ini, mari kita membaca apa yang diilhamkan Yesus kepada Paulus untuk diteruskannya kepada Titus. Ia ditugaskan untuk mengatakan:

“Apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda untuk mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang”
Titus 2:1-5

3.    Tugas Pertama Seorang Istri Adalah Mengurus Rumah Tangganya.

Tuntutan dunia modern sekarang ini, mengingat kebutuhan rumah tangga yang mendesak, seringkali memaksa seorang istri untuk ikut bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga yang dirasa kurang dari hasil pekerjaan suami, sehingga para istri meninggalkan rumah dan anak-anak mereka untuk ikut bekerja. Hal ini sebetulnya tidak menyelesaikan masalah keuangan mereka, tetapi justru akan memunculkan masalah baru yaitu adanya persaingan diantara suami dan istri yang sama-sama bekerja.

Hal yang paling berharga dirasakan oleh anak-anak adalah ketika mereka dapat menikmati kebersamaan dengan ibu mereka. Mereka membutuhkan kasih sayang, arahan, dan teman untuk berbagi. Keuangan yang kurang jangan dijadikan sebagai alasan supaya istri di desak untuk bekerja, terkadang hidup yang sulit dapat membantu mendidik anak-anak untuk lebih mandiri. Mereka dapat menghargai waktu, tenaga, uang, dan perhatian mereka pada hal-hal yang positif jika dibandingkan anak-anak yang lain serba terpenuhi.

“Suami membutuhkanmu; anak-anakmu memerlukan ibu mereka. Engkau menyimpang dari jalan yang seharusnya engkau tempuh sebab Yesus yang memimpin perjalanan itu tidak menyuruhmu ke sana. Yesus berkata kepadamu: “Ikut Aku”, dan Ia akan memimpinmu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga yang sekarang sangat terlalaikan. Suara Tuhan tidak memanggilmu untuk memisahkan kepentinganmu dari kepentingan suami dan anak-anakmu. Tugasmu yang pertama adalah dalam rumah tangga. Roh Allah tidak memberimu pekerjaan, atau telah menyanggupkan engkau untuk melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan ucapan-Nya sendiri.”

Banyak juga kasus seorang istri yang meninggalkan keluarga mereka dengan alasan melayani dalam pekerjaan Tuhan. Baik oleh karena adanya kerinduan pribadi maupun karena memang bermasalah, ini kelihatan baik, tetapi bagaimanapun ladang berharga yang Tuhan percayakan kepada para istri adalah keluarganya, suami dan anak-anaknya.

4.    Nasihat Kepada Seorang Ibu.

Seorang wanita mempunyai suatu tugas yang kudus, panggilan suci untuk menunjukkan contoh cara hidup Kristen sebagai istri dan ibu yang setia: yang pantas disayangi, sabar, ramah-tamah namun tegas dalam kehidupan rumah tangga; mempelajari metode yang tepat dan mendapat kebijaksanaan untuk dapat dengan cepat memahami perasaan anak-anak sementara ia melatih mereka untuk memelihara jalan Tuhan. Sebagai anak Allah yang rendah hati, belajarlah di dalam sekolah Kristus; usahakan terus mengembangkan kuasa untuk melakukan tugas yang paling sempurna, melakukan pekerjaan di rumah dengan seksama, baik melalui petunjuk dan teladan.

Dalam pekerjaan ini seorang ibu akan mendapat pertolongan Allah; tetapi jika ia tidak mengacuhkan tugas sebagai istri dan ibu dan mengulurkan kedua tangannya meminta kepada Tuhan suatu pekerjaan yang lain, ketahuilah bahwa Ia pasti tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan; Tuhan menempatkan dia untuk melakukan tugas memelihara rumah tangganya. Jika ia mengira ada satu pekerjaan lain yang lebih besar dan lebih mulia diberikan kepadanya selain dari yang sudah dipercayakan kepadanya itu, ia telah tertipu.

Dengan melalaikan suami dan anak-anaknya karena melakukan sesuatu yang ia kira adalah tugas agama, misalnya untuk menghadiri pertemuan atau mengerjakan sesuatu untuk orang lain, memberi pelajaran Alkitab atau menyampaikan pekabaran untuk yang lain, ia telah melakukan hal yang bertentangan langsung dengan ilham yang diterima Paulus untuk disampaikan kepada Titus. Agama Kristus tidak pernah memimpin seorang istri dan ibu rumah tangga untuk melakukan seperti apa yang ia lakukan.

mom images Copy

Sekaranglah waktunya mengusahakan pengamalan pengetahuan seorang ibu tentang Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dengan berhasil, sebab anak-anak berada dalam usia di mana mereka paling memerlukan seorang ibu. Jiwa yang gelisah memang cenderung berbuat nakal; pikiran yang aktif jika dibiarkan kosong tak berisi hal yang baik akhirnya akan menanggapi bisikan setan. Anak-anak memerlukan pengawasan yang waspada dari seorang ibu. Mereka perlu diberi perintah, dibimbing dalam jalan yang benar, dilindungi dari kejahatan, dimenangkan melalui kasih sayang dan diteguhkan dalam kebiasaan berbuat baik melalui latihan yang dilakukan dengan rajin.

Juruselamat melihat suatu nilai dan kemuliaan dalam setiap jiwa, karena citra Allah yang terdapat pada manusia. Yesus mati agar anak-anakmu akan beroleh hidup yang kekal. Ia memandang kepada mereka dengan kasih ilahi. Jiwa mereka dapat diselamatkan ke dalam hidup yang kekal dan jiwa anak-anakmu itu sungguh berharga seperti jiwa orang lain. Tuhan tidak memanggil seorang ibu untuk melalaikan rumah tangga, suami serta anak-anaknya. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini dan Ia tidak akan pernah melakukannya.

Di depan pintu rumahnya terhampar sebidang lahan untuk ia usahakan dan Allah akan menganggapnya bertanggungjawab dalam pelaksanaan tugas yang diberikan-Nya kepadanya. Melalui doa yang tekun dan terus-menerus belajar, Seorang ibu dapat menjadi bijaksana dalam keluarganya, mempelajari pembawaan yang berbeda-beda dalam diri anak-anak dan dengan hati-hati mencatat kelakuan mereka. Seorang ibu adalah guru dalam sekolah kecil dalam rumah tangganya. Kalau ia mencari kebijaksanaan dari Tuhan untuk mengerti jalan-Nya dan mengikuti-Nya, Ia akan memimpinnya, bukan menjauh dari rumahnya melainkan untuk kembali ke rumahnya itu.

5.    Kemiskinan Bukan Dosa.

Jika ibu, seorang di antara mereka yang menjadi terang dunia, maka cahayanya itu akan menerangi rumah tangganya. Selama ini kemiskinan telah menjadi bagiannya dan ia tak dapat melepaskan diri dari keadaan itu, dan itu bukan dosa. Tetapi pikirannya terbiasa memandang segalanya dalam sorotan yang terlalu tajam, dengan berlebihan. Dalam hal ini ia perlu mendapat pelajaran di kaki Yesus; ia perlu lebih mempercayai Yesus dan mengurangi kekhawatirannya; engkau perlu memiliki iman sejati dalam janji-janji Allah.

Sementara itu ia haruslah bekerja bersama Allah, memperbaiki pikirannya supaya ia berhasil menanamkan suatu roh ketenangan, hati yang mengasihi, agar ia dapat mengilhami mereka dengan cita-cita yang murni, memupuk di dalam diri mereka sifat yang menyukai kejujuran, yang murni dan yang suci.

6.    Pemeliharaan Allah Untuk Anak-anak.

Jangan pernah berpikir untuk sesaat pun bahwa Allah telah memberi para ibu tugas yang pelaksanaannya menyebabkan ia harus meninggalkan anak-anaknya. Jangan tinggalkan mereka mengalami demoralisasi karena pergaulan yang tidak pantas dan mengeraskan hati mereka melawannya. Ia salah menggunakan terang yang ada padanya. Tindakannya menimbulkan kesulitan yang lebih besar bagi anak-anaknya untuk menuruti kehendak Allah dan merebut hidup yang kekal. Allah memelihara mereka dan seharusnya seorang ibu pun demikian juga jika ia mengaku sebagai anak-Nya.

Pada waktu yang lalu ia telah berbuat kesalahan karena terlalu kuatir mengenai anak-anaknya. Ia tidak sepenuhnya mempercayai Allah dan engkau telah melakukan hal yang berlebihan untuk memenuhi keinginan mereka yang sebenarnya tidak membawa kebaikan bagi mereka. Dan sekarang ia meninggalkan mereka, membiarkan mereka mengurus diri mereka sendiri. Jenis pengalaman yang bagaimana pulakah ini? Tentu bukanlah Allah dan kebenaran yang menjadi sumbernya. ia tidak menghormati Allah dengan mengaku bahwa ia dipimpin Allah sementara melalaikan tugas untuk mendidik anak-anaknya.

7.    Hak Suami Dan Anak.

“Apabila kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan tanpa mencadangkan sesuatu pun, maka kita akan melihat betapa pentingnya pekerjaan biasa yang kita lakukan sehari-hari dalam rumah tangga sehingga kita akan melakukannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Oh, saudaraku, walaupun engkau miskin dan martabatmu rendah, Yesus tidak meninggalkanmu karenanya tetapi juga Ia  tidak memimpin engkau untuk meninggalkan keluargamu karena kemiskinan itu atau oleh alasan lainnya. Allah telah menunjuk engkau menjadi orang yang dipercaya untuk melakukan tugas penatalayanan dalam keluargamu. Usahakanlah mendidik dirimu untuk melaksanakan pekerjaan ini dan Ia akan mendampingimu dan memberkati semua usahamu sehingga nanti pada hari perhitungan akhir mengenai pelaksanaan tugasmu, Allah akan berkata, “Sabaslah hai hamba-Ku yang setiawan.”

Suami mempunyai hak; anak-anak mempunyai hak dan seorang istri tak boleh mengabaikannya. Apakah ia memiliki satu talenta atau tiga bahkan lima talenta, Allah telah memberi suatu pekerjaan kepadanya. Banyak orang tua yang sangat melalaikan tugas mereka dalam rumah tangga. Mereka tidak mencapai ukuran yang ditetapkan menurut Alkitab. Tetapi mereka yang menelantarkan tugas memelihara rumahtangganya, teman hidup dan anak-anaknya, tak akan dipercayakan Allah untuk melakukan tugas menarik jiwa sebab telah terbukti bahwa mereka tidak setia terhadap janji mereka yang suci. Allah tidak akan mempercayakan kepada mereka kekayaan yang kekal.

Pekerjaan seorang ibu Kristen dimulai dari dalam rumahtangganya, yaitu membuat keadaan rumahtangga sebagaimana yang seharusnya, menyenangkan bagi suaminya, menyenangkan bagi anak-anaknya. Anak-anak yang kecil memerlukan tuntutan tangan seorang ibu yang mendidik mereka dengan setia.

8.    Ibu Sebagai Agen Allah.

Cacian dan omelan menyebarkan awan gelap dan kesuraman sekeliling jiwa, dan akan membawa kekecewaan dalam kehidupan rumahtangga. Para ibu tidak cukup menghargai biar separuh pun dari banyak kemungkinan dan kesempatan yang mereka miliki. Nampaknya mereka tidak dapat memahami bahwa pada hakikatnya mereka adalah benar-benar pekerja Injil, teman sekerja Allah dalam membantu anak-anak mereka untuk membangun tabiat yang seimbang. Inilah beban berat dalam pekerjaan yang Allah berikan kepada mereka. Seorang ibu adalah agen Allah untuk membentuk keluarganya menjadi Kristen.

Ia harus menjadi teladan hidup beragama yang sesuai dengan Alkitab, menunjukkan bagaimana pengaruh agama itu mengendalikan hidup seseorang dalam melakukan tugas sehari-hari dan berbagai kesenangannya, mengajar anak-anaknya bahwa hanya oleh karunia mereka dapat diselamatkan melalui iman, dan iman itu sendiri adalah pemberian Allah. Pengajaran yang terus-menerus, menanamkan pengertian betapa pentingnya Kristus bagi sang ibu sendiri dan bagi mereka; kasih-Nya, kebaikan-Nya, keampunan-Nya sebagaimana dinyatakan dalam rencana penebusan, akan menimbulkan perasaan yang bersifat mempermuliakan, kesan yang suci, dalam hati.–Letter 28, 1890.

5561 5-7-12 Copy

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap. Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya. Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang. Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!”
Amsal 31:10-31

 


Disadur ulang dar: Testimonies on Sexual Behaviour, Adultery, and Divorce

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here