akhir zaman

(God’s Quickening Word)

Ketertarikan Terhadap Alkitab Bersifat Universal

[AkhirZaman.org] Ketertarikan terhadap Alkitab bersifat universal. Sesungguhnya tidak ada literatur yang seistimewa Alkitab. Semua ras mengklaimnya sebagai milik mereka sendiri. Saya pernah mendengar seorang misionaris dari Afrika yang berkata bahwa seorang dari suku Hottentot datang kepadanya dan menjelaskan kepadanya bahwa ia merasa sedih karena tidak dapat membaca Yohanes 3:16 dalam Hottentot. Orang kulit hitam itu berkata bahwa tidak ada sesuatu yang lebih indah di dalam dunia ini yang seperti kisah Kristus dalam Alkitab. Ketertarikan terhadap Alkitab benar-benar bersifat universal bagi semua orang di sepanjang masa dan di segala tempat dan tingkat status kehidupan. Alkitab memiliki daya tarik untuk dibaca oleh semua orang dari segala umur, baik anak-anak maupun orang-orang percaya yang telah memutih rambutnya. Anak-anak kita membaca dan mempelajarinya di rumah dan Sekolah Minggu; dan para sarjana seperti Newton dan Faraday, negarawan besar seperti Gladstone dan Lincoln, dan para tentara/prajurit besar seperti Robert E. Lee dan Douglas MacArthur telah mengambil Alkitab ini sebagai kebanggaan dan penuntun kehidupan mereka.

Seorang misionaris yang melakukan suatu perjalanan di Timur dekat mampir semalam  di tenda penggembala yang ia pernah kunjungi beberapa tahun sebelumnya. Gembala atau pengembara itu menyambutnya dengan memberikan pertanyaan, “Apakah Anda membawa kembali buku domba itu?” Untuk beberapa saat misionaris itu tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu. Sebenarnya inilah yang terjadi, ketika terakhir kali ia berjumpa dengan gembala yang sudah tua itu, ia pernah membacakan bagi orang itu dalam bahasa gembala itu sendiri dari Mazmur dua puluh tiga. Penjaga kawanan domba atau gembala yang bukan orang terpelajar itu menyebut Alkitab sebagai “buku domba.”

Ketika Baptist World Alliance mengadakan pertemuan di London, Inggris pada tahun 1955, saya hadir di sana dan memimpin doa persiapan firman Tuhan yang akan disampaikan oleh Dr. Joao Soren, gembala First Baptist Church of Rio de Janeiro, Brazil. Dalam khotbah ini saya diberkati oleh kisah yang ia ceritakan tentang pengalamannya ketika ia menjadi chaplain dalam Perang Dunia II. Dr. Soren menjelaskan dengan kata-kata yang tak terlupakan tentang pagi yang dingin pada tanggal 23 Februari 1945. Infantri Brazil bertugas di Italia bersama dengan American Fitfth Army baru saja berperang  dalam pertempuran yang paling berdarah di kaki bukit Apennine Italia di mana pada waktu itu salju musim dingin mulai turun.

Sebagai seorang chaplain dari Brazilian Division, ia mengumpulkan mayat korban perang dan mencari area dimana  mayat-mayat prajurit yang gugur dalam perang itu terkubur di bawah salju sepanjang musim dingin itu. Ketika ia menemukan tubuh seorang sersan muda yang pernah bertumbuh di Sekolah Minggu di First Baptist Church in Rio de Janeiro, dan tubuh prajurit itu telah terkubur dalam es selama dua bulan, namun masih utuh. Kelihatannya ia sudah kehabisan amunisinya, sehingga akhirnya ia tertembak oleh senjata musuh. Dan kelihatannya ia tidak langsung mati. Ia masih sempat merogoh Alkitab sakunya yang berisi kitab Perjanjian Baru dan Kitab Mazmur yang pernah diberikan oleh chaplain itu kepadanya dari saku celannya. Rupanya sebelum mati ia sempat membuka Shepherd’s Psalm(Mazmur 23). Ia membaca ayat-ayat itu dan secara perlahan-lahan akhirnya ia meninggal, “Tuhan adalah gembalaku; takan kekurangan aku.” Kemudian kepalanya tertunduk dan darah mengalir ke atas halaman Alkitab itu. Di tengah kondisi kritis itu, prajurit yang sekarat ini masih sempat membuka Firman Allah, yang merupakan sumber penghiburan dan kekuatan. (bersambung ke bagian 3)

Diterjemahkan dari: Dr. W.A. Criswell, Why I Preach That the Bible Is Literally True, Nashville: Tennessee, 1965, hal. 11-18.

Diterjemahkan oleh:  Dr. Eddy Peter Purwanto

www.wacriswell-indo.org

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here