horw-201736 640 Copy

 

[AkhirZaman.org] Seorang pria yang pernah lahir sebagai rakyat biasa yang menjadi tawanan kerajaan Romawi, kemudian kehidupannya berubah dan mengalami puncak keberhasilan, namun hanya untuk kemudian jatuh dan menjadi salah satu orang yang paling hina karena kegagalannya sebagai sejarah manusia. Orang ini lahir sebagai salah satu yang terendah dari rakyat jajahan kekaisaran Romawi. Ketika tumbuh menjadi dewasa, ia secara otomatis menjadi tentara Romawi. Mungkin Anda dapat membayangkan bahwa jarang ditemui pengabdian yang sungguh dari antara golongan rakyat jajahan seperti ini. Tetapi tidaklah dengan orang ini. Dia seorang yang sangat berani dan prajurit yang ambisius.

Perbuatan-perbuatannya yang gagah berani terdengar sampai ke telinga Kaisar. Dalam pengakuan dari para atasannya untuk kontribusi yang besar dari pria ini membuat Kekaisaran Romawi merubah statusnya sebagai orang bebas sehingga dia bisa mendapatkan karir kemiliteran yang lebih tinggi sebagai seorang perwira di tentara Romawi. Orang ini menjadi salah satu hamba yang paling setia kepada Kaisar. Di mana pun Kaisar akan mengirimnya untuk sebuah peperangan, dia akan pergi dan memenangi pertempuran tersebut. Kemudian dia akan datang kembali ke Roma dan memberikan penghormatan di kaki Kaisar. Sejarah menunjukan bahwa orang ini tidak pernah kehilangan pertempurannya.

Setelah menjalani karir militer yang sangat cemerlang dan terhormat, ia kembali ke Roma untuk pensiun. Untuk menghormati dia, Kaisar mengundang orang ini untuk menjalani masa pensiunnya di lingkungan keluarga kerajaan. Wow, bisakah Anda membayangkan situasi ini? Seorang pria, lahir sebagai budak atau tawanan, dan sekarang ia sebagai pensiunan Jenderal terhormat di keluarga kerajaan.

Sementara tinggal di keluarga kerajaan, pria ini bertemu saudara perempuan Kaisar yang sangat cantik. Dia bernama Claudia. Pria ini jatuh cinta dengan dia, dan berhasil memenangkan hatinya untuk kemudian menikah. Dia telah mencapai semua yang orang dunia dambakan waktu itu, kesuksesan. Lahir sebagai budak atau tawanan, dan setelah pensiun sebagai jenderal tidak hanya tinggal di lingkungan keluarga kerajaan namun menjadi anggota keluarga kerajaan.

Tetapi setelah menikah, pria ini mulai tidak nyaman menjalani hidupnya. Sebagian besar hidupnya telah dihabiskan di medan perang. Dia menyukai untuk mengarahkan orang-orang dan membuat keputusan yang rumit dalam situasi genting peperangan. Dia tidak suka kehidupan pesiun yang tenang. Dengan demikian, dia mulai mencari di sekitar kerajaan Romawi untuk sesuatu yang bisa dikerjakan, dan pastinya sesuatu yang akan menantang.

Pada waktu itu, ada satu masalah besar di Kekaisaran Romawi, tepatnya kalau sekarang berada di wilayah Palestina. Bangsa Yahudi telah terus-menerus melakukan perlawanan yang begitu sengit kepada Roma. Oleh karena itu, pria ini mengajukan sebuah permintaan supaya dia ditunjuk sebagai gubernur di wilayah yang bermasalah itu. Setelah mempertimbangkan, Kaisar menyetujui permintaannya. Pilatus pindah bersama istri barunya dari Roma ke Yerusalem untuk menjadi gubernur. Anda bisa menebak siapa yang kita bicarakan ini? Dalam Alkitab, dia disebut sebagai Pontius Pilatus.

Sekarang Anda tahu sedikit sejarah. Pilatus adalah seorang Jenderal yang sangat sukses, tetapi dia juga seorang Gubernur yang sangat keras dan korup. Dia akan melakukan apapun untuk uang. Lebih dari itu, ia membenci orang-orang Yahudi. Tentu saja, orang Yahudi membalas dengan membencinya juga.

Kadang-kadang hanya untuk menunjukkan kebenciannya terhadap orang Yahudi, dia akan memerintahkan prajuritnya berpakaian seperti orang-orang Yahudi berpakaian. Kemudian selama ibadah para prajurit ini akan mengeluarkan tongkat atau cambuk dan mencoba untuk menciptakan sebuah perkelahian. Nah, Anda dapat membayangkan bagaimana perasaan orang Yahudi dengan gubernur baru mereka ini? Mereka membuat banyak kali keluhan tentang Pilatus supaya dia kembali ke Roma. Tapi Pilatus tidak terlalu khawatir.

Seiring berjalannya waktu, ketegangan antara Pilatus dan orang-orang Yahudi terus terjadi sampai akhirnya mencapai klimaks dalam insiden tentang saluran air. Pilatus bermaksud supaya orang Yahudi membayar untuk proyek air umum ini, tetapi mereka menolak. Oleh karena itu, Pilatus memutuskan secara paksa untuk mengeluarkan pajak ekstra dari perbendaharaan Bait Suci mereka. Itu akan menjadi seperti perampokan bersenjata oleh presiden, polisi dan militer.

Namun, ketika orang-orang Yahudi mempelajari rencananya, mereka mengumpulkan massa di sekitar Bait Suci mereka. Ketika Pilatus tiba dengan tentara, ada ratusan orang-orang Yahudi yang benar-benar mengelilingi Bait Suci. Pilatus menyadari bahwa jika ia tetap bersikeras melalui kerumunan orang banyak itu, akan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan. Ia tahu jika itu terjadi maka ia tidak pernah bisa menjelaskan ke Roma, sehingga ia mundur dan pulang ke rumah.

Kemudian dia mengetahui bahwa ada enam belas orang Yahudi bertanggung jawab karena telah menggagalkan rencananya. Suatu hari seorang mata-mata bergegas masuk dan berkata pada Pilatus bahwa keenambelas orang Yahudi itu sedang beribadah di Bait Suci. Dengan cepat dia memanggil beberapa tentara ke sampingnya, dan Pilatus mengirim mereka ke Bait Suci untuk membantai keenambelas orang Yahudi itu, mencampurkan darah mereka dengan darah korban hewan persembahan mereka. Anda dapat membaca catatan yang dalam Lukas 13:1.

getsemani CopyKemudian terjadi suatu situasi yang kembali melibatkan Pilatus dengan orang Yahudi ketika suatu pagi dia harus berhadapan dengan Yesus Kristus. Bermula saat Yesus pergi dengan murid-murid ke Taman Getsemani pada Kamis malam. Dan di dalam taman itu ditempatkan pada pundak Yesus beban dosa-dosa manusia (termasuk kita) yang begitu mengerikan. Ketika rasa bersalah dunia diletakkan pada Roh-Nya yang tidak berdosa, ia merasa hubungan-Nya dengan Bapa-Nya menjadi rusak. Sebelum pergi ke Taman, Dia bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem untuk menyerahkan nyawa-Nya dalam kematian, dan kemudian akan mengambilnya lagi dalam hari ketiga.

Alkitab mengatakan bahwa dosa yang memisahkan kita dari Allah (Yesaya 59: 2). Dan Yesus merasakan perpisahan dengan Allah yang disebabkan oleh dosa yang Dia sendiri tidak pernah lakukan. Rasa sakit yang Dia derita ketika hubungan-Nya dengan Bapa-Nya dirusak dan dosa dunia ditempatkan ke atasnya yang menyebabkan Dia mengeluarkan tetesan keringat darah. Hatinya tertikam dengan kesedihan sekalipun sesungguhnya kita tidak pernah sepenuhnya bisa memahami penderitaan Yesus akibat terpisah dengan Bapa-Nya oleh dosa dunia.

Tapi apa yang para murid lakukan di saat Yesus membutuhkan mereka? Mereka sedang tidur. Setelah Yesus datang untuk ketiga kalinya, murid-murid bisa mendengar langkah kaki orang banyak sedang berjalan ke arah mereka. Segera, Yudas dan beberapa prajurit menemukan Yesus. Dan Yudas sungguh-sungguh mengkhianati Tuhannya dengan sebuah ciuman.

Kemudian prajurit menangkap Yesus. Di tengah malam mereka membawa Yesus pergi “menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua” (Matius 26:57). By the way, tindakan itu adalah ilegal oleh hukum Romawi jika orang Yahudi untuk menangkap seorang pria di malam hari. Tetapi orang Yahudi begitu bertekad untuk menyingkirkan Yesus, bahwa mereka bersedia untuk melanggar hukum asalkan bisa membuat Yesus dihukum mati. Karena mereka tahu jika mereka menunggu sampai pagi, teman-teman Yesus dan pendukung-Nya akan mencoba membelanya. Pekerjaan mereka adalah karya kegelapan oleh pemimpin mereka, Pangeran Kegelapan. Dan malam itu para pemimpin Yahudi mengutuk Yesus Kristus untuk jenis kematian yang terburuk, yaitu kematian di kayu salib.

Tapi orang Yahudi tidak mempunyai kuasa untuk melaksanakan hukuman mati. Itu adalah hak prerogatif Roma saja. Jadi Jumat pagi, pemimpin Yahudi, bersama dengan orang banyak datang ke Pilatus di gedung pengadilan dengan Yesus yang telah menjadi tawanan mereka. Tapi kantor pemerintahan Pilatus belum dibuka. Lalu kemudian karena menyadari terlalu awal sehingga mereka mendesak para pengawal Pilatus untuk membangunkannya dari dari tempat tidur. Begitu besar tekad Yahudi untuk membunuh Yesus, bahwa mereka bersedia untuk mengutus seseorang untuk membangunkan Pilatus. Bayangkan kondisi Pilatus di pagi itu ketika ia berjalan keluar.

Apakah Anda pernah bangun tidur untuk melakukan sesuatu yang Anda tidak ingin lakukan? Bagaimana jika Anda di posisi itu? Apakah menyenangkan, atau Anda akan marah? Pilatus mungkin sangat marah. Dia bertekad untuk menyelesaikannya secepat mungkin sehingga ia dapat kembali ke tempat tidur. Ia membenci orang-orang Yahudi, dan sekarang mereka memanggil dia untuk bekerja sepagi itu. Mungkin saja Pilatus sangat geram di kamar tidurnya dan saat keluar wajahnya begitu muram.

Ia akan membuat ini menjadi persidangan tercepat yang pernah ia lakukan. Pasti dengan tatapan mata yang tidak ramah Pilatus berpaling untuk melihat Yesus, tahanan orang Yahudi, yang diseret ke arah Tahkta Pengadilan. Tapi ketika Pilatus melihat ke wajah-Nya, hatinya melunak. Ia belum pernah melihat seorang pria yang begitu tulus. Yesus tidak terlihat seperti seorang penjahat. Dia tampak cukup mulia untuk menjadi seorang raja, atau mungkin seorang tuan.

Pilatus tahu segera bahwa Orang ini tidak terbukti bersalah atas kejahatan yang sedang dituduhkan pada-Nya. Dalam Matius 27: 18 Pilatus mengetahui bahwa orang-orang Yahudi menyerahkan Yesus untuk dihukum karena rasa iri dan dengki. Kita bisa membayangkan bahwa Roh Kudus mulai bekerja dalam hati dan pikiran Pilatus; mungkin untuk terakhir kalinya. Pilatus tahu ia harus mencari tahu mengapa Orang ini telah dibawa; kejahatan apa yang diperbuat-Nya.

Sekarang jangan salah paham, Pilatus bukanlah seorang yang baik. Dia bukanlah hakim yang adil. Dia telah sering mengutuk korban yang tidak bersalah hingga hampir mati di persidangan. Namun, dia melihat ke wajah Yesus dan Roh Kudus bergerak dalam hatinya, ia tahu harus mencari tahu mengapa orang Yahudi telah membawa-Nya.

Namun akhirnya Pilatus membuat 6 KESALAHAN FATAL dalam percobaan untuk menghukum Yesus. Dan kita akan mempelajarinya kesalahan-kesalahan yang Pilatus lakukan hingga membuatnya menuju kehancuran akhir. Sambil kita akan melihat kesalahan-kesalahan, mari kita bertanya pada diri sendiri jika kita juga telah membuat kesalahan yang sama dalam hubungan kita dengan Yesus.

Kita akan mulai melihat kesalahan pertama Pilatus dalam Lukas 23: 1-4. “Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus dibawa menghadap Pilatus. Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: ‘Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.’ Pilatus bertanya kepada-Nya: ‘Engkaukah raja orang Yahudi?’ Jawab Yesus: ‘Engkau sendiri mengatakannya.’ Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: ‘Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini.’” Melalui 4 ayat ini kita melihat bahwa Paulus tidak mendapati kesalahan dalam diri Yesus.

mndakwa ysus CopyPerkataan ini begitu menyengat para pemimpin Yahudi ini. Mereka, yang mengaku sebagai orang-orang suci dengan melakukan peraturan-peraturan Allah, mereka yang mengaku menjadi umat pilihan Allah, sekarang kedapatan oleh Pilatus sedang mencoba menghukum orang yang tidak bersalah, yang adalah Anak Allah.

Berdasarkan apa yang telah ia katakan, apa yang harus Pilatus lakukan kepada Yesus? Dia seharusnya membebaskan-Nya. Namun Pilatus melihat bahwa jika ia melepaskan Yesus, akan ada reaksi dan kerusuhan. Dan jika ini terjadi, yang di dalam pikirannya adalah akan menyulitkan dia untuk menjelaskan kepada Kaisar Roma. Itu akan mengakibatkan kesulitan pribadi dan ketidaknyamanan untuk membiarkan Yesus bebas. Pilatus tahu benar bahwa Yesus tidak bersalah tapi dia ingin menghindari membuat keputusan untuk membebaskan Yesus.

Inilah kesalahan pertama Pilatus: INGIN MENGHINDARI KEPUTUSAN.
Ia lebih suka berurusan dengan masalah lain asalkan bukan Yesus. Alkitab mencatat bahwa Pilatus menemukan jalan keluar. Ayat 5-7:

Sekarang sepertinya Pilatus dapat bernapas lega. Memanggil panglima tentara, Pilatus mungkin berkata: “Jagalah baik-baik Orang ini di jalan. Ia tidak termasuk dalam wilayah kekuasaan hukumku.” Kita mungkin bisa membayangkan bahwa Pilatus akan kembali menuju tempat tidurnya dengan penuh kelegaan. Dia mungkin berpikir, “Saya berharap semuanya menjadi lebih mudah. Saya bisa menghindari keputusan.”

Apakah Anda pernah membuat kesalahan yang sama untuk mencoba menghindari membuat keputusan tentang Kristus atau tentang beberapa kebenaran? Mengetahui yang Alkitab katakan, tahu apa yang Anda harus lakukan, tahu apa yang benar; tapi Anda ingin menghindari membuat keputusan sesuai dengan kebenaran firman Allah karena Anda tidak mau mengalami kerugian atau kesulitan? Saudara, kita tidak dapat menghindari membuat keputusan untuk Yesus Kristus. Karena itu akan datang kembali kepada Anda.

Kembali kepada Pilatus. Tidak lama kemudian dia mendengar teriakan di jalan. Hamba-hambanya segera mengetuk pintunya, dan dia harus pergi keluar dan melihat wajah Yesus lagi. Sebelumnya ketika tiba di kediaman Herodes, Herodes ingin Yesus mengadakan beberapa mukjizat, tetapi Yesus menolak melakukannya. Bahkan dia tak berbicara kepada Herodes. Ini adalah Herodes yang tangannya telah ternoda dengan darah Yohanes Pembaptis. Sejak dia telah menolak kesaksian Yohanes, Yesus tidak memiliki pesan lebih lanjut untuknya. Ketika Yesus tidak mau menjawab pertanyaannya, membuat Herodes marah. Lalau ia mengirimkan Yesus kembali kepada Pilatus. Bahkan Herodes takut untuk mengutuk atau menjatuhkan hukuman kepada Yesus.

Sekarang Pilatus harus menghadapi situasi yang sama. Saudara, Anda tidak akan pernah dapat menghindari membuat keputusan tentang Kristus. Pilihannya adalah mengakui-Nya sebagai Tuhan dalam kehidupan Anda, atau menyalibkan Dia. Dengan malas, Pilatus berjalan keluar dan duduk di ruang pengadilan. Pilatus tahu apa yang harus ia lakukan karena ia telah memengetahui dan menyatakan bahwa Yesus tidak berdosa, tetapi ia membuat kesalahan kedua.

Kesalahan kedua yang dilakukannya adalah IA RAGU UNTUK MELAKUKAN APA YANG DIA TAHU BENAR. 
Apakah Anda pernah membuat kesalahan itu? Apakah Anda pernah ragu-ragu untuk melakukan apa yang Anda tahu harus lakukan? Apakah anda pernah berpikir, “Jika saya tunggu sebentar lagi, maka akan lebih mudah untuk membuat keputusan ini.” Orang Yahudi melihat Pilatus berada dalam keraguan. Mereka dapat melihat bahwa jika mereka menekan Pilatus lebih keras, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu hukuman mati untuk Yesus.

Pertanyaan: Siapa yang mendapatkan keuntungan sementara kita ragu-ragu? Setan. Semakin lama Anda menunggu untuk membuat pilihan yang benar, maka sesungguhnya akan semakin sulit untuk membuat keputusan! Jika ada keputusan yang Anda tahu dirindukan Tuhan untuk Anda buat hari ini dan Anda menundanya sampai besok, ini akan lebih sulit untuk membuat keputusan itu besok. Jika Anda menundanya sampai seminggu dari sekarang, ini akan menjadi jauh lebih sulit. Jika anda menundanya selama satu bulan atau satu tahun, ini akan menjadi jauh lebih sulit lagi.

Orang berkata, “Aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Aku akan melakukannya nanti.” Beberapa orang ragu-ragu sampai akhirnya terlambat. Jika Anda ragu-ragu dalam waktu yang cukup lama, itu akhirnya akan menjadi tidak mungkin bagi Anda untuk membuat keputusan yang benar. Kita menjadi lumpuh oleh keraguan. Ini telah terjadi berulang-ulang dalam kehidupan banyak orang.

Roh kudus menggerakkan hati banyak orang kepada kebenaran, tetapi mereka berpikir bahwa nanti akan mudah untuk mengikuti Allah. Namun itu tidak akan pernah terjadi. Itu akan menjadi lebih sulit. Iblis mencoba keras supaya kita menunda atau tidak pernah membuat keputusan untuk Kristus, karena dia tahu jika dia bisa membuat kita menunda cukup lama maka kita tidak akan pernah membuat keputusan.

Pikir Pilatus jika dia menunggu cukup lama dia akan keluar dari masalahnya. Tetapi ia harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa kalau hanya berdiri sana dan tak melakukan apa-apa. Akhirnya, teriakan dari massa memaksa dia untuk melakukan sebuah tindakan. Pilatus akhirnya membuat kesalahan ketiganya. Mari membaca dalam Lukas 23: 13-16. “Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, dan berkata kepada mereka: ‘Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.’”

Inilah kesalahan ketiga yang Pilatus lakukan berturut-turut: IA BERKOMPROMI DENGAN ORANG BANYAK. 
“Aku akan sedikit mengikuti apa yang kalian inginkan. Aku akan mencambuk dan kemudian aku akan membiarkan Dia (Yesus) pergi bebas.” Itulah mungkin yang ada di pikiran Pilatus. Pilatus telah Berkompromi dengan orang banyak, dia berkompromi dengan kebenaran.

Apakah Anda pernah berkompromi dengan dunia? Apakah Anda pernah berkompromi dengan kebenaran untuk sebuah kenyamanan? Anda tahu apa yang tidak benar, tapi melakukannya untuk manfaat pribadi atau untuk menghindari konflik. Apakah Anda pernah berkompromi dalam gaya hidupmu? Mungkin Anda menonton sesuatu yang yang sebenarnya tidak boleh dilakukan oleh seorang Kristen, atau mungkin Anda makan sesuatu yang seorang Kristen tidak boleh makan, atau mungkin Anda mengenakan sesuatu yang Anda tahu seorang kristen tidak boleh kenakan. Itu mungkin hanya sedikit kompromi.

Atau apakah Anda pernah mengkompromikan waktu pribadi Anda dengan Yesus? Mungkin Anda terlalu sibuk untuk memiliki waktu belajar Alkitab. Mungkin Anda bekerja sangat keras sehingga Anda tak punya waktu untuk berlutut dan berdoa, dan tidak ada waktu untuk menggali permata kebenaran dari Alkitab. Atau mungkin Anda hanya tidak tertarik untuk menghabiskan waktu dengan Yesus? Apakah Anda pernah membuat kompromi seperti itu sebelumnya?

Satu kompromi kecil hampir selalu mengarahkan kepada kompromi lain yang lebih besar. Setelah Anda memutuskan untuk melakukan yang salah atau menunda bertindak sesuai kebenaran firman Allah, maka tak lama lagi Anda akan mengorbankan seluruh kebenaran Alkitab. Dan kompromi selalu melukai Yesus.

Jika Anda melakukan ini semua maka Anda bergabung bersama Pilatus, yaitu berkompromi untuk melakukan yang benar untuk Kristus.

Ada tiga lagi kesalahan terbesar yang Pilatus lakukan. Kita akan pelajari selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here