bbl Copy

[AkhirZaman.org] Malaikat kedua dalam Wahyu 14 mengatakan sebuah pengumuman khidmat: “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.” (Wahyu 14: 8). Peringatan ini adalah bagian dari pekabaran kasih kemurahan yang terakhir kepada dunia yang memberontak. Apakah artinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus mempertimbangkan latar belakang Perjanjian Lama dari kitab Wahyu dan melihat bagaimana ini mempengaruhi makna dari beberapa istilah dan konsep kunci dalam peristiwa akhir zaman.

Latar Belakang Perjanjian Lama

Perjanjian Lama membentuk latar belakang dari kitab Wahyu. Istilah dan pencitraannya mendasari pekabaran Yohanes. Maka kita tidak akan dapat memahami Wahyu terpisah dari Perjanjian Lama.

Dalam khayal pertama tentang Kristus, Yohanes menghadirkan kunci untuk membukakan ilham dari kitab Wahyu. Ia yang melihat Kristus bangkit berdiri di antara “tujuh kaki dian dari emas,” “berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas” (Wahyu 1: 12, 13). Pencitraan Bait Suci di Perjanjian Lama menghadirkan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang sejati dan Imam Besar Sorgawi kita. Maka kitab Wahyu dengan pengumuman sorga bahwa persembahan pengorbanan dan keimamatan Lewi telah digenapi oleh Mesias di dalam Kristus yang telah disalibkan dan telah bangkit kembali.

Sebagai Imam Besar Perjanjian Baru, Kristus menciptakan suatu Israel baru-“suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya” (ayat 6). Ia menggenapi transisi kritis ini dari Israel sebagai suatu bangsa kepada Israel perjanjian baru melalui kematian dan kebangkitan-Nya sebagai Juruselamat-Raja.

Maka, ketujuh kaki dian dari emas dalam Bait Suci Sorgawi melambangkan gereja universal Kristus sebagai terang dunia—bukan Israel sebagai suatu suku bangsa. Dan dalam menjelaskan kepada Yohanes bahwa “ketujuh kaki dian itu adalah ketujuh jemaat” (ayat 20). Kristus menawarkan kunci untuk memahami seluruh kitab Wahyu: perlambangannya mengacu kepada Kristus dan umat perjanjian baru-Nya.

babylon-46 CopyHubungan temattis antara Israel di zaman dahulu dan umat Tuhan di akhir zaman ini adalah penting secara mendasar bagi penafsiran kitab Wahyu. Ini menyiratkan lebih dari suatu kiasan terpisah untuk sejarah perjanjian Israel, lebih dari sekedar hubungan tidak sengaja antara masa lalu dan masa depan. Sebaliknya, hubungan ini memproyeksikan puncak dan kepenuhan sejarah Israel ke dalam akhir zaman. “Di dalam kitab Wahyu, seluruh kitab-kitab Alkitab bertemu dan berakhir.”

Pertimbangan-pertimbangan di atas menghalangi setiap usaha untuk menafsirkan nama-nama dan tempat-tempat dalam Pejanjian Lama sesuaai dengan pembatasan-pembatasan perjanjian lama atau geografis. Kitab Wahyu menyatakan pekabaran Kristus kepada Israel rohani. Prinsip penting dalam penafsiran nubuatan ini menjadi dasar dari pekabaran tiga malaikat dalam Wahyu 14.

Makna Babel

Bahaya dan pergumulan dari gereja yang benar digambarkan dalam perlambangan yang kontras yang berasal dari konflik antara Isarel dan musuh-musuh bangsanya seperti Mesir, Babel, Edom dan Tirus. Kekuatan-kekuatan yang kejam ini disebutkan hanya karena mereka adalah musuh-musuh bebuyutan Tuhan dan umat-Nya. “Babel disebutkan dalam nubuatan-nubuatan dan peristiwa akhir zaman hanya karena perlawanannya terhadap Yerusalem.” Maka, Babel harus didefinisikan secara teologis—sebagai musuh utama Sion, umat Tuhan yang sejati. Istilah-istilah nasional zaman dahulu diterapkan dalam kitab Wahyu dalam skala universal dalam hubungannya dengan gereja Kristus sedunia.

Karena Wahyu secara konsisten menggunakan pencitraan Israel dan musuh-musuhnya, penganut futurisme mempertahankan bahwa kitab ini berlaku sebagian besar bagi Yahudi harafiah di Palestina hari ini. Prinsip literalisme mutlak ini menempatkan Perjanjian Lama di atas Perjanjian Baru. Prinsip ini mengabaikan arti penting penentu dari salib Kristus, melawan kunci ilham yang diberikan oleh Kristus sendiri dalam Wahyu 1.

Akan tetapi jikalau suku bangsa Israel atau Sion harus diterapkan kepada gereja Kristus yang universal, maka Babel juga harus mengacu kepada musuh gereja Kristus yang universal. Seperti Babel di zaman dahulu menaklukkan negeri Israel, menghancurkan Bait Sucinya, dan membawa bangsa itu ke dalam penawanan, demikianlah juga Babel modern (gereja yang murtad) menyerang dan memperbudak gereja Kristus yang universal, menghujat Bait Suci Perjanjian Baru di Sorga, dan meniadakan pengantaraan Kristus yang Ilahi melalui metode keselamatan dan penyembahan palsu (lihat Wahyu 14: 6, 7; 17: 4; 14: 8).

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here