bapa2 musafir pencari kebenaran Copy

[AkhirZaman.org] Sebelas tahun sesudah terbentuknya pemukiman yang pertama, Roger Williams datang ke Dunia Baru, Amerika. Seperti para musafir yang mula-mula, ia datang untuk menikmati kebebasan. Tetapi tidak seperti mereka, ia melihat, — apa yang dilihat hanya oleh sedikit orang pada waktu itu — bahwa kebebasan ini adalah hak semua orang yang tidak bisa dicabut atau dipindahkan, apapun yang menjadi keyakinannya. Ia adalah seorang pencari kebenaran yang sungguh-sungguh, yang bersama Robinson percaya bahwa tidaklah mungkin bahwa semua terang dari firman Allah telah diterima. “William adalah orang pertama dalam dunia Kristen modern yang membentuk pemerintahan sipil berdasarkan doktrin kebebasan hati nurani, kesamaan pendapat dihadapan hukum.” — Bancroft, Part I, ch.15, par. 16. Ia menyatakan bahwa adalah tugas hakim untuk menekan kejahatan tetapi tidak untuk mengontrol hati nurani. “Masyarakat atau pengadilan boleh memutuskan,” katanya, “apa yang patut dari seorang kepada orang lain. Tetapi pada waktu mereka mencoba menetapkan kewajiban manusia kepada Allah, maka mereka tidak pada tempatnya lagi, dan tidak ada keamanan lagi. Karena adalah jelas bahwa jikalau pengadilan mempunyai kuasa, ia boleh mendekritkan seperangkat pendapat atau kepercayaan hari ini dan yang lain lagi besok, sebagaimana yang telah dilakukan di Inggris oleh raja-raja dan ratu-ratu, dan oleh berbagai paus dan konsili-konsili dalam Gereja Katolik. Jadi kepercayaan itu menjadi tumpukan kebingungan.” — Martyn, Vol. V, p. 340.

Kehadiran pada perbaktian di gereja yang sudah ditetapkan diharuskan berdasarkan undang-undang, yang diancam dengan hukuman denda atau penjara bagi yang tidak menurutinya.”Williams menolak hukum itu. Peraturan yang paling buruk dalam undang-undang Inggris ialah yang memaksa seseorang untuk memasuki gereja. Memaksa seseorang untuk bersatu dengan mereka yang berbeda kepercayaan, ia menganggap itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak-hak alamiah mereka. Menyeret orang-orang yang tidak beragma dan yang tidak mau ke perbaktian umum tampaknya hanyalah suatu tuntutan yang munafik . . . . ‘Tak seorangpun boleh terikat untuk berbakti, atau’ ia menambahkan, ‘mempertahankan perbaktian yang berlawanan kepada kemauannya.’ ‘Apa!’ seru lawan-lawannya, yang heran melihat pengajarannya, ‘bukankah pekerja patut mendapat upah?’ ‘Ya.’ jawabnya, ‘dari mereka yang menggajinya.'” — Bancroft, Part I, ch. 15, par. 2.

Roger Williams dihargai dan dikasihi sebagai seorang pendeta yang setia, seorang yang mempunyai karunia-karunia yang jarang dimiliki orang lain, mempunyai integritas yang tidak bisa dibengkokkan, dan kedermawanan yang benar. Namun penolakannya yang gigih terhadap hak pengadilan sipil atas wewenng gereja dan tuntutannya untuk kebebasan beragama, tidak bisa diterima. Penggunaan doktrin barunya akan menggulingkan fundamen negara dan pemerintahan negeri itu.” — Idem, par. 10. Ia dijatuhi hukuman pengasingan dari koloni itu, dan akhirnya, untuk menghindari penangkapan, ia telah dipaksa melarikan diri, di tengah-tengah dinginnya badai musim dingin, ke dalam hutan lebat.

“Selama empat belas minggu,” katanya, “saya diombang-ambingkan oleh musim yang kejam, tanpa mengetahui apa itu roti dan tempat tidur.” Tetapi “burung gagak memberiku makan di hutan belantara,” dan lobang-lobang dalam kayu menjadi tempat perlindungannya. — Martyn, Vol. V, pp. 349,350. Demikianlah ia meneruskan pelariannya yang menyakitkan itu melalui salju dan hutan belantara yang belum pernah dilalui orang, sampai akhirnya ia menemukan perlindungan di tengah-tengah salah satu suku Indian. Ia telah mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang dari suku Indian ini pada waktu ia berusaha mengajar mereka mengenai kebenaran-kebenaran Injil.

Setelah mengembara beberapa bulan dan mengalami perobahan, akhirnya ia tiba di pantai Teluk Narragansett. Di sini ia meletakkan dasar dari negara zaman modern yang dalam pengertian sesungguhnya mengakui hak kebebasan beragama. Prinsip fundamental koloni Williams ialah, “bahwa setiap orang harus mempunyai kebebasan untuk berbakti kepada Allah sesuai dengan terang hati nuraninya,” — Martyn, Vol. V, pp. 349, 350. Negaranya yang kecil itu, Rhode Island, menjadi suaka bagi yang tertindas, dan terus bertambah dan makmur sampai akhirnya prinsip-prinsip dasarnya — kebebasan sipil dan agama — menjadi batu penjuru Republik Amerika.

Dalam dokumen yang tua dan agung yang nenek moyang Amerika menjadikannya sebagai undang-undang hak azasi — Deklarasi Kemerdekaan — mereka menyatakan, “Kami memegang kebenaran-kebenaran ini sebagai hal yang nyata, bahwa semua manusia dijadikan sama, bahwa mereka dianugerahi oleh Pencipta mereka dengan hak-hak tertentu yang tidak bisa dicabut atau dipindahkan, bahwa beberapa diantaranya ialah kehidupan, kebebasan, dan usaha memperoleh kebahagiaan.” Dan Undang-undang Dasar menjamin, dalam istilah yang jelas, hati nurani yang tidak dapat diganggu-gugat, “tidak ada ujian agama dituntut sebagai suatu persyaratan kepada sesuatu jabatan umum di Amerika Serikat.” “Kongres tidak akan membuat undang-undang mengenai pendirian suatu agama, atau melarang pelaksanaannya yang bebas.”

“Para perancang Undang-undang Dasar itu menyadari prinsip abadi bahwa hubungan manusia dengan Allahnya berada di atas kekuasaan manusia, dan hak-hak hati nuraninya tidak bisa dicabut atau dipindahkan. Pemikiran dan pertimbangan tidak perlu untuk menetapkan kebenaran ini. Kita menyadari hal itu di dalam dada dan hati kita. Kesadaran seperti inilah yang mempertahankan begitu banyak syuhada dalam penyiksaan dan nyala api, oleh karena menentang hukum-hukum manusia. Mereka merasa bahwa tugas mereka kepada Allah adalah lebih tinggi daripada kepada undang-undang buatan manusia, dan bahwa tak seorangpun boleh menguasai hati nurani mereka. Itu adalah prinsip yang dibawa lahir dan tak seorangpun boleh menghapuskannya.” — Congressional Documents (U.S.A.), Serial No. 200, Document No. 271.

Pada waktu berita-berita tersebar di negara-negara Eropa, mengenai sebuah negeri di mana setiap orang boleh menikmati hasil-hasil pekerjaannya dan menuruti keyakinan hati nuraninya, maka ribuan orang berduyun-duyun datang ke dunia baru, Amerika. Koloni dengan cepat bertambah. “Massachusetts, oleh peraturan khusus, menyambut para pendatang Kristen dari berbagai bangsa, atas biaya pemerintah, yang mungkin telah menyeberangi lautan Atlantik ‘meluputkan diri dari perang, atau bala kelaparan, atau penindasan para penindas.’ Dengan demikian pelarian dan yang tertindas, oleh undang-undang, telah dibuat menjadi tamu persekemakmuran.” — Martyn, Vol. V, p. 417. Dalam tempo dua puluh tahun setelah pendaratan pertama di Plymouth, beberapa ribu Musafir telah menetap di New England.

Untuk mencapai tujuan yang mereka cita-citakan “mereka puas dengan penghasilan secukupnya dengan menghidupkan kehidupan yang berhemat dan bekerja keras. Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari tanah itu selain hasil yang sesuai dengan usaha mereka. Tidak ada angan-angan yang muluk-muluk dalam perjalanan hidup mereka . . . . Mereka puas dengan kemajuan yang lambat namun pasti pemerintahan sosial mereka. Dengan sabar mereka menanggung penderitaan di hutan rimba, menyirami pohon kebebasan dengan air mata mereka, dan dengan keringat yang bercucuran di dahi mereka, sampai kebebasan itu benar-benar berurat berakar di negeri itu.

Alkitab digunakan sebagai landasan iman, sumber hikmat dan piagam kebebasan. Prinsip-prinsipnya dengan rajin diajarkan di rumah, di sekolah dan di gereja, dan buah-buahnya tampak dalam berhemat, kemurnian, kecerdasan dan pengendalian diri atau pertarakan. Seseorang mungkin tinggal bertahun-tahun di pemukiman kaum Puritan, “dan tidak melihat pemabuk atau mendengar sumpah serafah, atau bertemu dengan seorang pengemis.” — Bancroft, Part I, ch. 19, par. 25. Ditunjukkan bahwa prinsip Alkitab adalah pengawal yang paling pasti kebebasan nasional.

Pemukiman-pemukiman yang kecil dan terasing bertumbuh menjadi konfederasi negara bagian yang kuat, dan dunia menyaksikan dengan kagum kedamaian dan kemakmuran “suatu gereja tanpa paus, dan suatu negara tanpa raja.”

Akan tetapi jumlah pendatang yang tertarik datang ke pantai Amerika terus bertambah, yang motifnya jauh berbeda dengan Musafir yang pertama. Meskipun iman dan kemurnian primitif berusaha menyebar-luaskan kuasanya yang mampu membentuk manusia itu, namun pengaruhnya semakin lama semakin berkurang, sementra jumlah mereka yang semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi semakin bertambah.

Peraturan yang diberlakukan oleh para pemukim yang mula-mula, yang mengizinkan hanya anggota gereja yang boleh memberi suara atau menduduki jabatan pemerintahan, mengakibatkan kerusakan yang paling parah. Peratura ini membawa akibat yang sangat berbahaya. Cara ini diterima sebagai suatu alat untuk mempertahankan kemurnian negara, tetapi hal itu mengakibatkan kebejatan dan penyimpangan gereja. Pengakuan agama merupakan syarat untuk pemberian suara dan memegang jabatan pemerintahan, sehingga banyaklah yang bergabung menjadi anggota gereja tanpa perubahan hati dan semata-mata motifnya hanya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi. Dengan demikian gereja dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bertobat, yang tidak sedikit jumlahnya. Dan bahkan dalam kependetaan terdapat orang-orang yang bukan saja memegang doktrin palsu, tetapi juga sama sekali bodoh mengenai kuasa membaharui dari Roh Kudus. Sekali lagi ditunjukkan akibat-akibat jahat, yang begitu sering disaksikan dalam sejarah gereja mulai dari Constantine sampai hari ini; yang mencoba membangun gereja dengan pertolongan negara, yang menghimbau kuasa duniawi untuk mendukung Injil Dia yang menyatakan “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” (Yoh. 18:36). Penyatuan gereja dengan negara, betapapun tingkatnya, tampaknya akan membawa dunia lebih dekat dengan gereja, tetapi dalam kenyataannya gerejalah yang dibawa lebih dekat kepada dunia.

Prinsip yang agung yang dijalankan dengan baik oleh Robinson dan Roger Williams, bahwa kebenaran itu berkembang, bahwa orang Kristen harus siap sedia menerima semua terang yang bersinar dari firman Allah yang kudus, telah kehilangan pandangan oleh generasi penerus mereka. Gereja Protestan Amerika — demikian juga Protestan Eropa — yang begitu senang menerima berkat-berkat Pembaharuan, telah gagal untuk maju terus dalam jalan pembaharuan. Walaupun ada beberapa orang-orang yang setia bangkit pada segala waktu, untuk menyiarkan terang baru dan menunjukkan kesalahan yang sudah berlarut-larut, tetapi kebanyakan, seperti orang-orang Yahudi di zaman Kristus atau pengikut-pengikut kepausan pada zaman Luther, merasa puas untuk percaya seperti leluhur mereka percaya, dan hidup seperti mereka hidup. Itulah sebabnya agama sekali lagi merosot menjadi sekedar formalitas. Dan kepalsuan dan ketakhyulan, yang seharusnya sudah disingkirkan seandainya gereja terus berjalan dalam terang firman Allah, tetap ada dan berkembang. Dengan demikian semangat yang diilhami oleh Pembaharuan berangsur-angsur menurun, sampai terasa adanya kebutuhan pembaharuan dalam gereja-gereja Protestan sebagaimana dalam Gereja Roma pada zaman Luther. Terdapat keduniawian dan mati rohani yang sama, penghormatan yang sama kepada pandangan-pandangan manusia, dan menggantikan ajaran-ajaran firman Allah dengan teori-teori manusia.

Pengedaran Alkitab secara luas pada permulaan abad ke sembilan belas, dan terang besar yang dicurahkan ke dunia ini, tidak diikuti oleh kemajuan pengetahuan kebenaran yang dinyatakan Alkitab itu, atau pengamalan agama. Seperti pada zaman-zaman sebelumnya, Setan tak bisa menahan firman Allah dari orang-orang. Firman itu telah ditempatkan dalam jangkauan semua orang. Tetapi agar mencapai tujuannya Setan menuntun banyak orang menilai firman itu dengan enteng. Manusia melalaikan penyelidikan Alkitab, dan dengan demikian mereka terus menerima interpretasi yang salah, dan memegang ajaran-ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab.

Melihat kegagalan usahanya untuk menumpas kebenaran dengan penganiayaan, sekali lagi Setan menggunakan rencana kompromi, seperti yang telah menuntun kepada kemurtadan besar dan pembentukan Gereja Roma. Ia telah mengajak orang-orang Kristen untuk bersekutu, bukan dengan orang-orang kafir, tetapi dengan mereka, yang oleh kasihnya kepada harta dunia, telah membuktikan dirinya sebagai penyembah-penyembah berhala yang sebelumnya sama dengan yang berbakti menyembah patung-patung ukiran. Dan akibat dari persatuan ini tidak kurang berbahayanya dari pada zaman-zaman sebelumnya. Kesombongan, keangkuhan dan keborosan yang berlebihan yang diselubungi oleh agama meraja-lela, dan gereja menjadi bejat dan merosot. Setan terus memutar-balikkan ajaran-ajaran Alkitab, dan tradisi-tradisi yang telah membinasakan jutaan orang telah berakar sangat dalam. Gereja meninggikan dan mempertahankan tradisi-tradisi ini, gantinya berusaha memperoleh “iman yang pernah diberikan kepada orang-orang saleh.” Demikianlah prinsip-prinsip yang telah diperjuangkan oleh para Pembaharu dengan menanggung banyak penderitaan, telah direndahkan dan dihinakan.

 

-KA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here