591262 79916929 1 1600x1200

 

[AkhirZaman.org] Dunia zaman ini semakin banyak dipenuhi dengan banyaknya produksi-produksi film dan teater (drama). Tidak terkecuali juga sekarang ada banyak lembaga-lembaga keagamaan, termasuk gereja di dalamnya, yang menggunakan teater (drama) dalam usahanya menarik minat banyak orang kepada kebenaran yang agung. Namun apakah penggunaan drama diijinkan meskipun  demi sebuah alasan untuk menyatakan kebenaran Sorga kepada dunia ini?

Rasul Paulus menasihatkan supaya umat-umat Tuhan “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15), bukan dalam kepura-puraan memainkan peran seorang tokoh dalam drama. Mulai kapankah Setan menggunakan drama untuk menipu manusia?

a. Di Eden

Pengenalan drama ke dalam rumah, sekolah dan tempat-tempah pe-ribadatan bukanlah sebuah konsep baru. Setan menggunakan drama di Taman Eden, yang adalah rumah, sekolah dan gereja bagi orangtua pertama kita. Bermain sebagai seekor ular yang indah dengan pohon pengetahuan kebaikan dan kejahatan sebagai sarana pendukungnya, ia meyakinkan Hawa, melalui kata-kata (kebohongan) yang dipersiapkan secara cerdik, untuk menerima sarannya bahwa Hawa dapat menjadi Tuhan dan tidak akan pernah mati. Dari sebuah drama tunggal tersebut, yang dilakonkan dengan latar panggung Eden, planet ini telah dijerumuskan ke dalam pemberontakan yang penuh kemarahan.

Di sisi lain, sebelum Kejatuhan, Tuhan berbicara langsung kepada orangtua kita. Ia mengajari mereka dengan kebenaran mutlak dan memberi mereka pikiran yang diperlengkapi dengan kemampuan mengingat secara sepenuhnya agar mereka menyimpan baik-baik segala petunjukNya. Dan bahkan setelah Kejatuhan, Ia tidak me-ninggalkan mereka. Secara pribadi Ia menjanjikan kepada Adam dan Hawa bahwa ada jalan keluar. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3:15. Sementara tradisi lisan men-jadi rusak, Tuhan menyediakan petunjuk-petunjukNya dalam bentuk tulisan. Namun demikian, baik tradisi lisan maupun bentuk tulisan, Tuhan menyatakan kepada manusia, pada serangan dosa, bahwa kepala Setan akan diremukkan (dikalahkan) dan tumit AnakNya akan diremukkan (kemenangan). Janji ini mengisyaratkan pengorbanan Manusia-Tuhan yang disebut Yesus. Kehidupan, kematian dan kebangkitanNya adalah dan terus menerus merupakan sebuah kenyataan.

b. Di Zaman Perjanjian Lama

Banyak contoh pertunjukan sandiwara diambil dari Perjanjian Lama. Di sini ada tiga: Yakub berpura-pura menjadi Esau, saudara-saudara Yusuf mengatakan kisah yang telah mereka karang tentang kematian saudara mereka kepada ayah mereka (dan pendukung bagi kisah mereka—jubah berlumuran darah), dan kegilaan Daud yang pura-pura. Masing-masing kejadian ini digunakan untuk menipu, sama seperti Setan di Taman Eden.

 

David Lee menyampaikan masalah ini dalam perspektif yang tepat ketika ia menuliskan dalam pamflet berjudul Drama? Truth-full? or Pretentious? (Drama? Penuh Kebenaran? Pura-pura?) h. 8.

 

Tetapi bukankah Tuhan menggunakan drama di zaman Alkitab? Ya jikalau yang dimaksudkan dengan “drama” adalah kegiatan-kegiatan yang tidak biasa dan menyedot perhatian umat. Namun kita tidak menemukan bukti bahwa utusan-utusan Tuhan pernah menggunakan “drama” dalam artian sebagaimana para pendukung drama saat ini menggunakannya. 

163918 1457 1600x1200Dalam sejumlah peristiwa, para imam (seperti dalam pelayanan bait suci) dan para nabi (Yesaya 20:2, 3; Yeremia 24:1-10; 27:2-12; 32:1-19; Yehezkiel 4;1-5; 12:2-7) membuat penyajian grafis , para utusan tidak pernah mengalahkan kepribadian mereka. “Khotbah-khotbah” visual mereka melibatkan rasa sakit, penderitaan, dan waktu, dan dirancang oleh Tuhan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, pertanyaan, dan perasaan belas kasihan dari umat yang tidak peka dan “tegar tengkuk.” Mereka Mereka adalah kenyataan yang sangat sakit dan penuh doa! Tentang beberapa upacara korban, Tuhan mengumumkan kemuakkanNya (lihat Mazmur 51:16;Yesaya 1:10-28). Sesungguhnya, Tuhan “memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-peraturan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup. Aku membiarkan mereka menjadi najis dengan persembahan-persembahan mereka, dalam hal mereka mempersembahkan sebagai korban dalam api semua yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya Kubuat mereka tertegun, agar mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” (Yehezkiel 20: 25, 26). Tuhan menghendaki hubungan yang penuh kasih dan penurutan dengan mereka, bukan sistem persem-bahan korban yang berdarah-darah (lihat Yeremia 7:19-30). “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.” (Kisah 17:30). 

Kami percaya bahwa tidaklah adil mengutip upacara bait suci dalam Perjanjian Lama dan Yehezkiel untuk membela drama yang penuh kepura-puraan. Orang-orang yang mengutip dalam usaha ekstrim untuk menyentuh hati banyak orang, mungkin akan memperoleh kebenaran dan kuasa yang lebih besar melalui berpuasa dan berdoa bagi Israel modern selama 180 hari+, sebagai-mana dilakukan oleh Yehezkiel.

A.W. Tozer dalam bukunya The Menace of the Religious Movie (Ancaman Film Rohani), menjelaskan topik ini secara lebih lengkap: Profesi akting tidak berasal dari orang-orang Ibrani. Itu bukanlah bagian dari pola Ilahi. Alkitab menyebutkannya, namun tidak pernah menyetujuinya. Drama, sebagaimana yang diwariskan kepada kita, dimulai di Yunani. Pada awalnya drama adalah bagian dari penyembahan kepada dewa Dionisus dan diselenggarakan dengan sukaria mabuk-mabukan. –Kutipan dari The Menace of the Religious Movie,” hlm. 15

 

c. Di Zaman Kristus

 

Drama, akting, dan prduksi-produksi teater adalah menonjol di kalangan orang Yunani dan dipadukan oleh orang-orang Roma. Ampiteater dibangun di seluruh  Kekaisaran Roma dan produksi-produksi teater dikenal hingga zaman Kristus dan para pengikut-Nya. Namun, kita tidak menemukan di dalam Alkitab bahwa Yesus atau salah satu penulis Perjanjian Baru memberi contoh atau menyarankan penggunaan drama untuk menyampaikan Injil.

771223 23909068 1600x1200Sebaliknya, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20. adakan pertunjukan-pertunjukan teater.” 

Perhatikan nasehat ilham berikut ini: “Tuhan telah memberikan bukti kasihNya kepada dunia. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada sandiwara, dalam apa yang dilakukanNya. Ia memberikan karunia yang hidup, yang mampu menderita kehinaan, pengabaian, malu dan celaan. Kristus melakukan ini semua sehingga Ia dapat menyelamatkan manusia yang telah jatuh. Sementara manusia merancang rencana dan metode-metode untuk menghancurkan Dia, Anak Allah yang Mahatahu datang ke dunia kita untuk memberi teladan dari pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk menebus dan menyelamatkan manusia. Namun saat ini orang-orang yang angkuh dan tidak taat berusaha keras untuk memperoleh nama besar dan kehormatan besar dari sesamanya dengan menggunakan karunia dari Tuhan untuk menghibur (to amuse).—Manuscript 42, 1898 [Evangelism 267.1]. 

“Apapun yang dilakukan karena dirangsang oleh kewajiban orang Kristen yang kudus, karena anda adalah penatalayan yang dipercayakan talenta untuk dipergunakan sebagai berkat bagi diri anda dan orang lain, akan memberikan kepuasan yang mendasar; karena segala sesuatu dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Saya tidak dapat menemukan contoh di dalam kehidupan Kristus di mana Ia membaktikan waktuNya demi permainan dan hiburan. Ia adalah Pendidik yang Agung bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang. Saya belum pernah menemukan satu kejadian pun dimana Ia mendidik para muridNya untuk terlibat dalam hiburan sepakbola ataupun pertandingan-pertandingan tinju, untuk mendapatkan latihan fisik, atau dalam pertunjukan teater; dan Yesus adalah pola dalam segala hal. Kristus, Penebus dunia, memberikan kepada setiap orang pekerjaan masing-masing dan meminta kepada mereka “giat  bekerja hingga Aku datang.”Fundamentals of Christian Education, hlm. 229.

 

Seorang penulis Kristen yang tekun menasehatkan kepada ibu-ibu yang membawa anak-anaknya ke teater sebagai berikut: “Seandainya anda, saudaraku, terus mengenal Tuhan, anda akan pada masa sekarang ini mendapatkan pencerahan dari Surya Kebenaran. Keselamatanmu hanyalah terletak pada mengikut jejak langkahNya. Tetapi dengan tidak mengambil pendirian yang tegas untuk memberi sanksi apapun atas kehadiran anda pada pertunjukan teater anak-anak anda, anda telah mendorong mereka dalam memilih bagaimana menggunakan talenta mereka. Kemampuan dan kuasa mereka adalah milik Tuhan, namun itu sekarang tidak digunakan untuk bergabung bersama Kristus. Seluruh talenta dipinjamkan kepada mereka agar digunakan untuk menghormati dan memuliakan Tuhan sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa menjauh dari segala sesuatu tentang jenis hiburan yang mempesonakan ini, yang menyerap pikiran dan membawanya menjauh dari Tuhan dan hal-hal surgawi. Namun mereka belum pernah memiliki pengetahuan rohani tentang apakah itu kebenaran. Prinsip-prinsip kebenaran belum pernah ditanamkan di dalam jiwa jiwa mereka. Godaan yang menipu bahwa mereka bisa menjadi berkat bagi dunia sementara bekerja sebagai artis adalah sebuah tipuan dan perangkap, bukan hanya kepada diri mereka sendiri, melainkan juga bagi jiwa anda. Kristus berkata, “Di luar Aku, kamu tidak akan dapat berbuat apa-apa.” Dapatkah Tuhan Yesus Kristus menerima tontonan-tontonan teatrikal ini sebagai pelayanan yang dilakukan ba-giNya? Apakah Ia dapat dipermuliakan dengan itu? Tidak. Segala jenis pekerjaan ini dilakukan untuk melayani pemimpin yang lain. 11MR, hlm.. 335.2.

 

Ada segudang pertunjukan-pertunjukan teatrikal di dunia ini, namun tingkatan yang tertingginya sekalipun adalah tanpa Tuhan. Sekarang kita perlu mengarahkan jiwa-jiwa kepada Juruselamat yang tergantung di salib. Tipuan, pemaksaan, dan setiap pekerjaan jahat ada di dunia kita. Setan, musuh jahat yang berpakaian malaikat, sedang bekerja untuk menipu dan menghancurkan. Tujuan kematian Kristus adalah untuk mengumumkan kebenaranNya, dan tidak ada seorang pria, wanita ataupun anak-anak yang dapat melakukan ini dengan kekuatannya sendiri, atau dengan perkataannya sendiri.11MR, hlm. 338.

d. Di Zaman Kegelapan

Setelah “pertobatan” kaisar Konstantin, Gereja Kristen (yang kemudian menjadi Gereja Katolik Roma) menyatukan orang-orang kafir yang tidak bertobat dan tidak diajar ke dalam jemaat mereka. Orang-orang kafir yang setengah bertobat ini membawa bersama mereka tata ibadah misa, jubah imam kafir, lagu-lagu mantera yang menghipnotis dari para penyanyinya, dan katedral yang megah (yang sebelumnya adalah kuil-kuil kafir) dengan seni fresko, patung-patung dan lukisan-lukisan. Mengikuti misa adalah pertunjukan teatrikal yang berulang-ulang bagi para penyem-bah kafir. Alkitab dilarang dan tradisi mengambil alih tempat “Demikianlah firman Tuhan.”

 

Berkomentar tentang drama yang terjadi di Abad Pertengahan, Tozer melanjutkan: “Jenis pertunjukan yang menceritakan Kehidupan Yesus (Miracle Plays) sangat populer di Abad Pertengahan. Pertunjukan ini adalah pertunjukan dramatis dengan tema-tema rohani yang dilakonkan di panggung untuk hiburan penduduk. Pertunjukan ini adalah usaha-usaha yang salah arah untuk mengajarkan kebenaran rohani melalui penampilan drama; yang lebih buruk lagi adalah bahwa pertunjukan ini sangat tidak terhormat dan seluruhnya tercela.”

 316567 1912 1600x1200

Orang-orang yang mengharapkan teladan dari pertunjukan tentang drama kehidupan Yesus sudah pasti mengabaikan beberapa fakta penting. Misalnya, mode dalam drama-drama kehidupan Yesus seperti ini bertepatan dengan periode kemerosotan Gereja yang sangat menyedihkan yang pernah ada. Ketika Gereja pada akhirnya bangkit dari kegelapan moralnya yang sangat lama, pertunjukan jenis ini kehilangan ketenarannya dan akhirnya mati. Dan semoga tetap diingat, bahwa sarana yang digunakan Tuhan untuk membawa Gereja keluar dari kegelapan adalah bukan drama; melainkan sarana Alkitab dengan khotbah yang dibaptiskan oleh Roh Kudus. Orang-orang yang berpikiran sungguh-sungguh menyampaikan kebenaran bagaikan guntur dan orang-orang berbalik kepada Tuhan. Sesungguhnya sejarah akan menunjukkan bahwa tidak ada kemajuan rohani, kebangunan rohani ataupun peningkatan kehidupan rohani yang berhubungan dengan seni peran dalam bentuk apapun. Roh Kudus tidak pernah menghormati kepura-puraan.

 

“Apakah mungkin bahwa pola sejarah sedang berulang? Bahwa kemunculan film rohani adalah gejala dari keadaan kesehatan rohani kita yang menurun pada saat ini? Saya khawatir demikian. Hanya ketidakhadiran Roh Kudus dari mimbar dan kurangnya kemampuan orang-orang Kristen untuk mengenali kebenaran yang sejati yang menjadi penyebab dari penyebaran drama rohani di kalangan apa yang disebut dengan gereja-gereja injili. Gereja yang dipenuhi Roh Kudus tidak akan mentolerir hal itu.”Tozer, hlm. 16, 17.

 

Betapa sebuah kontras dengan pelayanan Alkitab dan pelayanan yang tanpa kepura-puraan dari kaum Waldensia dari Pegunungan Piedmont. Jauh tinggi di sekolah-sekolah terpencil, orang-orang muda diajar untuk menghapalkan sebagian besar Kitab Suci dan banyak yang dipersiapkan oleh sekolah-sekolah mereka menjadi misionaris ke seluruh bagian Eropa. Ketika mereka meninggalkan rumah di pegunungan yang terpencil untuk  berbagi Injil, mereka ditemani oleh anggota yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman yang mengajarkan kepada mereka bagaimana bekerja demi keselamatan pria, wanita dan anak-anak yang telah dikurung dalam kegelapan rohani oleh sistem kepausan. Tidak ada pertunjukan teater yang dilakukan oleh para pahlawan ini. Kehidupan merekalah yang menjadi saksi bagi drama kehidupan dan kematian yang sesungguhnya. 

“Dalam banyak kasus, jurukabar kebenaran tidak tampak lagi. Ia telah berpindah ke negara lain, atau ia telah menghabiskan hidupnya di dalam penjara bawah tanah yang tidak diketahui, atau tulang-tulangnya memutih di tempat di mana ia telah menjadi saksi kebenaran. Akan tetapi perkataan yang ditinggalkannya tidak akan dapat dimusnahkan. Perkataan ini bekerja di dalam hati manusia; hasil yang penuh berkat hanya akan diketahui pada saat penghakiman.”—The Great Controversy, hlm. 75. 

Disadur dari: Buku “Drama dan GMAHK.”

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here