pesawat-gelap Copy

[AkhirZaman.org] Kecelakaan penerbangan Germanwings 9525 yang menewaskan seluruh orang yang ada di dalamnya dengan jumlah penumpang umum 144 dan 6 lainnya adalah awak pesawat itu, begitu mengagetkan dunia dan meninggalkan perasaan duka di hati banyak orang. Dapatkan kita masih menemukan harapan saat kegelapan semacam ini menyelimuti dunia.

Andreas Lubitz yang mjenjadi kopilot dari pesawat naas itu diduga sebagai penyebab jatuhnya kapal terbang itu. Dia dinyatakan “tidak sesuai untuk bekerja” oleh seorang dokter, tetapi penyakitnya tidak pernah dilaporkan pada pimpinannya di Lufhansa Airlines. Saat Airbus A320-200 lepas landas pada tanggal 24 Maret 2015 dari Barcelona, Spanyol, dan menuju bandara Dusseldorf di Jerman, Lubitz duduk sebagaimana biasanya dalam menjalankan pekerjaannya dan tampak bersikap baik pada kapten pilot.

Tetapi kemudian asisten pilot berkebangsaan Jerman tersebut menjadi kasar sesudah setengah perjalanan. Saat si kapten pilot kembali dari istirahatnya, Lubitz dengan sengaja telah mengunci pintu cockpit. Si pilot secara berulangkali mencoba masuk dengan mengetuk pintu, memakai intercom, lalu coba mendobrak pintu, tetapi semua upayanya menemui kegagalan. Saat pesawat mulai turun di daerah pegunungan, pengawas lalu lintas udara mencoba berkomunikasi dengan Lubitz tetapi tidak dipedulikan.

Pesawat akhirnya menabrak pegunungan Alpen yang terletak di Timur Perancis. Semua yang berada dalam pesawat meninggal dunia. Kotak hitam yang merekam perbincangan di cockpit berhasil ditemukan dan memberikan kepada tim penyelidik data-data penting mengenai peristiwa menyedihkan dari penerbangan tersebut.

Kebanyakan penumpang berasal dari Jerman dan Spanyol, termasuk 16 anak sekolah yang kembali dari program pertukaran siswa di Barcelona. Walikota tempat di mana para murid tadi berasal menyebut peristiwa ini sebagai “peristiwa tergelap yang ada dalam sejarah kota itu.”

Bagaimana kita dapat memasukkan ke dalam akal sehat kita tragedi menghantui yang telah meninggalkan bekas luka bagi para keluarga? Atau bisakah kita melogika peristiwa yang menyisakan duka yang mendalam bagi orang yang ditinggalkan? Banyak yang masih merasa terkejut, banyak yang dipenuhi kemarahan. Dengan memahami kesehatan mental dari Lubitz mungkin menjelaskan “kegilaannya,” tetapi itu tidak dapat menghilangkan rasa pedih dan kehilangan dari keluarga korban.

Alkitab mengungkapkan sumber dari semua tragedi dan kehilangan. Itu dimulai saat Setan memenangkan kuasa kendali sementara dari manusia dan dunia ini saat ia menipu nenek moyang kita pertama kali di taman Eden (Kejadian 3:4). Bagi kita Lubitz memanglah orang gila yang kehilangan akal sehatnya, namun oknum tergila yang pernah ada tidak lain adalah iblis yang oleh karena dikuasai rasa bencinya kepada Tuhan sehingga di dalam pikiran dan hatinya yang ada hanyalah skenario jahat untuk membawa kehancuran bagi dunia ini.

Bahkan seorang yang dikenal baik seperti Ayub pun menjadi korban “keusilannya”. Dalam perbincangannya dengan setan, Tuhan melihat Ayub sebagai orang benar tatkala di Ayub 1:8 Allah memujinya saat berkata, “Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Namun orang yang demikian inilah yang menjadi sasaran serangan setan. Sambil mempertanyakan apakah kesetiaan Ayub murni dan tulus, setan berkata kepada Tuhan, “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” (ayat 9 &10).

Dalam pikiran setan, yang membuat Ayub setia adalah harta melimpah yang Tuhan berikan kepadanya. Sehingga dengan nada menantang setan kembali berkata, “Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” (ayat 11).

Tuhan mengenal Ayub dan Dia tahu benar apa yang menjadi dasar takutnya kepada Allah. Bukanlah rumah mewah dan harta yang melimpah yang membuat Ayub setia, berbeda sekali dengan Kekristenan zaman sekarang yang dipenuhi dengan orang-orang yang setia kepada Khalik Pencipta oleh karena kenyamanan yang Tuhan berikan kepada mereka. Namun Ayub bukanlah orang seperti itu, sehingga dengan tanpa ragu Tuhan menjawab kepada setan: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” (ayat 12).

Apa yang kemudian setan buat terhadap Ayub sungguh luar biasa menguji hamba Tuhan yang ini.

1. Ayat 14 & 15, “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

Yang pertama dilakukan setan terhadap Ayub adalah mengirim orang-orang Syeba untuk merampas keledai-keledainya dan membunuh sebagian besar hamba-hambanya yang menjaga binatang-binatang itu

2. Ayat 16, “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

Yang kemudian terjadi adalah petir bagaikan api yang kali ini membinasakan kambing dan domba serta para gembala-gembala hewan-hewan ternak itu.

3. Ayat 17, “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

Tragedi ketiga yang kemudian menyusul adalah ketika unta-unta yang menjadi bisnis transportasinya dirampok orang-orang Kasdim dan seperti 2 peristiwa sebelumnya hanya menyisakan satu orang penjaga yang tetap hidup.

4. Ayat 18 & 19, “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

Dan yang terakhir sungguh-sungguh menguji kesetiaan Ayub ketika angin yang biasanya bertiup sepoi-sepoi mendadak menjadi mesin penghancur dan membunuh semua anak-anaknya.

Saudara, jika Anda melihat keempat peristiwa itu, bukankah sangat mungkin Ayub mempertanyakan di mana Tuhan yang selama ini dia sembah dengan setia? Bisa saja dia ragu kepada Allah karena tidak menghalangi orang-orang jahat itu melakukan semuanya. Atau ketika petir dan angin ribut membinasakan tidak hanya kambing domba dan hamba-hambanya namun juga anak-anak yang begitu dikasihinya, Ayub berada pada suatu situasi yang dapat membuatnya meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan.

Tetapi dengan sungguh luar biasa hamba Tuhan ini “mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’” (ayat 20, 21).

Lubitz memang telah menjadi “orang gila” bagi sebagian warga Jerman dan Spanyol oleh karena anggota keluarga mereka mati mengenaskan akibat perbuatannya. Namun “si gila” yang sesungguhnya adalah setan yang ada di saat ini yang juga setan yang sama yang telah menggocoh Ayub ribuan tahun lalu.

Dibalik seluruh tragedi di dunia ini adalah setan yang menjadi penyebab semuanya. Apa yang telah menimpa Ayub bisa terjadi kepada siapa pun orang di dunia ini. Dan secara jelas ini diungkapkan bila kita mengingat kembali apa yang terjadi kepada Anak Allah dua ribu tahun silam ketika setan mengilhami orang-orang Yahudi dan tentara Romawi untuk menyalibkan Yesus di bukit Golgota.

Semua yang menimpa Ayub dan Yesus memberikan gambaran kepada kita bahwa umat manusia dan khususnya mereka yang menaruh imannya hanya kepada Tuhan menjadi sasaran pengguncangan setan. Alkitab mencatat di dalam Wahyu 12:13, “Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.”

Dalam ayat 9 disebutkan bahwa “naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan.” Lalu siapakah yang disebut dengan perempuan yang diserang setan atau iblis? Sebelum kita mejawabnya, di ayat 17 juga dituliskan: “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.”

Naga atau setan yang juga disebut iblis tidak hanya menyerang “perempuan” namun juga “keturunannya yang lain”. Di dalam Alkitab terjemahan KJV, kalimat yang berbunyi keturunannya yang lain dituliskan sebagai “the remnant of her seed” yang berarti “keturunannya yang sisa”.

Namun siapakah perempuan itu? Di dalam nubuatan Alkitab, perempuan melambangkan gereja. Prinsip ini dapat kita temui di dalam Efesus 5:23, “. . . karena suami (pria) adalah kepala isteri (perempuan) sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.”

Bila kita melihat bahwa perempuan yang adalah gereja menjadi sasaran setan, sangat mungkin bahwa itu adalah gereja yang benar. Bagaimana karakteristik perempuan atau gereja ini? Wahyu 12:1 mengatakan, Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”

Ayat di atas mengatakan bahwa gereja ini berpakaian matahari, lalu bulan menjadi pijakan kakinya, dan di kepalanya dia memakai mahkota dengan 12 bintang. Apakah ada gereja dengan ciri-ciri yang demikian? Tentunya tidak ada jika kita menfsirkan bahwa matahari, bulan dan bintang secara literal. Namun kita akan dapat menemukan gereja seperti ini jika kita melihat bahwa matahari, bulan dan bintang adalah sebagai lambang.

Apakah yang dilambangkan oleh matahari? Mazmur 84:12 menyebutkan, “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai.”

Mari kita baca satu ayat lagi di dalam Maleakhi 4:2, “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya (matahari) kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. . .”

Dan Mazmur 119:172 (KJV) menyebutkan bahwa “thy commandments are righteousness”, yang artinya adalah “perintah-Mu adalah kebenaran.”

Dari 3 ayat itu kita mendapati bahwa bahwa matahari adalah lambang dari Tuhan, kebenaran-Nya, serta hukum-Nya. Sehingga perempuan berselubungkan matahari cerminkan gereja yang memiliki kebenaran Tuhan dan memelihara hukum-Nya.

Lalu menggambarkan apakah bulan itu? Mazmur 89:38, “seperti bulan yang ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan.” Bila kita melihat bulan memiliki sinar maka itu sesungguhnya bukanlah cahaya yang berasal dari bulan itu, namun dia hanya memantulkan cahaya yang didapatnya dari matahari.

Dan jika Alkitab menggambarkan bulan sebagai saksi yang setia, maka saat perempuan itu berdiri di atas bulan maka gereja yang benar akan menjadi saksi yang setia dari kebenaran Yesus dan hukum-Nya serta mengajarkan kebenaran penting bahwa manusia tidak dapat dibenarkan oleh perbuatannya sendiri namun dibenarkan oleh kebenaran Yesus yang diterima oleh iman.

Namun bagaimana dengan 12 bintang pada mahkota yang dipakai perempuan itu di kepalanya? Wahyu 1:20 menuliskan, “. . . ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat . . .” Penggunaan kata “malaikat” dalam kitab Wahyu tidak selalu menunjuk kepada malaikat dalam arti sesungguhnya. Namun di dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, malaikat sering digunakan untuk menggambarkan manusia yang menjadi jurukabar Tuhan dalam menyampaikan pesan kepada manusia lainnya.

Mari kita lihat lagi pembuktiannya di dalam Daniel 12:3, “Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang . . .”

Lalu mengapa bintang itu berjumlah 12? Angka 12 di Alkitab selain menunjuk sebagai kesempurnaan, namun itu adalah juga jumlah suku Israel dalam Perjanjian Lama dan murid-murid Yesus yang berjumlah 12 di Perjanjian Baru.

Jadi apa maksudnya bahwa perempuan itu mengenakan mahkota dengan 12 bintang di kepalanya? Ini adalah gereja yang dibangun atas dasar pengajaran para rasul yang tentunya adalah sama dengan ajaran Yesus.

Jadi ciri-ciri gereja Allah yang menjadi sasaran amarah setan di Wahyu 12:13 adalah yang memiliki dan mengajarakan kebenaran Kristus sesuai dengan yang para rasul ajarkan.

Dan di ayat 17 (KJV) disebutkan bahwa setan juga memburu “keturunan yang sisa” dari perempuan itu, yang tentunya adalah gereja Tuhan yang juga memiliki karakteristik yang sama dengan gereja Allah mula-mula yang berdiri pada saat dan setelah para rasul. Dan bila Anda membaca ayat 17 secara penuh maka Anda akan menemukan karakteristik yang serupa.

Wahyu 12:17 (KJV), “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang sisa, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.”

Saudara, sebagaimana Ayub menjadi sasaran amarah dan “kejahilan” setan oleh karena kesetiaan mereka kepada Allah, maka umat Allah yang seperti Ayub yang akan menjadi sasaran setan. Bila di masa lalu umat Allah di Eropa mengalami aniaya di zaman kegelapan rohani, maka itu pula yang akan diterima umat Allah di akhir zaman.

Tanpa bermaksud menyamakan Lubitz dengan setan, namun “kegilaannya” sehingga mengakibatkan kematian 150 orang di pesawat yang dikendalikannya, begitu pula setan akan melakukan segala cara untuk dapat menggocoh Anda dan saya supaya kita tidak hanya mengalami penderitaan di dunia namun juga kebinasaan kekal bersama-sama dengan dia.

Dan bilamana Anda dan saya mengalaminya, Tuhan rindu melihat kita sama seperti Ayub di dalam Ayub 1:22, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”

Sebagai dorongan kepada kita, Alkitab memberikan jaminan kepada kita bahwa Tuhan tidak membiarkan dunia kita sepenuhnya di luar kendali. Dia segera akan mengakhiri semua kekerasan dan bencana. Kita memiliki pengharapan akan sebuah hari yang lebih baik saat dimana kematian sendiri akan dihancurkan (Wahyu 20:14).

Di dalam Wahyu 21:4 Tuhan “. . . akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Setiap dari kita mengalami sebuah “hari tergelap” di suatu masa dalam hidup kita. Dan mungkin beberapa dari kita memiliki “malam yang lebih gelap” dari yang dialami orang lain. Namun dari Firman Tuhan kita telah mempelajari bahwa saat tragedi di luar akal sehat bersentuhan dengan kehidupan kita, kita dapat mengetahui bahwa “seorang musuh melakukannya.” (Matius 13:28).

Puji kepada Tuhan bahwa pada akhirnya penyusup jahat ini akan disingkirkan dari kuasa kendalinya atas bumi ini dan Bapa Surgawi yang pengasih akan membawa kita pulang ke rumah dengan sebuah pendaratan yang aman.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here