roast_beef-6574

Alasan Mengapa Anda Mesti Mengurangi Konsumsi Daging

[AkhirZaman.org] Daging adalah satu makanan paling berbahaya yang kita makan, bahkan lebih berbahaya daripada gula atau garam. Daging merupakan penyumbang terbesar kepada hampir semua jenis penyakit degeneratif yang dapat melumpuhkan kesehatan atau memperpendek usia kita, mulai dari rapuh tulang, kencing manis dan penyakit jantung hingga system kekebalan tubuh melemah yang membuka peluang untuk dihantam dampak penyakit mematikan misalnya kanker dan bahkan AIDS!

Asosiasi Konsumen Penang (CAP) menelusuri lebih dari 50 efek negatif memakan daging yang merupakan alasan utama mengapa semakin banyak ilmuwan menamakan daging sebagai MAKANAN BERACUN.

KANKER

Penelitian yang melibatkan 50.000 kaum sayuran (Kristen Advent) mengungkapkan penemuan yang mengguncangkan dunia penelitian kanker. Nampak jelas bahwa kelompok ini memiliki kadar semua jenis yang sangat rendah, dan rentang hidup yang jauh lebih panjang.

Penelitian terhadap suku Mormon California juga menunjukkan 50% lebih sedikit kasus kanker dibandingkan penduduk lainya. Suku ini memiliki kebiasaan sangat sedikit mengkonsumsi daging.

Mengapa pemakan daging lebih banyak terserang kanker? Mungkin salah satunya adalah daging yang telah berumur beberapa hari sudah berubah warna menjadi hijau keabuan. Industri daging mencoba menutupinya menambahkan nitrit, nitrat dan bahan kimia pegawet lainnya. Zat pengawet ini membuat daging Nampak merah segar, namun penelitian berulang kali membuktikan banyak di antaranya mengandung sel kanker (karsinogen).

Ilmuwan Inggris dan Amerika menemukan perbedaan mencolok antara bakteri dalam usus pemakan daging dan kaum vegetarian. Bakteri dalam usus pemakan daging bereaksi dengan getah pencernaan sehingga dapat mengakibatkan kanker. Hal ini merupakan petunuk mengapa kanker usus sangat lazim di daerah yang konsumsi dagingnya tinggi (Amerika Utara dan Eropa Barat), namun sangat jarang ditemukan di negara vegetarian seperti India. Di AS misalnya, kanker usus menduduki peringkat kedua penyakit kanker, hanya dibawah kanker paru. Orang Skotlandia yang memakan 20% lebih banyak daging sapi daripada orang Inggris, merupakan salah satu pengidap kanker usus tertinggi di dunia.

Daging & Kanker – Hubungan Yang Tersembunyi

 Di dalam hanya 1kg steak terdapat zat benzopyrene (karsinogen yang sangat kuat) setara dengan 600 batang rokok.

 Ilmuwan di Lawrence Livermore National Laboratory mengadakan penelitian selama 5 tahun terhadap ribuan kilogram hamburger untuk melihat senyawa racun apa saja yang terbentuk dalam daging yang dimasak terlalu lama. Ternyata mereka menemukan sedikitnya ada 8 (delapan) jenis bahan kimia yang berkaitan dengan kanker dan kerusakan kromosom. Seorang peneliti senior mengatakan, “Anda takkan memperoleh struktur seperti saat ini saat memasak tahu.”

 Nitrit yang terdapat dalam daging dapat bereaksidengan senyawa lain dalam tubuh kita sehingga membentuk nitrosamine, yang juga merupakan zat pemicu kanker.

PENYAKIT JANTUNG

Kolesterol dalam daging hewan tidak mudah dipecahkan dalam tubuh manusia sehingga melapasi dinding pembuluh darah. Semakin lama menumpuk, terbentuklah plak, sejenis jaringan lemak yang melekat pada lubang arteri sehingga menghambat aliran darah. Kondisi berbahaya ini dinamakan atherosklerosis, yang sangat membebani jantung karena jantung harus memompa semakin kuat untuk mengirim darah melalui pembuluh yang tersumbat dan terhalang. Akibatnya adalah tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung.

Selama perang Korea, hasil otopsi 200 jenasah tentara Amerika rata-rata berusia 22 tahun menunjukkan hampir 80% mengalami pengerasan pembuluh darah yang tersumbat akibat mengkonsumsi daging.

DARAH TINGGI

Penyakit darah tinggi hampir selalu dibarengi oleh kolesterol darah yang tinggi. Dalam suatu penelitian yang diterbitkan Jurnal Epidemilogi Amerika, kaum vegetarian didapati memiliki tekanan darah yang ‘jauh lebih rendah’ daripada pemakan daging, bahkan setelah memperhitungkan rendahnya konsumsi garam, alkhol, tembakau, teh dan kopi oleh kaum sayurawan. Peneliti tersebut menyimpulkan perbedaan tingkat tekanan darah mereka diakibatkan konsumsi protein dan lemak hewani.

Hipertensi juga lazim dihubungkan dengan konsumsi garam yang terlalu tinggi. Namun apa yang kurang diketahui adalah atheroklosis (yang disebabkan makan terlalu banyak daging) juga memberikan andil terhadap penyakit ini.

Garam meningkatkan tekanan darah dengan menyedot air ke dalam darah sehingga menaikkan tekanan pada dinding arteri. Pada atherosklerosis, senyawa yang menyumbat pembuluh darah kita mempersempit saluran yang dilalui darah, sehingga meningkatkan resistensi yang menghambat aliran darah. Dengan demikian tekanan darah akan naik.

OBESITAS

Daging memiliki kandungan kalori yang tinggi. Fakta menunjukkan, beberapa jenis daging bahkan mengandung lebih banyak kalori daripada makanan kaya karbohidrat seperti nasi, kentang dan roti. Meskipun demikian, industri daging dan susu telah menghabiskan jutaan dollar dalam rangka mempromosikan kepercayaan bahwa gula merupakan “tersangka utama” kelebihan berat tubuh.

Menurut hasil penelitian Departemen Pertanian AS, daging babi kukus asin mengandung 6 kalori per gram (C/g), steak ‘T-bone’ 4,7C/g, hamburger 2,9C/g, sedangkan jumlah beras merah yang sama hanya mengandung 1,2C/g, spaghetti 1,1C/g, dan ubi 1C/g. Kandungan kalori sayuran jauh lebih kecil lagi. Untuk berat yang sama, wortel mengandung 0,4C/g dan labu 0,3C/g.

Bukti bahwa daging dapat menggemukkan telah ditunjukkan dalam ribuan penelitian terpisah. Mengkonsumsi terlalu banyak makanan sarat kalori seperti daging dapat menyebabkan kelebihan lemak tubuh, yang dikenal dengan istilah OBESITAS.

Orang yang gemuk memiliki resiko lebih tinggi terkena penyakit jantung, kencing manis, kelainan hati, penyakit kantong empedu, kanker, arthritis, dan hampir semua penyakit degenerative lain yang menjangkiti manusia modern. Remaja gemuk memiliki harapan hidup 15 tahun lebih pendek daripada remaja dengan berat tubuh normal. Persentase kematian bayi juga lebih tinggi jika dilahirkan ibunya yang gemuk.

BATU EMPEDU

Terdapat bukti yang mengaitkan terbentuknya batu empedu dengan makan kaya daging dan rendah serat. Batu empedu terutama terbentuk dari kolesterol yang mengeras dalam kantong empedu dan dapat menetap di sana bertahun lamanya.Batu empedu dapat menyebabkan infeksi dan radang kantong empedu, mulas, radang selaput perut, ganggren kantong empedu dan penyakit kuning. Terbentuknya batu empedu kemungkinan besar berhubungan erat dengan metabolisme. Hati memproduksi empedu, suatu senyawa yang berkadar kolesterol tinggi (yang berarti”empedu keras” dalam bahasa Yunani), dan disimpan di kantong empedu.

Apabila kadar kolesterol terlalu tinggi sehingga tak dapat dilarutkan lagi, terbentuklah batu empedu. Orang yang terlalu gemuk memiliki resiko lebih tinggi mempunyai batu empedu. Orang Asia dan Afrika di pedesaan yang secara tradisional mengkonsumsi makanan rendah lemak, rendah kolesterol dan berserat tinggi, hjampir tidak pernah mengidap batu empedu. Terlebih lagi, hanya manusia dan hewan peliharaan yang mengidap batu empedu, sedangkan binatang buas tidak mengalaminya. Fakta ini mengisyratkan bahwa masalah batu empedu cenderung berkaitan dengan gaya hidup modern ala barat.

Penelitian yang dilaksanakan di Oxford (laporan jurnal kedokteran inggris, 1985) membandingkan dua kelompok wanita yang menguji apakah pola makan mereka ada pengaruhnya terhadap insiden batu empedu.

Kelompok 1 terdiri dari 632 wanita yang dipilih secara acak dan mengkonsumsi daging. Kelompok lainnya terdiri dari 130 wanita yang tidak mengkonsumsi daging dan mengkonsumsi makanan yang secara alami berserat lebih tinggi. Semua wanita kemudian diperiksa kesehatannya menggunakan tehnik pendeteksian ultrasound, khususnya untuk menemukan batu empedu.

Para peneliti menemukan bahwa kaum pemakan daging memiliki kecenderungan 21/2 kali lebih besar menderita pembentukan batu empedu daripada kelompok yang bersayurawan. Para ilmuwan lantas menyimpulkan bahwa pola makan tinggi serat dan rendah lemak kelompok wanita yang bervegetarian memberikan perlindungan.

PENYAKIT GINJAL

Di antara zat buangan paling terkenal yang menumpuk dalam tubuh pemakan daging adalah urea dan asam urat (senyawa nitrogen). Steak sapi, misalnya mengandung 14 gram asam urat tiap 450 gramnya. Suatu penelitian menunjukkan bahwa ginjal pemakan daging harus bekerja 3 kali lebih keras untuk menetralisir senyawa nitrogen beracun daripada ginjal seorang vegetarian.

Beban ekstra tidak akan merupakan masalah ketika kita masih muda, namun saat ginjal menua dan aus lebih dini seharusnya, hanya tidak mampu lagi melakukan tugasnya dengan efisien sehingga akibatnya sering terjadi penyakit ginjal.

Pemakan daging juga memiliki resiko menderita pedihnya batu ginjal. Apabila air seni mengandung banyak kalsium, Kristal kalsium akan terbentuk dalam system pembuangan air seni. Dari kristal inilah akan terbentuk semakin banyak batu ginjal.

ARTHRITIS, ASAM URAT DAN REMATIK

Asam urat yang tidak dapat dikeluarkan tubuh disimpan di seluruh tubuh kita. Di sini ia diserap otot bagaikan sepon menyerap air. Kemudian terjadi pengerasan dan terbentuklah kristal. Apabila keadaan ini terjadi pada sendi, akibatnya adalah arthritis, asam urat dan rematik yang ketinganya memiliki gejala perih sendi.

Penelitian terhadap 800 orang masyarakat kulit hitam Afrika Selatan yang tidak mengkonsumsi daging maupun susu, tidak satupun kasus arthiritis rheumatoid ditemukan.

Asam urat (gout) terjadi karena asam urat dalam tubuh kita membentuk kristal seperti jarum yang tertanam pada persendian, yang menjadi pedih dan bengkak.

Pada masa perang Dunia ke 2 dimana para penderita asam urat di Negara-negara jajahan Eropa terpaksa mengkonsumsi lebih sedikit daging dan produk susu, kasus arthritis yang dipicu asam urat merosot drastis.

NEURITIS DAN SKIATICA

Asam urat yang menumpuk di syaraf akan memicu neuritis (radang syaraf) dan sciatica (keperihan luar biasa dipaha dan pinggul). Banyak dokter modern yang menganjurkan pasien penderita penyakit yang bertalian dengan asam urat untuk menghentikan konsumsi daging sama sekali atau mengurangi hingga jumlah yang sangat sedikit.

KEMEROSOTAN MENTAL

Bukti epidemiologis menunjukkan, orang yang mengkonsumsi daging lebih dari 4 kali perhari untuk jangka waktu yang lama memiliki resiko 3 kali lebih besar daripada kaum sayurawan jangka panjang.

PUBER TERLALU DINI

Sapi dan unggas sering disuntik hormon pertumbuhan untuk mempercepat pertumbuhan dan menggemukkannya (ayam yan biasanya tumbuh dewasa dalam 16 minggu ‘dapat dipercepat pertumbuhannya hanya dalam 6 minggu saja’).

Di AS, estrogen sintetis (yang terbuat dari air seni kuda betina) digunakan sebagai hormone. Residu hormone ini tetap bersarang dalam tubuh hewan dan tetap tidak bisa menghilang meskipun dimasak. Anak-anak yang mengkonsumsi dagingnya akan tumbuh terlalu cepat sehingga terjadi pubertas dini. Masa puber (dimana tubuh menghasilkan hormon kelamin dalam jumlah besar) biasanya terjadi pada usia 16-17 tahun. Dalam 100 tahun terakhir, masa puber terjadi semakin cepat terjadi pada beberapa suku bangsa. Di AS saat ini, sebagian gadis mulai aktif seksualitasnya dan hamil pada usia 9 tahun.

Fenomena ini diyakini disebabkan pola makan tinggi tinggi daging yang memicu puber (menstruasi) dini. Di Puerto Rico, terjadi epidemic pubertas, dini pada anak perempuan (di bawah 4 tahun). Setelah ditelusuri, ternyata sumbernya adalah daging ayam yang mengandung residu hormone estrogen yang tinggi.

Pubertas dini juga membawa ancaman serius timbulnya kanker payudara. Wanita yang mendapatkan haid ketika masih di bawah 13 tahun didapati 4 kali lebih banyak mengidap kanker payudara daripada wanita yang memperoleh menstruasi pertamanya setelah 17 tahun. Daging juga memiliki lemak berlebihan sehingga dapat memicu tubuh wanita menghasilkan terlalu banyak hormon estrogen.

SEMBELIT

Saluran pencernaan kita dapat dirancang untuk mencerna daging. Daging yang kadar sertanya sangat rendah, bergerak sangat lamban dalam saluran pencernaan manusia (4 kali lamban daripada bijirin dan sayuran). Akibatnya, terlalu banyak daging dapat menimbulkan sembelit.

DIVERTIKULOSIS

Bahan makanan kering dan sudah lama berada dalam usus besar dapat menimbulkan benjolan usus besar (diverkuli). Kondisi yang dikenal dengan divertikulosis ini dapat mengakibatkan pendarahan dan sakit perut. Kondisi ini sangat lazim ditemukan dan hampir tak terelakkan dinegara dimana konsumsi daging, produk susu dan makanan kaya lemak lainnya sudah menjadi kebiasaan. Sekitar 30% penduduk AS di atas 45 tahun diserang gejala divertikulosis.

Keadaan yang berkelanjutan akan menyebabkan radang usus dan meningkatnya pendarahan. Pencahar akan semakin memperparah luka di dinding usus. Akhirnya hanya operasi yang dapat meringankan penderitaan pasien setelah bagian usus yang terluka diangkat.

Judul Asli : WHAT’S WRONG WITH EATING MEAT

Terbitan Indonesia atas seijin: CONSUMER’S ASSOCIATION OF PENANG

Judul Terjemahan: APA YANG SALAH DENGAN MAKAN DAGING?

Oleh: Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI) Jakarta

Diketik ulang oleh: Elvie Adung, Diana Parhusip

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here