cth Sifat yang Menjatuhkan Harga Diri Copy

[AkhirZaman.org] Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (Filipi 2:3) Dalam dunia yang sarat dengan persaingan saat ini maka surat rasul Paulus ini sepertinya menjadi tidak relevan. Hampir dalam setiap sendi kehidupan masyarakat sekarang ini setiap orang berlomba menjadi yang utama, dari perkara sepele hingga perkara yang besar, “siapa cepat dia dapat.” Untuk naik angkutan umum saja harus menjadi yang utama, mencari tempat duduk yang lebih teduh, walaupun masih ada orang yang lebih berhak untuk itu. Fasilitas layanan “prioritas” yang ditawarkan oleh penyedia sarana diupayakan agar para pemakai jasa boleh menjadi anggota, walaupun harus membayar dengan harga yang tidak murah. Tidak ada yang salah menjadi yang utama (tentunya setelah Yesus), apabila dalam proses menjadi yang utama itu tidak meninggalkan luka bagi orang lain. Namun di sisi lain, orang sering terluka oleh dirinya sendiri di saat orang lain menjadi yang utama, walaupun itu dicapainya secara alami. Tentunya karena menilai diri terlalu tinggi. Suasana kegiatan seharihari dalam mempertahankan hidup di luar jemaat mempengaruhi banyak kehidupan orang-orang Kristen dalam komunitasnya. Sehingga di dalam gereja muncul banyak keakuan-keakuan yang merasa bahwa saya pantas menjadi yang utama, menjadi yang terhormat. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini mungkin bisa menimbulkan keresahan dan bahkan perpecahan di dalam jemaat, dari tingkat yang paling rendah hingga organisasi yang paling tinggi. Seperti contoh perpindahan keanggotaan dan pengorganisiran gereja baru. Dalam banyak kejadian, keduanya meninggalkan masalah pada jemaat asalnya oleh karena taksiran harga diri yang terlalu tinggi, baik oleh diri sendiri ataupun oleh anggota atau jemaat yang ditinggalkan.

Pada keseharian, kita terlalu banyak menggunakan kata “aku” dari pada kata “anda.” Ke-aku-an yang dipelihara dan dipupuk dengan baik akan menghasilkan buah perpecahan. Itu sebabnya rasul Paulus merasa perlu untuk membuang itu dari kehidupan orang Kristen. Dalam bahasa Inggris kedua kata ini diwakili/boleh diwakili oleh satu huruf saja. I (ai) = aku dan U (yu) = kamu (anda). Kita tidak menyebutkan bahwa secara kebetulan kedua huruf ini mengambil posisi strategis pada susunan kata tertentu yang bisa menggambarkan sifat/keadaan yang digambarkan oleh kata itu. Karena dengan iman kita mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. 

Huruf I (ai) dengan bangga mengambil posisi persis berada di tengah kata “pride” (kesombongan). Kesombongan memilih untuk berbohong tentang siapa kita sebenarnya, menetapkan harga yang terlalu tinggi atas diri dan sulit mengakui kelebihan orang lain. Sehingga dalam berbagai kesempatan “aku” harus menjadi yang utama karena “pantas” untuk itu. “Manusia yang sombong akan direndahkan …” (Yesaya 2:11).

Apa sebenarnya yang pantas dibanggakan oleh manusia? “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103:14). Huruf I (ai) yang kedua dengan cerdik mengambil posisi di pusat kata sin (dosa). Karena kesombongan Lucifer maka manusia menjadi berdosa dan harus menanggung akibat dosa, “sebab upah dosa ialah maut.” (Roma 6:23). Huruf I (ai) yang ketiga dengan gagahnya mengambil posisi di pusat kata anxiety (kecemasan). Begitu banyak kecemasan, keresahan yang terjadi di dalam jemaat maupun tingkat organisasi yang lebih tinggi karena banyaknya “aku” yang ditonjolkan dan mau menjadi yang utama sebagai ganti Yesus (Kolose 1:18). Mungkin tidak banyak, namun ada yang meninggalkan gereja karena tidak mampu menahan kecemasan yang diakibatkan oleh kesombongan yang ada di antara sesama. Selagi di dunia hal ini mengakibatkan kerugian secara moril maupun materil yang tidak terukur nilainya, waktu, tenaga dan pikiran banyak terkuras mengurus masalah yang berhubungan dengan “aku,” namun yang lebih penting diingat, bahwa hal ini pula menimbulkan kerugian rohani yang tiada bandingannya.

Lalu bagaimana dengan U (yu). Huruf U (yu) dengan rendah hati mengambil posisi di pusat kata refusal (penyangkalan). Sebagai gantinya kesombongan, penyangkalan terhadap diri merupakan hal yang mutlak bagi orang Kristen. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Satu teladan yang sempurna dalam hal ini adalah Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6,7).

Huruf U (yu) yang kedua dengan kesabarannya mengambil tempat persis berada di tengah kata sun (matahari). “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai.” (Mazmur 84:12). “Kamu adalah terang dunia … Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:14,16). Dalam diri orang Kristen tidak ada terang yang dapat dibagikan, namun mengemban satu tanggung jawab untuk menjadi sarana penerang dengan cara memantulkan sinar dari matahari kebenaran kita yaitu Kristus Yesus.

Huruf U (yu) yang terakhir bertahta persis di pusat kata tranquality (ketenangan /kesentosaan). Hidup kekal adalah menjadi tujuan semua manusia. Menganggap yang lain lebih utama akan mengurangi permasalahan yang timbul dengan sesama dan ini akan membawa kedamaian hidup bagi yang melakukannya di bumi ini maupun di dunia baru nanti. Oleh kekuatan sendiri tidak ada manusia yang sanggup melakukannya, semua membutuhkan bantuan Roh Kudus untuk bisa memperlakukan orang lain lebih utama dan Roh Kudus yang sama membantu kita membuang kesombongan lalu menggantikannya dengan penyangkalan diri, membuang dosa dan menggantikannya dengan kehangatan kasih dan kebenaran Kristus, membuang kecemasan dengan memperoleh kesentosaan. Yesus menghimbau: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29).

(WAO) D. SITOHANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here