yerusalem

[AkhirZaman.org] Pembukaan kedutaan besar Amerika Serikat di Yerusalem merupakan kemunduran proses perdamaian Israel-Palestina. Langkah simbolis pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel tersebut membuat proses perdamaian Israel-Palestina harus dimulai kembali dari nol. Yang tersulit adalah membangkitkan kembali kepercayaan Palestina pada sebuah proses negosiasi perdamaian.

“Perpindahan kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem itu tidak lebih dari simbol pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel yang tidak diinginkan dunia internasional,” kata Nostalgiawan Wahyudi peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Meski tidak dihadiri langsung oleh Presiden AS Donald Trump, dan hanya diwakili oleh anak-menantunya, Ivanka dan Jared Kushner, tidak mempengaruhi resminya pengakuan Washington terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kote Israel. “Ini menjadikan perundingan perdamaian, diplomasi antara Palestina dan Israel kembali ke titik nol,” kata Nostalgiawan.

Dua negara yang hidup berdampingan dengan damai telah disepakati dunia internasional menjadi solusi bagi perdamaian Israel-Palestina. Langkah tersebut bisa menciptakan ruang yang lebih formal, baik menjalin hubungan perdagangan maupun diplomatik. Namun hal itu tidak diinginkan Israel.

Ketika kalangan internasional cenderung menginginkan solusi dua negara, Israel memanfaatkan Trump. “Israel melakukan penetrasi kebijakan Trump untuk menguasai Yerusalem secara penuh,” kata Nostalgiawan.

Hal serupa tidak diperoleh Israel saat Amerika Serikat dipimpin Presiden Barack Obama. Semua presiden sebelum Trump melihat gejolak politik akan semakin buruk jika kedutaan AS dipindahkan ke Yerusalem. Obama dengan tegas menyatakan dukungan bagi solusi dua negara, mendukung dua negara merdeka hidup berdampingan.

“Ini tidak lebih dari gaya-gaya yang dilakukan Israel. Membuat kebijakan yagn tidak multilateral, menggunakan kekuatan Amerika, pengaruh Trump untuk memaksakan pemindahan kedutaan ke Israel. Sebab tanpa paksaan, tujuan politik Israel tidak tercapai,” kata Nostalgiawan.

Kehendak Israel itu tidak mendapat dukungan publik internasional, kecuali Trump. Adapun Trump sendiri enggan datang, karena risikonya sangat besar, antar lain faktor keamanan.

Pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem tidak menentukan kedaulatan negara. Juga tidak dapat dijadikan acuan bahwa Ibu Kota Israel telah pindah ke Yerusalem. “Secara power, otoritatif sendiri bagi Israel dengan mengklaim dukungan dari Amerika Serikat,” kata Nostalgiawan.

Dia menyatakan pemindahan kedutaan adalah otoritas sebuah negara. “Jika tanah yang dijadikan ibu kota bersengketa dengan negara lain, tanah sengketa tidak bisa didudukkan sebagai ibu kota negara,” kata dia.

Pemindahan kedutaan ke Yerusalem, merupakan spirit, sinyal motivasi kekuatan bagi Israel bahwa mereka mendapat dukungan. Meskipun dari perpektif perdamaian Israel-Palestina, itu adalah sebuah kemunduran.

Terutama, menurut Nostalgiawan, adalah mendapatkan kepercayaan dari Palestina. Palestina bisa pesimis untuk kembali ke perundingan perdamaian, lantaran beberapa upaya negosiasi damai kembali berujung seperti ini. Dikhawatirkan hal ini meningkatkan kekerasan. “Kita khawatirkan meningkatnya kekerasan, kontak fisik akibat Palestina yang frustrasi untuk menyampaika keinginan politik menjadi negara merdeka, dengan adanya keputusan sepihak AS untuk membuka kedutaan di Yerusalem,” kata Nostalgiawan.

“Dengan kebuntuan ini, dikhawatirkan Hamas menjadi gerakan yang keras seperti dulu,” kata dia.

Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-bangsa juga tidak dapat diharapkan memberikan solusi. Apalagi dengan adanya hak veto yang dimiliki sejumlah negara. “PBB tidak liberal dengan adanya negara-negara adidaya yang memiliki veto. Kebijakan PBB tumpul ke atas, terutama bagi negara-negara yang memiliki hak veto,” kata Nostalgiawan.

“Keputusan tingkat tinggi PBB tidak bisa bersuara jika menentang negara yang memiliki hak veto,” kata dia.

Saat ini yang bisa dilakukan PBB adalah meminta AS menarik keputusannya. Hal tersebut, menurut Nostalgiawan, masih dimungkinkan.

Selain itu gagasan untuk menjadikan Yerusalem sebagai kawasan internasional juga pernah diserukan Obama dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam. Jika tanah suci tiga agama tersebut menjadi milik internasional, maka harus di bawah PBB dan dilindungi PBB. Kalangan internasional, baik Israel dan Palestina memiliki akses yang sama ke Yerusalem. Saat ini hanya Kota Tua Yerusalem, dan tembok-temboknya, yang menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO.

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180515142837-106-298367/kedutaan-as-di-yerusalem-langkah-simbolis-menuju-nol

Banyak negara saat ini menyadari AS adalah negara super power di muka bumi saat ini, walaupun AS dengan Rezim Trump yang kekuatan kuasanya, tidak dapat seenaknya memaksakan keinginannya, tanpa memperhatikan hak suatu bangsa lain.

Perayaan Israel di Yerusalem adalah merupakan suatu duka bagi Palestina di Gaza. Banyak pertumpahan darah terjadi di Gaza ditembaki tentara Israel dan begitu mengerikan.
*

“Mereka bersenjatakan panah dan tombak; mereka bengis dan tak kenal ampun. Seperti bunyi laut bergelora begitulah suara derap kuda mereka yang sedang dipacu untuk maju menyerang Yerusalem.”

“Manusia akan takut setengah mati menghadapi apa yang akan terjadi di seluruh dunia ini, sebab para penguasa angkasa raya akan menjadi kacau-balau.”

Yeremia 6:23; Lukas 21:26

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here