corona

[AkhirZaman.org] Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo memaparkan tiga dampak pandemi virus corona terhadap perekonomian.

Hal itu disampaikannya saat memperingati Hari Pajak 2020 yang bertema “Bangkit Bersama Pajak dengan Semangat Gotong Royong”.

“Gejolak ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19 ini menghantam Indonesia bagaikan sebuah perfect storm,” katanya seperti dikutip dari Antara, Selasa (14/7).

Ia merinci, dampak pertama, konsumsi rumah tangga atau daya beli yang merupakan penopang 60 persen terhadap ekonomi jatuh cukup dalam.

Hal ini dibuktikan oleh data dari BPS yang mencatat konsumsi rumah tangga turun dari 5,02 persen pada kuartal I 2019 ke 2,84 persen pada kuartal I tahun ini.

Kedua, pandemi menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha.

Ketiga, seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara juga terhenti.

Turunnya perekonomian berimplikasi pada penerimaan pajak yang hingga semester I 2020 hanya mencapai Rp513,65 triliun atau 44,02 persen dari target berdasarkan Perpres 72 Tahun 2020 Rp1.198,8 triliun.

Angka tersebut terkontraksi 12,01 persen dibanding periode sama tahun lalu (yoy) yaitu Rp604,3 triliun.

Kendati demikian, Suryo meyakini Indonesia mampu bangkit dari tekanan pandemi dan menjadi bangsa yang mandiri dengan dukungan dari seluruh elemen bangsa, termasuk para Wajib Pajak (WP).

Suryo menekankan pajak harus mampu menjadi sumber pendapatan yang diandalkan dalam mencukupi belanja negara sekaligus alat mendorong ekonomi nasional.

Hal ini relevan saat pemerintah membutuhkan anggaran yang besar untuk membantu penanganan dampak pandemi dan pemulihan ekonomi.

Oleh karena itu, dalam rangka peringatan Hari Pajak 2020, Suryo mengimbau kepada para WP agar dapat mendukung usaha pemerintah dalam mengatasi gejolak ekonomi melalui pembayaran pajak.

“Saya menyampaikan ajakan dan mengetuk hati bapak/ibu semua sebagai warga negara. Inilah saatnya kita menunjukkan effort terbaik bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sumber: https://bit.ly/3fqumqU

Sebuah Negara dapat mengerahkan segenap kekuatan militernya untuk melawan Negara manapun yang menjajah  negerinya, tetapi bagaimana bila sebuah Negara menghadapi suatu wabah atau pandemi penyakit? Tentu saja Negara tersebut akan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk dapat menemukan obatnya, tetapi tentu saja itu membutuhkan waktu, bisa jadi waktu yang dibutuhkanpun tidaklah singkat. Sebuah ketidakpastian yang pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat, sedangkan kebutuhan ekonomi tidak dapat dihindari. Lalu apa yang terjadi? Krisis, krisis yang bisa menjalar ke dalam berbagai aspek kehidupan.

Tuhan memberikan amaran kepada umat-umatNya untuk mengambil tindakan supaya meninggalkan kota-kota dan pindah di sebuah pedesaan. “Tuhan menghendaki agar umat-Nya pindah ke pedesaan di mana mereka dapat menetap di sebidang tanah dan bercocok tanam buah dan sayuran, di mana anak-anak mereka dapat berhubungan langsung dengan karya-karya Allah di alam. Bawalah keluargamu jauh dari kota-kota, inilah pekabaran saya.”— 2SM 357, 358 (1902).

Efek dosa begitu mengerikan, yaitu kematian kekal. Maka Tuhan tak henti-hentinya mengingatkan kepada umatNya supaya bertobat dan kembali ke jalan kebenaranNya. Tuhan nyatakan dalam firmanNya: “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa , melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3:9

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here