L A M P I R A N

 

CATATAN UMUM

      Halaman 50. GELAR/TITEL — Dalam paragraf yang membentuk satu bagian hukum peraturan gereja (canon) Roma, Paus Innocent III. menyatakan bahwa uskup (bishop/pontiff) Roma adalah “wakil di atas dunia, bukan semata-mata manusia, tetapi adalah Allah;” dan di dalam suatu keterangan di paragraf itu diterangkan bahwa ini karena dia adalah wakil Kristus, yang adalah “benar-benar Allah dan benar-benar manusia.” (Lihat Decretal. D. Gregor. Pap. iX. lib.1. de translat. Episc. tit. 7. c.3. Corp. Jur. Canon. ed. Paris, 1612; tom.II. Decretal. col. 205.)

      Untuk gelar/titel, “Tuhan Allah Paus,”  lihat suatu keterangan dalam Extravagantes of Pope John XXII., titel 14, ch. 4. “Declaramus.”   Dalam edisi Antwerp Extravagantes, tahun 1584, kata-kata “Dominum Deum nostrum Papam” (“Tuhan Allah kita Paus”) terdapat dalam kolom 153. Dalam sebuah edisi Paris, tahun 1612, kata-kata itu terdapat di kolom 140. Dalam beberapa edisi yang diterbitkan sejak tahun 1612, kata “Deum” (“Allah”) telah dihilangkan.

      Halaman 52. PEYEMBAHAN BERHALA/PATUNG — “Penyembahan berhala/patung . . . adalah salah satu kejahatan Kekristenan yang menyusup ke dalam gereja secara sembunyi-sembunyi dan hampir tanpa disadari atau tanpa pengamatan. Kejahatan ini, seperti penyimpangan-penyimpangan ajaran lain (bidat), tidak terjadi dengan sendirinya, karena kalau kasus itu kejahatan, itu akan berhadapan langsung dengan sensor ketat dan teguran; tetapi memulainya dengan penyamaran-penyamaran yang biasa dan sangat pelan-pelan dan berangsur-angsur dipraktekkan, satu persatu diperkenalkan yang berhubungan dengan itu, sampai akhirnya gereja terbenam dalam penyembahan berhala, bukan saja tanpa perlawanan yang efisien tetapi hampir tanpa protes yang berarti.  Dan bilamana pada akhirnya suatu usaha dilakukan untuk memberantasnya, kejahatan itu ditemukan sudah terlalu dalam untuk dibuangkan. . . . Harus ditelusuri kepada kecenderungan hati manusia untuk menyembah berhala dan kecenderungannya untuk melayani makhluk ciptaan lebih dari Pencipta itu sendiri . . . .

      “Patung-patung dan gambar-gambar pertama-tama diperkenalkan ke dalam gereja, bukan untuk disembah, tetapi untuk sebagai pengganti buku untuk memberi petunjuk kepada mereka yang tidak dapat membaca atau untuk meningkatkan penyerahan di dalam pikiran orang-orang lain. Seberapa jauh tindakan ini mencapai tujuan tersebut adalah diragukan, tetapi walaupun hal itu tercapai untuk beberapa waktu lamanya, hal itu segera tidak lagi demikian halnya. Dan telah diketemukan bahwa patung-patung dan gambar-gambar yang diperkenalkan ke dalam gereja itu lebih menggelapkan daripada menerangi pikiran orang-orang bodoh dan yang bersikap masa bodoh — merendahkan gantinya meninggikan penyerahan orang yang berbakti. Jadi, sebenarnya mereka bermaksud untuk mengarahkan pikiran orang-orang kepada Allah, tetapi berakhir dengan pengalihan pikiran mereka dari Dia kepada penyembahan benda-benda ciptaan.”  —  J. Mendham, “The Seventh General Council, the Second of Nicaea,” Introduction, pp. iii-vi

      Untuk catatan pendahuluan dan keputusan-keputusan Konsili Nicaea Kedua tahun 787 TM panggilan untuk menetapkan penyembahan berhala, lihat Baronius, “Ecclesiastical Annals,” Vol. iX, pp. 391-407 (1612 Antwerp ed.);  J. Mendham, “The Seventh General Council, the Second of Nicaea;”  E. Stillingfleet,  “”Defence of the Discourse Concerning the Idolatry Practiced in the Church of Rome,” (London, 1686);  “A Select Library of Nicene and Post-Nicene Fathers,” second series, Vol. XIV, pp. 521-587 (N.Y., 1900);  C, J, Hefele, “History of the Council of the Church, from the Original Documents,”  bk. 18, ch. 1, sec. 332, 333; ch. 2, sec. 345-352 (T&T Clark ed., 1896, Vol. V, pp. 260-304, 342-372).

Halaman 53. EDICT OF CONSTANTINE (PERINTAH CONSTANTINE) —  Undang-undang yang dikeluarkan oleh Constantine pada tanggal 7 Maret 321 TM mengenai hari perhentian, berbunyi: “Biarlah semua hakim, dan semua penduduk kota, dan semua pedagang beristirahat pada hari matahari yang dihormati. Tetapi mereka yang tinggal di desa-desa biarlah dengan leluasa dan dengan penuh kebebasan mengikuti kebiasaan mengusahakan ladang-ladang mereka, karena sering terjadi bahwa tidak ada hari lain yang sesuai untuk menaburkan biji gandum atau menanam pohon anggur; karena waktu yang sesuai tidak boleh dibiarkan berlalu, supaya berkat-berkat surga tidak hilang.”  — A. H. Lewis, “History of the Sabbath and the Sunday,”  pp. 123,124 (2nd ed., rev., 1903).

      Aslinya (dalam “Codex of Justinian,” lib. 3, tit. 12, leg. 3) dikutip oleh Dr. J. A. Hessey dalam ceramahnya Bampton Lectures on “Sunday”, lecture 3, par. 1,  dan oleh Dr. Philip Schaff dalam bukunya “History of the Christian Church,” Vol. III, sec. 75, par. 5, note 1. Lihat juga Masheim, “Ecclesiastical History,” cent. 4, part 2, ch. 4, sec. 5;  Chambers’ Encyclopedia, art. Sabbath;  Encyclopaedia Brittanica, 9th ed., art. Sunday; Peter Heylyn, “History of the Sabbath,” part 2, ch. 3 (2nd ed., rev., London, 1636, pp. 66,67).

Halaman 54. TANGGAL-TANGGAL NUBUATAN ( PROPHETIC DATES) — Lihat catatan untuk halaman 329.

Halaman 56. TULISAN-TULISAN YANG DIPALSUKAN (FORGED WRITINGS) — Di antara dokumen-dokumen yang sekarang ini secara umum diakui sebagai yang dipalsukan, The Donation of Cponstantine and the Pseudo-Isidorian Decretals adalah yang terutama penting.

      Dalam mengutip fakta-fakta mengenai pertanyaan, “Kapan dan oleh siapa  Constantine’s Donation itu dipalsukan?” M. Gosselin, Direktur Seminari St. Sulpice (Paris) berkata, “Meskipun dokumen ini tidak diragukan kepalsuannya, adalah sulit untuk menentukan dengan tepat tanggal pembuatannya. M. de Marca, Muratori, dan para pakar kritik lain, sependapat bahwa dokumen itu disusun pada abad kedelapan, sebelum pemerintahan Charlemagne. Lebih jauh, Muratori memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa raja dan Pepin telah dibujuk supaya bermurah hati kepada Holy See.” — Gosselin, “The Power of the Pope during the Middle Ages,” Vol. I, p. 321 (diterjemahkan oleh The Rev. Mathew Kelly, St. Patrick College, Maynooth; Baltimore, J. Murphy & Co., 1853).

      Pada tanggal Pseudo-Isidorian Decretals, lihat Mosheim, “Ecclesiastical History,” bk. 3, cent. 9, ch. 2, sec. 8. Sebagaimana Dr. Murdock, penerjemah, menunjukkan di catatan bawah halaman (catatan kaki), ahli sejarah Katolik terpelajar, M. L’Abbe Fleury, dalam bukunya “Ecclesiastical History” (diss. 4, sec. 1) berkata mengenai dekrit ini, bahwa “dekrit itu menjadi nyata menjelang penutupan abad kedelapan.”  Fleury, menulis menjelang akhir abad ketujuh belas, lebih jauh berkata bahwa “dekrit-dekrit palsu ini dipandang sebagai otentik selama 800 tahun; dan adalah dengan sangat sulit untuk menghilangkannya pada abad terakhir. Benar bahwa pada dewasa ini tak seorangpun yang tidak mengakui bahwa dekrit-dekrit ini adalah palsu, walaupun sedikit pengetahuannya mengenai masalah ini.” — Fleury, Ecclesiastical History,” bk. 44, par. 54  (terjemahan G. Adam, London, 1732, Vol. V, p. 196). Lihat juga Gibbon, “Decline and the Fall of Roman Empire,” ch. 49, par. 16.

Halaman 57. DICTATE OF HILDEBRAND (GREGORY VII.). — Lihat Baronius, “Ecclesiastical Annals,” An. 1076 (Antwerp ed., 1608, Vol. XI, p. 479).  Satu copy “Dictates,” dalam bentuk aslinya dapat juga ditemukan dalam Gieseler, “Ecclesiastical History,” period 3, sec. 47, note 4 (ed. 1836, tr. by F. Cunningham). Terjemahan dalam bahasa Inggeris diberikan dalam Mosheim, “Ecclesiastical History,” bk. 3, cent. 11, part 2, sec. 9, note 8 (Soames’ ed., tr, by Murdock).

Halaman 59. API PENYUCIAN (PURGATORY). — Beginilah definisi purgatory menurut Dr. Joseph Faa Di Bruno: “Purgatory adalah keadaan penderitaan setelah kehidupan ini, di mana untuk sementara jiwa-jiwa ditahan, yang meninggalkan hidup ini sesudah dosa-dosa mereka yang mematikan telah diampuni atau dihapuskan sebagai noda dan kesalahan dan sebagai kesakitan kekal yang ditanggungkan kepada mereka; tetapi sebagai akibat dari dosa-dosa tersebut masih ada hutang hukuman duniawi yang harus dibayar; sebagaimana juga jiwa-jiwa yang meninggalkan kejahatan duniawi hanya yang bisa diampuni.” — “Catholic Belief,” p. 196  (ed. 1884;  imprimateur Archbishop of New York).

      Lihat juga K. R. Hagenbach, “Compendium of History of Doctrins,”  Vol. I, pp. 324-327, 405, 408; Vol II., pp. 135-150, 308,309 (T&T Clark, ed.); Chass. Elliott, Delineation of Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 12; Catholic Encyclopedia, art. Purgatory.

Halaman 59. SURAT PENGAMPUNAN DOSA (INDULGENCES) —  Untuk sejarah rinci dari doktrin pengampunan dosa, lihat The Catholic Encyclopedia, art. Indulgences (contributed by W. H. Kent, O.S.C., dari Bayswater, London); Carl Ullmann, “Reformers before the Reformations,” Vol. I., bk. 2, part 1, ch. 2;  M. Creighton, “History of the Papacy,” Vol. V., pp. 56-64, 71; L. von Rauke, “History of the Reformation in Germany,” bk. 2, ch. 1, par. 131, 132, 139-142, 343-346); Chas. Elliott, “Delineation of the Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 13;  H. C. Lea, “A History of Auricular Confession and Indulgences;”  G. P. Fisher, “The Reformation,” ch. 4, p.7.

      Untuk pelaksanaan praktis doktrin surat pengampunan dosa itu selama masa Pembaharuan (Reformasi), lihat sebuah paper oleh Dr. H. C.Lea yang berjudul “Indulgences in Spain,” yang diterbitkan dalam “Papers of American Society of Church History,” Vol.I., pp. 129-171.  Mengenai nilai sejarahnya Dr. Lea berkata, dalam pembukaannya, “Dengan tidak terganggu oleh pertikaian yang terjadi antara Luther dan Dr. Eck dan Silvester Prierias, Spanyol dengan tenang meneruskan mengikuti jalan dan cara lama, dan memperlengkapi kami dengan dokumen resmi yang tak bisa dipertentangkan, yang menyanggupkan kami memeriksa masalah dalam terang sejarah yang murni. “

Halaman 59. MISA — Mengenai doktrin Misa, lihat karya Cardinal Wiseman,  “The Real Presence of the Body and Blood of Our Lord Jesus Christ in the Blessed Eucharist;”  juga Catholic Encyclopedia,  art. Eucharist (Contributed by J. Pohle, S.T.D., Breslau);  “Canons and Decrees of the Council of Trent,”  sess. 13, ch. 1-8 (London ed., 1851, tr. by T. A. Buckly, pp. 70-79);  K.R. Hagenbach,  “Compendium of the History of Doctrines,” Vol. I, pp 214-223, 393 -398, dan Vol. II, pp. 88-114;   J. Calvin, “Institute,”  bk. 4, ch. 17, 18;  R. Hooke, “Ecclesiastical Polity,” bk. 5, ch.67;  Chas. Elliott,  “Delineation of Roman Catholicism,” bk. 2, ch. 4,5.

Halaman 65. ALKITAB VERSI WALDENSIA —  Mengenai terjemahan Waldensia dari bagian-bagian Alkitab ke dalam bahasa orang biasa, lihat Townley, “Illustration of Biblical Literature,” Vol. I, ch. 10, par. 1-13;  E. Petavel, “The Bible in France,” ch. 2, par. 3,4,8-10,13,21 (Paris ed., 1864);  G. H. Putnam, “The Censorship of the Church of Rome,” Vol. II, ch. 2.

Halaman 77. SURAT PERINTAH TERHADAP ORANG WALDENSES — Bagian terbesar dari naskah surat perintah resmi kepausan yang dikeluarkan oleh  Innocent VIII. pada tahun 1487 terhadap orang-orang Waldenses (aslinya ada di perpustakaan Universitas Cambridge) diberikan, dalam suatu terjemahan bahasa Inggeris, di Dawling’s “History of Romanism,” bk. 6, ch. 5, sec. 62 (ed. 1871).

Halaman 84. SURAT PENGAMPUNAN DOSA — Lihat catatan untuk halaman 59.

Halaman 85. WYCLIFFE —  Untuk naskah asli surat perintah resmi kepausan yang dikeluarkan terhadap Wycliffe, dengan suatu terjemahan bahasa Inggeris, lihat J. Foxe, “Acts and Monuments,” Vol. III, pp. 4-13 (Pratt-Townsend ed.,  London, 1870). Lihat juga J. Lewis, “Life of Wiclif,” pp. 49-51,305-314 (ed. 1820);  Lechler, “John Wycliffe and His English Precursors,” ch. 5, sec. 2 (pp. 162-164, London ed., 1884, tr. by Lorimer);  A. Neander, “General History of the Christian Church,”  period 6, sec. 2, part 1, par. 8.

Halaman 86. KEADAAN TIDAK DAPAT SALAH — Mengenai doktrin keadaan tidak dapat salah, lihat Catholic Encyclopedia, art. Infallability (contributed by P. J. Turner, S.T.D.);  Geo. Salmon, “The Infallability of the Church;”  Chas. Elliott, Delineation of Roman Catholicism,”  bk. 1,  ch. 4;  Cardinal Gibbon,  “The Faith of Our Fathers,”  ch. 7 (49th ed., 1897).

Halaman 103. SURAT PENGAMPUNAN DOSA — Lihat catatan untuk halaman 59.

Halaman 104. KONSILI KONSTANCE — Mengenai Konsili Constance oleh Paus Yohanes XXIII., atas desakan kaisar Sigismund, lihat Mosheim, “Ecclesiastical History,” bk. 3, cent. 15, part 2, ch. 2, sec. 3;  J. Dowling, “History of Romanism,” bk. 6, ch. 2, par. 13;  A. Bower, “History of the Popes,” Vol. VII, pp. 141-143 (London ed., 1766);  Neander, “History of the Christian Religion and Church,” period 6, sec. 1 (1854,  5-vol. ed., tr. by Torrey, Vol. V, pp. 94-101).

Halaman 128. SURAT PENGAMPUNAN DOSA — Lihat catatan untuk halaman 59.

Halaman 234. JESUITISME — Untuk keterangan mengenai asal-usul, prinsip dan tujuan-tujuan dari “Society of Jesus,” sebagaimana digariskan oleh anggota-anggota ordo ini, lihat suatu karya yang berjudul, “Concerning Jesuits,” yang di edit oleh Rev. John Gerard, S.J., dan diterbitkan di London tahun 1902, oleh Catholic Truth Society. Dalam karya ini dikatakan bahwa “motif utama seluruh organisasi Society adalah roh penurutan menyeluruh: “Biarlah setiap orang,” tulis St. Ignatius, “mendorong diri sendiri bahwa mereka yang hidup di bawah penurutan harus membiarkan mereka digerakkan dan dituntun oleh Pelindung ilahi melalui para atasan mereka, seperti seolah-olah mereka adalah tubuh yang sudah mati, yang mengizinkan dirinya dibawa kemana saja dan diperlakukan dengan cara apapun, atau sebagai tongkat orangtua yang bertugas melayani yang memegangnya sebagaimana ia suka.”

      “Penyerahan mutlak ini yang diagungkan oleh motifnya, dan harus, lanjut . . . penemunya, sigap, gembira dan sabar; . . .  penurutan keagamaan dicapai dengan sukacita yang dipercayakan oleh atasannya kepadanya demi kebaikan umum, memastikan bahwa dengan demikian ia sesuai dengan kehendak ilahi.” — The Comtesse R. de Courson in “Concerning the Jesuits,” p. 6.

      Lihat juga L. E. Dupin, “A Compendious History of the Church,”  cent. 16, ch. 33 (London ed., 1713, Vol. IV, pp 132,135);  Mosheim, “Ecclesiastical History,” cent. 16, sec. 3, part 1, ch. 1, par. 10 (termasuk catatan 5,6);  Encyclopedia Brittanica (9th ed.), art. Jesuits;  C. Paroissien, “The Principles of the Jesuits, Developed in a Collection of Extracts from Their Own Authors,” (London, 1860 — edisi sebelumnya muncul pada tahun 1839);  W. C. Cartwright, “The Jesuits, Their Constitution and Teaching,” (London, 1876);  E. L. Taunton, “The History of Jesuits in England, 1580-1773,” (London, 1901).

Halaman 235. PENYELIDIKAN/PEMERIKSAAN —  Lihat Catholic Encyclopedia, art. Inquisition (contributed by J. Blotzer, S.J., Munich); H. C. Lea, “History of Inquisition inthe Middle Ages;”  Limborch, “History of Inquisition,” Vol. I, bk. 1, ch. 25, 27,-31(London ed., 1731, tr. by S. Chandler, Vol. I, pp. 131-142,144-161);  L. von Rauke, “History of the Popes,” bk. 2, ch. 6.

Halaman 265. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA REVOLUSI PERANCIS — Mengenai akibat-akibat luas penolakan Alkitab, dan agama Alkitab oleh rakyat Perancis, lihat H. von Sybel, “History of the French Revolution,” bk. 5, ch. 1, par. 3-7;  H. T. Buckle, “History of Civilization in England,” ch. 8,12 (N.Y. ed., 1895, Vol. I, pp. 364-366, 369-371, 437,550,540,541);  Blockwood Magazine, Vol. XXXIV, No. 215 (Nov., 1833, p. 739);  J. G. Lorimer, “An Historical Sketch of the Protestant Church in France,” ch. 8, par. 6,7.

Halaman 266. TANGGAL-TANGGAL NUBUATAN — Lihat catatan untuk halaman 329.

Halaman 267. USAHA-USAHA UNTUK MENINDAS DAN MEMUSNAHKAN ALKITAB — Mmenunjuk kepada usaha-usaha yang dilakukan sejak lama dan terus menerus di Perancis untuk menindas Alkitab — terutama dalam versi bahasa rakyat biasa, Gaussen berkata, “Dekrit Toulouse tahun 1229” yang membentuk “pengadilan Penyelidikan terhadap semua pembaca Alkitab dalam bahasa biasa, . . . merupakan suatu surat perintah yang membakar, pertumpahan darah dan pembinasaah. Dalam fatsal-fatsalnya yang ke 3, 4, 5, dan ke 6, diperintahkan penghancuran seluruh rumah, tempat-tempat persembunyian yang paling sederhana, dan bahkan tempat-tempat retrit di bawah tanah tempat orang-orang memproses Alkitab; dan bahwa mereka harus mengejar sampai ke hutan-hutan dan gua-gua di dalam tanah; dan bahkan orang-orang tempat mereka menumpangpun harus dihukum berat.”  Sebagai akibatnya, Alkitab itu “dilarang di mana-mana; hilang lenyap ke dalam tanah, sebagaimana adanya; masuk ke dalam kubur.”  Dekrit ini “dijalankan selama 500 tahun dengan orang yang dihukum tak terhitung banyaknya, di mana darah orang-orang kudus mengalir bagaikan air.” — L. Gaussen, “The Canon of the Holy Scriptures,” part 2, bk. 2, ch. 7, sec. 5, prop. 641, par. 2.

      Dalam usaha khusus yang dilakukan untuk memusnahkan Alkitab selama  The Reign of Terror, pada penghujung tahun 1793, Dr. Lorimer berkata, “Dimana saja Alkitab diketemukan yang menyimpan boleh dikatakan akan dianiaya sampai mati; dengan demikian, beberapa komentator yang pantas dihormati menafsirkan pembunuhan dua saksi dalam fatsal  sebelas buku Wahyu (Apocalypse), mengenai penindasan umum, adalah pemusnahan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di Perancis saat itu.” — J. G. Lorimer, “An Historical Sketch of the Protestant Church in France,” ch. 8, par. 4,5.

      Lihat juga G. P. Fisher, “The Reformation,” ch. 15, par. 16;  E. Petavel, “The bible in France,” ch. 2, par. 3,8-10,13,21 (PAris ed., 1864);  G.H. Putnam, “The Censorship of the Church of Rome,” Vol. I, ch. 4 (1906 ed., pp. 97,99,101,102); Vol. II, ch. 2 (pp. 15-19);  S. Smiles, “The Huguenots: Their settlements, Churches, and Industries,” etc, ch. 1, par. 32,34; ch. 2, par. 6; ch. 3, par. 14; ch. 18, par. 5 (dengan catatan);  S. Smiles, “The Huguenots in France after the Revolution,” ch. 2, par. 8; ch. 10, par. 30; ch. 12, par. 2-4;  J. A. Wylie, “History of Protestantism,” bk. 22, ch. 6, par. 3.

Halaman 276. PEMERINTAHAN TEROR (THE REIGN OF TERROR) — Mengenai tanggungjawab para pemimpin yang salah tuntun, baik dalam gereja maupun dalam negara, dan terutama dalam gereja, mengenai kejadian Revolusi Perancis, lihat W. M. Sloane, “The French Revolution and Religious Reform,” Pendahuluan, dan ch. 2, par. 1,2,10-14 (1901 ed., pp. vii-ix, 19,20,26-31,40);  P. Schaff dalam “Papers of the American Society of Church History,” Vol. I, pp. 38,44;  S. Smiles, “The Huguenots after the Revolution,” ch. 18, par. 4,6,9,10,12-16,27;  J. G. Lorimer, “A Historical Sketch of the Protestant Church of France,” ch. 8, par. 6,7;  A. Galton, “Church and State in France, 1300-1907,” ch. 3, sec. 2 (London ed., 1907);  Sir J. Stephen, “Lectures on the History of France,” lecture 16, par. 60.

Halaman 280. MASSA RAKYAT JELATA DAN GOLONGAN YANG MEMPUNYAI HAK-HAK ISTIMEWA  — Mengenai keadaan sosial yang merajalela di Perancis sebelum masa revolusi, lihat H. von Holst, “Lowell Lectures on the French Revolution,” lecture 1; juga Taine, “Ancient Regime,” dan A. Young, “Travel in France.”

Halaman 283. HUKUMAN (RETRIBUTION) —  Untuk rincian lebih jauh mengenai sifat penghukuman dari Revolusi Perancis, lihat Thos. H. Gill, “The Papal Drama,” bk. 10;  E. de Pressense, “The Church and the French Revolution,” bk. 3, ch.1.

Halaman 284. KEKEJAMAN PEMERINTAHAN TEROR — Lihat M. A. Thiers, “History of the French Revolution,”  Vol. III, pp. 42-44, 62-74, 106 (N.Y. ed., 1890, tr. by F. Shoberl);  F. A.Mignet, “History of the french Revolution,” ch. 9, par.1 (Bohn ed., 1894);  A. Allison, “History of Europe,” 1789 – 1815, Vol. I, ch.14 (N.Y. ed., 1872, Vol. I, pp. 293-312).

Halaman 287. PENGEDARAN ALKITAB — Pada tahun 1804, menurut Tn. William Canton dari British and Foreign Bible Society, “seluruh Alkitab yang masih ada di dunia ini, dalam naskah atau yang sudah dicetak, dihitung setiap versi di tiap negara, ditaksir tidak lebih dari empat juta . . . . Berbagai bahasa dalam mana Alkitab yang empat juta itu ditulis, termasuk bahasa-bahasa zaman dulu seperti Maeso-Gothic dari Ufilas dan Anglo-Saxon dari Bede, dicatat kira-kira lima puluh jumlahnya.” — “What is the Bible Society?” p. 23 (rev. ed., 1904).

      Seabad kemudian, pada akhir ulang tahun seratus tahun pertama, The British and Foreign Bible Society telah mampu melaporkan jumlah peredaran Alkitab, testamen-testamen, atau bagian-bagiannya, yang diedarkan oleh lembaga itu sendiri, sampai sejumlah 186,680,101 — suatu jumlah yang pada tahun 1910 telah bertumbuh dan meningkat menjadi 220,000,000 eksemplar, dalam hampir 400 bahasa.

      Kepada jumlah ini harus ditambahkan jutaan eksemplar Alkitab atau bagian-bagiannya, dalam berbagai bahasa yang diedarkan oleh lembaga-lembaga Alkitab lain dan oleh berbagai agen-agen perusahaan lain. The American Bible Society (Lembaga Alkitab Amerika) — yang terbesar anak dari The Bristish and Foreign Bible Society, — selama 94 tahun pertama masa kerjanya, melaporkan jumlah yang disebarkan sebanyak 87,296,182 eksemplar (Lihat Bible Society Record,” Juni 1910). Menurut perkiraan konservatif, kira-kira enam juta eksemplar Alkitab telah dicetak setiap tahunnya oleh percetakan-percetakan komersil, yang jika ditambahkan kepada yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga Alkitab, akan mencapai lebih dari lima belas juta eksemplar peredaran Alkitab setiap tahunnya.

      Alkitab, seluruhnya atau sebagian, telah dicetak dalam lebih dari 500 bahasa yang berbeda; dan penerjemahan kepada bahasa-bahasa baru masih diteruskan dengan bersemangat.

Halaman 288. MISI LUAR NEGERI — Dr. G. P. Fisher, pada suatu fatsal dalam “Christian Mission” dalam bukunya, “History of the Christian Church,” meringkaskan permulaan gerakan misionaris, yang “dalam tahun-tahun belakangan dari abad kedelapan belas, memulai era kegiatan misionaris, suatu era yang dalam sejarah misi adalah yang sedikit kurang menarik perhatian dari pada permulaan zaman Kekristenan.” Pada tahun 1792, “lembaga Baptis didirikan, dengan Carey sebagai salah seorang misionarisnya yang pertama. Carey berangkat ke India, dan di sana, dengan pertolongan anggota lain dari lembaga yang sama, mendirikan misi Serampore.”  Pada tahun 1795, didirikan The London Missionary Society;  pada tahun 1799 dibentuk “organisasi yang pada tahun 1812 menjadi Church Missionary Society.”  Tidak lama sesudah itu, didirikan Wesleyan Missionary Society.

      “Sementara kegiatan misionaris bertumbuh di Britania Raya, orang-orang Kristen Amerika juga menjadi tergerak dengan semangat yang sama.”  Pada tahun 1812 mereka membentuk The American Board of  Commisioners for Foreign Mission; dan pada tahun 1814, terbentuk The American Baptist Missionary Union.  Adoniram Judson, salah seorang misionaris pertama yang pergi ke luar negeri dari Amerika, berlayar ke Calcutta pada tahun 1812, dan mencapai Burma pada bulan Juli 1813. Pada tahun 1837, terbentuk The Presbyterian Board. (Lihat Fisher, “History of the Christian Church,” period 9, ch. 7, par. 3-25).

      Dr. A. T. Pierson, dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam majalah Missionary Review of the World, Januari 1910, menyatakan, “setengah abad yang lalu, Cina dan Mancuria, Jepang dan Korea, Turki dan Arabia, dan bahkan benua Afrika yang besar masih tidur, — bangsa-bangsa pertapa, tertutup dalam penjara keterasingan dan ketertutupan. Asia Tengah hampir belum pernah dimasuki sebagaimana halnya Afrika Tengah. Di berbagai negeri, pendudukan Setan yang lama tidak bisa diutik, dan pemerintahannya tidak bisa diganggu. Negara-negara pengikut kepausan bersikap menolak sebagaimana halnya orang-orang kafir. Italia dan Spanyol memenjarakan seseorang karena berani menjual Alkitab, atau menyiarkan Injil. Perancis secara praktis tidak percaya kepada Tuhan, dan Jerman telah disusupi faham rasionalisme;  dan pintu sebagian besar ladang misi ditutupi oleh kurang lebih pengasingan yang ketat dan sistem kasta. Sekarang perobahan luar biasa dan radikal terjadi dalam segala bidang, sehingga bagi seseorang yang keluar dari masa pertengahan abad terakhir ini, . . . dunia ini tidak akan bisa dikenali, karena ia selama ini tertututp. Ia yang memegang kunci pintu gerbang telah membuka pintu gerbang itu, membuka seluruh negara kepada  Juru Kabar Salib. Bahkan di Kota Kekal, di mana setengah abad yang lalu seorang pengunjung harus meninggalkan Alkitabnya di luar tembok kota itu, ada rumah-rumah perbaktian Protestan, dan Alkitab diedarkan dengan bebas.”

Halaman 327. TANGGAL-TANGGAL NUBUATAN — Lihat keterangan untuk halaman 329.

Halaman 329. TANGGAL-TANGGAL NUBUATAN —  Fakta-fakta historis dan kronologis yang berhubungan dengan masa-masa nubuatan Daniel 8 dan 9, termasuk banyak bukti-bukti yang tanpa salah menunjuk kepada tahun 457 SM sebagai waktu yang tepat untuk memulai menghitung masa-masa itu, telah diringkaskan oleh banyak pelajar-pelajar nubuatan. Lihat Stanley Leathes, “Old Testament Prophecy,” lectures 10,11 (Warburton Lectures for 1876-1880);  W. Goode, “Fulfilled Prophecy.”  sermon 10, termasuk Note A (Warburton Lectures for 1854-1858);   A. Thom, “Chronology of Prophecy,” pp. 26-106 (London ed., 1848);   Sir Isaac Newton, “Observation upon the Prophecies of Daniel and the Apocalypse of St. John,” ch. 10 (London ed., 1733, pp. 128-143);  Uriah Smith, “Thoughts on Daniel and the Revelation,” part 1, ch. 8,9.  Pada waktu penyaliban, lihat Wm. Hales, “Analysis of Chronology,” Vol. I, pp. 94-101;  Vol. III, pp. 164-258 (2nd London ed., 1830).

Halaman 335. KEJATUHAN KEKAISARAN OTTOMAN — Untuk rincian lebih jauh mengenai kejatuhan kekaisaran Ottoman yang sudah diramalkan selama bulan Agustus 1840, lihat J. Litch, “The Probability of the Second Coming of Christ about 1843,” (diterbitkan pada bulan Juni 1838);  J. Litch, “An Address to the Clergy,” (diterbitkan pada musim semi tahun 1840;  edisi kedua, dengan data historis yang mendukung ketepatan perhitungan-perhitungan yang terdahulu mengenai masa nubuatan yang mencakup kepada kejatuhan kekaisaran Ottoman, telah diterbitkan pada tahun 1841);  The Advent Shield and Review, Vol. I (1844), No. 1, article 2, pp. 56,57,59-61;  J. N. Loughborough, “The Great Advent Movement,” pp. 129-132 (1905 ed.); J. Litch, article in Signs of the Times, and Expositor of Prophecy, August 1, 1849. Lihat juga artikel dalam Signs of the Times, and Expositor of Prophecy, Febr. 1, 1841.

Halaman 340. MENAHAN ALKITAB DARI ORANG-ORANG — Mengenai sikap Gereja Roma katolik terhadap peredaran Alkitab, dalam versi bahasa negara tertentu, di antara orang-orang awam, lihat Catholic Encyclopedia, art. Bible;  juga G. P. Fisher, “The Reformation,” ch. 15, par. 16 (1873 ed., pp. 530-532);  J. Cardinal Gibbon, “The Faith of Our Fathers,” ch. 8 (49th ed., 1897, pp. 98-117);  J. Dowling, “History of Romanism,” b. 7, ch. 2, sec. 14, dan b. 9, ch. 3, sec. 24-27 (1871 ed., pp. 491-496, 621-625);  L. F. Bungener, “History of the ZCouncil of Trent,” pp. 101-110 (2nd Edinburgh ed., 1853, tr. by D.D. Scott);  G. H. Putnam, “Books and Their Makers during the Middle Ages,” Vol. I, part 2, ch. 2, par. 49,54-56.

Halaman 373. JUBAH UNTUK NAIK (ASCENSION ROBES)  —  Cerita mengenai orang-orang Advent yang membuat jubah untuk dipakai naik ke atas “untuk menyambut Tuhan di awang-awang,” telah diciptakan oleh orang-orang yang mencela dan mengolok-olok. Cerita itu diedarkan dengan gencar sehingga banyak orang yang percaya. Tetapi setelah ditanyai dengan cermat, ternyata itu tidak benar. Selama bertahun-tahun suatu hadiah besar telah ditawarkan untuk membuktikan apakah benar yang seperti itu terjadi, tetapi buktinya belum bisa diberikan. Tak seorangpun yang mengasihi munculnya  Juru Selamat begitu bodoh dan begitu bersikap masa bodoh mengenai pengajaran-pengajaran Alkitab, sehingga menyangka bahwa jubah yang bisa mereka buat diperlukan untuk kedatangan Yesus. Jubah satu-satunya  yang diperlukan orang-orang kudus untuk menemui Tuhan ialah kebenaran Kristus. Lihat Wahyu 19:8.

Halaman 374. KRONOLOGI NUBUATAN — Dr. Geo. Bush, Profesor Bahasa Iberani dan Sastra Timur di Universitas Kota New York, dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Tn. Miller, dan diterbitkan di Advent Herald, and Signs of the Times Reprter, Boston, pada tanggal 6 dan 13 Maret 1844, membuat beberapa pengakuan sehubungan dengan perhitungannya mengenai masa-masa nubuatan. Tuan Bush menulis:  “Tidak ada yang perlu ditolak, sebagaimana saya mengerti, Anda atau rekan-rekan Anda, telah menggunakan banyak waktu dan perhatian untuk mempelajari mengenai kronologi  nubuatan, yang telah menghabiskan banyak waktu untuk menentukan permulaan dan penutupan tahun-tahun dari masa-masa yang besar. Jikalau masa-masa ini benar-benar diberikan oleh Roh Kudus dalam buku-buku nubuAtan, tidak diragukan lagi bentuk atau rancangan ini bahwa mereka harus dipelajari dan mungkin pada akhirnya, dimengerti sepenuhnya. Dan tidak seorangpun yang akan dipersalahkan dengan kebodohan yang terlalu berani, mereka yang dengan hormat, berusaha untuk melakukan ini . . . .

      Dengan mengambil satu hari  sebagai istilah nubuatan untuk satu tahun,  saya percaya Anda telah didukung oleh keterangan Alkitabiah yang kuat, serta diperkuat oleh Mede, Sir Isaac Newton, Kirby, Scott, Keith dan banyak lagi yang lain, yang telah sejak lama kesimpulan Anda itu ada di kepala mereka. Mereka semua setuju bahwa masa-masa utama yang dikatakan oleh Daniel dan Yohanes benar-benar berakhir kira-kira sebegini umur dunia,  dan adalah logika yang aneh yang menuduh Anda sebagai sesat (bida’ah) karena berpegang kepada pandangan yang sama, yang berdiri begitu menonjol dalam perhatian orang-orang luhur ilahi itu.”  “Hasil Anda dalam bidang pemeriksaan ini tidak mengenai saya sejauh itu mengenai berbagai kepentingan-kepentingan utama kebenaran dan kewajiban.”  “Kesalahan Anda, sejauh yang saya tangkap, terletak dalam jurusan lain, tidak dalam kronologimu.”  “Anda sama sekali salah mengenai keadaan atau sifat dari peristiwa-peristiwa  yang terjadi bilamana masa-masa itu bearkhir. Inilah kepala dan bagian depannya keteranganmu yang mengganggu.”

Halaman 399. TANGGAL-TANGGAL NUBUATAN — Lihat keterangan untuk halaman 329.

Halaman 435. PEKABARAN RANGKAP TIGA —  Wahyu 14:6,7 meramalkan pengumuman pekabaran malaikat yang pertama. Selanjutnya nabi itu melanjutkan, “Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: Sudah rubuh, sudah rubuh, Babel, kota besar itu . . . . Dan seorang malaikat lain, malaikat yang ketiga menyusul mereka.”  Kata “menyusul” di sini, berati dalam susunan kata-kata di dalam ayat ini, “pergi bersama.”  Liddel dan Scott mengatakan kata itu demikian; “Mengikuti seseorang, mencoba mencapai seseorang.” Robinson mengatakan, “mengikuti, pergi bersama, menemani seseorang.”   Itu adalah kalimat yang sama yang digunakan dalam Markus 5:24:  “Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.”  Itu juga digunakan mengenai umat yang ditebus yang 144,000 orang banyaknya, di mana dikatakan, “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi.” (Wah. 14:4). Di kedua tempat ini jelas bahwa buah pikiran yang hendak disampaikan ialah mengenai pergi bersama, bersama-sama dengan.  Demikian juga dalam 1 Korintus 10:4, di mana kita baca mengenai anak-anak Israel bahwa “mereka semua meminum minuman rohani yang sama , sebab mereka meminum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka,”  Kata “mengikuti” di sini diterjemahkan dari kata Yunani yang sama, yang berarti “bersama mereka.”  Dari sini kita mengerti bahwa buah pikiran dalam Wahyu 14:8,9, tidaklah sekedar malaikat kedua dan ketiga mengikuti atau menyusul yang pertama dalam pengertian waktu, tetapi mereka pergi dengan dia bersama-sama. Ketiga pekabaran itu tidak lain adalah pekabaran rangkap tiga. Mereka tiga hanya dalam aturan munculnya, tetapi setelah muncul, mereka pergi bersama, dan tidak dipisahkan.

Halaman 447. SUPREMASI PARA BISHOP ROMA — Beberapa keadaan yang penting yang berhubungan dengan anggapan supremasi oleh para bishop Roma, digariskan dalam Masheim’s “Ecclesiastical History,” cent. 2, part 2, ch. 4, sec. 9-11.  Lihat juga G. P. Fisher, “History of the Christian Church,”  period 2, ch. 2, par. 11-17 (1890 ed., pp. 56-58);  Gieseler, “Ecclesiastical History,” period 1, div. 3, ch. 4, sec. 66, par. 3,  termasuk catatan 8 (N.Y. ed., 1836, tr. by F. Cunningham);  J. N. Andrews, “History of the Sabbath,” pp. 276-279 (3rd ed., rev.).

Halaman 574. EDICT OF CONSTANTINE — Lihat catatan untuk halaman 53.

Halaman 578. GEREJA ABYSSINIA — Mengenai pemeliharaan hari Sabat Alkitab di Abyssinia, lihat Dean A. P. Stanley, “Lectures on the History of the Eastern Church,” lecture 1, par. 5, (N.Y. ed., 1862, pp. 96,97);  Michael Geddes, “Church History of Ethiopia,” pp. 87,88,311,312;  Gibbon, “Decline and the Fall of Roman Empire,” ch. 47, par. 37-39;  Samuel Gobat, “Journal of Three Years’ Residence in Abyssinia,” pp. 55-58, 83, 93, 97,98 (N.Y. ed., 1850);  A. H. Lewis, “A Critical History of the Sabbath and the Sunday in the Christian Church,” pp. 208-215 (2nd ed., rev.).

Halaman 581. DICTAES OF THE HILDEBRAND Lihat catatan untuk hal. 57. 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here