adam-hawa-dan-iblis Copy

[AkhirZaman.org] TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh engkau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah engkau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16, 17).

Namun Alkitab mencatat, setelah Adam dan Hawa memakan buah tersebut mereka tidak langsung mati, malah Adam masih hidup sampai 930 tahun. Tampak jelas bahwa buah tersebut tidak langsung mematikan, di saat mereka memakannya. Bukan seperti buah beracun lainnya yang kalau dimakan bisa mematikan saat itu juga. Pada kesempatan ini penulis tidak membahas tentang “upah dosa” (Roma 6:23) dan “kematian yang kedua” (Wahyu 20:14) secara mendalam dari sudut pandang teologia.

Ellen G. White dalam tulisan-tulisannya memang dengan jelas mengatakan, bahwa walaupun Adam dan Hawa tidak langsung mati secara badani, tetapi proses kematian alamiah saat itu sudah berjalan. Tanda pertama yang mereka lihat ialah daun-daun yang tadinya tidak pernah gugur, saat itu sudah mulai berguguran seperti pada musim gugur (autumn). Tanda berikutnya Kain, anak sulung mereka yang diharapkan menjadi Sang Penebus, sebaliknya menjadi pembunuh manusia yang pertama karena membunuh Habel, adiknya. Coba anda bayangkan ketika untuk pertama kalinya Adam dan Hawa menyaksikan peristiwa ini, apakah artinya kematian anak mereka itu akibat dari pelanggaran mereka?

Pada waktu Adam dan Hawa memakan buah larangan tersebut, mereka dinyatakan telah berdosa atau jatuh di dalam dosa! Hal ini sudah menjadi pendirian umum di kalangan umat Kristiani yang beranggapan bahwa dosa Adam dan Hawa ialah “karena memakan buah” (titik … tanpa ada keterangan tambahan), meskipun Alkitab sangat jelas menerangkan tentang definisi dosa itu. Di dalam 1 Yohanes 3:4 mengatakan: “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” Hukum Allah yang dimaksud di sini adalah Sepuluh Hukum tentunya.

Buah tersebut yang dinamakan “buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat” menimbulkan keinginan Adam dan Hawa tanpa menyadari hal itu mengakibatkan dosa. Rasul Paulus mengatakan: “Jika demikian apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat (Sepuluh Hukum) itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’” (Roma 7:7). Kalau definisi dari hal dosa adalah demikian, dapat dipastikan Adam dan Hawa juga melanggar prinsip dan isi dari Sepuluh Hukum, bukan? Hukum manakah yang sudah dilanggar oleh Adam dan Hawa?

Melalui ruangan ini penulis mencoba memberikan gambaran secara singkat dan sederhana dalam bentuk ilustrasi dan aplikasinya berdasarkan definisi di atas, tentang hubungan antara “asal mula dosa” dan Sepuluh Hukum yang sudah ada sebelum Musa menerima dua loh batu di bukit Sinai. Dosa-dosa yang dilanggar oleh Adam dan Hawa pada waktu memakan buah larangan sebagai berikut: 1). Ingin akan buah itu, menuntun pada pelanggaran hukum kesepuluh. 2). Mengambil buah itu (mencuri), menuntun pada pelanggaran hukum kedelapan. 3). Memakan buah itu (membunuh diri), menuntun pada pelanggaran hukum keenam. 4). Menuduh Ular sebagai biangnya (berdusta), menuntun pada pelanggaran hukum kesembilan. 5). Tidak mengindahkan perintah Allah (tidak menghormati Bapanya), menuntun pada pelanggaran hukum kelima. 6). Membina hubungan intim dengan Ular lebih dari Allah (penyelewengan), menuntun pada pelanggaran hukum ketujuh. 7). Memilih Ular (Setan) sebagai tuannya (memiliki ilah lain), menuntun pada pelanggaran hukum kesatu. 8). Menjadikan Ular sebagai idolanya (patungnya), menuntun pada pelanggaran hukum kedua. 9). Menyalahkan Allah, Sang Pencipta karena menciptakan Hawa (suatu penghujatan), menuntun pada pelanggaran hukum ketiga. 10). Lupa akan perintah Khaliknya (tidak ingat), menuntun pada pelanggaran hukum keempat, “Ingatlah kamu akan hari Sabat.”

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2:10). Jadi, Adam dan Hawa bukan hanya melanggar satu hukum saja, tetapi lebih dari satu. Bukankah pelanggaran mereka ini menuntun pada pelanggaran hukum secara keseluruhan atau boleh disebut suatu pelanggaran yang sempurna?

 

(WAO)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here