-jejak-kaki Copy

1. Pengalaman Masa Lampau Guru yang Terbaik
[AkhirZaman.org] Ada satu kutipan yang sering dikutip. Maknanya adalah sebagai berikut: Kita tidak perlu khawatir akan hari depan kecuali kita melupakan pimpinan Tuhan pada masa yang lalu. Dengan kata lain, apabila kita melupakan pimpinan Tuhan pada masa yang lalu, kita berada di dalam keadaan berbahaya yang amat mengkhawatirkan.

Apa ada pengalaman-pengalaman kita di masa yang lampau yang dapat kita pakai sebagai guru kita agar supaya kita boleh terhindar dari melakukan kesalahan-kesalahan pada dewasa ini? Pengalaman-pengalaman kekristenan banyak sekali, tetapi diantara pengalaman-pengalaman yang banyak itu, kita perlu memperhatikan satu yang dipakai oleh seorang pendeta yang bernama Pendeta Pierson.

Pendeta Pierson memperhatikan bahwa setiap gerakan dalam dunia agama dimulai dengan keadaan kecil yang tidak banyak dikenal. Hanya beberapa orang yang didorong oleh suatu keyakinan memulaikan pekerjaan reformasi. Orang-orang ini mempunyai pandangan lurus yang ditujukan kepada perkara-perkara yang diminta oleh Allah. Orang-orang ini tidak menyayangi diri sendiri dan hidup mereka diabdikan sepenuhnya kepada keyakinan mereka itu.

Manakala pekerjaan itu mengembang, jumlah orang yang ikut dalam pergerakan reformasi itu bertambah. Pekerjaan itu makin membesar dan dikenal. Tetapi ketika pergerakan itu menjadi lebih besar, sering kali yang terjadi adalah lebih banyak orang yang tidak memiliki keyakinan yang pertama-tama menggabung. Lama-kelamaan tujuan utama dari pergerakan itu terlupakan. Pengaruh-pengaruh dari luar masuk, dan pergerakan itu akhirnya menjadi sesuatu yang sama dengan apa yang ada sebelumnya.

Apakah begitu juga dengan dunia kekristenan sekarang? Doa hati kita dan harapan kita masing-masing adalah agar supaya tidak. Tetapi apakah benar-benar tidak? Lalu apa jawab kita: Mana yang lebih baik, keadaan kita pada waktu permulaan ketika reformasi atau keadaan kita sekarang? Lebih saleh manakah, umat Tuhan di zaman para reformator dulu atau sekarang? Lebih Alkitabiah manakah, pengajaran gereja ratusan tahun silam atau sekarang?

Kalau kita mengukur dengan jumlah banyaknya anggota, dengan banyaknya gedung-gedung, dengan meluasnya bidang pekerjaan yang kita kerjakan, kita akan menjawab bahwa kita sekarang jauh lebih baik dari dulu. Tetapi kalau kita mengukur dengan keadaan kerohanian umat Tuhan sekarang, jawaban yang jujur mungkin adalah tidak.

2. Penilaian Allah
Berapa banyak diantara kita suka mendengar kesaksian Allah yang sesungguhnya dari hal kita? Kalau kesaksian itu memuji kita, kita senang mendengarnya; tetapi kalau kesaksian itu menegur kita, kita kurang (tidak) senang hati. Itulah ukuran kerohanian kita yang sesungguhnya! Atas dasar kerohanian kita ini tergantung cepatnya atau tertundanya penyelesaian pekerjaan Tuhan dan kedatangan-Nya kedua kali.

“Sikap gereja pada dewasa ini tidak menyenangkan Allah. Telah datang satu perasaan percaya pada diri snediri yang telah membuat mereka merasa tidak perlu adanya kebenaran tambahan dan terang yang lebih besar. Kita hidup pada saat dimana setan bekerja di sebelah kanan dan di sebelah kiri, di depan dan di belakang kita; tetapi sebagai satu umat kita tidur. Allah menghendaki satu suara didengar membangkitkan umatNya untuk bergerak. (Gospel Workers 300)

Kesaksian Yesus telah menegaskan bahwa Allah tidak senang melihat sikap kita pada dewasa ini. Walaupun gereja sudah menjadi besar dan kekayaan dunianya sudah sangat bertambah, Tuhan tidak senang dengan sikap kita. Kita tidak merindukan terang dari pada Tuhan. Kita tidak mendambakan kemajuan dalam kerohanian. Kita telah melupakan tujuan panggilan kita yang mula-mula. Kita telah hidup seolah-olah tujuan hidup ini adalah untuk mencari kesenangan yang sekarang saja.

jeratstn CopySetan bekerja keras dari segala jurusan. Kita dikepung dengan jerat-jeratnya. Jerat-jeratnya itu sangat menawan hati kita sebab ditujukan untuk memanjakan kita. Tetapi sebagai satu umat, kita tidak menyadari hal ini. Kita terbius tidur. Kita mengkhayalkan yang indah-indah, sampai kita dikejutkan oleh kenyataan hidup yang berbeda sekali dengan apa yang sedang kita impikan. Apa kita baru mau menjadi sadar kalau sudah terlambat? Allah menghendaki satu suara didengar membangkitkan umatNya untuk bergerak.

Apakah suara-suara yang sudah kita dengar masih kurang banyak? Apakah kurang penataran-penataran? Mengapa penataran demi penataran masih menemukan umatNya tertidur seperti biasa saja? Apa yang salah? Siapa yang lalai dalam tugasnya?

Dalam kutipan kita di atas menunjuk pada penyelesaian persoalannya. Sebagai satu umat, manakala kita sudah menjadi besar, kita merasa percaya pada diri sendiri. Kita menggenapi apa yang dikatakan oleh Pendeta Pierson. Mayoritas umat Tuhan mempunyai pandangan hidup yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang di luar umat Tuhan. Benar sekali bahwa kita bergereja sekali seminggu. Kita mengira bahwa hal itu sudah membuat kita mengerti akan panggilan Kristus dan sudah membuat kita terasing dari orang-orang dunia. Tetapi hati kita masih terjalin pada dunia ini.

Contohnya: Hari apakah yang kita kuduskan dan pelihara? Alkitab mengatakan bahwa hari Sabat hari ketujuhlah yang harus kita kuduskan berdasar perintah Tuhan (Keluaran 20:8-11). Oke, mungkin beberapa dari Anda sudah menguduskan hari Sabat. Namun apakah manusia lama kita yang penuh dengan keinginan dosa sudah disalibkan sehingga kita telah mengalami mati bagi diri dan bebas dari perhambaan terhadap keinginan berbuat dosa, sehingga kita dapat menjadi hamba dari Allah Pencipta? (Roma 6:6-8, 22). Jika tidak, mungkin Anda belum memiliki Kristus dalam hati dan pikiran (Roma 8:10-11 & Kolose 1:27). Jika keadaan kita masih seperti semuanya itu maka kita sama saja dengan orang dunia!!

Ini yang membuat kita tidak merindukan kebenaran tambahan dan terang yang lebih besar dari Tuhan! Oleh sebab itu iman kita tidak bertumbuh, sebab iman datang dari mendengar dan mendengar dari firman Tuhan! Firman itu harus menjadi bahan penyelidikan kita yang sungguh-sungguh setiap hari. Hati kita harus merasa dihangatkan oleh firman Tuhan sama halnya dengan orang-orang yang mendengar Tuhan Yesus berkata-kata dalam perjalanan ke Emaus: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24:32)

Apa semua orang yang mendengar kata-kata Yesus hatinya dihangatkan? Ada yang mendengar perkataanNya yang malah mengirim Dia ke kayu salib. Pembicara dan pendengar harus sama-sama tersentuh oleh Roh Kudus yang membentangkan firman Allah. Firman Tuhan tidak akan dihargai oleh orang yang hatinya terkait pada dunia ini, “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Kor. 4:4).

Tetapi yang memiliki niat yang jujur untuk mengenal kehendak Allah, tidak akan dapat terlepas dari dunia ini kecuali karena kuasa firman Allah yang dibawakan dengan dorongan Roh. Jadi harus ada terang besar dan kebenaran dari firman Allah. Satu suara perlu didengar untuk membangkitkan umat Allah bergerak! Tidak cukup hal ini dilakukan dalam satu penataran. Harus dikerjakan secara terus menerus sampai penggalian kebenaran firman Tuhan menjadi kesukaan hati kita pribadi lepas pribadi.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here