13187-232234 Copy

KEMURTADAN BABEL

[AkhirZaman.org] Tuduhan Ilahi terhadap Kekristenan yang murtad, atau Babel, adalah berat: ia “telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” Wahyu 14:8. Apakah “anggur” yang memabukkan yang dipaksakan oleh pelacur Babel agar diminum oleh segala bangsa? Ajaran yang salah. Sama seperti manusia yang mengkonsumsi minuman keras menjadi bingung dan kacau pikirannya dan kabur kemampuannya dalam membedakan antara kenyataan dan khayalan, antara yang benar dan yang salah (lihat Amsal 23: 29-33), demikianlah juga kesalahan-kesalahan dalam ajaran dan doktrin-doktrin palsu dalam tradisi gereja membingungkan wawasan yang benar di dalam kebenaran Alkitabiah dan mengaburkan perbedaan antara yang kudus dan yang profan/cemar.

Awal dari pemisahan dari standar kebenaran Alkitab terjadi sejak awal dalam sejarah Kristen sebagai akibat dari kompromi antara Kekristenan dan kekafiran. Kompromi sejarah ini, yang mulai berkembang segera setelah para rasul meninggal, membawa kepada perkembangan “manusia durhaka,” atau antikristus, sebagaimana dinubuatkan oleh Daniel, Paulus dan Yohanes.

Usaha gereja mula-mula untuk memperoleh keuntungan dan persetujuan duniawi dari para pemimpin politik dalam Kekaisaran Romawi sebagai sumber dari kekuasaan duniawi kepausan di Roma, dan aniaya kejamnya terhadap para pembangkangnya. “Sistem agama palsu yang luar biasa itu, katanya, adalah mahakarya kekuatan Setan—sebuah monument dari usahanya untuk mendudukkan dirinya di atas takhta untuk memerintah bumi menurut kehendaknya.”

Kebingungan dalam membedakan antara gereja dan dunia barangkali sebagai pengalihan yang paling mendasar dari Injil yang kudus: “Kebingungan dalam membedakan antara gereja dan dunia adalah salah satu kesalahan mendasar yang menjadikan Gereja Katolik sebagai Babel.”

Pewahyu telah menunjuk secara tersurat kepada kesatuan yang haram antara gereja dan negara sebagai penyebab bahwa mempelai wanita Kristus yang sejati telah menjadi seorang pelacur yang menjijikkan di antara bangsa-bangsa, yang pantas menerima penghakiman Ilahi: “Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan besar atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya. Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya.” Wahyu 17: 1, 2.

Dalam hal ini juga badan-badan gereja Protestan utama ditemukan kurang. Salah satu komentar yang paling menyedihkan yang dikatakan oleh Philip Schaff dalam bukunya yang monumental berjudul History of the Christian Church membahas tentang para Reformator besar Protestan: “Setelah memperoleh kebebasan dari kuk kepausan, mereka berbuat atas dasar prinsip aniaya yang telah membesarkan mereka sendiri.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Babel modern terdiri atas baik gereja induk dan berbagai gereja anak-anak perempuannya. Mereka melihat ini di dalam perkataan “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur.” Wahyu 17: 5.

KEJATUHAN GANDA BABEL

-kuil-bagi-semua-dewa-romawi sejak-abad-ke-7-jpeg.image  CopySuatu konsep ganda tentang kejatuhan Babel: satu kejatuhan moral yang terus berlangsung (sehubungan dengan satu penolakan Kekristenan yang murtad terhadap pekabaran dalam Wahyu 14: 6, 7) dan kejatuhan terakhir di masa depan di bawah bala ketujuh (Wahyu 16: 17-20). Mereka menunjuk kepada Babel pelacur dalam nubuatan (Wahyu 14: 8; 17: 1-6) sebagai Kekristenan kontemporer (masa kini), melalui seruan kepada citraan Alkitabiah. Citraan ini menggambarkan Israel sebagai mempelai perempuan Tuhan, yang berubah menjadi pelacur dengan mencari hubungan yang tidak sah dengan raja-raja di bumi (Yeremia 2: 3; 31: 32; dan khususnya Yehezkiel 16).

Babel dalam buku Wahyu bukanlah suatu kekuatan sipil atau bangsa, melainkan sebuah tubuh keagamaan “yang berbeda dengan, meskipun secara tidak sah bersatu dengan, raja-raja di bumi,” sebagaimana dilihat dalam Wahyu 17: 1, 2. Ia menyebut pengumuman akhir zaman tentang kejatuhan Babel dalam Wahyu 14 sebagai sebuah “kejatuhan moral” yang mendahului kebinasaan akhirnya. Ia berpendapat bahwa “umat Tuhan dipanggill keluar daripadanya setelah kejatuhannya, dan sementara kebinasaanya masih ditunda (Wahyu 18).”

Maka alasan bagi suara dari sorga, yang memanggil dengan kemendesakan akhir zaman sebelum kebinasaan Babel: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah daripadanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya.” Wahyu 18: 4, 5. Pengumuman tentang kejatuhan moral Babel adalah kebenaran masa kini bagi umat-umat Tuhan pemelihara hari Sabat hari ketujuh, karena gereja-gereja yang ada menolak pekabaran waktu penghakiman yang diserukan oleh malaikat pertama dalam Wahyu 14.

Penolakan terhadap kebenaran ini adalah sebagai suatu “kejahatan moral”: “Gereja-gereja yang menolak pekabaran penghakiman dari malaikat pertama (Wahyu 14: 6, 7), dan karena menolak terang dari sorga, mereka jauh dari perkenaan Allah. Mereka percaya kepada kekuatan sendiri, dan menempatkan diri melawan pekabaran pertama di mana mereka tidak dapat melihat terang pekabaran malaikat kedua. Namun umat Tuhan yang kekasih, yang ditekan, menjawab pekabaran itu, Babel telah rubuh, dan meninggalkan gereja-gereja yang telah jatuh.”

Kejatuhan Babel dianggap sebagai kejatuhan yang merosot turun yang terus berlangsung ke dalam kesalahan dan kepalsuan yang semakin besar. Kejatuhan ini tidak akan lengkap hingga akhir masa pencobaan. Ini memberi kesempatan bagi suatu panggilan terakhir untuk pergi dari gereja-gereja yang telah jatuh, yang menunjuk kepada “seruan nyaring” dalam Wahyu 18: 1-5.

Bagi umat-umat Tuhan yang masih berada di dalam gereja-gereja yang telah jatuh, Tuhan memberikan suatu panggilan: “Tuhan memiliki umat-umatnya di gereja-gereja yang telah jatuh, dan para pendeta dan orang-orang yang akan dipanggil keluar dari gereja-gereja ini, sebelum bala-bala dicurahkan, dan mereka dengan sukacita akan menyambut kebenaran.”

PERINGATAN UNIVERSAL

Orang-orang yang menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali menunggu dua panggilan khusus untuk meninggalkan gereja-gereja yang telah murtad. Alasan ini menyatakan bahwa, menurut kitab-kitab Injil, karena Yesus memulai dan mengakhiri pelayanan-Nya di bumi dengan menyucikan Bait Suci di Yerusalem dari kecemaran keagamaan, “maka dalam pekerjaan terakhir untuk memperingatkan dunia, dua panggilan yang berbeda diberikan kepada gereja-gereja.”

Akan tetapi sementara pengumuman di tahun 1844 tentang kejatuhan Babel dipusatkan terutama di Amerika, panggilan terakhir bagi umat Tuhan untuk keluar dari Babel adalah untuk seluruh dunia. Panggilan ini akan bergerak dengan “kuasa yang luar biasa,” di bawah kecurahan Roh Kudus dalam “hujan akhir.” Para penghuni bumi akan dipaksa untuk mengambil sikap di tengah-tengah mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang penuh kuasa, seperti yang menandai “hujan awal” pada permulaan Injil.

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here